
Suasana segar terasa pada hari itu, semilir angin sore berhembus dengan sejuknya, langit diatas cerah di hiasi awan putih yang berarak, di sertai rasa keheningan jiwa- jiwa yang diam dalam istirahatnya.
Terlihat Istri Sebastio Widuri, sedang menyiram tanaman di halaman depan rumahnya, di temani Suaminya Sebastio sedang duduk santai sambil memperhatikan Istrinya yang sedang menyiram bunga di hadapannya,
Serasa sore itu benar- benar merasa nyaman, dan seakan membawa perasaan damai di dalam hati mereka berdua,
"Sudah belum menyiram bunganya, Bu?" tanya Bapak Sebastio pada Istrinya Widuri dengan kesalnya menunggu,
Dengan berjalan menghampiri Suaminya yang sedang duduk di teras, Widuri pun lantas duduk di samping Suaminya dengan sedikit perasaan letih pada dirinya, mungkin merasa cape sehabis menyiram bunga, dan akhirnya Ia pun bicara,
"Ada apa sih, dari tadi menyuruh Ibu berhenti menyiram bunga, seolah ada yang ingin di bicarakan dengan Ibu!" jawab Widuri pada Suaminya Sebastio dengan rasa penasaran,
"Memang ada yang Ayah mau bicarakan dengan Ibu!" ucap Bapak Sebastio pada Istrinya Widuri dengan menjelaskannya,
Dengan perasaan bingung yang menggelayuti pikirannya dengan tanya, Istrinya pun menatap mata Suaminya dengan tajam seolah memastikan kebenaran ucapannya itu, tak lama Widuri menjawabnya,
"Soal apa, Yah?" tanya Widuri pada Sebastio ingin tahu,
"Ini tentang keinginan Ayah, itupun jika Ibu menyetujuinya." jawab Suaminya Sebastio pada Istrinya Widuri dengan harapnya,
"Keinginan, keinginan apa?" tanya Ibu Widuri lagi pada Suaminya Sebastio dengan merasa bingung,
Melihat Istrinya bingung, membuat Suaminya Sebastio pun tersenyum di bibirnya, sambil tangannya Ia pegang erat layaknya di film India, sambil menarik napas panjangnya, lalu Sebastio pun bicara padanya,
"Mungkin Ibu ingat Anakku Salsa, yang karena Ibu Ayah mencarinya dan akhirnya ketemu juga!" ucap Sebastio pada Istrinya Widuri sambil tersenyum,
"Yah Ibu ingat, lalu kenapa dengan Salsa?" tanya Widuri pada Suaminya Sebastio dengan merasa bingung,
"Dalam perjalanan hidupnya Salsa selalu menderita, sampai Aku bertemu pun Suasana penderitaannya masih ada, Ibu pasti akan kaget bahwa Salsa sudah punya seorang Anak, namanya Andreas," jawab Sebastio pada Istrinya Widuri memberi tahu,
__ADS_1
Mendengar itu Widuri pun kaget bukan main mendengarnya,
"Jadi Salsa sudah menikah dan punya Anak, baguslah berarti Ayah sudah punya Cucu." jawab Istrinya Widuri pada Suaminya Sebastio dengan tak mengerti,
Mendengar Istrinya tak mengerti dengan apa yang hendak Ia katakan, dengan perasaan sedih bercampur luka, Sebastio lalu melanjutkan pembicaraannya,
"Aku bersedih bila membicarakan tentang ini, Salsa dulu di hamili dan di rendahkan oleh kedua Orang tua lelaki yang telah menghamilinya itu, karena mereka di anggap rendah dan hina oleh keduanya, hingga Salsa ditemukan tak sadarkan diri di taman kota, lalu seseorang mengambilnya seolah pahlawan dan di bawa kerumahnya, setelah itu dalam keadaan tak sadar dan hamil, disitu pula Salsa di perkosa dengan tragis dan biadab, hingga mereka berdua berlari menjauh dari segala masalah itu, sampai Ayah menemukan mereka masih dengan guratan kesedihan dan penderitaan akan hidupnya itu, Ayah menangis setelah tahu semuanya, Aku Ayah yang telah menyengsarakan hidupnya, hingga Orang lain dengan mudah mempermainkan nasibnya dengan seenaknya, rasa berdosa Ayah hampir tiap hari muncul dalam benak Ayah." ucap Sebastio pada Istrinya Widuri dengan menangis dari hatinya yang paling dalam,
Tak terasa melihat Suaminya menangis dengan hatinya, sambil bercerita tentang Salsa Anaknya itu, air mata Ibu Widuri ikut berlinang, gambaran pahit akan Salsa membuat hati Widuri terenyuh, seakan tak tega untuk membiarkan Suaminya menceritakan tentang itu, dan dengan linangan air mata yang terus membasahi bola matanya, tak lama Widuri pun berucap,
"Sungguh Ibu tak menduga nasib Anakmu Salsa sebegitu tragisnya, andai saja dulu Ayah tidak terpengaruh dengan kehancuran atas aib itu, lalu dengan bijak Ayah memutuskan, pasti hal buruk itu tak akan terjadi." ucap Widuri pada Suaminya Sebastio dengan menyesalkan akan hal itu,
"Justru Ayah sangat merasa menyesal, tapi mau dibilang apa itu sudah terjadi," jawab Sebastio pada Istrinya Widuri dengan rasa sedih dan penyesalannya,
"Sekarang tinggal bagaimana menghapus kesedihannya dengan cara kita, sebagai penebus dari kesalahan Ayah masa lalu." jawab Widuri pada Sebastio dengan rasa sedih di hatinya.
Sebastio mengangguk pada Istrinya itu, dengan menahan segala rasa perasaan pilu yang terus melandanya,
"Ibu tak merasa keberatan untuk itu, malah Ibu bersyukur karena tak akan merasa kesepian lagi," jawab Widuri pada Sebastio dengan merasa senangnya.
Hari itu luapan hati dan resahnya kesalahan yang terasa sebagai alunan derita dengan berbagai irama harapan dan segala angannya.
Dan di lain tempat tampak Salsa sedang bersenandung kecil menyanyikan kidung nina bobo untuk Andreas dengan begitu syahdunya, hingga membuat Anaknya Andreas terlelap tidur.
"Sudah sana Andreas Kamu tidurin di kamar, kasihan nanti badannya pegal, jika tidurnya dalam pangkuanmu terus!" ucap Ibu Juariah pada Salsa dengan perhatian cintanya pada anaknya itu,
"Baik, Bu!" jawab Anaknya Salsa pada Ibunya Juariah sambil bergegas masuk ke dalam kamar,
Sore itu terasa sangat melelahkan bagi sosok Ibu Juariah, dimana rutinitas hari itu yang membuat semua energinya terkuras habis.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Bapak Sebastio pada Ibu Juariah dengan lantang ucapkan salam,
Mendengar Sebastio ucapkan Salam dengan tiba- tiba, yang seolah membikin kaget dirinya, dengan mengumpulkan sedikit tenaganya dengan bergegas berdiri menghampiri, sambil menjawab salamnya,
"Waalaikum Salam," jawab Ibu Juariah pada Sebastio dengan menatap senang,
"Maaf sore gini Aku ganggu!" ucap Sebastio pada Ibu Juariah dengan melepaskan oleh - oleh yang di bawanya untuk mereka,
"Gak merasa terganggu, Ayo silahkan masuk!" jawab Ibu Juariah pada Sebastio mempersilahkannya,
Akhirnya mereka pun ngobrol ngaler- ngidul dengan melepaskan rasa kangennya di sela bincangnya, Sebastio berhenti sejenak seolah sedang mengingat sesuatu, tak lama Ia pun bertanya,
"Salsa nya kemana? Kok gak kelihatan batang hidungnya?" tanya Sebastio pada Ibu Juariah dengan penasaran ingin tahu,
"Oh ada, sedang menidurkan Anaknya Andreas di kamarnya!" jawab Ibu Juariah pada Sebastio dengan bergegas memanggil Anaknya Salsa,
Dan tak lama Salsa keluar menghampiri Ayahnya, dan langsung bersalaman dengan Ayahnya itu,
"Selamat Sore, Ayah! gimana Kabarnya?" tanya Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan senangnya,
"Alhamdulillah Ayah baik, tapi sedikit Ayah akan bicara sesuatu kepadamu!" jawab Sebastio pada Salsa memberi tahunya,
Dengan perasaan penasaran yang dalam di otaknya, yang membuat seluruh pikiran Salsa merasa bingung sendiri, dan tak lama Ia pun lalu bicara,
"Mau bicara Apa pada Salsa, Ayah?" tanya Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan penasaran dalam hatinya,
"Begini Ayah sudah bicara pada Ibu Widuri, keinginan dan Niat Ayah yang paling dalam, ingin mengajak Salsa dan Andreas untuk tinggal bersama dengan Ayah dan Ibu Widuri, tapi ini pun jika Salsa mau, Ayah merasa sangat bahagia jika Kamu bisa tinggal bersama dengan Ayah, Bagaimana?" ucap Ayahnya Sebastio pada Salsa dengan pengharapan yang besar dalam dirinya.
Rasa kaget menjalari seluruh pikiran Salsa, ditambah beban moral pada Ibunya Juariah dengan perasaan bingungnya, karena sosok Ibu Juariah itu adalah segala kehangatan dan cinta kasih yang telah terasakan olehnya, sambil berpikir tak lama Salsa pun menjawab,
__ADS_1
"Asal bersama Ibu Salsa akan turut, Salsa mau jika Ibu yang menyuruhnya, karena hanya Ibu dan cintanya yang selama ini Salsa punya, Ayah!" ucap Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan tegasnya bicara menjelaskan,
Mendengar Jawaban Anaknya Salsa dengan tak disangka- sangkanya, Batin Ibu Juariah pun menjerit histeris dalam hati, karena rasa peduli Anaknya Salsa padanya yang sangat tak terbayangkan besarnya itu.