Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Amarah yang meledak


__ADS_3

Secangkir kopi hitam dan sepiring pisang goreng telah tersedia di meja, Sebastio sedang berpakaian di kamarnya, dan Ibu Widury sedang sibuk membuat sarapan bersama Bibi Ulpa di dapur.


Terdengar Andreas menangis di kamarnya, dan sayup- sayup suara sayang Salsa pada Andreas seakan tiada henti terlontar dari mulutnya,


Mendengar suara tangis Cucunya, dengan segera Ibu Widury menghampirinya,


"Itu kenapa dengan Andreas, Salsa?" tanya Ibu Widury pada Salsa ingin tahu,


Terlihat tangan gesit Salsa, yang sedang mengganti popok Andreas yang memang sudah tak layak pakai lagi, lalu dengan sigap Ia pun mengganti celananya, lantas menjawabnya,


"Ini, Andreas gak mau di ganti popoknya, dan gak sabaran, Bu!" jawab Salsa pada Ibunya Widury sambil mengganti celananya itu,


Setelah popok dan Celananya di ganti, tak lama Andreas pun berhenti dari tangisnya itu, lalu dengan cepat tangan Ibu Widury langsung mengangkat tubuh Andreas, lalu Ia mendudukan Andreas di pangkuannya, dengan mulutnya yang tanpa henti terus menggoda Andreas yang lucu itu, tak lama Ia mengais Andreas lalu berjalan mendekati Salsa, seraya berkata,


"Biar Andreas Ibu gendong, Kamu cepat mandi, sana!" ucap Ibu Widury pada Salsa dengan tangannya yang tak diam mengusap- usap pipi Andreas, karena saking gemasnya itu,


Mendengar ucapan Ibu Widury itu, Salsa mengangguk, lalu tatapan Salsa tertuju pada Ibu Widury, dengan daster putih bermotif kembang, dengan setelan Jilbab dengan corak bunga, menjadikan tampilan Ibu Widury itu pagi itu sangat menarik, dengan perasaan kagum dalam hatinya, dan dengan rasa bangga pada Ibunya itu, lantas Salsa pun berucap,


"Ibu sudah cantik begitu, langsung menggendong Andreas, Apa gak takut bau ompol nantinya?" tanya Salsa pada Ibu Widury sambil tertawa lebar,


Mendengar ucap Salsa itu, tampak senyum Ibu Widury menghiasi wajahnya yang cantik itu, lalu dengan tatapan sayangnya pada Salsa, seolah ucapan Salsa tak mengerti, sambil tersenyum manis pada Salsa, Ibu Widury pun menjawabnya,


"Hanya bau ompol dari Cucu Ibu yang ganteng ini saja, mengapa Ibu harus takut, Salsa!" jawab Ibu Widury lagi pada Salsa dengan terus berjalan ke dapur sambil menggendong Cucunya Andreas.


Pagi itu keluarga Sebastio berkumpul bersama untuk sarapan pagi.


Dan di sela- sela makan paginya, dengan keraguan dan kekhawatiran atas rencana pernikahan mantan dari Istrinya itu dalam dirinya, dengan rasa keingintahuannya yang tinggi, Ayah Sebastio pun bertanya pada Salsa,


"Bagaimana kabar tentang persiapan pernikahan Ibumu itu, Salsa?" tanya Ayahnya Sebastio pada Salsa dengan rasa penasarannya itu,


Salsa sejenak diam tak menjawab, dalam pikirannya Ia mengingat akan rencana perkawinan Ibunya itu di otaknya, dan dengan merasa tak senang bila mengingat hal itu, lantas Ia pun menjawabnya,


"Rencananya sih akan berjalan, sedangkan persiapan untuk itu, Salsa juga masih belum tahu?" jawab Salsa pada Ayahnya Sebastio Seakan- akan tak senang untuk memberi tahu Ayahnya itu,


Mendengar jawaban Salsa itu, pikiran Sebastio merasa aneh, tak lama Ia bertanya lagi,

__ADS_1


"Kok belum tahu, lalu Kamu kesana sewaktu itu, ngapain saja, Salsa?" tanya Ayahnya Sebastio pada Salsa dengan merasa bingung,


Mendengar Ayahnya Sebastio seolah tak puas akan jawabannya itu, perasaan Salsa seolah- olah merasa tak enak, lalu dengan sedikit ragu untuk menjelaskannya, dengan rasa berat hati, lalu Salsa pun menjawabnya,


"Untuk pertemuan secara resminya antara pihak keluarga Zaki dan Ibu itu belum, jadi mungkin Ibu menunggu perihal itu dulu, baru setelah itu mungkin Ibu akan memberitahunya lebih lanjut!" jawab Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan panjangnya bicara,


Sambil mulutnya mengunyah makanan, tatapan Sebastio terus menatap Salsa dengan tajamnya, mungkin untuk melihat kejujuran di dalan diri Anaknya itu, dan tak lama Ia pun bicara lagi,


"Kirain semuanya sudah siap, tapi kok seolah merebak dulu kabarnya?" tanya Ayahnya Sebastio pada Anaknya Salsa dengan perasaan tak mengerti,


Ibu Widury yang sedari tadi diam, dan hanya memperhatikan mereka berdua bicara, sambil dengan sedikit mengencangkan suaranya itu, Ia pun berani bicara untuk menimpali masalah itu,


"Mungkin karena keduanya adalah pribadi yang supel dan mudah untuk bergaul, jadi kadang kabar mulut dulu yang sampai, sebelum pelaksanaannya!" ucap Ibu Widury pada mereka berdua menimpali pembicaraan itu dengan senyum manisnya itu,


Lalu perbincangan demi perbincangan mereka yang berkutat pada rencana pernikahan Ibu Juariah dengan Zaki itu, menjadi semakin hangat untuk disimak, rasa tak mengerti dan kebingungan dalam benak Sebastio menjadi semakin besar, hingga Ia bicara lagi,


"Aku sangat merasa aneh dengan cara berpikir Ibumu itu, padahal jika Kita diikut sertakan mungkin akan sedikit bisa mengurangi bebannya itu!" jawab Sebastio pada Salsa dengan rasa tak mengerti di dalam dirinya,


"Gak tahulah, Ayah! Salsa juga merasa khawatir!" ucap Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan sedikit merasa kurang senang akan hal itu,


Anwar pagi itu sengaja bertandang kerumah Kakak perempuannya Juariah, kabar burung tentang perkawinan Kakaknya itu yang menyebabkan Ia harus mengetahuinya,


Tampak motor hitamnya memasuki pekarangan rumah Ibu Juariah itu, dan tak lama Salam Anwar pun terdengar di telinga Ibu Juariah,


"Assalamualaikum, " ucap Anwar pada Ibu Juariah dengan suara lantangnya itu,


Terlihat dari kaca jendela, Kakaknya Ibu Juariah berjalan menuju pintu, sambil mulutnya menjawab Salamnya itu,


"Waalaikum Salam," jawab Kakaknya Juariah pada Anwar sambil membuka pintu rumahnya itu,


Brakk!!, pintu dibukanya, terlihat Adiknya Anwar sudah berdiri di depan pintu sambil menatapnya,


"Ayo masuk, War!" ucap Ibu Juariah pada Adiknya Anwar dengan rasa senangnya,


Akhirnya Anwar pun segera masuk ke dalam, dan tak lama Ia pun duduk di sofa ruang tamu, dan tak lama Ibu Juariah bertanya,

__ADS_1


"Mau minum apa, War! Kopi atau teh manis?" tanya Ibu Juariah pada Anwar menawarkannya,


"Kopi hitam, boleh!" jawab Anwar pada Kakaknya Juariah dengan entengnya bicara,


Ibu Juariah pun langsung pergi ke dapur, untuk membuatkan kopi untuk adiknya itu, dan tak lama Ia pun kembali lagi dengan membawa kopi dan setoples cemilan, lalu Ia letakkan di meja, dan berkata pada adiknya itu,


"Minumlah dulu, War!" ucap Ibu Juariah pada Anwar sambil duduk di sofa,


Mereka berbincang dengan sedikit merasa akrab, pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar dari mulut mereka, serta canda dan tawa mengiringi perbincangan akrab mereka itu, disela perbincangan itu, Anwar bicara pada Kakaknya itu,


"Aku kemari hanya ingin tahu tentang rencana perkawinan Kakak itu, Bagaimana?" tanya Anwar pada Kakaknya Ibu Juariah menegaskan,


Mendengar ucapan Adiknya Anwar tentang rencana perkawinannya itu, membuat pikiran Ibu Juariah seolah pusing dibuatnya, seolah enggan untuk membicarakannya, dengan berat hati dan tak lama Ia pun menjawab,


"Untuk resminya belum, War!" Jawab Ibu Juariah pada Anwar sambil meminum air di gelasnya itu,


Anwar diam sesaat, matanya memandang Kakaknya itu dengan ibanya, serta pikirannya tertuju pada rencana itu dengan perasaan ragu dan takut, lantas Ia pun bertanya lagi,


"Aku tak suka melihat Kakak menikah dengan Anak kemarin Sore, dan belum bekerja, lalu Apa yang bisa diharapkan dari calon Suami seperti itu, Kak!" tanya Anwar pada Kakaknya Juariah dengan kerasnya bicara,


Mendengar ucapan keras dari mulut Adiknya itu, betapa kagetnya Ibu Juariah, Anwar seolah sedang memarahinya, matanya yang melotot, seolah tanda Ia tidak setuju dan melarangnya, lalu dengan merasa tak enak, Ibu Juariah pun akhirnya bicara,


"Kamu kenapa, War! Seakan- akan Aku ini di vonis layaknya penjahat, Apapun yang Kakak lakukan ini tak akan merugikan Kamu," jawab Ibu Juariah pada Adiknya Anwar dengan emosi yang datang tiba- tiba itu,


Melihat Kakaknya bicara dengan Amarah yang besar, seolah tak suka kepadanya, lalu dengan sedikit menahan diri, Anwar pun bicara lagi pada Kakaknya itu,


"Aku tahu Kakak tak akan dan tak pernah merepotkan Aku, Maksudku hanya merasa kasihan pada Kakak, yang seharusnya mendapatkan Suami yang layak, untuk menuju bahtera perkawinan itu, jangan yang masih muda dan baru belajar mandiri, Kak!" jawab Anwar pada Kakaknya Juariah dengan merasa tersinggung dibuatnya itu,


Mendengar itu, amarah Ibu Juariah pun keluar, keras kepala dan urat batunya itu seolah- olah memberikan semangat padanya, untuk melawan dan kukuh dengan keputusannya itu, lalu dengan menunjuk ke pintu, Ibu Juariah pun menjawab,


"Kakak tidak perlu bantuanmu, untuk menentukan hidup Kakak, Yang kamu bisa hanya mencela dan merasa benar untuk nasihatmu itu, pergilah sana, Kakak pusing mendengarnya!" jawab Kakaknya Juariah pada Anwar sambil berdiri dan membuka pintu untuk mengusir Adiknya itu,


Melihat Kakaknya mengusir itu, Anwar pun segera berjalan hendak pergi karena diusirnya, dengan emosi dan geramnya Anwar pun bicara,


"Pikirkan apa yang sudah Aku katakan, jangan sampai melakukan aib lagi seperti dulu, dasar keras kepala!" ucap Anwar pada Kakaknya Juariah sambil terus berjalan tanpa menghiraukan lagi keadaan kakaknya itu.

__ADS_1


Ibu Juariah menangis dengan sedihnya, seolah dunia menekannya dari segala arah, yang membuatnya tak berdaya.


__ADS_2