
Hening menyelimuti kedua insan tersebut mereka duduk bersisian di sofa ruang tamu di dalam sebuah Apartemen.
Alyla menatap kosong jauh kedepan hampir saja ia kehilangan kehormatannya,yang parahnya oleh kekasih kakaknya sendiri hatinya berdenyut sakit ia mencintai Adam,persaan yang dengan cepat tumbuh begitu saja tanpa bisa di cegah.
Adam sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk bersatu jadi rasa bersalah yang mendalam,apa yang terjadi padanya selama ini Adam selalu berhasil menahan diri saat sedang bersama Aluna namun Akhir akhir ini perasaan Adam tak terkontrol,rasa cintanya terasa semakin besar dan tak bisa di bendung lagi hasrat untuk memiliki sang kekasih semakin besar,tidak ini harus segera di akhiri,ini tidak boleh terjadi.Adam selalu menekankan S3x setelah menikah, itu penting . Didikan kedua orang tuanya untuk tidak melakukan dosa selalu ia terapkan.namun mengapa tadi ia sampai kehilangan kontrolnya.
Adam mengusap wajahnya kasar.
"Ayo kita menikah"setelah lama terdiam tiga kata keluar dari mulut Adam begitu saja.
Alyla menghela nafasnya bukan haknya untuk menjawab,Alyla beranjak dari duduknya berniat mengakhiri situasi ini.
"Mau kemana?"Adam memegang tangan Alyla yang hendak pergi.
"Aku mau pake baju dulu" melepaskan tangannya yang di genggam Adam.
"Kamu belum jawab"
"Beri aku waktu" kata Alyla lagi,ia harus mengulur waktu sampai Aluna pulang.
"Berapa lama lagi,aku sudah menunggu lama untuk ini,kamu terus mengulur waktu, kamu bilang setelah lulus kuliah kamu akan menikah denganku, tapi sampai sekarang setelah lamaranku waktu itu, kamu masih bilang 'Beri waktu' sampai kapan ?? aku tidak mau kalau aku melakukan dosa dan menyakitimu" Adam mengacak rambutnya frustasi.
"Pulanglah Adam ini sudah malam"Alyla pergi tanpa menjawab pertanyaan Adam.
Adam kacau dengan segala kekesalannya yang bercampur rasa bersalah pergi meninggalkan Apartemen Aluna.
Alyla menangis terisak di balik pintu kamarnya setelah terdengar bunyi pintu terkunci menandakan Adam sudah pergi.
__ADS_1
Mengapa rasanya sakit sekali jatuh cinta pada orang yang salah,mungkin bukan orang yang salah hanya saja waktu yang tidak tepat.
Alyla jatuh cinta pada kekasih kakaknya sendiri dan itu tak boleh terjadi.Alyla bergegas meraih ponselnya yang tadi ia lempar sembarang untuk menghubungi Aluna.Ia harus segera terbebas dalam situasi ini. lebih cepat lebih baik agar tak meumbuhkan cinta yang lebih besar pada Adam. Alyla sadar setiap harinya perasaannya menjadi lebih besar,dan itu tak boleh terjadi,setelah Aluna pulang ia akan pergi jauh dan melupakan segala rasanya untuk Adam,dan memulai hidup baru.
Pada panggilan ketiganya Aluna mengangkat telpon tersebut.
"Hallo" Suara Aluna begitu berat,mendakan dia dalam kondisi lelah bahkan terdengar deru nafasnya yang memburu.
"Kakak pulanglah..hiks.."Alyla terisak.
"Apa yang terjadi,kamu menangis?"
"Kakak pulanglah aku sudah tidak kuat lagi" Alyla masih terus terisak.
"Apa yang terjadi? coba jelaskan pelan pelan padaku."
Alyla menghirup nafas kemudian mengeluarkan lagi berharap bisa meredakan tangisnya. "Kapan kakak pulang? ini sudah terlalu lama,dan aku sudah lelah berpura pura jadi kakak di hadapan Adam."
Tanpa menunggu jawaban dari Alyla telpon di matikan.Alyla merbahkan tubuh nya di atas kasur memejam mencoba tidur,berharap ini hanya mimpi, berharap rasa cintanya untuk Adam tak pernah ada.
Dibelahan bumi lainnya Aluna sedang terbahak." Ada apa Babe?" Rio yang baru keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk di pinggangnya.
"Ini lucu sekali,sepertinya kita haru segera menyelesaikan permainan kita lebih cepat,ku rasa Alyla sudah mulai jatuh cinta pada Adam" Aluna masih terbahak.
"Hati hatilah jangan sampai permainanmu menjadi boomerang untukmu sendiri"
"Tidak akan,kamu tau ini benar benar menyenangkan, mendengar tangisan Alyla membuatku bahagia"
__ADS_1
"Baiklah jadi kapan kita pulang dan mengakhiri semuanya,agar aku bisa memilikimu seutuhnya."Roy memeluk Aluna dari belakang memberikan kecupan kecil di pundak Aluna yang terbuka.Mereka baru saja menyelesaikan pergulatan mereka sebelum ponsel Aluna berdering dan menganggu kegiatan mereka.
"Kamu tenang saja Roy apapun yang terjadi Aku tetap milikmu" Aluna memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengan Roy lalu mulai m3lum4t rakus bibir pria s3xy di hadapannya,tentu saja itu membuat Roy senang dan mereka pun memulai kembali percintaan mereka.
____________
Adam baru saja tiba di rumahnya tanpa menyapa Arya dan Karina yang berada di ruang tamu,Adam bergegas menaiki tangga tanpa mengiraukan pertanyaan Karin yang khawatir melihat kacaunya penampilan Adam.
"Adam ada apa kenapa kamu kusut sekali?" tanya Karin dengan raut khawatirnya.
Adam bergeming memilih masuk kedalam kamarnya dan membanting pintu,membuat Karin terjengit kaget dan mengelus dada.
"Mas ada apa dengan Adam"
Arya masih tetap santai menonton tv sambil memakan camilannya. "Sudahlah sayang biarkan Adam tenang dulu baru kita bertanya"
"Kamu gimana sih Mas anak kacau begitu kenapa masih tenang tengan aja" Karin tak habis pikir Arya bisa setenang itu.
"Terus harus gimana,percuma ditanya sekarang juga Adam tidak akan menjawabnya,setidaknya Adam tidak mabuk mabukan meski di kala stres,biarkan saja dulu tunggu sampai dia tenang, sudah sini nonton lagi acaranya lagi seru ini" Arya menepuk sofa di sebelahnya.
Karina merengut suaminya ini kelewat santai,mau tak mau Karin menurut dan duduk kembali di sisi suaminya.
Adam menyalakan shower air dingin dan mengguyur tubuhnya yang masih mengenakan pakaian lengkap berharap meredakan segala amarah yang berkecamuk dalam dirinya.
Satu jam Adam berdiri di bawah guyuran air dingin dan berhenti saat tubuhnya mulai terasa menggigil.Meraih handuk dan keluar dari kamar mandi untuk berganti pakaian.
Tak lama Adam merebahkan dirinya di kasur dan langsung terlelap.
__ADS_1
Karina mengetuk pintu untuk membangunkan Adam tak biasanya Adam belum bangun,Adam termasuk orang yang selalu tepat waktu.Lama mengetuk namun tak juga mendapat jawaban,Karin mulai panik membuka pintu yang ternyata tidak di kunci,Karin terkejut melihat raut pucat Adam yang terbaring dengan gulungan selimutnya, menggigil sesekali bergumam tak jelas memanggil nama Aluna.
Karina yang panik berteriak memanggil Arya untuk menghubungi dokter.