Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Sangat marahnya


__ADS_3

Langit cerah dan bintang bertaburan dengan sinarnya yang indah, dan hembusan angin yang seolah menusuk hingga menembus kulit, serta dinginnya malam yang membuat semua orang enggan untuk keluar.


Malam itu Davi terlihat sedang berada di rumah Salsa, mungkin untuk Apel malam minggu.


"Kalian gak pergi kemana- mana?" tanya Sebastio pada mereka berdua dengan rasa ingin tahu,


"Gak tahu, gak ada rencana keluar malam ini!" jawab Davi pada Ayahnya Sebastio sambil tersenyum,


"Padahal cuacanya cerah, banyak bintang di langit, sayang kalau di lewatkan!" ucap Ayahnya lagi pada mereka berdua seolah menyuruhnya pergi,


"Memang sayang sih kalau di lewatkan begitu saja!" ucap Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan sedikit ragu,


"Dari pada gak ada acara, sana pergi kerumah Ibumu, sekalian menengoknya!" ucap Ayahnya Sebastio pada Mereka berdua memberi masukan,


Terlihat mereka berdua saling pandang, pikiran mereka langsung memikirkan apa yang diucapkan oleh Ayahnya itu,


"Benar juga, Aku sudah lama belum bertemu dengan Ibu Kandungmu itu!" ucap Davi pada Salsa mengingatkannya,


Mendengar Davi kekasihnya bicara seperti itu padanya, lantas dengan berat hati, Salsa pun menjawabnya,


"Tapi Aku sebenarnya lagi malas pergi kesana?" jawab Salsa pada Davi dengan merasa tidak bersemangat,


"Memangnya kenapa, Sa?" tanya Davi lagi pada Salsa ingin tahu,


Salsa diam sejenak mendengar Davi bicara, sambil pikirannya terus memikirkan tentang hubungan Ibunya Juariah dengan Zaki, yang sedang ramai- ramainya menjadi bahan omongan miring tetangganya itu, dengan sedikit kesal dalam jiwanya, Salsa pun lantas menjawabnya,


"Gak tahu kenapa perasaan Salsa lagi gak semangat saja berkunjung kesana!" jawab Salsa pada kekasihnya Davi dengan nada tak senang,

__ADS_1


Bapak Sebastio yang sedari tadi memperhatikan Anaknya itu, dengan merasa aneh dan tak biasa, Salsa tidak mau mengunjungi Ibunya itu, lalu dengan perasaan penasaran dalam otaknya, lantas Sebastio pun bicara pada Salsa,


"Kok tumben Kamu tidak mau mengunjungi Ibumu itu? Pasti ada sesuatu, coba ceritakan pada Ayah sebabnya?" tanya Ayahnya Sebastio pada Salsa dengan rasa penasarannya,


Mendengar Ayahnya dengan penasaran bertanya seperti itu, bukan main kikuk Salsa dibuatnya, rahasia tentang Ibunya itu senantiasa Ia tutup rapat, walau bagaimanapun tetap hubungan Ibunya itu Ia anggap tabu untuk di ceritakan pada orang lain, dengan sedikit mengelak, lalu Salsa pun menjawabnya,


"Begini Ayah, Akhir- akhir ini Ibu lagi sibuk jadi Salsa enggan untuk mengganggunya!" jawab Salsa pada Ayahnya dengan sedikit berbohong,


Dengan merasa aneh atas apa yang di ucapkan oleh Anaknya Salsa, lalu sambil berpikir keras dalam otaknya tentang makna ucapan Salsa itu, akhirnya Sebastio pun bicara lagi pada Salsa,


"Mendengar dari apa yang kamu ucapkan tadi, seolah- olah Kamu menyimpan rahasia tentang Ibumu itu, bukan begitu, Salsa?" jawab Bapak Sebastio pada Salsa dengan perasaan penasarannya itu,


Seolah terbakar wajahnya, terlihat merah karena menahan rasa malu dan tak enak pada Ayahnya itu, membuat dirinya gelagapan tak tenang, dengan merasa berat dalam hatinya untuk menceritakan tentang hubungan tabu Ibunya itu,


"Gak ada rahasia besar yang Salsa tutupi, Ayah!" ucap Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan seolah meyakinkannya,


Mata Sebastio terus menatap tajam wajah Salsa yang menunduk itu, seolah- olah ingin memastikan jawaban Salsa itu benar adanya, setelah dalam pikirannya merasa tak sreg, Sebastio pun bertanya lagi pada Salsa,


Mendengar apa yang dikatakan Ayahnya itu, Salsa bisa menilai bahwa Ayahnya tidak percaya dengan alasannya itu, perasaan malu dan bersalah dalam jiwanya itu seolah sedang ingin membunuhnya, dengan hati gusarnya karena menahan malu, lalu Salsa pun bicara lagi pada Ayahnya itu,


"Sebenarnya Salsa tidak ada maksud untuk berbohong dan merahasiakan tentang Ibu, tapi semata- mata takut Ibu merasa bersedih, jadi sebisa mungkin Salsa menutupinya, tapi karena Ayah memaksanya, Salsa akan ceritakan semuanya!" ucap Salsa pada Ayah Sebastio dengan perasaan sedih dihatinya itu.


Akhirnya dengan berat hati, Salsa langsung menceritakan semuanya tentang rencana dan hubungan Ibunya Juariah dengan Zaki itu, yang menjadi momok pergunjingan orang- orang sekitar tempatnya dulu tinggal,


"Nah begitu Ayah ceritanya, makanya Salsa gak mau menceritakannya, karena ini hubungan yang tabu, dan orang menilainya aib semata, Ayah!" ucap Salsa pada Ayahnya Sebastio dari lubuk hati sanubarinya,


Mendengar cerita jujur dan panjang tentang hubungan Ibu Juariah mantan Istrinya itu dari mulut Salsa, membuat hati Sebastio merasa sedih, betapa tidak, mantan Istrinya itu seolah tak bisa menghentikan akan hoby buruknya itu, bayangan masa lalu mantan Istrinya itu, seolah muncul tiba- tiba, layaknya menonton film di bioskop, semua jelas terlihat Sebastio,

__ADS_1


Lautan hampa dengan rasa cinta yang pudar dalam dirinya, seolah- olah ungkapan rasa memaafkannya dulu, yang sebagai penutup akan hubungan dengan Istrinya itu, membuat Sebastio tersenyum sendiri, dengan menatap iba pada Salsa Anaknya itu, seraya berkata pada Salsa,


"Sungguh Ayah sudah bisa menduganya, dan dugaan tentang hobynya Ibumu itu pada Anak muda, yang menjadikan tolak ukur Ayah untuk menolak rujuk dengan Ibumu, dan ternyata terbukti sekarang, tapi walaupun bagaimana tetap saja itu Ibumu, kamu harus menghormatinya," ucap Ayahnya Sebastio pada Anaknya Salsa dengan tersenyum kearahnya itu,


"Tapi Salsa merasa malu, Ayah!" jawab Salsa pada Ayahnya Sebastio sambil menangis,


"Ayah tahu perasaanmu, Nak!" ucap Ayahnya Sebastio pada Salsa dengan merasa sedih di dalam hatinya itu,


"Salsa merasa sakit, bila mendengar Orang- orang membicarakan tentang Ibu, Ayah!" jawab Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan terus menangis sedih,


"Kamu harus kuat dan sabar untuk menerimanya," ucap Sebastio pada Anaknya Salsa memberi tahunya,


Mendengar Salsa menangis dengan begitu pilunya, membuat Ayahnya Sebastio dan kekasihnya Davi ikut bersedih dibuatnya, Sebastio menghampiri Salsa lantas merangkulnya dengan rasa sayangnya itu, dan dengan perasaan pilu di hati, seraya Sebastio pun bicara pada Salsa,


"Jika Ibumu itu sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Zaki, berarti Ibumu butuh Orang- Orang untuk membantunya, masa Anaknya sendiri tidak memperhatikan dan membantunya, Anak macam apa itu?" ucap Ayahnya Sebastio pada Anaknya Salsa dengan bijaknya Ia bicara.


Ucapan Ayahnya itu seolah menamparnya dengan keras, hingga hatinya seolah terbangun dari keterpurukannya itu, dengan perasaan tak menentu, akhirnya Salsa pun sadar apa yang mesti Ia lakukan, terus Ia bicara lagi pada Ayah bijaknya itu,


"Sungguh Salsa merasa sangat bangga, punya Ayah yang bijak dan tidak egois bertindak, dan sungguh Salsa ini Anak yang bodoh, tidak tahu menempatkan atas penilaian tentang Ibu itu, Aku akan menjenguknya sekarang, Ayah!" ucap Salsa pada Ayahnya Sebastio menjelaskannya,


Sebastio tersenyum dibibirnya, hatinya merasa senang nasehatnya di mengerti oleh Anaknya itu, dengan suara lantang Sebastio pun bicara,


"Semua orang ada jalannya, biarkan Ibumu dengan niatnya itu, toh tidak ada larangan yang melarangnya, terkecuali Ibumu itu hanya berniat untuk kepuasan napsunya saja seperti dahulu, tanpa ada niat sedikit pun untuk menikahinya." ucap Sebastio pada Salsa dengan panjang lebar menjelaskan,


"Benar Salsa mengerti, Ayah!" jawab Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan leganya,


"Dan sekarang tugasmu Davi, tolong antarkan Salsa untuk berjuang menjenguk Ibunya itu, sekaligus dampingi Dia, bantu Dia dengan semua perasaan cintamu itu padanya, mengerti!" ucap Ayahnya Sebastio pada Davi yang sedari tadi hanya melihat dan diam tak bicara.

__ADS_1


"Baik, Ayah!" jawab Davi pula pada Ayah Sebastio dengan perasaan senang dalam dirinya itu.


Dan tak lama mereka berdua pun akhirnya pergi juga.


__ADS_2