
Rasa yang bersemi diantara sederetan hati yang terpikat, mengubah sendi- sendi jiwa yang merana, kehangatan rasa yang tertanam dalam jiwa, menjadikan sanubari di penuhi rasa bahagia.
Begitu perasaan Davi sore itu, kemunculan Salsa yang sudah lama tak terlihat kini menjadikan semangat bagi dirinya, Salsa pun seolah tergoda akan kehangatan jiwanya, saat hati mereka bersandar dalam satu jurang kepercayaan.
"Salsa, pulangnya nanti bareng, sekalian Aku mau nengok Ibumu!" ucap Davi pada Salsa dengan memberi tahunya,
Salsa seolah diam, hatinya bertanya akan seharusnya terjadi padanya, hingga senyum simpul menghiasi wajahnya dengan manisnya,
"Nanti Kamu pulangnya, gak kemalaman?" tanya Salsa pada Davi memperingatkannya,
"Kalau kemalaman, nginap saja! Apa susahnya, Sih!" jawab Davi pada Salsa dengan entengnya bicara,
Mendengar Davi bicara dengan entengnya itu, membuat perasaan Salsa semakin gembira di buatnya,
"Tapi Orang rumahmu tak akan marah nanti?" ucap Salsa pada Davi megingatkan,
"Siapa? Maksudnya Orang Tuaku?" tanya Davi pada Salsa dengan rasa penasaran,
Salsa hanya mengangguk pada Davi, dengan rasa ingin tahu yang ada dalam pikirannya itu,
"Tadi Aku sudah menelponnya, gak apa- apa, pokoknya tenang saja!" jawab Davi pada Salsa seolah memberikan pegangan untuk tenang.
Dan tak beberapa lama, akhirnya merekapun pergi juga, Salsa di bonceng motor oleh Davi, seolah dalam perjalanan itu milik mereka, senyum dan canda mengiringi mereka disela perjalanan pulang, dan tak lama motor yang di kendarai Davi akhirnya tiba juga di rumah, lalu Davi pun berunjuk Salam pada Ibu Juariah yang sedang duduk di teras depan, menunggu Salsa pulang,
"Assalamualaikum," ucap Davi pada Ibu Juariah dengan senyum di wajahnya,
"Waalaikum Salam," jawab Ibu Juariah pada Davi sambil berdiri seolah menyambut mereka berdua,
Lalu mereka menghampirinya dan segera mencium tangan Ibu Juariah, dengan senyum tersipu- sipu di wajahnya, Ibu Juariah pun bicara,
"Ayo masuk saja, biar Ibu sih disini!" ucap Ibu Juariah pada Davi mengingatkan,
Mendengar Ibu Juariah berucap seperti itu, membuat hati Davi seolah tak enak,
__ADS_1
"Bagaiman keadaannya, Bu?" tanya Davi pada Ibu Juariah ingin tahu kabarnya,
"Alhamdulillah semakin baik!" jawab Ibu Juariah pada Davi menjelaskan,
"Syukurlah kalau begitu!" ucap Davi lagi pada Ibu Juariah dengan perasaan senangnya.
Akhirnya Davi pun masuk ke ruang tamu rumah Salsa, dan tak lama Salsa kembali dengan dua gelas teh manis di tangannya, lalu menawarkannya,
"Minumlah dulu, Dav!" ucap Salsa pada Davi mengingatkannya,
Segera Davi pun meneguk secangkir teh manis hangat yang disuguhkan Salsa untuknya.
Salsa mencari Andreas di kamarnya, karena rasa kangennya pada Anaknya itu, tapi di dalam kamarnya pun Andreas tidak Ia temukan, lalu Ia pun langsung bertanya pada Ibunya, yang memperhatikannya dari jauh,
"Ibu, dimana Andreas?" tanya Salsa pada Ibunya Juariah seolah ingin segera tahu,
Dengan tersenyum di bibirnya, segera Ibu Juariah pun menjawabnya,
"Tadi Ibu Widury dan Ayahmu kemari, lalu mengajak Andreas ke rumahnya, Dia bilang nanti biar Salsa yang jemput, begitu?" jawab Ibu Juariah pada Salsa memberi tahukannya,
"Seharusnya jangan dibawa kerumahnya, Bu! Kasihan Dia!" ucap Salsa pada Ibunya Juariah dengan marahnya,
Melihat Anaknya marah, Ibu Juariah seolah senang, mungkin karena Salsa itu Anaknya, jadi Wajah emosi pun dianggap lucu olehnya, dengan sedikit menenangkannya, Ibunya pun berkata lagi padanya,
"Kenapa memang? Mereka toh orang tua kamu juga, rasa sayang pada Andreas sama seperti pada cucunya sendiri, apa yang mesti kamu khawatirkan, Salsa?" tanya Ibunya pada Salsa dengan setengah rasa kesalnya pada Anaknya itu,
Dengan menahan emosinya, Salsa akhirnya pergi juga ke rumah Ayahnya sebastio diantar Davi, dalam perjalanan Davi seolah tak berani bicara Apa- apa, karena tahu Salsa lagi marah, dan setelah tiba di gang depan rumah Ayahnya, akhirnya Salsa pun berucap,
"Stop, disini saja parkirnya, Dav! Jadi mudah kalau mau pulang, gak usah muter!" ucap Salsa pada Davi memberi tahu,
Davi menuruti apa yang Salsa katakan ke padanya, dan dengan rasa tak karuan dalam hatinya, Davi pun bertanya,
"Sa, yakin orang tuamu gak kiler, Kan?" ucap Davi pada Salsa seolah telah mendengar kerasnya Bapak Sebastio,
__ADS_1
Salsa tersenyum lucu melihat Davi bertanya seperti itu dengan wajah ditekuknya,
"Gak, paling di makan, wauww!" jawab Salsa pada Davi dengan meledeknya,
"Aku takut, di ledek, gimana dong, Sa?" tanya Davi dengan jantungnya mau copot saat Salsa tadi menakutinya,
Dari kejauhan tampak Ibu Widury dan Bapak Sebastio sedang duduk untuk menunggunya, perasaan kikuk dan sedikit malu terlihat dari sorit mata Salsa pada kedua orang Tuanya, dan dengan menganggukkan kepalanya pada mereka, lalu Salsa pun berunjuk Salam pada keduanya itu,
"Assalamualaikum," ucap Salsa pada mereka berdua dengan senyum di wajah manisnya,
Dengan tersenyum di bibirnya, Ayahnya Sebastio lalu bangun dab menghampiri mereka, sambil menjawab Salannya itu,
"Waalaikum Salam," jawab Bapak Sebastio pada Salsa dengan tangannya bergerak menarik tangan Salsa untuk masuk,
"Ayo masuk, gak usah sungkan- sungkan!" ucap Sebastio pada Davi dengan pandangan yang tajam menatapnya,
"Terima kasih, Pak!" jawab Davi pada Bapak Sebastio dengan memberanikan diri,
Akhirnya mereka pun duduk bersama sambil berbincang ngaler- ngidul tak tentu arah, dan seolah siap, akhirnya Salsa pun bertanya keberadaan Anaknya Andreas pada mereka,
"Maaf, Ayah, Andreasnya mana?" tanya Salsa pada Ayahnya Sebastio ingin segera tahu,
Ayahnya terdiam sejenak, karena Salsa seperti itu sudah di perhitungkan dalam dirinya itu, dan setelah itu Ayahnya pun menjawabnya,
"Ada dikamarnya lagi tidur, kasihan baru tidurnya, jangan di ganggu dulu!" jawab Sebastio Ayahnya pada Salsa menjelaskan,
Lalu dengan bergegas Ibu Widury mengajak Salsa pergi menuju kamar Andreas,
Dan tak lama Merekapun akhirnya tiba juga di kamar Andreas itu, saat di buka pintunya,
Brakk!!, Terlihat Andreas tidur berselimutkan kasur empuk nan bagus, di sekelilingnya terdapat mainanan berbagai bentuk, bantal dan gulingnya seolah baru, serta pernak- pernik Anak kecil sudah berada di Sekeliling Anaknya itu, dengan mata menangis melihat Andreas seolah putra Orang Kaya, tanpa Bisa ditahannya Salsa pun langsung memeluk Ibu Widury, yang sedang merasakan sedih melihat Salsa nestapa,
Sungguh mulutnya tak bisa berkata- kata lagi, matanya seolah tak mau melihat apa yang ada di depannya, dan telinganya tak mau mendengar kehebatan Andreas di depannya,
__ADS_1
"Sudah biarkan dulu, Andreas tidur dengan lelap, soalnya tidurnya baru tadi, belum lama, takut nanti Andreas pusing, Sa!" ucap Ibu Wudury pada Salsa seolah memecahkan kegalsuan dalam diri Anaknya itu Salsa,
Dengan perasaan bahagia dan bangga pada Kedua Orang Tuanya, Akhirnya Salsa pun hanya memandang Anaknya itu, dan tak lama kembali karena Davi menunggunya.