Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Akhirnya Terlahir


__ADS_3

Waktu yang ditunggu akhirnya datang juga, Salsa melahirkan anak lelaki, betapa senang sosok Ibu Juariah melihatnya, ketakutan dan rasa gelisah dalam pikirannya akhirnya sirna juga.


"Akhirnya Ibu merasa lega, dan sekarang punya Cucu yang ganteng." ucap Ibu Juariah pada Salsa dengan wajah berseri,


"Bu, kapan kita pulang?" tanya Salsa pada Ibu Juariah ingin tahu,


"Nunggu keputusan Ibu Bidan dulu, sebentar Ibu tanyakan sambil ngurus administrasinya." jawab Ibu Juariah pada Anaknya Salsa memberi tahu.


Sore hari Akhirnya Salsa bersama bayinya dipersilahkan pulang.


Yohana merasa bingung atas segala keinginan Orang tuanya, perjodohan yang mereka rencanakan kini hancur berantakan, lantaran Darwis tak diketemukan, rasa menolak Yohana tak pernah didengarnya, yang ada dalam pikirannya rasa malu atas keadaan Yohana yang sudah tak perawan lagi akibat kelakuan Darwis,


"Sudahlah Pak, jangan terus mengharapkan Darwis ketemu, lelaki lain juga masih banyak." ucap Yohana pada Pak Maruli Bapaknya memberi tahu,


"Enak aja Dia dilepas begitu saja, Kalau Dia menikah dengan Kamu akan Aku didik Dia menjadi lelaki yang bertanggung jawab, gak bisa seenaknya." jawab Pak Maruli pada Anaknya Yohana.


"Tapi Yohana gak mau, Pak!" ucap Yohana lagi pada Pak Maruli dengan rasa jengkel,


"Kamu gak takut gak laku, semua lelaki normal mengharapkan calon Istrinya perawan, lelaki bodoh yang mau sama yang gak perawan," jawab Pak Maruli pada Yohana khawatir,


"Itu yang ada dalam pikiran Bapak, di luaran sana gak begitu," ucap Yohana pada Pak Maruli menerangkan,


"Lalu maumu sekarang apa, coba?" tanya Pak Maruli pada Yohana ingin tahu,


"Sudah lupakan perjodohan itu, biarkan Yohana menentukan jalan hidup sendiri, jangan hiraukan keadaan Yohana yang sudah ternoda, semua ini mungkin sudah nasib Yohana," ucap Yohana pada Pak Maruli menegaskan.


Mendengar Anaknya bicara seperti itu, Pak Maruli merasa sedih, Ia menyadari mungkin itu terjadi akibat rencana perjodohan yang Ia mau,


"Semua itu Bapak lakukan supaya rasa bersalah dalam hati ini bisa berkurang, Bapak merasa salah dan sangat mengkhawatirkan Kamu," jawab Pak Maruli pada Yohana sambil memeluknya,


"Percaya, Yohana tak akan apa- apa, Pak!" ucap Yohana pada Pak Maruli lagi.


Akhirnya mereka berdua saling percaya, walau dalam hati Pak Maruli tetap tidak menerima Perbuatan Darwis pada Anaknya.


Lain halnya dengan Orang tua Darwis, mereka sibuk mencari kesana- kemari posisi Anaknya yang pergi entah kemana, rasa penyesalan dan rasa sedih tergambar dari wajah mereka.

__ADS_1


"Kita sudah berusaha semaksimal mungkin mencari Darwis, tapi tak di ketemukan juga." ucap Papa Hanapi pada Mama Suci dengan sedih,


"Tapi bagaimana dengan Pak Maruli dan rencananya, Pak!" jawab Mama Suci pada Papa Hanapi ingin tahu,


"Kalau memang gak ketemu mau bilang apa, terserah Dia Mau apa, Papa akan menerimanya." ucap Papa Hanapi pada Istrinya Suci menegaskan.


Perjalanan pencarian Darwis mereka lakukan tanpa kenal waktu, hingga rasa frustasi dan lelah menghampiri mereka, Dan merekapun akhirnya merasa pasrah menerima.


Besoknya dengan percaya diri Papa Hanapi mendatangi atasannya, Ia hendak mengatakan sejujurnya tentang pencarian Darwis, dari pada mereka menunggu- nunggu terlalu lama,


Tok! Tok! Tok!, terdengar pintu di ketuk,


"Siapa?" tanya Pak Maruli pada orang di luar,


"Saya, Hanapi!" jawab Papa Hanapi pada Pak Maruli memberi tahu,


"Masuklah!" teriak Pak Maruli pada Papa Hanapi menyuruhnya,


"Selamat Siang, Pak!" ucap Papa Hanapi pada Pak Maruli unjuk salam,


Lalu Papa Hanapi segera masuk, dan langsung duduk di hadapan Pak Maruli,


"Ada perlu apa Kamu kemari, membicarakan tentang Anakmu?" tanya Pak Maruli pada Papa Hanapi penasaran,


"Betul, Pak! Supaya Bapak tidak menunggu- nunggu terlalu lama," kata Papa Hanapi pada Pak Maruli menegaskan,


"Belum diketemukan juga?" jawab Pak Maruli pada Papa Hanapi ingin tahu,


"Untuk selama ini belum Kami temukan, Supaya Bapak tahu adanya, sebetulnya Saya juga malu atas kelakuan Darwis pada putri Bapak, untuk selanjutnya terserah keputusan Bapak." ucap Papa Hanapi pada Pak Maruli pasrah,


"Yohana bersi keras menolak menikah dengan Darwis, itu sudah cukup membuktikan bahwa perjodohan kita batal, tapi rasa sakit atas Prilaku Anakmu pada Yohana, rasa sakitnya masih terasa dalam hati ini, Bagaimana menghilangkan rasa sakit itu, Sementara anakmu pergi tanpa tahu di mana, seolah lari dari tanggung jawab, Akibatnya Yohana menanggung akibatnya yang membekas menggoreskan sakit yang tak terputus, Apakah Kamu mengerti?" ucap Pak Maruli pada Papa Hanapi dengan sinisnya,


"Saya paham, Pak!" jawab Papa Hanapi pada Pak Maruli dengan merasa tak enak,


" Sudahlah, tapi Kalau Kamu temukan Darwis, beritahu Aku." jawab Pak Maruli pada Papa Hanapi memperingatkan.

__ADS_1


Setelah selesai memberi tahu sejujurnya, Papa Hanapi pun mohon diri.


Sosok yang dicari sedang termenung di dalam kamarnya, Ia memikirkan Soal Orang tuanya setelah Ia tinggalkan, rasa bersalah terus menggerogotinya tanpa henti, disaat memikirkan keresahannya, terdengar Ruslan memanggil,


" Wis, jangan bengong terus, ntar kesurupan baru tahu rasa," ucap Ruslan pada Darwis mengagetkannya,


"Masuklah!" jawab Darwis pada Ruslan lagi,


Ruslan terus menghampiri dan langsung duduk di samping Darwis,


"Dari mana, dari pagi gak kelihatan?" tanya Darwis pada Rusla ingin tahu,


"Biasa, jalan- jalan dong!" jawab Ruslan pada Darwis menggodanya,


Mereka akhirnya bercengkrama berdua, bicara ngaler- ngidul di selingi canda dan tawa, terasa hangat dan akrab, lalu Ruslan memberi tahu,


"Tadi Aku bertemu Efendi, teman seangkatan kita, Dia bilang Ibumu mencari Kamu ke kantor tempat kerja dulu," ucap Ruslan pada Darwis memberi tahu,


Mendengar Ruslan berkata seperti itu, Darwis pun terdiam, dalam benaknya Ia kepikiran orang tuanya, rasa sedih mulai terasa menyelimuti hatinya, dan tak lama Darwis pun berkata,


"Aku Kasihan pada Ibuku, sedangkan rencana perjodohan konyol itu terus mendesakku, kehancuran semakin datang setelah Aku menodai Yohana, Aku bingung harus bagaimana, Rus?" ucap Darwis pada Ruslan sambil merasa sedih dan pilu,


Ruslan sejenak diam tak bicara, kelihatannya Ia sedang berpikir, dan tak lama Ruslan pun bicara,


"Menurutku Kamu harus bertanggung jawab atas segala yang telah Kamu perbuat terhadap Yohana, Kasihan Dia, pasti batinnya menangis merasakan penderitaan atas keperawanannya yang kau hancurkan, pulanglah!, Tengok orang tuamu dan nikahilah Yohana dengan rasa tanggung jawab dan Kasih sayangmu." jawab Ruslan pada Darwis menasehatinya,


Darwis mulai berpikir apa yang diucapkan Ruslan padanya, pertimbangan demi pertimbangan Ia padukan dengan apa yang telah Ia lakukan, Tak lama Ia pun berkata,


"Betul apa yang Kamu katakan, Aku harus bertanggung jawab atas apa yang telah Aku perbuat, Kemarin Aku bersalah terhadap Salsa dengan Aib yang Ku ciptakan, Ia terus menghilang, menjauh saat Aku ingin bertanggung jawab, Apakah sekarang Aku harus mencobanya lagi untuk korban napsuku Yohana?" tanya Darwis pada Ruslan dari hati yang paling dalam,


"Selama niat untuk bertanggung jawab atas salah yang kita perbuat, maka lakukanlah jangan mundur untuk jadi pecundang, Aku siap mendampingi bila Kamu perlu Aku." ucap Ruslan lagi pada Darwis dengan rasa bela temannya.


Darwis diam, meresapi ucapan- ucapan dan nasihat Ruslan, Dalam hatinya berucap,


"Aku akan datang atas rasa maafku padamu, Yohana!" begitu Darwis berucap.

__ADS_1


__ADS_2