
Mama Hanapi bingung atas apa yang terjadi pada Anaknya itu, cerita hubungan cintanya, memang menerjang kehancuran persahabatannya, dengan Salsa dan keluarganya,
"Kenapa Kamu ini, seolah menghindar dari Ibu, ada apa?" tanya Mama Suci pada Darwis yang pura- pura tak melihatnya itu,
Mendengar Mamanya bertanya padanya dengan rasa ingin tahunya itu, lantas dengan gusarnya, akhirnya Darwis pun menjawabnya,
"Gak ada apa- apa, Ma! Hanya perbedaan pendapat saja, tentang hubungan Ovi dengan Davi, Itu saja, Ma!" jawab Darwis pada Mama Suci dengan tersenyum,
"Memang perbedaan pendapat apa, yang membuat Adikmu Ovi menangis dengan sedihnya itu?" tanya Mama Suci pada Darwis dengan menjelaskannya,
Akhirnya Darwis menceritakan semuanya, tentang hubungan asmara antara Ovi dan Davi itu, dan niatnya untuk melarang Ovi, untuk behubungan dengan Davi,
Mama Suci menggelang- gelengkan kepalanya, jiwanya tak mengerti ini akan terjadi pada Anaknya itu, Dia pun berpikir tentang persahabatan Anaknya itu Darwis, yang memang terasa dekat dengan Salsa dan keluarganya,
"Coba, menurut Mama bagaimana Darwis harus menyikapinya?" tanya Darwis pada Mamanya Suci dengan merasa bingung karenanya,
Mama Suci terlihat diam sejenak, pikirannya mengkaji apa yang menjadi momok permasalahan pada Anaknya itu, hingga dalam benaknya terbentur rasa gelisah untuk memutuskan semua itu, dan kini yang terlihat bayangan sedih putrinya itu Ovi,
"Mama pikir memang persoalan ini sungguh pelik juga, disatu sisi Ovi bersedih, dan di lain sisi kedekatan Kita pada Salsa dan keluarganya, hampir Mama bingung juga untuk memutuskan semua ini!" jawab Mama Suci pada Darwis Anaknya itu,
Darwis termenung sambil menatap tajam Mamanya itu, perasaan sayang pada Adiknya kini terbentur perasaan tak enak dengan Salsa dan keluarganya, hingga batinnya berkecamuk dan saling mengalahkan satu sama lain dalam benaknya itu,
"Darwis menjadi bingung dibuatnya, Ma!" ucap Darwis pada Mamanya itu Suci dengan mengeluh,
Mama Suci memandang Anaknya itu Darwis dengan merasa kasihan, mengingat Salsa adalah Orang yang tak bisa di lupakan dalam diri Anaknya itu Darwis, yang seolah merasa terbebani jika hubungan mereka itu terhalang,
"Tapi itu kembali lagi pada Davi, dengan alasan seperti itu, mungkin jika Davi berterus terang pada Salsa, Salsa bisa saja memakluminya, mengingat alasannya itu restu orang tua semata!" ucap Mama Suci pada Anaknya Darwis dengan menjelaskannya,
Kepala Darwis mengangguk pada Mamanya Suci, lalu Dia menoleh pada Istrinya Yohana, yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua bicara, lantas Darwis pun bicara lagi,
__ADS_1
"Memang itu lumrah dalam hubungan antara dua manusia dalam bercinta, tapi yang Darwis sayangkan kenapa dengan Ovi, bagaimana nanti Salsa menilainya terhadap Darwis, mengingat kesalahan Darwis pada Salsa terlalu besar, Ma!" ucap Darwis pada Mamanya itu Suci dengan perasaan resahnya itu,
"Mama mengerti itu semua, tapi bukan berarti kita juga mengabaikan Ovi, lihat Dia sedang bersedih atas sikap kerasmu itu, itu Adikmu, Darwis!" ucap Mama Suci pada Anaknya Darwis dengan menegaskan padanya,
Darwis seolah tersentuh juga Mamanya bicara tentang Ovi padanya, batinnya seakan bertempur dengan rasa bersalahnya pada Adiknya itu, mengingat ketakutan hancurnya persahabatan baik selama ini dengan Salsa, seakan- akan momok menakutkan bagi dirinya itu,
"Darwis mengerti akan itu, Ma!" jawab Darwis pada Mama Suci dengan tatapan resahnya itu,
"Sekarang, bagaimana menurutmu, Yohana?" tanya Mama Suci pada Yohana dengan senyum terlihat diwajahnya itu,
Yohana sungguh kaget, mendengar dengan tiba- tiba Ibu Mertuanya itu bertanya padanya, dengan sedikit menahan diri, Yohana pun menjawabnya,
"Menurut Yohana sih, tidak ada yang salah dari permasalahan ini, mengingat alasan Davi kuat untuk kebaikan hubungannya dengan Orang Tuanya, kalau di bilang bingung juga, tapi Davi pun merasakan penderitaan yang sangat sakit mungkin dalam hatinya, atas semua rasa bersalahnya pada Salsa!" jawab Yohana pada Mama Suci dengan perasaan gelisahnya itu,
Semua seolah mengalah untuk persoalan ini, tapi rasa cemburu Yohana pada Salsa kembali seolah muncul, hingga tatapan benci pada Suaminya Darwis jelas terlihat pada wajahnya itu.
Sementara Arjuna pun sedang di mabuk cinta pada Sonya kekasihnya itu. Derap rasa suka dan cintanya, kini tertaut hanya pada Sonya seorang, dan serpihan kenangan lalu bersama Yuli kini berangsur- angsur mulai Arjuna lupakan,
Jaenab menggeleng- gelengkan kepalanya itu pada Arjuna, terlihat Jaenab dengan wajah bersedih, yang sedari tadi hanya diam termenung, memikirkan nasibnya yang tragis itu,
Dan sekonyong- konyong Nenek Subarkah datang menghampiri mereka, sambil langsung bicara pada Arjuna itu,
"Kamu ini bagaimana, tidak lihat Tantemu sedang bersedih!" ucap Nenek Subarkah pada Cucunya itu Arjuna dengan merasa kesalnya itu,
Terlihat wajah Arjuna memerah karena malu, dan pikirannya baru sadar, jika Tantenya itu baru saja di hantam malapetaka yang sangat membuatnya menderita, lalu dengan malu, Arjuna pun bicara pada Neneknya itu, Subarkah,
"Maaf, Arjuna lupa, Nek!" jawab Arjuna pada Nenek Subarkah sambil tersenyum padanya,
Mendengar Neneknya menjawab seperti itu, lantas Nenek Subarkah pun tersenyum juga dibuatnya, seraya bicara lagi pada Cucunya itu Arjuna,
__ADS_1
"Gimana gak lupa, Orang lagi kesengsem oleh Sonya, hingga bisa lupa begitu!" ucap Nenek Subarkah pada Arjuna dengan meledeknya,
Semua orang disitu seakan terbuai rasa senang Arjuna, yang sedang merasakan jatuh cinta pada teman Tantenya itu,
Tiba- tiba Ayah Hanapi pun datang menghampiri mereka, dengan rasa ingin tahu pada dirinya itu,
"Kalian kelihatannya sedang riang gembira, Ada apa sih, hingga tertawanya terdengar sampai ke teras depan saking senangnya?" tanya Ayah Hanapi pada pada mereka dengan rasa penasaran,
Melihat Ayah Hanapi datang, lalu bertanya pada mereka itu, lantas semua yang ada di situ pun Tertawa riang, melihat lucu wajah Ayah Hanapi yang penasaran itu, lantas Ibu Subarkah pun menjawab pada Suaminya itu,
"Ini loh, Yah! Arjuna lupa diri, masa menyuruh Tantenya kerja, padahal keadaan Tantenya sedang dirundung duka!" jawab Ibu Subarkah pada Suaminya Hanapi dengan tertawa,
Mendengar jawaban dari Istrinya itu, membuat Ayah Hanapi ikut tertawa juga, lantas Ayah Hanapi bicara pada Arjuna,
"Arjuna, Kakek tahu, bukan mengantar Tantemu itu untuk kerja, tapi rasa ingin bertemu dengan Tema Tantemu itu, yang membuatmu semangat untuk pergi, bukan begitu, Arjuna?" tanya Kakek Hanapi pada Arjuna Cucunya itu,
Arjuna tersenyum karenanya, dan dalam pikirannya mengiyakan dengan jawaban Kakeknya itu Hanapi, lalu dengan merasa sayang pada Cucunya itu, Hanapi pun langsung bicara pada Arjuna,
"Ayo sudah sana cepat pergi, nanti Kekasihmu itu, meninggalkanmu sendirian!" ucap Kakek Hanapi pada Arjuna dengan menggodanya,
"Makasih, Kek! Motornya Arjuna pinjam lagi!" ucap Arjuna pada Kakeknya itu Hanapi sambil berbisik di telinga kakek Hanapi,
Kakek Hanapi mengangguk pada Arjuna dengan merasa senang di hatinya itu,
Arjuna lalu pergi untuk menemui kekasih barunya itu Sonya,
Tiba- tiba terdengar teriak Jaenab pada Arjuna dengan kerasnya itu,
"Tunggu, tunggu Aku Arjuna!" teriak Jaenab pada Arjuna sambil berlari ke arah Arjuna,
__ADS_1
Kedua Orang Tuanya saling pandang, melihat Anaknya Jaenab berlari dan memanggil Arjuna dengan teriak kerasnya itu, benaknya berpikiran ada apa Jaenab memanggil Arjuna itu, dengan rasa penasaran dalam diri mereka itu.