Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Lembayung senja


__ADS_3

Pagi itu, Matahari tampak bersinar, langit cerah dan angin sepoi- sepoi mengiringi Arjuna untuk keluar rumah pertama kalinya, rasa kangennya terhadap teman- temannya, menjadikan semangat seolah hidup kembali,


Motor Ninja yang penuh kenangan Ia kendarai lagi, seolah bermimpi Arjuna menapaki tempat kelahirannya setelah masa- masa Ia di ungsikan oleh kedua Orang Tuanya, dan dengan perasaan senangnya Ia pun mengunjungi sahabat dekatnya Yuli teman dekat Salsa, setelah tiba di rumah Yuli, dan tak lama Arjuna pun langsung berucap Salam,


"Assalamualaikum," ucap Arjuna pada penghuni rumah Yuli sahabatnya itu,


Dan tak lama Lalu terdengar dari dalam rumah Yuli suara orang menjawab salamnya,


"Waalaikum Salam," jawab Orang di dalam rumah Yuli,


Dan terdengar suara langkah kaki berjalan menghampiri menuju pintu lalu, brakk!!, pintu dibukanya,


Alangkah senangnya perasaan Arjuna, setelah pintu terbuka tampak Yuli berdiri di depan pintu memandangnya dengan senyumnya, dan langsung bertanya,


"Arjuna, Kamu kemana saja?" tanya Yuli pada Arjuna dengan perasaan gembira,


Lalu Arjuna dengan senangnya menghampiri, Lalu Ia masuk kedalam rumah Yuli, sehingga mereka pun akhirnya bertemu lagi,


"Gimana kabarnya Arjuna?, sudah beberapa tahun tak kunjung ada kabarnya!" ucap Yuli lagi pada Arjuna dengan rasa penasarannya,


"Ada, Biasalah! terus Kamu sendiri bagaimana?" tanya Arjuna pada Yuli dengan senyum di bibirnya,


"Ya beginilah, Aku sekarang kerja di perusahaan swasta, jadi wanita karir, hehe." canda Yuli pada Arjuna berkelakar,


"Wah, hebat dong bisa terbang, he he." ucap Arjuna pada Yuli dengan balik meledeknya,


Akhirnya mereka berdua bertemu kembali setelah sekian tahu berpisah tak bertemu, makanya canda dan tawa mengiringi mereka dalam bercakap- cakap hari itu,


"Bentar Aku lupa saking keasikan ngobrolnya, Kamu mau minum apa? Kopi atau teh manis?" tanya Yuli pada Arjuna menawarkannya,


"Sudah jangan repot- repot, Yul! Tapi kopi hitam boleh, deh!" jawab Arjuna pada Yuli menegaskannya,


Akhirnya dengan bergegas Yuli pun pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Arjuna, dan tak beberapa lama Yuli pun segera kembali,


"Minumlah kopinya!" ucap Yuli pada Arjuna menawarkannya,

__ADS_1


Arjuna pun langsung menyeruput kopi hangat yang disuguhi Yuli kepadanya,


"Mantap kopinya, Yul!" ucap Arjuna pada Yuli dengan rasa senangnya,


"Ngomong- ngomong Kamu nggak kangen dengan Salsa, Salsa bekerja satu perusahaan dengan Yuli, dulu Aku yang merekomendasikannya?" ucap Yuli pada Arjuna dengan rasa ingin tahunya,-


"Gimana, Yah? secara jujur Aku mau untuk bertemu Salsa dan Anakku, tapi Aku malu karena peristiwa dulu itu," jawab Arjuna pada Yuli dengan rasa berat hati untuk mengucapkannya,


"Kalau bisa jangan terbawa perasaan gak enak, Salsa setahu Yuli Orangnya pemaaf dan baik hati, mungkin dengan bertemu ada kebaikan untuk Anakmu itu, kasihan tahu sampai sekarang Dia pun belum menikah," ucap Yuli pada Arjuna memberi tahu,


"Ya, bilang salam saja dari Aku." jawab Arjuna pada Yuli menerangkannya,


Dalam hati kecil Arjuna, sesungguhnya Ia masih mencintai Salsa, getaran hati suka dan cintanya selalu Arjuna tutupi dengan rapat, karena tragedi masa lalunya yang membuat Ia rendah diri di hadapan mantan Kekasihnya Salsa,


Lalu Arjuna pun mengobrol ngaler- ngidul dengan santainya dengan Yuli, membuat seolah masih muda kembali,


"Memang setelah gak jadi menikah Kamu ngapain saja?" tanya Yuli pada Arjuna ingin tahu lebih dalam,


"Pokoknya panjang kalau di ceritakan." jawab Arjuna pada Yuli menjelaskannya.


Dan tak beberapa lama, akhirnya Arjuna pun mau menceritakannya juga pada Yuli Sahabatnya,


Mendengar cerita Arjuna, Yuli seolah terbawa perasaannya,


"Ngiris juga mendengar ceritamu itu, kayak drama korea itu, melo!" ucap Yuli pada Arjuna sambil tertawa lepas.


Kadang keterpautan perasaan dekat bisa membuat orang lebih percaya, dibandingkan dengan dekatnya Saudara tapi perasaan perhatiannya luput tak bermakna di hati,


Setelah hampir dua jam, Arjuna asik mengobrol akhirnya mereka pun berpisah juga, dan waktupun beranjak menuju Sore hari untuk memanggil malamnya datang.


Hari itu tampak Anwar sedang menunggu seseorang di kontrakan Ruslan Sahabatnya itu, wajahnya merah seolah memendam kekesalan dalam otaknya, gelisah mondar- mandir berjalan, dengan tak bisa diam,


"Apa sudah Kamu Kasih tahu, tentang pesan Aku itu, Rus?" tanya Anwar pada Ruslan dengan tak sabaran menunggu,


"Sudah, Darwis berjanji akan datang kemari, menenuhi panggilanmu, tapi awas jangan sampai ribut, Aku gak mau tahu!" jawab Ruslan pada Anwar menjelaskan,

__ADS_1


"Tenang saja, Aku janji!" ucap Anwar lagi pada Ruslan menegaskannya.


Sambil menunggu Darwis datang, Mereka pun akhirnya mengobrol kesana- kemari sambil menikmati segelas kopi hitam dan gorengan hangat, yang membuat menunggu terasa nikmat dirasakannya,


Dan tak lama berselang, terlihat Darwis berjalan dengan gontainya, menghampiri mereka berdua,


"Assalamualaikum," ucap Salam Darwis pada Mereka berdua,


"Waalaikum Salam," jawab Mereka pada Darwis dengan kompaknya,


Lalu Mereka pun saling bersalaman, lalu Darwis duduk pas disebelah Ruslan, dan tak lama Anwar pun berucap pada Darwis dengan nada menyindirnya,


"Wah, Sang lelaki ganteng sedang lelah hari ini, gak ada yang bisa diajak menikah, mungkin?" ucap Anwar pada Darwis dengan ketusnya bicara,


Mendengar Anwar menyindirnya, lalu Darwis pun berkata,


"Aku kemari memenuhi panggilanmu, Ada apa?" tanya Darwis pada Anwar sambil matanya melirik pada Ruslan yang sedang memperhatikan mereka berdua bicara,


"Begini, Aku baru tahu dari Kakakku, Bahwa Kamu marah- marah datang kerumah Kakakku, dengan maksud untuk menikahi Salsa, Apa betul begitu?" tanya Anwar pada Darwis yang sudah tersulut emosinya,


Mendengar ucapan Anwar yang seolah menamparnya langsung dengan kata- katanya, membuat rasa malu dan penyesalan menghinggapinya, teringat Ia di saat itu dengan otak bodohnya memaksakan keinginannya itu dengan tanpa berpikir, hanya demi napsu yang tertunda, dengan perasaan berat hati lalu Darwis pun bicara dengan nada pelan,


"Betul apa yang Kamu katakan itu, tapi setelah Aku menyadarinya, Aku merasa malu pada semua orang- orang yang telah Aku kecewakan, terlebih lagi pada Almarhum Papaku, Aku keras kepala hingga Orang- Orang yang mencintaiku menjadi kecewa karenaku, dan dengan segala rasa hormat pada Kamu dan Kakakmu, Aku mohon maaf atas kebodohan dan kekhilapan Aku, War!" jawab Darwis pada Anwar yang sedari tadi gelisah karena menahan amarahnya,


"Apa betul, Apa yang Kau ucapkan barusan? Kamu sudah tak ingin menikahi Salsa lagi!" tanya Anwar pada Darwis dengan penuh penasaran,


Darwis menganggukkan kepalanya pada Anwar seraya berkata,


"Aku bersumpah dengan rasa sadar, dan dari lubuk hatiku yang paling dalam, sekali lagi, Maafkan Aku, War!" jawab Darwis lagi pada Anwar sambil merangkulnya.


"Nah Aku sekarang tidak merasa khawatir lagi, jadi merasa lega melihat kalian saling memaafkan." ucap Ruslan pada Mereka berdua menimpali pembicaraan mereka,


Alam kadang membuat kita berpikir akan semua tindakan Kita yang telah usang, menambatkan cintanya diatas keabadian kebaikan untuk orang lain, dengan tanpa ada pamrih yang Ia tunggu untuk berpacu.


"Tadinya Aku berpikir Kamu sedang menyiapkan penghulu untuk perkawinan konyolmu itu, Tetapi tetnyata tidak, terima kasih untuk sadarnya, he he!" ucap Anwar lagi pada Darwis sambil meledeknya.

__ADS_1


Darwis hanya tersenyum mendengarnya, Mereka pun akhirnya asik mngobrol bertiga dengan santainya, setelah melepas lelah setelah rutinitas kerjanya.


__ADS_2