Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Celoteh Ibu


__ADS_3

Hamparan suasana perasaan pada saat itu berkesan dramatis, tangis Salsa, ketidak terimaan Ibu dan rasa bersalah Darwis, yang seolah menjadi satu, tragedi aib masa lalu mengingatkan perannya dahulu yang tidak mau tertinggal pergi.


Melihat Salsa menangis dan bersimpuh membuat Ibunya tak tega, dengan lembutnya rambut Salsa dibelainya, dan hantaran cinta Ibu ciptakan, untuk merujuk pada saat Salsa terkapar tak berdaya,


"Bangunlah, Seharusnya Kamu jangan menangis untuk pria semacam Dia." ucap Ibu Juariah pada Salsa mengingatkan,


Darwis hanya menatapnya, kegamangan dan rasa getir atas salahnya yang membuatnya terdiam membisu, tak kuasa bicara di suasana hati yang di selimuti pilu,


Ibunya membantu Salsa bangun dari bersimpuhnya, dan rasa yang ingin Ibu tumpahkan pada Darwis tertahan belahan jiwanya yang merana,


"Dia sama sekali tidak merasakan atas salahnya, hanya berkutat pada titik cinta yang ada, ini yang membuat Ibu tidak menyenanginya." ucap Ibu Juariah pada Salsa lagi,


Mendengar Ibu Juariah berkata seperti itu, Darwis langsung menghampiri mereka dengan harapan sosok Ibu Juariah bisa memahami, Darwis berkata pada Ibu,


"Dulu, Aku berharap Ibu adalah tumpuan untuk mencurahkan segala kesalahan yang Aku buat, mungkin sebelumnya Ibu belum mengetahui perkenalan Aku dan Salsa lantaran Aib itu, wajar curahan sakit hati dan rasa tak terima Ibu yang bergelora, yang kini pecah tak tertahan bagai kepingan debu terhembus badai, Aku terima itu." ucap Darwis pada Ibu Juariah dengan menerima semuanya,


Ibu Juariah hanya menatap Darwis tak mengerti, yang ada dalam benaknya hanya Darwis Si Pemerkosa Anak gadisnya yang tak berdaya kala itu, sejauh itu rasa sakit, rasa tak terima dan rasa dendamnya hanya tertahan dalam dada hingga kini.


"Kalau Aku bisa mengulang kembali, mungkin kecintaan Aku kala itu tidak akan berujung penyesalan hingga kini, hatiku terlunta bersama skenario baru yang Aku pun tak tahu, dengan terpaksa harus kujalani, tak bisa memilih jalanku sendiri, mungkin bila bisa memilih, Aku akan hidup dengan Salsa, gadis terpedaya yang Aku perkosa tanpa ampun, batinku menangis tak terima di saat Salsa dan Ibu menghilang pergi menjauh dariku. Tapi tetap Kucari, lalu akhirnya Aku bisa bertemu Salsa kembali secara tak diduga." ucap Darwis pada Ibu Juariah dengan panjangnya bicara,


Mendengar Darwis berkata begitu, perlahan kata demi kata, makna demi makna mulai meresap di otaknya, jamahan coretan cerita lalu yang tak harus menundakan balas dendam di kemudian hari, sedikit demi sedikit rasa bijak keibuan Ibu Juariah perlahan muncul, dengan menarik napas panjang Ia berkata,


"Kalau bukan lantaran Salsa itu Anakku, mungkin Aku tak akan sudi untuk melihatmu lagi." jawab Ibu Juariah pada Darwis memberi tahu,


Mendengar itu Darwis pun mengangguk, dan dengan memberanikan diri langsung menarik tangan Ibu Juariah hingga mencium tangannya, Salsa pun melihat Darwis begitu dan Ibu Juariah menerimanya, perasaannya sudah sangat lega dalam hatinya,


"Ayo, masuk dulu!" ucap Salsa pada Darwis mempersilahkan duduk,


"Makasih, Sa!" jawab Darwis pada Salsa sambil menurut masuk,


"Bagaimana ceritanya kalian bisa bertemu?" tanya Ibu Juariah pada mereka berdua,


"Salsa sendiri juga tadinya gak tahu,Gak tahunya Darwis ini teman kerja satu perusahaan dengan Paman Anwar, Bu!" jawab Salsa pada Ibu Juariah menberi tahu,

__ADS_1


"Perasaan dulu Kamu tak bekerja disitu, Wis?" tanya Ibu Juariah pada Darwis seolah- olah tak percaya,


"Benar, Aku karyawan baru, dan baru dua bulan bekerja disitu." jawab Darwis pada Ibu menjelaskan.


"Ohh, begitu," ucap Ibu Juariah pada Darwis mengerti,


"Lalu kenapa rumah yang dulu ditinggalkan, Bu?" tanya Darwis lagi pada Ibu Juariah ingin tahu,


"Dulu sih niatnya untuk menjauh dari Kamu, karena Ibu sudah kepalang sakit hati, dan tidak ingin bertemu Kamu lagi, tapi kenyataan berkata lain, mungkin ini sudah takdir Kita." jawab Ibu Juariah pada Darwis berterus terang.


Sepah yang pahit akhirnya terbuang juga oleh rasa sempurna sang jiwa yang menjelajah pundi- pundi kecintaan hati, kini mekar laksana pernak- pernik kehidupan nyata dengan menyadari diri.


"Ibu baru ingat sekarang, dulu Orang Tuamu telpon akan menjodohkan Kamu dengan seseorang, itu bagaimana, Wis?" ucap Ibu Juariah pada Darwis ingin segera tahu,


Sejenak Darwis terdiam sambil berpikir, sambil matanya melirik Salsa di sampingnya, Darwis pun menjawab dengan berat hati,


"Perjodohan itu terlaksana, walaupun banyak masalah didalamnya, Akhirnya tiga bulan yang lalu Aku menikah, walaupun dengan perasaan terpaksa." jawab Darwis pada Ibu Juariah menjelaskan,


"Lalu apa maksud Kamu dengan cintanya pada Salsa, bila memang Kamu sudah menikah dengan orang lain." tanya Ibu Juariah pada Darwis dengan cemasnya,


"Bukannya tidak harus menikah saja, Kita bisa dekat dengan seseorang, Bu?" tanya Salsa pada Ibu Juariah memecahkan kebuntuan,


"Tapi, terserahlah Ibu tak mau ikut campur." jawab Ibu Juariah pada Salsa Anaknya singkat gak mau pusing,


Seakan Ibu Juariah pasrah atas hubungan kedekatan keduanya akhirnya Darwis mulai berani bersuara,


"Percaya pada Kami, Bu! Toh Aku tak akan melepaskan keberadaan Salsa di hatiku." ucap Darwis pada Ibu Juariah dengan ngeyelnya,


"Banyak Orang diluaran sana, mempunyai teman hidupnya lebih dari satu, itu bisa dan nyatanya rukun, Bu!" ucap Salsa pada Ibunya Juariah menerangkan.


Dengan sekelumit kepusingan diotaknya, Ibu Juariah pun segera pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam, tampak kekhawatiran tersirat dalam isi kepalanya.


"Wis, Kamu gak kemaleman pulang, takut Istrimu gelisah menunggu?" ucap Salsa pada Darwis dengan lembutnya,

__ADS_1


Darwis tersadar bahwa Dia sudah menjadi Suami Yohana, lalu Ia melihat jam ditangannya, lalu berkata,


"Maafkan Aku, Keadaan membuat Aku tak sebebas dulu, terkukung piranti Istri yang menungguku, Aku pamit dulu." ucap Darwis pada Salsa dengan perasaan sangat berat,


Salsa tak menjawab, Ia langsung merangkul tanpa malu, bibirnya Ia sosorkan pada Darwis dengan lirihnya, Darwis pun membalasnya dengan mesra, hasrat birahi yang lama terbendung akhirnya keluar, membebani jiwa yang sedang berangsur berjalan, kini mulai terusik sudah,


Salsa menggapai pundak Darwis melingkarkan tangannya dengan erat, seolah tak mau berpisah, Darwis mengecup leher jenjang Salsa dengan kecupannya, hingga membuat tebaran birahi mendarat kuat dalam sanubarinya,


Niat untuk pamit tertahan nikmat rasa yang mengurungnya, Lalu Darwis menggapai pilar- pilar abadi di seantero tubuh indah Salsa, serta merta terdengar suara lenguhan, desis dan erangan silih berganti, mewarnai hasratnya,


Disaat helai demi helai penutup tubuh mereka lepas, dentingan keras lirih napas membara, membawa pergi mereka ke Nirwana,


"Ayo, Sayang! lakukan untukku!" ucap Salsa pada Darwis sambil menelentangkan tubuhnya,


Melihat Salsa terlentang bagai Sang Kodok terbalik dihadapannya, Darwis semakin lupa daratan, disitu Darwis melihat pion- pion Salsa terpampang jelas merindukan belaian hasrat, membuat Darwis seolah haus di gurun tandus yang tak bertepi, tanpa menunggu langsung Ia pegang dan hisap dengan rakusnya, hingga Salsa melayang terbang.


Birahi membuat mereka tersihir untuk lupa segalanya, mata Salsa melotot hendak keluar, diiringi suara erangan keras terdengar membuat iri, lalu kelojotannya laksana cacing kepanasan, bringas kesana kemari, tak lama terdengar Ahhh!! Ahhhhhh!!,


Bless!, sesuatu kepunyaan Darwis menancap tembus pada bukit rimbun nan elok bergoa, lalu


Sang joki menggerakan Kudanya semakin cepat, Byurr!!, segera lahar tak punya malu pun keluar, menyirami sawah yang kering tak bertuan, hingga Darwis menjerit keras,


Ahhhhhhh!!, persis seperti Singa lapar mengaum, Dan akhirnya mereka terjatuh.


Tak lama Darwis pun mohon diri, dengan segala kebahagiaan dan napsu yang sudah terpenuhi, Salsa dengan senyum berseri- seri sambil mengangguk,


"Kemana Ibumu? Aku mau pamit sekarang!" ucap Darwis pada Salsa sambil memeluk mesra,


Mendengar Darwis menanyakan Ibunya untuk pamit, dengan segera Salsa bergegas masuk untuk mencari Ibunya, tak lama Salsa pun kembali,


"Dia sudah tidur, mungkin cape, biar nanti Salsa sampaikan." ucap Salsa pada Darwis memberi tahu,


"Yaudah, Aku pamit sekarang!" ucap Darwis pada Salsa lagi,

__ADS_1


"Hati- hati, Salam untuk Istrimu!" ucap Salsa pada Darwis segera.


__ADS_2