Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Rasa Cemas melanda


__ADS_3

Semua Orang akan merasa sedih bila melihat Salsa dengan pilunya, cerita tentang kebahagiaan dalam dirinya kini seolah mati, pikiran dan perasaannya tercurahkan pada kesembuhan Ibunya itu,


"Sudah Kamu pulang dan Istirahat dulu, biar nanti Paman yang menjaga Ibumu, kasihan Andreas jika bermalam disini!" ucap Anwar pada Salsa dengan penuh perhatiannya,


"Nanti Paman sendirian, dong!" jawab Salsa pada Pamannya Anwar mengingatkan,


"Gak usah dipikirkan, tenang saja Paman gak apa- apa sendirian juga!" jawab Anwar pada Salsa dengan menegaskan,


Disaat mereka berbincang, terdengar langkah kaki dan suara Darwis mengucapkan Salam,


"Assalamualaikum," ucap Darwis pada mereka berdua dengan salamnya,


Dengan perasaan penasaran Salsa pun menoleh ke samping, betapa kagetnya Salsa tampak Darwis datang bersama Ibu dan Istrinya Yohana untuk menengok Ibunya itu,


"Waalaikum Salam," jawab Salsa pada Mereka bertiga dengan mencoba untuk tersenyum,


Hati berdebar tidak enak dalam hati Salsa, di saat matanya bertatapan dengan Yohana, seolah memendam rasa dendam yang merasa tak enak dan masih terpendam dalan hatinya,


Dan tak lama Mama Suci pun mengucapkan rasa keprihatinannya pada Salsa, seraya berucap,


"Kami turut prihatin atas sakitnya Ibumu, semoga cepat kembali sehat seperti sedia kala." ucap Mama Suci pada Salsa dengan rasa keprihatinannya,


"Terima Kasih Tante atas perhatiannya, dan mau meluangkan waktu untuk datang kemari menengok Ibu yang sedang dirawat," jawab Salsa pada Mama Suci memberi rasa hormatnya,


Lalu Darwis pun segera menghampiri Anwar, seraya berkata,


"Jadi keadaannya bagaimana, War?" tanya Darwis pada rekannya Anwar ingin tahu,


"Alhamdulillah tadi sudah sadar, dan sekarang harus Istirahat tidak bisa di ganggu dulu untuk sementara, sambil nunggu perintah dokter!" jawab Anwar pada Darwis dengan rasa sedihnya itu,


"Semoga saja cepat sembuh seperti dulu lagi!" jawab Darwis pada Anwar dengan rasa sedihnya dalam dada.


"Untuk sementara terpaksa Kita ngumpul disini, karena Keadaan Ibu tak bisa di ganggu untuk sementara." ucap Anwar pada mereka bertiga memberi tahu,


Seolah hati Salsa dan Yohana merasakan sesuatu perasaan hati yang seperti cemburu, saling menghancurkan dengan terkamannya yang seakan ingin menyerang satu dengan yang lainnya,

__ADS_1


Setelah lama saling terdiam, dengan rasa berat hati akhirnya Yohana bicara pada Salsa seolah ingin mencairkan situasi saling diamnya,


"Mana Anakmu, Salsa?" tanya Yohana pada Salsa ingin tahu,


"Itu lagi tidur di bangku!" jawab Salsa pada Yohana sambil menunjuk ke tempat dimana Anaknya tidur,


"Kasihan amat Anakmu tidur di kursi!" ucap Yohana lagi pada Salsa memberikan perhatiannya,


"Iya, sebentar lagi paling pulang, disini biar Paman Anwar yang menunggu Ibu!" jawab Salsa pada Yohana dengan memberi tahunya,


Mereka berdua bicara seolah sedang menjajaki satu sama lain, rasa hati yang merasa tak enak itu pun mereka tutupi dengan rapatnya, hingga orang- orang sekelilingnya tidak mengetahuinya,


"Kalau begitu, biar Salsa bareng kami pulang, jadi sekalian pulang, dari pada kelamaan disini kasihan Andreas, takut masuk angin nanti, gimana, War?" tanya Darwis pada Anwar memberi solusi,


"Ide bagus, jadi Aku tetap disini fokus nungguin!" jawab Anwar pada Darwis dengan perasaan lega,


"Iya ikut bareng Kami, toh sekalian jalan." ucap Mama Suci menimpali pembicaraan,


Setelah mereka berbincang sejenak, dan lagi Ibu Juariah pun untuk sementara tak bisa di ganggu, Akhirnya mereka pun pulang,


Anwar mengangguk sambil tersenyum pada mereka, dan Salsa pun segera menggendong Anaknya Andreas untuk pulang bareng mereka,


"Paman Salsa pulang dulu, nitip Ibu Paman!" ucap Salsa pada Anwar Pamannya Sambil mencium tangannya,


"Kamu Istirahat, jangan banyak pikiran, biar Ibumu Paman yang jaga!" jawab Anwar pada Salsa mengingatkannya,


"Iya Paman, kalo begitu Salsa pamit!" jawab Salsa pada Pamannya Anwar lagi dengan perasaan berat,


"Kami juga pamit, semoga cepat sehat lagi," ucap Mama Suci pada Anwar lagi sambil berjalan,


Di perjalanan Salsa dan Yohana duduk di kursi belakang, sedang Mama Suci di depan menemani Darwis yang sedang mengemudi,


"Hamil jalan berapa bulan?" tanya Salsa pada Yohana memecahkan rasa diamnya,


"Jalan mau sembilan bulan," jawab Yohana pada Salsa menjelaskan,

__ADS_1


"Wah, sebentar lagi dong melahirkannya!" jawab Salsa pada Yohana dengan merasa senangnya,


Sementara jauh dari lubuk hati Darwis merasa sangat senang melihat Istrinya Yohana dan Salsa seolah akrab mengobrol, padahal tadinya Ia merasa takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak mengenakan, tapi itu tak terjadi adanya, yang membuat perasaan Darwis merasa lega,


"Sudah berapa lama kenal Darwis?" tanya Yohana pada Salsa seolah mulai menyelidiki,


"Sudah lama juga, Aku juga lupa!" jawab Salsa pada Yohana memberi tahu,


"Dulunya kalian pacaran?" tanya Yohana pada Salsa ingin tahu dengan penasarannya,


Dengan di berondong pertanyaan terus oleh Yohana, membuat Salsa berpikir mungkin Yohana mencurigai hubungan Suaminya dengan dirinya, dengan apa adanya Salsa pun menjawabnya,


"Kami hanya berteman dengan sesuatu alasan, dan tak pernah terlintas dalam pikiran untuk pacaran, karena beban masalah dan Andreas yang menuntut Aku haru mempunyai perhatian yang lebih, gak terpikir kesitu!" jawab Salsa pada Yohana dengan merasa sedikit kesal,


"Tapi dulu kenapa Darwis ingin menikahi Kamu dengan memaksa dan seolah tak sadar, tak perduli siapapun, semua menganggap seolah kuat cintanya padamu, sampai Akupun tak sanggup menahannya." tanya Yohana pada Salsa dengan merasa ingin tahu yang dalam,


Mendengar Yohana merasa cemburu kepadanya, membuat Salsa merasa Iba pada Yohana, batinnya terusik melihat Yohana curiga padanya, Salsa merasa sakitnya Yohana Sama persis dengan Dia, disepelekan Suaminya demi orang lain, akhirnya Salsa pun menjawabnya,


"Aku tidak tahu Suamimu menganggap Aku kekasihnya, karena akrab dan saling terbuka untuk apapun, dan pada Ibu pun Darwis mengungkapkan niatnya untuk menikahi Aku, tapi Ibu mengusirnya karena niatnya seperti orang tidak waras, karena Ia sudah mempunyai Istri yakni Kamu, dan Mertuamu pun kemari untuk menahan niatnya itu, dan tak lama Ayahnya Darwis wafat karena memikirkan Anaknya, jangan takut padaku, Yohana!" jawab Salsa pada Yohana dengan perasaan sedihnya lagi,


"Tak kusangka Kamu adalah wanita hebat, dengan keterpurukan dan penderitaan Kamu masih bisa bertahan dengan segala kelebihan yang kamu punya, sungguh Aku salah menilai kamu, Maafkan Aku, Salsa!" ucap Yohana pada Salsa dengan merangkulnya dengan perasaan sedih di hati,


Cinta dan pertanyaan yang sudah mereka lalui, dengan berbagai kecurigaan yang meluluh lantahkan kepercayaan jiwanya, perasaan ingin tahu akan aib itu sudah ditutupnya dengan keinginan berubah untuk menjauh dari masa lalu yang seolah letih untuk terus mengejarnya,


"Apakah Kamu mau menjadi Sahabatku, Salsa?" tanya Yohana pada Salsa memberi tahunya,


"Aku sungguh merasa senang menjadi SahabatMu, Yohana!" jawab Salsa pada Yohana dengan senyum dibibirnya,


Akhirnya mereka berdua menjadi saling percaya, dan tak terasa mobil Yang di kendarai Darwis pun memasuki pelataran rumah Salsa, dan akhirnya Salsa pun turun sambil menggendong Andreas,


"Terima kasih untuk semuanya!" ucap Salsa pada Mereka sambil melambaikan tangannya,


"Yang sabar Salsa, berdoa terus untuk kesembuhan Ibumu, kalau perlu jangan sungkan- sungkan untuk menelpon Aku!" jawab Yohana pada Salsa dengan segala perhatian dalam hatinya,


"Kami pamit pulang, jaga diri baik- baik!" ucap Mama Suci pada Salsa sambil tersenyum padanya,

__ADS_1


Dan akhirnya mereka bertiga pun pergi meninggalkannya dengan perasaan Iba yang di kelilingi rasa sedih yang mereka rasakan.


__ADS_2