Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Persiapan dan ajakan hilang


__ADS_3

Hari kamis yang ditunggu akhirnya tiba juga, pagi itu tampak Ibu Widia begitu senangnya,


"Ayah, hari ini jadi gak kita ke rumah Orang Tuaku? Aku sedah lama menunggu hari ini, hari untuk berangkat menengok Kedua Orang Tuaku itu?" tanya Widia pada Suaminya Wijaya itu,


Ayah Wijaya segera mengangguk pada Istrinya itu Widia, dengan senyum senang dihatinya, dan mereka pun akhirnya memanggil Anaknya Arjuna,


"Arjuna, Ayo cepat bersiap- siap, kita berangkat untuk menengok Nenek dan Kakekmu itu!" ucap Ibunya Widia pada Arjuna dengan senangnya itu,


Arjuna sejenak terdiam melihat kedua Orang Tuanya itu, dan dengan rasa pebasarannya Arjuna pun bertanya pada Ibunya itu,


"Yakin berangkat sekarang, Bu?" tanya Arjuna pada Ibu Widia dengan merasa ingin tahu,


Mendengar Anaknya Arjuna bertanya seperti itu, membuat hati Ibu Widia, bertanya- tanya padanya, dan tak lama Ibu Widia pun bicara padanya,


"Iya, Kamu gak mau ikut, Arjuna?" tanya Ibunya pada Arjuna dengan rasa ingin tahu,


Arjuna tertegun melihat Ibunya merasa heran padanya itu, lantas Arjuna pun menjawab,


"Enak saja Arjuna tidak ikut, sudah lama sekali Arjuna gak ketemu Kakek sama Nenek di kampung, Arjuna sudah kangen untuk bertemu mereka, Ibu!" jawab Arjuna pada Ibunya Widia dengan senangnya,


Mendengar itu perasaan Ibu Widia semakin bahagia karenanya, lalu dengan rasa gembira dihatinya, lantas Ibu Widia pun bicara lagi pada Arjuna itu,


"Sudah sana siap- siap, Kita segera berangkat segera!" ucap Ibu Widia pada Arjuna dengan menyuruhnya,


Perasaan keluarga itu semakin bahagia, karena sudah lama mereka tak berkunjung kesana, dan cerita indahnya di kampung, yang membikin mereka ingin segera mengunjunginya.


Dan selang beberapa lama mereka bersiap- siap, akhirnya mereka pun siap juga, tapi sekonyong- konyong Ibu Widia bertanya pada Anaknya itu Arjuna,


"Nanti dulu, kayaknya ada yang kurang, Yah?" tanya Ibu Widia pada Suaminya Wijaya dengan rasa gusarnya itu,

__ADS_1


Ayahnya dan Arjuna seolah- olah merasa bingung, mereka saling pandang satu sama lain, sambil melirik Ibunya yang memandangnya dengan penuh tanya itu,


"Semua perlengkapan Ayah sudah siap, dan untuk mrnginap sampai minggu sore kayaknya sudah siap semua, kalau kamu Arjuna?" tanya Ayahnya Wijaya pada Anaknya Arjuna dengan ingin tahunya itu,


Arjuna langsung memeriksa semua yang akan dibawanya, untuk persiapan menginap disana, dengan penasaran, Arjuna pun menjawabnya,


"Arjuna sudah siap, bahkan kuota Hp pun sudah Arjuna beli, lalu apa, dong?" jawab Arjuna pada Ayahnya Wijaya dengan menjelaskannya,


Melihat Ayah dan Anak saling memeriksa bawaannya itu, yang membuat Ibu Widia menggeleng- gelengkan kepalanya, lantas Ia bicara lagi pada mereka berdua,


"Bukan..bukan itu maksud Ibu, tapi Yuli mau ikut kita gak, Arjuna?" tanya Ibu Widia pada Arjuna dengan rasa ingin tahunya itu,


Akhirnya mereka pun sadar, dan membuat mereka tertawa lepas, saking lucunya itu, dan Akhirnya Arjuna pun menjawabnya,


"Gak usah ajak Yuli, dan gak akan mungkin bisa, karena Dia itu bekerja, liburnya hanya minggu!" jaeab Arjuna pada Ibu Widia dengan menjelaskannya,


Sejenak Ibu Widia terdiam mendengar jawaban Anaknya Arjuna, dengan merasa ringannya itu, tanpa ada kesedihannya sama sekali, melihat Ibunya diam, Arjuna pun langsung bertanya pada Ibunya itu,


Mendengar Arjuna bertanya padanya itu, lantas dengan merasa heran dalam dirinya itu, Ibu Widia pun segera bertanya pada Anaknya Arjuna itu,


"Yakin Kamu gak apa- apa Arjuna?" tanya Ibu Widia lagi pada Anaknya Arjuna dengan ingin tahu,


Arjuna tersenyum pada Ibunya itu, dan dengan senyum di wajahnya, Arjuna pun menjawab,


"Memangnya kenapa kalau Yuli tidak ikut, harus nangis atau jingkrak- jingkrak gitu, harus gimana dong?" tanya Arjuna pada Ibunya Widia dengan sedikit rasa tak enaknya itu,


Ibu Widia merasa bingung, atas sikap Anaknya itu pada Yuli kekasihnya itu, dengan merasa tak berat sedikit pun, untuk meninggalkannya, lantas Ia bicara lagi,


"Memang Kamu sudah bicarakan ini pada Yuli?" tanya Ibunya Widia lagi pada Arjuna dengan rasa ingin tahunya itu,

__ADS_1


Arjuna menggeleng- gelengkan kepalanya pada Ibunya Widia itu, lantas Arjuna bicara lagi,


"Memang kenapa sih, Bu? Sudah jangan pikirin Yuli, Ayo cepat berangkat, nanti kesiangan Kita!" jawab Arjuna pada Ibunya Widia dengan kesalnya itu,


Melihat Anaknya seolah- olah tidak senang, dengan pertanyaan Istrinya itu, lantas Ayah Wijaya pun bicara pada Arjuna,


"Betul apa kata Arjuna itu, Ayo kita berangkat sekarang!" ucap Ayah Wijaya pada mereka untuk segera berangkat.


Dan mereka pun akhirnya berangkat, dengan perasaan heran dan khawatir akan hubungan Anaknya itu Arjuna.


Dalam perjalanan mereka seolah diam, perasaan yang tadinya lepas, kini seakan- akan resah menghantui kedua Orang Tua Arjuna itu, deretan suka yang baru saja terukir dalam pikirannya, melihat Arjuna sudah bisa pacaran lagi, kini seperti diambang hancur, begitu perasaan Ibu Widia pada Anaknya Arjuna.


Dalam diamnya Arjuna merasa kesal karenanya, Kedua orang Tuanya itu selalu saja merecoki hubungannya dengan Yuli, seolah mereka harus segera menikah cepat, tanpa memikirkan kesiapan dari Anaknya itu Arjuna,


"Kok pada bengong, masih mikirin Yuli, kenapa sih, seolah harus setuju pada kalian semua, Yuli punya kehidupannya sendiri, dan tak mungkin Aku memaksanya, sekarang tolong pikirkan keluarga saja, Yuli masih penjajaan belum resmi jadi Istri Arjuna, dan lagi bukan saudara!" ucap Arjuna pada mereka berdua yang sedari tadi diam dengan segala harapnya itu.


Mendengar Anaknya itu tambah besar marahnya, lantas Ayah Wijaya segera membelokkan mobilnya di Rest Area, dan segera Ia pun turun, sambil mengajak mereka berdua,


"Ayo turun dulu, Ayah ingin makan Mie Ayam dulu, lapar!" ucap Ayah Arjuna pada Mereka berdua dengan memegang perutnya itu,


"Ayo cepat Arjuna, kita Istirahat dulu, lapar!" ucap Ibu Widia pada Anaknya Arjuna dengan mengajaknya untuk turun,


Akhirnya Arjuna pun turun juga, dan mereka pun menuju kedai Mia Ayam, untuk menambal rasa laparnya itu,


"Masih siang, jadi gak ramai pengunjung, coba kalo sampainya magrib atau Isya, pasti Rest Area ini ramai, dan tak mungkin Ayah bisa berhenti disini!" ucap Ayah Wijaya pada mereka berdua sambil tangannya mengambil goreng tempe yang berada di depannya itu, happ!!,


"Kamu pesan apa, Arjuna?" tanya Ayah Wijaya pada Arjuna dengan ingin tahunya,


"Mie Yamin, biar sedikit mantap!" jawab Arjuna pada Ayahnya Wijaya itu, sambil memegang perut gendutnya itu,

__ADS_1


"Ibu sih basah, Yah!" ucap Ibu Widia pada Ayahnya dengan kerasnya bicara saking laparnya itu,


Akhirnya keluarga ini, mengisi perutnya dengan semangkuk Mie Ayam, dan tak lupa rasa cair dari diamnya itu, kini berangsur- angsur hilang di telan bumi.


__ADS_2