Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Lamunan kala itu


__ADS_3

Sang waktu tak pernah angkuh akan tempatnya, desir angin tak akan pongah akan dinginnya, hamparan sinar mentari pagi, membenturkan ingatan kala itu,


Tampang Bapak Wijaya yang tadinya berwibawa, kini tinggal sisa- sisa ketidak berdayaan yang membumi di dalam dirinya,


"Assalamualaikum," ucap Pak Wijaya pada Widia yang sudah menunggu di depan pintu,


"Waalaikum Salam," jawab Ibu Widia pada Suaminya Wijaya merasa heran,


Dengan langkah gontai Suaminya masuk ke dalam rumah, Istrinya mengikuti dari belakang, dan tak lama Ia pun duduk di Sofa ruang tengah,


"Ada apa? Tampangnya kok loyo begitu, Atau Bapak sakit?" tanya Istrinya Widia pada Suaminya penasaran,


"Celaka, Bu! Habislah Kita." jawab Pak Wijaya pada Ibu Widia dengan rasa ketakutan,


"Celaka kenapa, Pak?" tanya Ibu Widia pada Bapak Wijaya penasaran.


Dengan seakan bingung karena pikirannya hanya ketakutan dalam dirinya, Bapak Wijaya tidak langsung menjawab, Ia terdiam sejenak memandang wajah Istrinya dengan perasaan resah, dengan menarik napas panjang lalu berkata,


"Ibu ingat, sewaktu Kita menghina dan merendahkan Salsa, dulu?" tanya Bapak Wijaya pada Istrinya Widia lagi,


Istrinya mengangguk dan seolah pikirannya mengingat kejadian kesombongan dulu,


"Ibu tahu Siapa yang kita rendahkan itu,?" tanya Bapak Wijaya pada Ibu Widia seolah menyesali,


"Bapak ini bagaimana, kok lupa itukan Salsa dan Ibunya, memang kenapa?" jawab Ibu Widia pada Suaminya Wijaya semakin penasaran,


"Aku tahu Salsa dan Ibunya, mereka itu adalah Istri dan Anak dari Bapak Sebastio, Salsa ini Anak dari Istri pertamanya, Aku pun kaget!" ucap Bapak Wijaya pada Istrinya Widia dengan rasa takut yang dalam,

__ADS_1


"Masa, sih," jawab Ibu Widia pada Bapak Wijaya singkat,


"Sama sekali tak menyangka, tadi Bapak Sebastio mampir ke kantor, dan memperlihatkan foto Salsa dengan Ibunya, Bapak melihatnya langsung, Bu!" ucap Bapak Wijaya pada Ibu Widia dengan rasa gusar di dalam dirinya,


Seolah mengantarkan ketakutan pada dirinya, wajah Ibu Widia pun turut berubah drastis, matanya memandang wajah Suaminya yang gusar oleh fakta yang seakan tak mungkin dalam pikiran mereka, dengan sangat berat hati Ibu Widia pun menjawabnya,


"Kalau memang benar, toh itu sudah berlalu lama, dan gak mungkin Ia tahu." ucap Ibu Widia pada Suaminya dengan pasrahnya,


"Jika Bapak Sebastio tahu hal ini, hancurlah Kita, Bu!" jawab Bapak Wijaya pada Ibu Widia dengan rasa pesimisnya.


Pikiran dan perasaan silih berganti, kadang bertanya, dan terkadang pula berkelahi hingga memenuhi ruang- ruang yang telah mereka siapkan dengan prilaku dan kesempatan yang menghantar mereka pada pilihan hidupnya.


Kedua Orang Tua ini merasa takut akan ketahuan masalah lamanya, ingatan akan itu seolah menyeruak keluar semakin tampak nyata seolah- olah akan menghancurkan mereka.


Malam penuh bintang, hayal dan renungan menghiba akan masa dulu, timang- timang mimpi dengan tirani hati, membuka segala khilaf dan problema yang pernah mendustakannya.


Piranti- piranti yang sudah usang pun Ia buka kembali dengan agenda lamunan kala itu, Sang Bidadari lahir dengan wajah manis dan rupawan, sebagai bukti Sang Pencipta mempercayainya, Ialah Salsa Sang bidadari Kala itu yang membuat seantero rumah dan hatinya ramai.


"Memang Istriku selingkuh daun muda, tapi kenapa Salsa juga kena Imbas marahku, ini sungguh tak adil baginya." ucapnya dalam hati,


Bapak Sebastio sedang mengingat kebodohannya dulu, dengan bergelimpangan harta dan kemewahan yang membuat hidupnya selalu mudah, tak terhindarkan dari arus kemewahan itu sendiri, Istrinya Juariah terjerembab keinginan busuk pecinta daun muda, hingga menjadi hobby dan lupa kembali, alhasil Bapak Sebastio memergoki langsung Istrinya dengan Anak baru gede tanpa busana di dalam kamar rumahnya Sendiri, murka terbayang wajahnya, dan Akhirnya mengusirnya, sayangnya dengan Salsa Istrinya Ia usir, dengan dugaan Salsa bukan Anaknya, seolah piranti ketidak percayaannya hilang, kini wajah Santi terbentang di hatinya menunggu pengakuan darinya.


"Aku harus mencarinya, bagaimanapun Salsa sudah mengisi hatiku saat itu, praduga ku dulu membuat hidup penuh tanya dan gelisah." ucapnya dalam hati.


"Dan prilaku Istriku dulu biarkan, toh hidupnya memikul tanggungan penderitaan yang sekarang Ia senantiasa jalani." begitu pikiran Bapak Sebastio dalam benaknya.


Dan Akhirnya Bapak Sebastio menyuruh kepercayaannya untuk mencari keberadaan Salsa dengan Ibunya, Agar Bapak Sebastio bisa bertemu lagi.

__ADS_1


Sinar rembulan terpancar indah di langit luas, butiran bintang tampak bercahaya dalam gugusan, Sang Dewi malam tersenyum seakan mengucapkan selamat malam, pada hati yang temaram dalam lelapnya.


Malam itu Ibu Juariah bermimpi, Mantan Suaminya menemuinya sambil tersenyum manis kepadanya, sorot matanya tajam seolah memberikan isyarat hati padanya, lalu mantan suaminya menghampiri, serta mengais Anaknya untuk digendong dengan perasaan sayang yang teramat dalam, serpihan jiwanya terpancar sejuk di hati, dan hembusan napasnya terasa menyegarkan untuk dirasakan, lalu Dia pergi dengan tiada henti memanggil- manggil Anaknya, Salsa.


Ibu Juariah terbangun dari lelap tidurnya, pikiran dan perasaannya bertaut untuk membuka tabir mimpi di dalam tidur lelapnya tadi,


"Mimpi itu seolah nyata, Apakah Suamiku dulu memaafkan Aku? Atau Dia hanya mengingat Aku?" begitu pertanyaan- pertanyaan yang muncul di dalam pikirannya,


"Ia tak henti- hentinya memanggil dan menyebut Salsa, Apakah semua ini pertanda bahwa Ia sudah mengakui Salsa adalah Anaknya? Ataukah Ia mencari keberadaan Aku dan Salsa yang telah lama meninggalkannya?" tanyanya dalam benaknya.


Besoknya terilhat Salsa sedang sibuk dengan sapunya, sambil me lap kaca yang kotor oleh debu, dengan sesekali Ia bersenandung sendiri, dan matanya melirik Ibunya yang datang menghampirinya,


"Kok tampangnya kayak memikirkan sesuatu Ayo mikirin Siapa?" goda Salsa pada Ibunya Juariah meledeknya,


"Ah. Dasar Kamu, ada- ada saja!" jawab Ibu Juariah pada Anaknya Salsa dengan senyum dibibirnya,


"Ada apa sih, Bu?" tanya Salsa lagi pada Ibunya tak percaya,


"Semalam Ibu bermimpi Ayahmu datang, lalu tak hentinya memanggil- manggil namamu, Ibu terus berpikir Apa iya Ayahmu ingat Kita?" tanya Ibu Juariah pada Anaknya ragu- ragu,


"Ah itu hanya mimpi, bunga tidur. Gak usah dibawa pikiran." jawab Salsa pada Ibunya Juariah dengan entengnya bicara,


"Tapi ini serasa hawa dan napasnya terasa, seakan- akan Ia tersadar dan mengingat Kita ingin bertemu, Ibu serius ini." ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa dengan rasa Antusias yang tinggi,


"Ya, semoga saja memang begitu." jawab Salsa pada Ibunya lagi,


"Kalau toh Dia ingat, Aku merasa sangat bersyukur, Apalagi bila Ingat Kamu dan menyadari atas khilafnya pada hakmu, sebagai Ayahnya." ucap Ibu Juariah pada Salsa dengan perasaan yang dalam di hati.

__ADS_1


"Kalau Salsa sih menanggapinya biasa, Salsa sudah biasa tanpa Ayah, terbiasa dengan apapun sendiri dengan hanya dibantu oleh Ibu yang hebat, Salsa hanya berdoa setiap waktu untuk kesehatan Ibu semata, toh kalaulah Ayah memang ingat Kita, lalu mau apa, Coba?" jawab Salsa pada Ibunya Juariah dengan hati yang luka.


__ADS_2