
Semua rencana Jaenab ternyata berhasil, usahanya menjadikan Sahabat dan keponakannya itu, untuk menjadi satu kesatuan cinta, tak sia- sia Ia lakukan, sambil tersenyum dan membayangkan Arjuna dan Sonya berdua, membuat bayangan dalam pikirannya itu, seakan menimbulkan rasa senang kepadanya, dan dengan wajah berseri- seri Jaenab berjalan, yang membuat tanpa disadarinya, langkah kakinya sudah tiba di depan rumahnya itu, dan terlihat kakaknya Widia tersenyum kepadanya, lantas Jaenab pun berucap Salam padanya,
Assalamualaikum," ucap Salam Jaenab pada Widia dengan merasa senangnya itu,
Dan tak lama sambil menghampirinya Kakaknya Widia pun menjawab Salamnya itu,
"Waalaikum Salam," jawab Widia pada Jaenab sambil pikirannya bertanya- tanya,
Lalu Jaenab melangkah masuk kedalam rumah, seraya berkata padanya,
"Kok, sendirian duduknya, kemana yang lainnya?" tanya Jaenab pada Kakaknya itu Widia dengan merasa heran,
Lalu dengan setengah perasaan yang ditahannya, Widia pun bicara padanya,
"Ada lagi pada nonton TV, di dalam!" jawab Widia pada Jaenab Adiknya itu,
Lalu Jaenab pun segera masuk menghampiri mereka yang sedang berkumpul menont televisi itu,
"Wah sedang Asik menonton berita rupanya!" ucap Jaenab pada Mereka semua yang sedang santai itu,
Lalu Ayahnya dengan merasa heran Jaenab pulang dengan tidak beserta Arjuna, lantas dengan penasaran, Ia pun bertanya padanya,
"Kok pulangnya sendirian, kemana Arjuna?" tanya Ayah Hanapi pada Jaenab dengan ingin tahu,
Sambil tersenyum pada Ayahnya itu, lantas Jaenab pun menjawab,
"Arjuna lagi punya acara sendiri dengan Sonya, Ayah!" jawab Jaenab pada Ayahnya itu Hanapi,
"Oh...pantas, tadi penampilannya meyakinkan!" ucap Ayahnya Hanapi pada Jaenab dengan tertawa,
Mendengar mereka berdua bicara dengan senangnya, lalu Wijaya pun segera menimpalinya,
"Wah baru dua hari saja disini, sudah punya gebetan baru, apalagi sebulan!" ucap Wijaya pada mereka berdua dengan menimpali mereka bicara,
"Benar, hebat juga Arjuna itu, siapa gurunya Arjuna?" tanya Ayah Hanapi pada mereka semua dengan celoteh guyonnya itu,
"Yah, pasti kayak Ayahnya dong!" jawab Wijaya pada Mereka dengan tersenyum bangga,
__ADS_1
Dan tak kuat hanya mendengarkan saja, Ibu Subarkah pun turut bicara,
"Nanti kalau pulang, biar Ibu tanya, seperti apa sih cantiknya Sonya itu, Ibu jadi penasaran padanya?" tanya Ibu Subarkah pada mereka dengan tertawa saking senangnya itu,
"Terus Kamu pulang diantar siapa?" tanya Wijaya pada Jaenab dengan ingin tahunya itu,
"Pake ojek, kasihan kalau mengganggu acara mereka, bisa berabe nantinya, takut pada stress dua- duanya karena cintanya itu!" jawab Jaenab pada mereka semua sambil tertawa senang,
Dan tak lama, Anaknya Jaenab, Andri menghampirinya, sambil bicara pada Ibunya itu Jaenab,
"Ibu Andri ingin disuapin Ibu, dari tadi perut Andri lapar, Bu!" ucap Andri pada Ibunya Jaenab dengan memberi tahunya,
Dan Jaenab pun sambil menggendongnya, langsung bicara pada Anaknya itu Andri,
"Oh...kasihan sekali Anak Ibu lapar, sudah Ayo ke dapur, nanti Ibu suapin disana!" jawab Jaenab pada Anaknya itu Andri dengan bergegas pergi ke dapur sambil menggendong Anaknya itu Andri.
Semua melihat mereka itu, tersenyum kepadanya itu, disaat Wijaya melirik Istrinya Widia, tampak Ia sungguh berbeda, Ia cemberut seolah sedang geram pada sesuatu, dengan rasa penasaran, lantas Wijaya bertanya pada Istrinya itu Widia,
"Kamu ini kenapa cemberut begitu? Orang lain tertawa senang ini malah bersedih, Ada apa Widia?" tanya Wijaya pada Istrinya itu Widia dengan rasa ingin tahunya itu,
Widia hanya diam, tak bicara sepatah katapun pada Suaminya itu,
"Iya, Ayah perhatikan Kamu diam dan seolah merasa tak senang Kami bicara tentang Anakmu Arjuna itu, kenapa Widia?" tanya Ayahnya Hanapi pada Widia dengan merasa heran dalam hatinya,
"Jangan mendorong Arjuna untuk berbuat salah pada Orang lain, Ayah!" jawab Widia pada Ayahnya itu Hanapi dengan ketusnya bicara padanya,
Mendengar Widia bicara padanya, membuat Hanapi tak mengerti akan maksudnya itu, dan akhirnya, Ia pun bertanya lagi pada Widia penasaran,
"Maksudmu apa, Widia?" tanya Ayahnya Hanapi pada Widia dengan merasa bingung dibuatnya,
Lalu Widia melirik pada Suaminya Wijaya, dan dengan berat hati, akhirnya segera Widia pun menceritakan pada Ayahnya itu Hanapi,
"Oh, begitu toh masalahnya!" jawab Ayahnya Hanapi pada Widia dengan tertawa padanya,
Mendengar Ayahnya tertawa padanya, lantas Widia pun bicara lagi padanya dengan emosi dalam dirinya itu,
"Kok Ayah sama gilanya, malah tertawa, bukannya memberi nasihat!" ucap Widia pada Ayah Hanapi itu dengan marahnya,
__ADS_1
Melihat Anaknya Widia marah, lantas Hanapi pun terdiam, sambil matanya melirik Wijaya dengan senyumnya itu, lantas Ayahnya pun bicara pada Wijaya,
"Apa Ayah ini salah, Wijaya?" tanya Ayah Hanapi pada Wijaya dengan rasa penasaran,
Dengan sedikit bercanda, Wijaya pun bicara pada Ayah Hanapi itu,
"Gak ada yang salah, tapi tanggapan Widia terlalu naif, mungkin Ayah!" jawab Wijaya pada Ayah Hanapi dengan tersenyum padanya itu,
"Dengar Suamimu bicara itu, Widia!" ucap Ayahnya Hanapi pada Widia dengan matanya menatap pada Anaknya itu,
Semakin saja wajah cemberut Widia menjadi, lalu Ia pun berkata lagi pada mereka semua,
"Aku hanya mengkhawatirkan kekasihnya itu Yuli, bagaimana perasaanya, jika tahu Arjuna itu punya wanita lain lagi, mungkin Ia akan merasa sakit hatinya, Ayah!" jawab Widia pada Ayahnya itu Hanapi dengan kerasnya agar terdengar oleh semua yang ada disitu,
Semua terdiam mendengar Widia marah, dan dengan saling pandang, lalu mereka pun terdiam membisu, karena takut amarah Widia susah untuk dikendalikan lagi,
"Sudah...sudah, jangan diteruskan lagi bicaranya, yang dikatakan Widia itu memang benar, jika Yuli tahu bagaimana?" ucap Ibu Subarkah pada mereka dengan maksud menenangkannya,
Dan semua seolah sedang dalam keheningan hati, yang takut amarah Widia akan meledak, lantaran emosi yang sudah mecapai puncak ubun- ubun Widia itu, mereka pun semua menjadi terdiam.
Di dalam keheningan diamnya mereka itu, sekonyong- konyong Arjuna masuk, dengan wajah berseri- seri itu, lalu berucap salam pada mereka semua,
"Assalamualaikum," ucap Salam Arjuna pada mereka semua dengan perasaan bahagianya itu,
"Waalaikum Salam," jawab Neneknya Subarkah pada Cucunya itu Arjuna sambil tersenyum kepadanya,
Melihat Arjuna datang, lalu meledaklah emosi Widia pada saat itu pada Arjuna, yang baru datang dengan wajah senangnya itu,
"Ini Dia biang keladinya datang, dengan seenak- enaknya, macam- macam dengan udelmu itu, Apa kamu tidak punya otak Arjuna?" tanya Widia pada Arjuna dengan emosinya itu,
Melihat dan mendengar Ibunya marah dengan emosi di otaknya itu, hati Arjuna semakin merasa bersalah karenanya, lantas dengan ketidak tahuannya, Arjuna pun menjawab,
"Biang keladi, biang keladi apa, Bu?" tanya Arjuna pada Ibunya Widia dengan merasa bingung karenanya itu,
"Mengelak lagi, Apa Kamu tidak memikirkan perasaan orang lain Arjuna? Asik- asik dengan perempuan lain, sedang Yuli kau campakkan, dimana nurani mu itu, Arjuna?" tanya Ibunya Widia pada Arjuna dengan amarah yang meluap- luap itu,
Arjuna duduk dengan wajah menunduk malu pada Ibunya itu, rasa kesal dan jengkel seolah menggelayuti pikirannya, hingga rasa senangya hilang di telan bumi, mendengar Ibunya dengan begitu marahnya kepadanya itu, lantas dengan tidak menghiraukan apapun, segera Arjuna pun bicara pada Ibunya itu,
__ADS_1
"Ibu selalu memikirkan yang belum pasti, Arjuna bukan Suami Yuli, dan Arjuna terdesak untuk menjadikannya kekasih kala itu, tapi berbeda dengan Sekarang, Arjuna benar- benar merasakan cinta seutuhnya, dan lagi jika Arjuna bersama Yuli pun, masalah perselisihan Yuli dengan Salsa, mungkin akan menghantam Arjuna, dengan menambah masalah baru, Arjuna ingin bebas, gak mau terikat masa lalu lagi, toh bila perlu Arjuna tinggal disini, Bu!" ucap.Arjuna pada Ibunya Widia dengan segenap hatinya itu,
Lalu dengan tidak menghiraukan semua yang ada disitu, Arjuna pun lantas pergi meninggalkan mereka semua, dengan bergegas masuk berjalan menuju kamar mandi.