
Serpihan kehidupan tak terasa luput dari segala harapan yang kita inginkan, jembatan panjang yang kita pijak seolah berbelok menghantam tirani kepalsuan, berdetak napas tak mempengaruhi udara yang kita hembuskan,
Kepunahan seseorang yang Kita Cintai, menjadikan kepedihan dan lara tertanam dalam batin, rona bayangan dalam pikiran terus menggelayuti pusara ingatan yang nyata.
Pagi itu Mama Suci duduk sendiri dengan meratapi nasibnya, pikirannya masih teringat akan Suaminya, batinnya menangis manakala senyum manis Suaminya terbayang dalam pelupuk matanya,
"Sudah Ma, jangan bersedih terus, nanti Mama sakit!" ucap Anaknya Ovi pada Mamanya Suci mengingatkan,
"Iya, sayang!" jawab Mamanya Suci pada Ovi sambil menganggukkan kepalanya,
Guratan panjang kehidupan tak habis walau serpihannya telah hilang dengan angannya,
"Mama kepikiran Kakakmu, Darwis!" ucap Mama Suci pada Ovi memberi tahu,
"Ibu Kangen pada Kakak, bukan?" jawab Ovi pada Mamanya Suci dengan rasa sayangnya,
"Ibu mengkhawatirkan Kakakmu, takut kelakuan tidak warasnya muncul lagi, kasihan Istrinya Yohana, mana Dia lagi hamil lagi!" ucap Mama Suci pada Anaknya Ovi dengan penjelasan yang panjang,
"Kita doakan saja, semoga Kak Darwis dan Istrinya, senantiasa hidup rukun dan sehat selalu," jawab Ovi pada Mamanya Suci lagi.
Sepantasnya wujud Cinta seorang Anak tercurah hanya untuk Orang Tuanya, karena degup jantung yang berdetak merasakan betapa Sayang dan cintanya Orang Tua pada Anaknya.
Yang dipikirkannya Darwis, ternyata sedang bekerja, di saat berduka dengan sedihnya berangsur- angsur kian menghilang, cerita Darwis lalu kini tiada, berubah Darwis si pendiam.
"Wis, akhir- akhir ini Kamu terlihat lebih pendiam kenapa? Apakah masih bersedih lantaran Papamu meninggal?" ucap Anwar pada Darwis dengan perhatiannya,
Darwis tetap diam, hanya matanya saja yang melirik pada Anwar rekan kerjanya,
"Sudah ikhlaskan Papamu pergi dengan tenang, berharap semoga segala amal petbuatannya di terima yang Maha Kuasa." ucap Anwar lagi pada Darwis mengingatkannya,
Lalu sekonyong- konyong Ruslan datang menghampiri sambil menyela pembicaraanya,
__ADS_1
"Ada apalagi dengan teman Kita yang satu ini, War?" tanya Ruslan pada Anwar ingin tahu,
"Gak tahu, mungkin masih sedih dan berkabung!" jawab Anwar pada Ruslan menjelaskannya,
"Sudah Wis, kalau bersedih jangan kelamaan, mendingan berdoa." ucap Ruslan lagi pada Darwis mengingatkannya lagi,
Percakapan mereka seolah terasa kurang, karena Darwis tidak seperti biasanya, seolah Dia malas untuk bicara.
Wafatnya Papa Hanapi, terdengar ketelinga Ibu Juariah, yang langsung merasa berduka atas kepergian Papa Hanapi,
"Kasihan Dia, baru saja hendak berupaya untuk menyadarkan Anaknya Darwis dari harapan gilanya, tapi tak kesampaian." ucap Ibu Juariah pada Salsa dengan rasa ibanya,
"Kasihan Darwis, belum dirinya sembuh dari bayangan masa lalunya, sudah ditinggalkan wafat Papanya." jawab Salsa pada Ibu Juariah dengan perasaan sedih.
Percakapan Ibu dan Anak itu terasa menyedihkan, karena ucapan dan topiknya tak lepas dari wafatnya Papa Hanapi.
Tiba- tiba Salsa teringat sesuatu di otaknya, wajahnya langsung memerah dengan segudang rasa marahnya,
"Rupanya masih hidup Si brengsek itu, memang ketemu dimana, Sa?" tanya Ibunya Juariah pada Anaknya Salsa ingin tahu,
"Tadi sewaktu Salsa nganter Davi beli baju di pasar baru!" jawab Salsa pada Ibunya Juariah dengan perasaan jengkelnya,
Memang Manusia tak lepas dari rasa dendam yang senantiasa selalu mengiringi kemanapun mereka pergi, tanpa batas dan waktu.
Sayatan kepedihan tak seindah pelangi, kepak sayap tak bertuan pergi tidak tahu rimbanya, sekelumit dinding perbedaan menghujatnya, mendekam dalam relung kalbu orang yang tersakiti.
Begitu gambaran batin Yohana saat ini, ucapan Darwis kala itu membuat dirinya berpikir akan kepalsuan cinta Suaminya terhadapnya, pekik teriak dengan nada cinta pada Orang lain terasa sangat menyakitkan yang tertanam dan tak bisa hilang dalam hatinya, dengan sedihnya sampai tak terasa air matanya jatuh membasahi kedua pipinya, kerena terlalu dalam merasakan kepedihannya,
Dari jauh Darwis melihat Istrinya menangis sendiri, dengan segudang tanya di benaknya, Darwis dengan segera menghampirinya,
"Kamu menangis, Ada apa, Yohana?" tanya Darwis pada Istrinya Yohana dengan rasa penasarannya,
__ADS_1
Mendengar suara Suaminya bertanya padanya, rasa tak enak pun mulai mengelilingi perasaan Yohana, lalu matanya memandang Suaminya dengan tajam, dan tak lama Yohana pun menjawabnya,
"Aku lagi meratapi nasib diriku sendiri!" jawab Yohana pada Suaminya Darwis dengan ketusnya,
Melihat Istrinya seolah marah padanya, sedih nian batinnya terasa, perasaan Darwis pun semakin penasaran dibuatnya,
"Ada apa? Tolong bicara yang jujur, bila ada sesuatu bisa kita musyawarahkan berdua." ucap Darwis pada Istrinya Yohana dengan harap yang membuatnya bingung,
"Apakah kalau Aku jujur, Kamu mau untuk mendengarnya?" tanya Istrinya Yohana pada Suaminya Darwis menatapnya dengan tajam,
"Kenapa Kamu seolah masih merasa takut padaku?" ucap Darwis lagi pada Istrinya Yohana merasa aneh,
"Yakin Kamu mau tahu Apa yang Aku pikirkan saat ini?" tanya Yohana lagi pada Suaminya Darwis menjelaskan,
Darwis menganggukan kepala pada Istrinya Yohana, pikiran Yohana membentangkan ingatannya untuk melihat kembali memori yang telah membuatnya bersedih, lalu dengan segenap hati Yohana pun berucap,
"Tanya tentang Cintamu dalam hatiku selalu mengikuti kemana langkahku pergi, kekecewaan dan rasa tak percaya selalu membuntuti Aku seolah membayanginya, Cintaku untuk diduakan dengan lantangnya Kamu ucapkan, dan rasa tak perdulimu padaku, Kamu perlihatkan dengan jelas di hadapanku, demi Wanita lain Kamu pertaruhkan semuanya, sedangkan Sang calon Anakmu, di biarkan melihat dan mendengarkan Ayahnya untuk memilih Wanita lain, itu sebagian luka yang membuat Aku menangis, Suamiku!" ucap Yohana pada Darwis dengan jawaban dari hati yang panjang menyinggungnya,
Mendengar ucapan Istrinya, hati Darwis bergetar seolah menerima pukulan telak, yang membuatnya tersungkur lalu terjatuh karenanya, jerit hati Istrinya menyayat batinnya, yang membuat sakit dihatinya, Istri yang Ia permainkan kini terbias prilaku egoisnya, dan dengan menitikkan air matanya, Darwis pun angkat untuk bicara,
"Sungguh Aku adalah Suami yang bodoh, Suami yang tak punya rasa Sayang yang tulus pada Istrinya, hasrat sesaat membuat melupakan keluarga dan tujuan besar atas Istrinya, Aku sudah berani berucap untuk menduakanmu, Sombong dan Angkuhku menyia- nyiakan hidupmu, sehingga tak mendengarkan lagi alunan nasihat dari mulutmu dengan telingaku, Lalu layakkah perlakuan Suami seperti itu, menurutmu? Dan apa yang harus Aku lakukan, bila segenap jiwa ragaku ini ingin kembali mencintaimu seperti dulu?" pengakuan Darwis pada Istrinya Yohana dengan menangis untuk memohon,
Yohana terdiam, Ia mengkaji dan mencoba merasakan satu per satu ucapan Suaminya dengan batinnya, setelah terasa yakin, Ia pun menjawabnya,
"Aku tak meminta apapun darimu, dan tak memberikan syarat apapun Kepadamu, tapi lain dengan janin yang ada dalam perutku ini, Ia senantiasa ingin melihat Ayahnya menjadi tauladan bagi dirinya kelak, sehingga menjadi Ayah yang baik baginya, dan Ayah yang selalu bertanggung Jawab atas dirinya, itu saja!" jawab Yohana pada Suaminya Darwis dengan rasa yang amat sangat sedih dalam hatinya untuk berharap,
Darwis semakin terpaku dalam merasakan sakit di hatinya, coretan perjalanan perlakuan yang tak pantas atas tidak keperduliannya pada Yohana, seolah datang untuk hadir dalam penglihatan di pelupuk matanya, dengan berlinangan air mata, dan kesedihan yang mendalam, lalu Darwis pun segera bicara,
"Sungguh Aku sangat tak berharga di hadapanmu, Aku tersadar dan tak berdaya menjauhi Kamu, Yohana!, Buktinya segala harapan yang kupunya raib meninggalkan Aku, di saat Aku butuh bantuan dengan segala pegangan untuk membuatku terhindar dari Seorang Darwis yang pemabuk dan egois ini, tak ada lagi yang bisa Aku perbuat selain, Meminta maaf padamu, Yohana!" ucap Darwis pada Yohana menjelaskannya dengan sedihnya,
Betapapun salah Suaminya, Dan betapapun perlakuannya kejam terhadapnya, tetap bayangan tujuan dan Impian biduk rumah tangganya nampak jelas dan tak bisa menyingkir, Sosok khilaf di hadapannya menjadi tambatan untuk rasa maafnya, dengan berlinang air mata dan segala kepantasan untuk calon Anaknya kelak, Dengan segala kerendahan hatinya, Ia pegang kembali semua Impian- impian dan harapannya, walau terasa berat untuk dilakukan, berharap perahu biduk rumah tangganya kembali berlayar untuk tidak terdampar lagi dalam pulau karang nan menyedihkan, Ia coba tatap ke depan menapaki masa depannya dengan calon Si Jabang Bayi dan Suaminya kelak, Sehingga perahu kapal peraduan cintanya bisa kembali berlabuh dalam singgasana cinta dan keluarga yang dijalaninya, walau itu tak mudah untuk melakukannya, tapi semua itu berharap terkabul dengan lantunan Doanya dalam hati, sehingga membuat Yohana terpaksa melupakan dan berlari dari rasa sakit dan dendam yang menderanya, Demi Cinta dan Keluarga.
__ADS_1