
Tatapan kedua netra mempesona itu begitu tajam dengan aura yang tak bersahabat, tak perduli dengan lalu-lalang Kru yang hanya diam menyaksikan bagaimana aura intimidasi kedua tubuh mempesona yang sedang berdiri tepat dipintu keluar panggung.
"Kau memang seperti Ketombe! hama tak diundang!"
"Jaga bicaramu jalang sialan!"geram Gebriel dengan wajah yang dingin kepalang geram, mereka ingin keluar dipintu utama ini, tapi salah satu dari mereka tak mau kalah untuk keluar lebih dulu.
"Minggir!" Renata mendorong tubuh gagah Gebriel yang hanya diam ditempatnya, bahkan pria itu tak bergerak sama sekali membuat wanita itu geram bukan main.
"Kau memang mencari masalah ya?"
"Cih! najis sekali aku mencari masalah dengan jalang sepertimu!"
"Kalau begitu minggir! aku ingin keluar!"
"Aku juga ingin keluar! pintu ini lebar, kau saja yang mencari sensasi!"
"Kau memang ingin mati ya?" Geram Renata menarik dasi Gebriel telak dan mengacak rambut mempesona pria itu kacau.
"Lepasss! Kau memang Jalang sialan!" geram Gebriel merasa tarikan Renata sangatlah kencang, kekuatan wanita ini memang tak bisa diremehkan.
Srettt..
Gebriel menarik tangan Renata dari kepalanya lalu ia kunci kebelakang tubuh wanita itu, Tubuh mereka mepet ke dinding pintu dengan keadaan tubuh yang sudah kacau.
"Lepass!" desis Renata meronta-ronta tapi Gebriel acuh, ia sudah geram melihat apa yang dilakukan Renata pada rambutnya tadi.
"Kau harus diberi pelajaran!"
Bugh..
Renata terlempar ketempat sampah disamping tubuh mereka dengan lengan yang tergores pinggir tempat itu, Gebriel tersenyum puas melihat keadaan Renata yang sudah kacau dengan rambut berantakan dan tubuh yang cemong.
"Kerombe sialan!!!!!" Teriak Renata meradang, Gebriel hanya menaikan sudut bibirnya sinis, lalu memperbaiki rambut dan jasnya.
"Jangan bermain denganku!" geram Gebriel lalu melangkah pergi di ikuti Aisiten Joy yang hanya diam melihat kelakuan dua manusia ini.
"Aaaaaa! awas kau brengsek!" umpat Renata bangkit disela nyeri yang melanda tubuhnya, ia menatap tajam para Kru yang menatapnya lain membuat mereka ciut.
"Apa kalian?"
"Tidak Nona!"
"Cihh!" Renata melenggang pergi dengan mengembalikan aura pemikatnya, dendamnya pada Ketombe sialan itu semangkin mengubun-ubun.
Lihat saja! apa yang akan kulakukan padamu dasar Ketombe sialan!
Batin Renata mengumpat disetiap langkahnya, ia tahu, para Kru ini adalah orang kepercayaan Presedir Mohana, tak mungkin mereka berani macam-macam pada mereka.
"Kau kenapa Renat?" Renata hanya diam dengan wajah kelamnya, ia sudah sampai ke Loby lapangan Panggung dengan keadaan yang mengenaskan.
"Kau kenapa?" sambung Gea yang menimpali pertanyaan Kinan, ia prihatin melihat luka dilengan putih itu.
"Tak usah hiraukan aku!" ketus Renata masuk kedalam Mobilnya, Exell hanya menatap datar tingkah Renata yang memang dari sananya gadis itu terlalu dingin.
"El!"
"Apa hmm?"
__ADS_1
"El tahu Renata kenapa?" Exell tersenyum lembut seraya menyandarkan kepala Kinan kedada bidangnya sementara Asisiten Dion menutup pintu Mobil Tuannya.
"Menurutmu Sayang?" Exell mengarahkan tatapan mata istrinya menuju Mobil Gebriel yang tepat disamping mereka, Kinan terkejut melihat keadaan Pria itu, rambut acak-acakan serta goresan cakaran di dekat lehernya dari kaca jendela mobil mereka.
"Jadi mereka..!"
"Hmm! Biarkan saja, itu urusan mereka!" ucap Exell yang diangguki Kinan yang kembali pada posisinya.
Tiga Mobil itu melaju ditengah hujan salju yang mengguyur Peggunungan Syuhan, cuaca sangatlah dingin membuat mereka harus exstra menjaga imun tubuh.
beginilah kalau malam hari, suhu dipeggunungan ini akan bertambah dan berkurang saat siang hari karna mentari cerah itu telah tersenyum memberi kehidupan bagi mereka.
Setelah beberapa lama, mereka sampai dipenginapan yang tanpak sudah tertimbun salju bagian terasnya, lampu taman dan gradasi bagunan itu masih menyala dengan Pepohonan khas yang terbentuk malam ini.
"Sini Sayang!" Kinan menurut saat tubuhnya dipakaian Mantel hangat oleh suaminya ini, ia hanya diam dengan tangan yang diggengam hangat pria itu.
"Sepertinya badai salju akan segera datang Tuan!"
Exell mengangguk menggendong istrinya keluar diiringi dengan desiran angin yang mulai kuat dengan butiran putih sejuk yang menempel diMantel mereka.
"Aaasss!"
"Kinan!" pekik Mereka mendengar desisian Kinan yang menggeram menahan sakit.
"Sayang! Kau kenapa?" Exell dengan cepat melangkah masuk kepenginapan mereka dengan wajah yang sudah dingin dan mengeras.
"Buka pintunya!" Gebriel lansung membuka pintu kamar pasutri ini cepat dengan wajah panik mereka mendengar rintihan Kinan.
"Sayang! Mana? Mana yang sakit?" Exell membuka mantel istrinya dengan Gea yang menghidupkan penghangat ruangan, wajah Kinan beralih pucat membuat pria tampan itu semangkin kelam dan sesak.
"Pe..Perut Kinan!" desis Kinan mencengkram kuat lengan kekar suaminya.
"Tuan! ini sedang badai, bagaimana mereka bisa..!"
"Aku tak mau tahu! jeput mereka kesini atau aku yang akan membunuhnya!" geram Exell tak tahan dengan ringisan istrinya, Gebriel tahu, Adiknya pasti sangat khawatir akan keadaan Kinan.
"Aku akan mengurusnya!" Gebriel melangkah keluar menyusul Asisiten Dion yang sudah mengabari setiap anggota Tuannya untuk menjemput Dokter kandungan dan Spesialis lainnya kepenginapan ini.
Gebriel juga mengabari Dokter khusus disini, dan tentu saja, Wanita, ia tak mau mendua kalau Exell mengamuk lagi.
...
"Elll hiks hiks! Sesak!" Kinan merasa perutnya keras dan teggang, belum lagi nafasnya yang sesak.
"Tenaglah Sayang! aku disini!" Exell mengelus lembut perut istrinya dengan tubuh yang mendekap hangat Kinan yang masih menahan sakit.
"Kinan! apa kau memakan asam tadi?"
Kinan menagngguk membuat Exell tersentak, ia bangun dan menatap penuh murka wajah pucat istrinya.
"Kau memang..!"
"Aaaa Elll hiks hiks!" Exell sungguh dibuat geram dengan semua ini, ia ingin marah tapi tak tega melihat wajah pucat istrinya.
"Kemana Dokter sialan itu?" Bentak Exell dengan wajah kelamnya, Renata dan Gea lansung menyonsong kepergian para pria tadi.
"Sayang! Tarik nafasmu pelan" arahan Exell pada istrinya, Kinan mengikuti apa yang Exell lakukan.
__ADS_1
"Tuan!"
"Cepat periksa istriku!" Dokter Lusi lansung masuk dan memriksa Kinan yang masih sangat pucat.
"Nyonya! apa anda hamil?"
"I..Iya!"
Dokter Luci menepuk pelan perut datar wanita ini, ia memeriksa denyut jantung dan teggangan darah wanita yang dipeluk mesra Pria tampan ini.
"Apa yang terjadi?"
"Perut Nyonya keram Presedir, kurangi beraktifitas diluar karna cuaca sedang sangat dingin, jangan berdiri kelamaan dan atur pola makan, sepertinya anda kurang beristirahat!"
Exell diam dengan wajah dinginnya, sudah berapa kali Kinan melanggar perintahnya, ia tadi menyuruh wanita ini makan dan melarangnya pergi tapi Kinan tetap ingin pergi.
"Ell!"
"Hmm!" Kinan gemetar saat melihat Dokter Lusi ingin melakukan Injeksi pada lengannya, ia takut dengan benda itu.
"Kinan tak mau disuntik!"
"Lakukan!"
"Elll!"
"Kau diamlah!" geram Exell pada Kinan yang ciut, ia mengigit bibir bawahnya untuk menahan sakit, melihat itu Exell lansung menggantikan lengannya sebagai penahan sakit.
"Jangan melukai diri sendiri!" Exell menyodorkan lengannya tapi Kinan menggeleng, ia membenamkan wajah cantiknya ke dada bidang pria itu dengan tangan yang diggengam suaminya erat.
"Nyonya! lemaskan tangan anda!"
"Itu tak akan Sakit! kau jangan membuatku semangkin geram!" kesal Exell pada Kinan yang mengembun, ia hanya mengangguk dengan bibir yang bergetar.
Sejujurnya Exell hanya ingin Kinan mengerti akan kekhawatirannya, ia bingung kenapa semenjak hamil wanita ini begitu membuatnya Sport jantung, sikap yang sensitif, mudah menagis, tak suka diatur dan membangkang.
"Sudah Tuan!"
"hmm!"
Dokter Lusi memberikan Vitamin kehamilan dan penambah imun, ia juga memberikan buku panduan hamil pada Exell.
"Jika ini terjadi lagi, maka perut Nyonya di kompres saja dengan air hangat Presedir! itu akan membantu!"
"hmm!"
Dokter Lusi pergi berpapasan dengan Dokter Spesilis lain yang baru datang.
"Bagaimana keadaan Kinan?"
"Cihh! Dia hanya tak pernah mengindahkan ucapanku!" ketus Exell seraya memperbaiki cara baringan istrinya, ia masih tetap mengkeloni wanita ini meski dadanya sudah bergemuruh untuk meluapkan kekesalannya.
"Dia sudah baikan! kalian bisa pergi!" Para Dokter itu mengangguk dengan Gebriel yang hanya bisa menatap nanar Kinan yang masih engan melepas pelukannya pada Exell.
"Biarkan mereka istirahat!"
Renata mengiring mereka keluar meninggalkan sepasang pasutri yang diam itu.
__ADS_1
...
Vote and Like Sayang..