Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Kecewa


__ADS_3

Keharuan kala Sore itu merasa babak baru, dan perasaan rancu dan tidak terima tertanam dalam diri Salsa, untaian peristiwa dan perjalanan hidupnya seakan tak mungkin bisa Ia hapus dan lupakan.


Perasaan itu tentu tidak datang dengan sendirinya, berbekal penderitaan serta hinaan yang membuat Salsa tertelungkup tak berdaya.


Di kala kecil Sosok yang Ia tunggu dan sekaligus di dambakannya tak pernah menggapai piranti perhatiannya, rasa sayang dan rasa cintanya hanya teruntuk Ibunya Seorang, tiada yang lain.


Seolah aneh Seorang Ayah datang menghampiri, yang dalam pikirannya tak terbersit sedikit pun untuk diketahuinya.


Melihat Salsa tidak sedikit pun merespon kedatangannya, Bapak Sebastio diam sejenak, pikirannya berputar harus bagaimana Salsa bisa menerimanya dengan tangan terbuka, lalu Ia pun bicara,


"Maafkan Ayah, Nak! Sungguh memang tak perlu mengenal Sosok Orang Tua yang telah membiarkan Anaknya terlunta, Seperti Ayahmu ini, Ayah tahu pasti Kamu merasa sangat kecewa pada Ayah, setelah sekian lama Kamu terbiasa dengan kemandirian tanpa Ayah," ucap Bapak Sebastio pada Salsa dengan rasa menyesal di hati,


Salsa tetap hanya diam, matanya hanya memandang Ayahnya, dalam pikirannya mungkin tak tahu harus apa, rasa emosional dengan Ayahnya memang tak pernah ada,


"Salsa, Ayo bicara pada Ayahmu, jangan diam terus seperti, tidak baik, Nak!" ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa mengingatkan,


"Sudah jangan dipaksa, biarkan saja, toh Dia tidak bersalah, Ayah sangat mengerti dan maklum." ucap Bapak Sebastio pada Salsa lagi,


"Mas, Mungkin Salsa masih merasa kecewa, setelah sekian tahun tak pernah mengenal Sosok Ayah dalam hidupnya." ucap Ibu Juariah pada Bapak Sebastio menerangkan,


"Ya, Aku tahu, Aku merasa berdosa atas semua yang kulakukan padanya." jawab Bapak Sebastio pada Ibu Juariah mengeluh,


Dan disela bincangnya, Salsa beranjak dari duduknya hendak pergi masuk ke kamarnya,


"Maaf Ayah, Salsa masuk ke kamar dulu." ucap Salsa pada Ayahnya memberi tahu,


Dengan segera Salsa pun masuk kedalam kamar, melihat Salsa berjalan masuk, mereka berdua hanya bisa diam terpana,

__ADS_1


Di dalam kamar Salsa terus berpikir, apa gunanya Sosok Ayah hadir tapi segala penderitaan dan kesusahan tentang hidupnya masih terasa sakit di hatinya, mungkin dulu Aku butuh seorang Ayah dengan segala perhatiannya, tapi untuk sekarang apa yang bisa Ayah lakukan untukku, begitu pikiran dalam benak Salsa.


Di teras Ibu Juariah dan Bapak Sebastio berbincang seputar Anaknya Salsa, memang tidak mudah untuk menerima setelah bertahun- tahun tidak mengenal dan tak pernah ada dalam hidupnya.


"Maafkan Salsa, Mas! Mungkin harus perlahan- lahan untuk bisa mendekati Dia, dalam perjalanan hidupnya memang terasa pahit yang Ia alami, jadi tak mudah untuk bisa menerima Orang yang mengecewakannya." ucap Ibu Juariah pada Bapak Sebastio mengingatkan,


"Ya, Aku pun mengerti, walau tak menerima sekalipun itu pilihannya, dan tak bisa disalahkan." jawab Bapak Sebastio pada Ibu Juariah dengan perasaan sedih.


"Aku tak kan lama- lama, yang penting Aku tahu kalian sehat, mungkin besok- besok Kita berlibur bersama, atau yang lain untuk mendekatkan dan merekatkan cinta kita semula." ucap Bapak Sebastio pada Ibu Juariah menjelaskan,


"Aku hargai kedatangan Mas kemari." jawab Ibu Juariah pada Bapak Sebastio lagi.


Dan Bapak Sebastio pun akhirnya pergi juga, mungkin dalam otaknya berpikir untuk rencana mereka kedepannya,


"Aku pamit dulu, biarkan Salsa jangan diganggu, nanti Aku kemari lagi, sampaikan saja Aku pulang!" ucap Bapak Sebastio pada Ibu Juariah menjelaskan.


Sepeninggal Bapak Sebastio, Ibu Juariah langsung menghampiri Anaknya Salsa, dengan ogah- ogahan Salsa pun bangun dari pura- pura tidurnya,


"Tadi Kamu kenapa? Ayahmu jauh- jauh kemari demi Kamu." ucap Ibu Juariah pada Salsa memberi tahu,


"Salsa harus bagaimana, Bu?" jawab Salsa pada Ibunya Juariah merasa jengah,


"Ibu gak memaksamu harus itu, harus ini, tapi hangatlah menerima Ayahmu, kelihatannya nanti Ibu gak mendidik Kamu," ucap Ibu Juariah pada Salsa memberi tahu,


Salsa hanya diam membisu, enggan untuk menjawab.


Sumbringah perasaan hati Bapak Sebastio setelah bertemu dengan Anaknya, bertahun- tahun Ia tak bersamanya, mungkin sekarang waktunya untuk membalas itu semua, dari kesalahan- kesalahan yang dulu Ia buat terhadapnya, begitu jalan pikiran Bapak Sebastio di benaknya.

__ADS_1


Berbeda dengan Salsa, Ibu Juariah merasa senang atas kunjungan mantan Suaminya itu, rasa memori lama mulai terasa di hatinya, walaupun rasa ragu selalu membayangi di dalam pikirannya, karena dulu Dia yang memulai penghianatannya dengan aibnya.


"Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Mas Sebastio, Apakah murni ingin bertemu Salsa, atau ada maksud yang lain, Atau juga merajut lagi keluarga seperti dulu." begitu pertanyaan- pertanyaan yang menyelimuti dalam hati Ibu Juariah.


Paginya Salsa masih termenung memikirkan Ayahnya, rasa benci, sakit hati dan dendam menyelimuti diri Salsa pada Ayahnya, mengapa baru sekarang Ia menemuinya, dulu- dulu disaat Salsa butuh kehangatan dan perhatiannya menjauh tak perduli padanya, pikiran dan pertanyaan seputar kekecewaan tentang Ayahnya seolah campur aduk dalam hatinya,


"Kenapa lagi, Sa?" tanya Ibunya Juariah pada Salsa ingin tahu,


"Aku benci Ayah, Bu!" jawab Salsa pada Ibu Juariah dengan sensinya,


"Kenapa benci, coba ceritakan pada Ibu?" ucap Ibu Juariah pada Salsa Anaknya ingin tahu,


"Ibu pasti tahu maksudnya, Sekarang Ayah kemari lalu untuk apa coba, Salsa gak perlu Ayah, cukup Ibu yang terbaik di dunia ini, gak ada yang lain." jawab Salsa pada Ibu Juariah dengan perasaan sedih,


"Jangan terus memvonis Ayahmu, Dia sudah sadar saja seharusnya kita bersyukur, semua Orang punya sisi gelap dan khilapnya, itu pasti!" ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa menjelaskan,


"Benar yang Ibu katakan itu, tapi mengusir seorang Anak tanpa berdosa hingga Ia terlunta, Apakah itu harus kita maafkan, lalu setelah Kita menemukan jati diri dan kemandirian, Dia datang dan memperkenalkannya seorang Ayah, Apakah betul begitu?" jawab Salsa pada Ibu Juariah dengan menahan amarah di otaknya,


"Ibu mengerti kekecewaan Kamu, Ibu pun tak bisa melarang Kamu untuk tidak menerimanya, itu pilihan Kamu, yang penting bagi Ibu Kamu adalah satu- satunya yang membuat Ibu hebat, Nak!" ucap Ibu Juariah pada Salsa sambil merangkulnya dengan sayang,


"Aku tak mau rasa cinta dan perhatian Ibu digantikan Orang lain, termasuk Ayah sendiri." jawab Salsa pada Ibu Juariah dengan perasaan sedih,


"Gak akan ada yang bisa menggantikan peran Ibu terhadapmu, Nak!" ucap Ibu Juariah pada Salsa dengan segenap jiwa dan raganya.


"Kalau toh Ayahmu kemari, bukan berarti perahu yang telah kita dayung bersama di lautan lepas, kembali lagi untuk bersandar di dermaga," ucap Ibu Juariah pada Salsa mengingatkannya.


Cerita sendu kehancuran menjalani peran, tak sepadan dengan prilaku ahlak yang saling memuja, bingkai kebaikan dengan seribu intan permata, tergores sayatan tingkah ketidak adilan.

__ADS_1


__ADS_2