
"Bundta ayo Rada lapel" Raja menarik ujung kemeja Yasmin.
Sandi tersenyum pada Raja yang begitu mirip dengannya, bagaimana mungkin ia bisa menyangkalnya dulu kalau Raja adalah anaknya sementara dalam wajah Raja ada dirinya "Hai.." Sandi berjongkok di depan Raja.
Raja bersembunyi di balik kaki Yasmin "Raja ini Papa" Sandi menepuk dadanya.
Raja menggeleng dan bersembunyi lagi "Raja maukan ikut Papa? ayo kita pulang kerumah Raja"
Genggaman tangan Raja makin mengerat "Kasih aku waktu untuk memberi pengertian pada Raja,dia gak mudah akrab sama orang lain"
"Aku bukan orang lain aku papanya"
"Seorang papa tak akan membuangnya begitu saja.." cibir Yasmin. "Kamu tau pepatah 'Apa yang kau tanam itulah yang kau tuai'.. seperti itu kamu, maka jangan mengeluh ketika Raja tak tau kamu papanya"
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1
"Lakukan pelan pelan,buat dia mengenal kamu lebih dulu, baru kamu bisa mendapatkan hatinya"
Sandi mengangguk "Baik.. akan ku coba"
"Bisakah jangan sekarang? jangan bawa Raja sekarang"pinta Yasmin ia belum siap berpisah dengan Raja, bahkan mungkin tak akan siap.
"Kamu tak berniat mengambil Raja lagi kan?"
"Tentu saja akan ku lakukan,aku bahkan berencana untuk pergi jauh dengan Raja,aku tak akan rela Raja dibesarkan oleh orang tua macam kalian"
Sandi mendengus "Baiklah kita lihat apa yang akan kamu lakukan,tapi jangan halangi aku untuk bertemu Raja,aku akan kemari setiap hari sampai Raja bisa mengerti bahwa aku papanya" Sandi tau Yasmin tak akan melakukan itu,membawa Raja lari jika pun iya maka Sandi akan menemukan mereka lagi.
Sandi kembali berjongkok di depan Raja "Raja Papa pulang dulu, besok papa bawain mainan buat Raja,Raja suka apa?" Raja mulai mendongak menatap Sandi, Sandi tersenyum tulus.
Raja juga tersenyum kecil, taukah kalian kalau anak kecil bisa peka pada ketulusan hati seseorang mungkin itu yang Raja rasakan.
__ADS_1
Sandi lega sekarang setidaknya ia bisa mulai mendekati Raja.
Setelah Sandi dan pengacaranya pergi, Yasmin dan Raja kembali kedalam rumah dan melanjutkan sarapan mereka.
Yasmin menyuapi Raja sambil menatap sendu bocah kecil itu 'Apa ini akhirnya bunda harus menyerah' lalu tiba tiba ia teringat kata kata ibu "Jangan berikan Raja pada mereka"
"Kenapa ibu bilang begitu, bukannya terakhir kali ibu bilang mau mempertemukan Raja dan Sandi" Yasmin bergumam kecil,Yasmin teringat sesuatu "Raja tunggu sini bunda mau kekamar sebentar ya"
"Ya bundta" Raja mulai anteng dengan mainannya, dan makannya telah selesai.
Yasmin membuka laci dan mengambil ponsel ibu yang sudah pecah.mungkin nanti akan ia perbaiki,Yasmin membuka dan memasangkan kartu memory hp ibu ke hp nya.
Yasmin melihat foto foto dan vidio yang tersimpan disana, lalu Yasmin mengeryit "Apa ini?" Yasmin membuka vidio yang terlihat asing lalu matanya membeliak mendengar isi percakapan di dalam vidio tersebut "Sofia.. tapi siapa pria ini,dari mana ibu dapet vidio ini" Yasmin mematikan ponselnya ketika melihat adegan tak senonoh Sofia dan pria itu,diakhir Vidio. "Apa ini alesan ibu ngelarang aku memberikan Raja" Yasmin ingat ibu juga sempat mengucapkan nama Sofia sebelum meninggal.
Yasmin mengingat kemarin ada polisi datang dan mengatakan bahwa mobil yang menabrak ibu terekam cctv mini market,jika Yasmin mengijinkan dan membuat laporan maka polisi akan memprosesnya, Yasmin memilih menyerah biarlah semuanya sudah terjadi,toh tak akan mengembalikan ibu,Yasmin kira itu hanya kecelakaan biasa.
__ADS_1
Tapi sekarang Yasmin mulai gundah apa kematian ibu ada hubungannya dengan ini, wajah Yasmin mulai pucat, jika benar maka Raja tak baik baik saja bersama mereka,bahkan mungkin dalam bahaya,apa yang harus Yasmin lakukan sekarang.
Yasmin masih berada di kamar hingga terdengar suara pekikan Raja "Yayah.."