Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Teman Tante, Kasmaran


__ADS_3

   Sonya tersenyum pada sahabatnya itu, lantas dengan tersipu malu, Ia menjawab padanya,


   "Asal kenapa, Nab?" tanya Sonya pada Jaenab seolah ingin tahu,


   Lalu Jaenab melirik keponakannya Arjuna itu, Ia tersenyum padanya, dan dengan sedikit menggodanya dengan kedipan matanya itu, lalu menjawabnya,


   "Asal...Dianya mau, tuh tanya langsung saja?" jawab Jaenab pada Sonya dengan tertawa,


   Arjuna merasa malu dibuatnya, perasaan senangnya tak bisa Ia lukiskan lagi, kikuk dan tak mau diam, menjadi bahan ledekan Tantenya itu Jaenab.


   "Arjuna kamu kenapa? Ada gempa atau kenapa? Kok gak diam, hayo mulai naksir, Ya?" ledekan Tante Jaenab pada keponakannya itu Arjuna,


   Arjuna tertunduk malu karenanya, seolah mati kutu karena Tantenya Jaenab, meledeknya dengan tertawa puas,


   Senyum berseri- seri terukir di wajah cantik Sonya, lirikan matanya tak henti pada Arjuna yang berada di depannya itu, wajahnya yang memerah membuatnya malu, dan degup jantungnya kian bertambah cepat,


   "Hey...bengong lagi, jangan bengong gitu jelek tahu, benar gak Arjuna?" tanya Jaenab pada Sonya sambil meledek dan melirik Arjuna,


   Seketika itu pula Sonya memalingkan wajahnya itu pada Jaenab, melihat itu Jaenab tertawa karena lucu,


   "Sudahlah, Kamu ngeledek Aku terus!" ucap Sonya pada Jaenab dengan rasa malunya itu,


    "Habis dari tadi memperhatikan Arjuna terus, gagal fokus jadinya!" jawab Jaenab pada Sonya dengan tertawa padanya,


    Lalu Arjuna bicara pada Arjuna dengan muka malunya itu,


    "Tante, nanti pulangnya jangan kelamaan, takut motornya mau di pakai Kakek?" ucap Arjuna pada Tantenya Jaenab dengan meliriknya,


    "Kakek hari ini tidak akan pergi kemana- mana, tadi Kakek sudah bilang sama Tante!" jawab Jaenab pada Keponakannya Arjuna itu,


    Melihat itu, Sonya tersenyum padanya dengan senangnya, lantas berkata pada mereka itu,

__ADS_1


   "Dari tadi ngomong terus, cicipi makanannya!" ucap Sonya pada mereka berdua dengan menawarkannya,


   "Makasaih, Tan!" jawab Arjuna pada Sonya dengan perasaan tak karuan itu,


   Mendengar itu, spontan Jaenab tertawa lepas, dan meledeknya jagi, Ia bertanya pada Arjuna lagi,


"Panggil apa tadi pada Sonya, Arjuna? Tante? Jangan panggil Tante dong, ketuaan dan kurang mesra, panggil Dia Bebeb...he..he!" ledek Jaenab pada Arjuna keponakannya itu,


Sonya cemberut pada Jaenab itu, lalu buang muka terhada Jaenab itu, melihat itu Jaenab lebih gila lagi tertawanya pada Sonya dan Arjuna.


"Ha ha ha ha ha ha...!!.


Hari itu memang hari dimana cinnta saling bertemu, pada hari itu juga Arjuna melupakan kekasihnya Yuli nun jauh disana, pertemuannya kali ini dengan Sang buah hati, seolah memberikan sesuatu yang diharapkan oleh Arjuna itu.


Di lain tempat, Tampak Darwis sedang duduk sendirian sambil wajahnya menatap ke depan, dan tak lama, Istrinya Yohana menghampirinya dengan segelas kopi di tangannya,


"Hari ini Kamu gak berangkat?" tanya Yohana pada Suaminya itu Darwis dengan ingin tahu,


"Bagaimana kabar cinta Mama itu dengan Om Anton itu?" tanya Istrinya pada Darwis Suaminya dengan penasaran,


"Justru membuat Aku bertanya- tanya, dan perubahan sosok Mama, itu sangat jelas terlihat, Mama sedang kasmaran, kayaknya?" jawab Darwis pada Istrinya Yohana dengan bingungnya itu,


"Mama kawin lagi juga pantas, karena usia dan kecantikkannya bikin siapapun tergoda!" ucap Yohana pula pada Darwis Suaminya lagi,


Lalu Darwis menarik napas dengan panjangnya itu, tampak roman khawatir tersirat di wajahnya, yang membuat kegelisahan tanpa henti melandanya,


"Gak tahu, Aku merasa belum bisa melepas Mama untuk kawin lagi, berat rasanya dalam hati ini!" jawab Darwis pada Istrinya Yohana dengan rasa kesalnya itu,


Melihat Suaminya Darwis merasa khawatir, Yohana pun tersenyum pada Suaminya itu, tersadar Yohana meledeknya dengan senyum dibibirnya itu, lantas Darwis pun bicara dengan ketus pada Istrinya Yohana itu,


"Kenapa Kamu, senyum- senyum begitu terhadapku, meledek?" tanya Darwis pada Isyrinya itu Yohana,

__ADS_1


Mendengat tanya Suaminya Darwis dengan ketusnya itu, lantas Yohana tertawa dengan senang, pikirannya seolah sedang mencari jalan untuk menggoda Suaminya itu Darwis, akhirnya Ia pun menjawab padanya,


"Deuh...yang mau punya Papa baru, maunya marah mulu..he..he!" jawab Istrinya Yohana pada Darwis dengan tertawa lebar melihat Suaminya itu marah, Darwis pun segera menjawabnya,


"Mulai...mulai meledek Aku!" ucap.Suaminya Darwis pada Yohana Istrinya dengan sedikit marah,


Melihat Suaminya semakin marah, Istrinya Yohana pun semakin merasa senang, mungkin terihat lucu bila Suaminya itu marah, tak lama Ia pun bicara lagi pada Suaminya itu,


"Jangan takut kehilangan Mamamu, biarkan saja Mama menikah, mungkin dihari tuanya Ia ingin ada pendamping disisnya!" ucap Yohana pada Suaminya Dawis dengan memberi masukan sambil tersenyum pada Suaminya,


Pikiran Darwis seolah berpikir keras, ingatannya terbayang sosok Adiknya Ovi, yang membuatnya selalu berpikir senantiasa untuk kebaikan Adiknya itu Ovi, lantas Darwis pun bicara lagi pada Yohana,


"Yang berat Aku pikirkan adalah Ovi Adikku itu, jika Mama menikah, pasti Ia akan merasa sendiri, karena pasti Mama sibuk dengan Suaminya yang baru itu!" ucap Darwis pada Istrinya Yohana dengan panjangnya menerangkan,


"Jangan terlalu cepat untuk menanggapi jelek tentang hubungan Mama itu, pastikan dulu, seberapa benar dan sayang calon Suaminya itu, dan lagi juga akan menjadi Ayahmu kelak!" jawab Yohana pada Suaminya Darwis dengan memberi masukan seakan- akan meledek Suaminya Darwis,


Melihat Istrinya Yohana bicara dengan tersenyum padanya, perasaan sensi pada Istrinya itu mulai muncul, matanya tajam menatap Istrinya itu Yohana, dan terlihat wajahnya semakin memerah, karena menahan malu dalam dirinya itu, tak lama Ia punbicara lagi pada Istrinya Yohaba lagi,


"Sudah jangan meledekku terus, bantu memikirkannya, bukannya meledek begitu?" ucap Suamunya Darwis pada Isyrinya Yohana dengan marahnya itu,


Melihat Suaminya Darwis semakin memanas, Yohana tertawa dengan senangnya, Ha..ha...ha,


yang membuat Darwis semakin bernapsu untuk memarahi Istrinya Yohana itu, lantas Yohana pun bicara pada Suaminya Darwis itu,


"Jangan marah- marah, maafkan Aku! Aku hanya guyon saja, dan lagi kalau Kamu marah- marah jadi kelihatan lucu, makanya jangan marah!" ucap Istrinya Yohana pada Suaminya Darwis lagi,


"Mulai lagi ngeledek, pikirkan bagaiman bila Ovi kita ajak tinggal disini, bersama- sama dengan kita, Yohana?" tanya Suaminya Darwis pada Yohana Istrinya itu,


Sontak Yohana kaget dibuatnya, mendengar Suaminya bicara dengan tiba- tiba tentang Ovi Adiknya padanya itu, lantas dengan sedikit bingung di kepalanya, Yohana pun menjawabnya dengan tersenyum,


"Kalau memang Ovi Adikmu harus tinggal disini, Aku sih senang- senang saja, malah merasa enak ada yang menemani, menjadi tambah ramai di rumah Kita!" jawab Yohana Istrinya pada Darwis dengan perasaan penasaran.

__ADS_1


__ADS_2