
Panas lantaran pancaran dari hati yang sedang emosi terasa membuat semua merasa terpancing untuk bicara, rasa harap dan kesalahan kini sedang berperang untuk saling mengalahkan satu dengan yang lainnya.
Darwis masih bersimpuh luluh di kaki Yohana, Ia tidak akan melepaskannya sebelum Yohana memaafkannya,
"Sudah, Bangunlah!" ucap Yohana pada Darwis sambil tangannya berusaha untuk melepaskan tangan Darwis,
"Aku tak akan melepaskanmu sebelum maaf terucap dari mulutmu." jawab Darwis pada Yohana dengan segenap perasaannya,
Melihat itu sungguh membuat Kedua Orang Tua Yohana merasa bingung dibuatnya, perasaan untuk mengganggunya seolah pergi menjauh, mereka tertegun melihat keduanya, Pak Maruli yang sedari tadi sangat marah pun terdiam, seolah terbuai oleh adegan laksana di film- film romantis India, tapi Yohana semakin kikuk dan malu melihat kedua Orang Tuanya menatap mereka.
Yohana berpikir keras untuk melepaskan simpuhan Darwis di kakinya, tidak ada cara lain kecuali,
"Sudah, Sudah, Aku maafkan!" ucap Yohana pada Darwis sambil menarik Darwis untuk berdiri,
"Sungguh?" jawab Darwis pada Yohana sambil menatap wajah Yohana ingin tahu,
Yohana menganggukan kepalanya pada Darwis, tanpa disadari Darwis menjerit kegirangan dari apa yang diucapkan Yohana, Ia pun berjingkrak melompat tanpa sadar Kedua Orang Tua Yohana memperhatikannya,
"Terima Kasih, Yohana!" ucap Darwis pada Yohana yang wajahnya tersipu malu,
"Sudah, jangan kayak orang gila berjingkrak begitu, duduklah!" jawab Yohana pada Darwis dengan marahnya,
Mendengar Yohana marah, segera Darwis menurutinya duduk disebelah Yohana, setelah melihat Kedua Orang Tua Yohana, baru sadar Ia pun menunduk malu, dan tak lama Ibu Gayatri pun segera bicara,
"Yohana, Apa yang akan Kamu lakukan sekarang!" tanya Ibu Gayatri pada Anaknya Yohana ingin tahu,
Mendengar Ibunya bertanya, Yohana terdiam seolah susah untuk diucapkan,
"Aku bingung menjawabnya, Bu!" jawab Yohana pada Ibu Gayatri sambil menunduk,
"Apa, bingung katamu!" ucap Ibu Gayatri lagi pada Yohana,
__ADS_1
Ibu Gayatri menggeleng- gelengkan kepalanya, lalu Ia menghampiri Darwis yang tertunduk malu,
"Dan Kau, dengan cara seperti apa Kamu bertanggung, setelah apa yang telah Kamu lakukan?" tanya Ibu Gayatri pada Darwis dengan memendam emosinya,
Mendengar Ibu Gayatri bicara seperti itu kepadanya, sontak Ia terbangun dari duduknya, pandangannya tertuju pada Bapak Maruli yang sedari tadi memperhatikannya,
"Yang Aku punya hanya Aib bagi Bapak dan Ibu, yang kutorehkan hanya salah pada Yohana, dan yang Aku pertaruhkan dalam hidupku adalah menjadi Suami yang baik bagi Yohana, Aku akan menikahi Yohana dengan segala rasa maafku padanya." jawab Darwis pada Ibu Gayatri dengan suara keras dan matanya tak lepas memandang Yohana,
Mendengar ucapan Darwis bagai Arjuna membela Sinta, tanpa ayal lagi Bapak Maruli terharu atas keberanian Darwis untuk mengakui kesalahannya, dan dengan tegas menerima semuanya, lalu segera Bapak Maruli menghampiri sambil menepuk- nepuk pundak Darwis seraya berkata,
"Aku kagum pada ucapanmu, dengan sangat berani kamu ingin menikahi Yohana, untuk segala maafmu." ucap Pak Maruli pada Darwis sambil mengangguk- angguk kepalanya,
Semua tersirap dengan ucapan Darwis yang berani, seolah- olah Ia merasa pemenang, tiba- tiba Yohana berkata memecahkan keheningan,
"Tapi Yohana menolak menikah dengan Dia, Pak!" ucap Yohana pada Pak Maruli dengan nada tinggi,
"Apa, Kamu menolak menikah?" tanya Pak Maruli pada Yohana dengan kagetnya,
Mendengar jawaban Anaknya Yohana, Kedua Orang Tuanya tersenyum merasa lucu, karena jawaban Yohana menggelitik hati mereka, lalu dengan senyum Ibu Gayatri menghampiri Yohana sambil berkata,
"Itu bisa Kamu tanyakan langsung pada Orangnya, Darwis." ucap Ibu Gayatri pada Yohana Anaknya dengan lembutnya,
Malu sudah Yohana mendengar Ibunya bicara padanya, wajahnya merah dan matanya melotot pada Darwis seolah ingin menerkam, dan untuk mengalihkan karena rasa malunya segera Ia bicara pada Darwis,
"Dasar pecundang, seenaknya saja Kamu mau menikahi Aku!" bentak Yohana pada Darwis yang merasa sangat bingung menjawabnya,
Darwis tak menjawab pertanyaan Yohana, Ia hanya memandang wajah Yohana seolah- olah sedang membandingkannya, dan dengan sedikit bersabar Bapak Maruli pun angkat bicara,
"Darwis Aku hargai keberanianmu akan salahmu, Lalu Bagaimana Kamu jelaskan pada Kami dan Yohana bahwa Kamu akan berubah, Akan menyayangi Yohana, dan Akan membuat Yohana bahagia, Bagaimana?" tanya Bapak Maruli pada Darwis sambil menatapnya,
"Sungguh Darwis menyadari betapa sulitnya untuk berubah, tapi Darwis yakin untuk Wanita secantik Yohana, Darwis berjanji untuk tidak mabuk lagi dan tidak akan memaksa lagi untuk menggaulinya, dan Darwis berjanji dan berusaha untuk menjadi Suami yang baik bagi Yohana, tolong bantu Saya!" jawab Darwis pada mereka dengan segenap perasaan hatinya.
__ADS_1
Mendengar Darwis berucap mereka merasakan terharu, diam dan tak bergeming dibuatnya.
Sosok Yohana sebenarnya menyukai Darwis sejak awal, makanya rencana perjodohan itu membuat hidupnya gembira, terlebih melihat wajah Darwis yang tampan, sehingga Ia merasa bahwa Darwis lah sosok Suaminya kelak, merasa senang Ia berani bertandang kerumah Darwis, dan tak merasa takut padahal Darwis sedang mabuk, hingga terjadi Aib itu, Yohana tak menerima itu karena dipaksa, Darwis mengambilnya untuk kepuasannya tak mengindahkan larangannya, membuat dirinya beranggapan tidak dihargai layaknya calon istrinya, dan Aib ini pun tidak menilai Darwis sengaja seutuhnya akan tetapi Imbas Alkohol yang membuat Darwis tak sadar, tapi dari lubuk hati yang paling dalam Yohana mencintainya.
"Begini, ini hanya masalah kalian berdua, kami merasa tak pantas Ikut campur, untuk sementara Bapak serta Ibu pergi dulu, kalian bicarakanlah sepantasnya, jangan sampai ribut, malu!" ucap Pak Maruli pada Mereka berdua memberi tahu,
"Maaf, memang mau kemana?" tanya Darwis pada Pak Maruli memberanikan diri,
"Mau kondangan, ini gara- gara Kamu jadi kesiangan." jawab Bapak Maruli pada Darwis sambil berjalan menghampiri Istrinya.
Sepeninggalnya mereka, Yohana diam membisu, Darwis pun bingung mau bicara apa, dengan sedikit rasa iseng di otaknya, Darwis pun pura- pura hendak pulang,
"Kalau memang Kamu tak berkenan, Aku pamit," ucap Darwis pada Yohana sambil bergegas berjalan menuju pintu,
Tak disangka- sangka, tiba- tiba tangan Darwis ditariknya, menahan untuk jangan pergi,
"Tunggu, jangan pergi!" ucap Yohana pada Darwis sambil menarik tangan Darwis,
"Mau apa lagi, bukannya Kamu tak suka Aku disini?" tanya Darwis pada Yohana seolah sensi,
Lalu Yohana memaksa Darwis untuk duduk, Darwis menurut karena tak tik strateginya berhasil,
"Benar Kamu ingin berubah, tidak mabuk?" tanya Yohana pada Darwis berharap sangat,
"Iya Aku berjanji padamu." jawab Darwis pada Yohana menegaskan,
"Lalu apa Kamu sanggup membuat Aku bahagia, dengan apa?" tanya Yohana pada Darwis ingin tahu,
Sejenak Darwis mengangguk, Ia mendekati Yohana,
"Aku Si Pecundang,akan membahagiakan Kamu dengan segenap cinta yang masih Aku simpan, dan atas salahku ini, Aku berjanji untuk menjadi Suami yang baik untukmu, dan yang paling penting Aku tak akan memaksa lagi." ucap Darwis pada Yohana dengan senangnya,
__ADS_1
Mendengar itu seluruh tubuh Yohana merasa kembali seperti dulu yang mengharapkan Darwis menjadi Suaminya, lalu dengan segenap jiwanya Yohana merangkul Darwis dengan rasa gembiranya, Darwis pun tersenyum bangga.