Aku Bukan/Hanya Bayangan

Aku Bukan/Hanya Bayangan
S2-Hati yang patah (2)


__ADS_3

Para pelayat yang berdatangan mengucapkan bela sungkawa pada Yasmin.


Mereka memang belum lama pindah namun pribadi ibu yang ramah membuat para tetangga mudah akrab, meski banyak dari mereka yang juga tak terlalu memandang karna status Yasmin yang tak mereka tau sebenarnya,punya anak tapi tak punya suami , namun kali ini rumah Yasmin di penuhi warga yang mendoakan kepergian ibu.


"Yasmin lo udah siap?" Dina bertanya saat Yasmin hanya memandang keramba yang akan membawa ibunya keliang lahat,tatapan Yasmin masih kosong "Yas lo harus kuat ada Raja yang butuh lo" baru lah Yasmin menoleh kearah Dina.


"Raja mana..?" katanya lebih seperti bisikan.


"Ada, masih dirumah bu Amira, nanti kalau udah selesai baru kita jemput Raja, dia juga tadi sempet nangis nanyain lo tapi sekarang udah anteng lagi"


"Makasih Din, aku gak tau kalau gak ada kamu..aku.."


"Jangan bilang lo sendirian, ada gue, gue bakalan tetep ada buat lo" Dina memeluk Yasmin, sekali lagi tangis Yasmin pecah.


"Kita harus segera bawa ibu, kasian kalau terlalu lama" Yasmin mengangguk lalu bangkit berdiri di bantu Dina,mereka akan mengantar ibu keperistirahatan terakhirnya.


.


.


Proses pemakaman sudah selesai setengah jam lalu,dan Yasmin masih duduk beralaskan tanah di depan makam ibu.

__ADS_1


"Yas ayo pulang kita jemput Raja.."


"Dina aku masih mau disini " lirihnya


"Ya udah tapi jangan lama lama, gue duluan mau jemput Raja.. inget Yas jangan lama Raja nungguin lo"


Yasmin mengangguk "Ya, bentar aja" sebenarnya Dina khawatir meninggalkan Yasmin sendiri, namun ia teringat Raja tak mungkin di titipkan terus dirumah bu Amira.


Selepas Dina pergi Yasmin masih menatap kosong tanah merah didepannya terus memeluk nisan ibu yang masih terbuat dari kayu.


.


.


Betapa buruknya dirinya.. bagaimana janjinya yang tak akan melukai Yasmin dan akan menjaganya dan Raja bahkan ia sudah menghancurkannya dalam sehari saja.


Azka berjongkok disisi Yasmin, Yasmin memejamkan matanya "Yas..?" Yasmin diam ia tau suara siapa itu, Yasmin tak peduli dan tak akan peduli. "Yas.. maafin aku, aku baru tau ibu.." Azka ingin menjelaskan semuanya tentang pertunangan itu, namun ini bukan waktu yang tepat, ia ikut sedih atas kepergian ibu namun mulutnya tak bisa terbuka untuk bicara.


Yasmin bangun dari duduknya masih tak menghiraukan Azka yang juga ikut bangkit.


Yasmin berjalan dengan terseok, Azka bahkan sudah ancang ancang takut Yasmin terjatuh, Azka hanya bisa mengikuti dari belakang takut sesuatu terjadi pada Yasmin. Begitu tiba di gerbang pemakaman Azka kembali bicara "Ayo aku antar pulang" Azka membuka pintu mobilnya namun Yasmin melewati mobil Azka dan terus berjalan "Yas dari sini kerumah kamu jauh" Azka mencekal tangan Yasmin.

__ADS_1


Yasmin melihat tangannya yang di genggam Azka lalu menghempaskannya "Yas aku tau kamu marah, tapi kali ini aja aku khawatir sama kamu"


"Apa yang membuat anda khawatir?"


Degh..


"Kita tak punya hubungan apa pun hingga anda perlu khawatir terhadap saya" tatapan sayu Yasmin seolah menikamnya, ada kesedihan dan kepedihan disana Azka bisa melihat semuanya.


"Yas..?"


"Tolong jangan temui saya lagi, dan jangan ganggu saya" Yasmin meninggalkan Azka yang masih memaku di tempatnya.


"Apa aku gak punya kesempatan untuk menjelaskannya.." Yasmin berhenti sejenak, namun tak berbalik setelah menarik nafas lelahnya Yasmin meneruskan berjalan melangkah menjauh, cukup sudah ia tak mau lagi dalam benaknya semuanya masih sama,biarlah ia egois tanpa mendengar penjelasan apapun, hatinya sungguh lelah jika saja Yasmin tak memikirkan Raja entah harus apa ia sekarang beruntunglah dia punya Raja ia harus berjuang hidup demi Raja sekarang.


Cinta..


Tidak Yasmin belum mencintai Azka meski hatinya selalu berdebar dekat pria itu ia terus menyangkal, Yasmin yakin itu akan terlupakan seiring berjalannya waktu.


.


.

__ADS_1


Like, koment dan vote😘


__ADS_2