
Degupan jantung keduanya dengan dada yang saling merapat membuktikan bagaimana Panorama Cinta yang telah mereka lalui. ini Gila! Tubuh mereka seketika merespon menelan gejolak yang tadinya membuncah ruah sekarang menyebar ke seluruh pori pori Kulitnya memberi rasa yang begitu kuat.
Nafas yang memburu dengan kilatan Kerinduan dan Cinta yang mendalam menyelumbungi mata kedua Mahluk Ciptaan Tuhan yang berbeda ini. Entahlah, Rasanya ini semua tidak nyata. Perjalanan yang sungguh sulit dilalui dengan rintangan yang menggetarkan jiwa.
"Kinan melukai El hiks hiks!"
Isakan pilu gadis itu membenamkan wajahnya ke belahan dada sang Pangeran Penyelamat dengan beribu kilauan Cinta yang seakan menelannya dalam gebuan Perasaan Bahagia.
"Kenapa bicara begitu hmm? Kau tak Salah Sayang!" kelembutan suara tegas dengan aura Kasih sayang itu terlihat memberi Kenyamanan dihati gadis yang sekarang ia dekap erat.
"Tapi..
"Sutttt! Jangan bicara lagi!"
Exell menggendong ringan tubuh Kinan yang sudah basah kuyup dengan lekukan tubuh yang sudah terlihat jelas didalam bungkusan gaun yang sudah mengetat ditubuh Sexsi itu.
Langkah kaki kokoh itu menghentak ketanah yang sudah digenagi air dengan lumpur yang membasahi sepatu dan Celananya. belitan lengan kekar itu begitu erat seakan Tubuh basah ini tak bisa diambil dari pelukannya. bibir Pria itu melekat kekening gadisnya yang membelit erat leher dan menyembunyikan wajah cantik itu ke ceruk lehernya.
"Tuan!" sambut Asisten Dion yang menunduk tak berani menatap liukan tubuh indah ini membuat darah siapa saja mendesir hebat dengan rasa Nikmat yang terhayalkan.
"Tundukan wajah kalian!" titah Exell dingin sesuai dengan udara yang menusuk tubuh mereka. Ia melangkah ke mobilnya dengan anggotanya yang perempuan telah datang dengan membawa Mantel hangat untuk Tuannya.
"Ini Tuan!" wajah mereka bersemu melihat tubuh gagah Exell yang tercetak habis dibalik kemeja putih yang sudah basah kuyup itu. tonjolan kotak berotot yang menggiurkan dengan lelehan air hujan yang mengaliri leher dan tubuh Pria gagah ini membuat bagian inti mereka berdenyut Nikmat.
tapi. mereka Sadar saat melihat Bidadari Molek yang sedang dipeluk mesra pangeran Dambaan ini membuat Jiwa mereka Minder melihat kecantikan dan Kesempurnaan yang tak terbantahkan ini. kulit putih bersih yang berkilau itu sungguh membuat iri siapa saja yang menatapnya.
"Ke Hotel Green!" titah Exell masuk kedalam Mobilnya dengan Asisten Dion yang mengemudikan Mobil itu cepat membelah percikan hujan yang deras.
"Tuan besar dan yang lainnya sudah pulang duluan Tuan! Mereka berdoa agar Tuan dan Nona selamat!" ucap Asisten Dion yang menyampaikan pesan dari Tuan Besarnya yang tadi memboyong keluarga lainnya untuk pergi.
"Hmm!" jawab Exell datar dengan ekspresi seperti biasa, datar tanpa berlebihan sama sekali. ia masih terlihat cemas namun berusaha ia kendalikan saat melihat tubuh lemah Kinan.
"Panggil Dokter!" ucap Exell singkat yang diangguki Asisten Dion yang lansung menelfon Dokter Pribadi Exell yang biasa bertugas memantau Tubuh Exell yang jarang sekali di temukan Penyakit selain Isu Gay itu.
"Ehmmm!" Kinan menggeliat dingin dengan tubuh yang sudah bergetar menahan rasa kaku yang melandanya. Exell menatap wajah pucat itu dengan sulit. hatinya kembali dilanda kecemasan.
"Cepatlah!" suara Berat pria itu menggelegar pada Asisten Dion yang segera memacu kendaraan mereka dengan kuat hingga mereka sampai ke Hotel Green didekat pantai yang terhubung lansung dengan laut biru dipesisir sana.
Exell menggendong tubuh Kinan cepat memasuki gedung besar ini dengan asisten Dion yang memayungi mereka sampai kesna.
"Tuan anda..
"Siapkan segalanya!" titah Exell cepat dengan tatapan lansung tertuju pada Lift yang membawa mereka ke lantai kamar Exell yang seperti biasa ditempati Pria ini ketika ingin menenagkan diri.
__ADS_1
ia berulang kali mengecup kening Kinan yang sudah dingin membuat Exell semangkin dibuat kelut dengan perasaan nya sendiri.
Pintu Kamarnya dibuka Asisten Dion yang lansung dimasuki Exell dengan cepat. Asisten Dion keluar melanjutkan tugasnya yang lain.
"Sayang Buka matamu!" ucap Exell menepuk pipi Kinan lembut dengan wajah cemas yang begitu terlihat berkrcamuk.
"Elll!" lirih Kinan dengan serak karna tenggorokannya begitu kering dengan tubuh yang begitu dingin. Exell membuka semua pakaian yang membalut tubuh Kinan yang basah. ia beberapa kali dibuat meneggang melihat pemandangan indah ini.
Sungguh! Tubuh Molek yang sempurna itu begitu menggiurkan membuat darah Exell mendesir hebat dengan lonjakan Hasrat yang naik kepermukaan.
"Berbaringlah!" suara Exell mulai berat dan serak membuktikan betapa kuatnya terjangan Hasrat yang membuncah itu. tangannya gemetar untuk menyelimuti tubuh polos Kinan yang mengigil dingin membuat Exell tak tega.
ia Juga melepas semua Pakaian ditubuh gagahnya dan melempar pakaian mereka kekamar Mandi sana lalu mengambil handuk dan Pakaian hangat yang sudah disediakan dengan rapi didalam Lemari sana.
"Sayang! ayo kesini!" Kinan mendekap tubuh polos Exell yang hanya dibaluti Handuk yang melingkar di pinggang kekar itu dengan memperlihatkan bagian atasnya yang begitu menggoda.
"Shitt!" umpat Exell saat dua gunung kembar yang sintal itu menempel rapat ke dada bidang polosnya menimbulkan gesekan hasrat yang menggelora.
Ini sangat menyiksa Sayang! Kau sungguh memabukan. batin yang menjerit tak tahan dengan kulit lembut yang bersentuhan dengannya ini.
"Masih Dingin hmm?" tanya Exell yang memakaikan Pakaian hangat ke tubuh polos Kinan dengan cepat takut ia kebeblasan. namun Exell terkejut saat melihat kaki Kinan yang dipenuhi goresan dan berdarah.
"Kenapa kau tak bilang?" geram Exell pada Kinan yang tak punya tenaga menjawabnya. ia hanya bisa diam dengan tubuh yang mengigil.
"Masuklah!" Suara datar itu menandakan mereka bisa masuk tanpa hambatan aura kejam itu lagi.
Ceklek...
Mata mereka tertangkap dengan Sepasang Mahluk yang sedang berada di satu ranjang dengan Sang Pangeran yang memakai handuk dan sang Ratu memakai pakaian lengkap namun masih saja terlihat menggiurkan.
"Kenapa kau membawa dia haa?"
Glek...
Suara berat menggelegar itu membuat kedua Pria itu tersadar dari tatapan mereka pada Kinan yang berbaring miring memunggungi mereka dengan imutnya.
"Ma..Maaf Tuan! Tapi kan Dokter Denis yang menjadi Dokter Pribadi anda!"
"Apa aku menyuruh dia?" Asisten Dion tercekat dengan ucapan itu. ia baru sadar kalau Tuan Muda arogannya ini sekarang tak sendiri dan tak Gay lagi. dia sudah memiliki pawang cantik yang membuatnya beberapakali gagal fokus.
"Elll!" gumaman Kinan menyelamatkan kedua Pria itu dari Singa yang sudah terlihat menentang menatap mereka dengan tatapan membunuh yang mengerikan.
"Apa Sayang? apa ada yang sakit?" tanya Exell lansung menagkup pipi Kinan yang pucat membuat ia bertambah panik.
__ADS_1
"Dingin!" desis Kinan merangkuh tubuh Exell untuk memeluknya masuk kedalam Selimut tebal ini. ia membenamkan wajahnya ke ketiak Pria ini dengan tangan yang membelit erat Tubuh gagah Pria itu.
"Apa lagi yang kau tunggu?"
"Baik!" ucap kedua Pria itu lansung takut mendengar bentakan Pria ini. Denis mengeluarkan peralatan kedokterannya membuat Asisten Dion bingung.
"Kau tak sedang mengoperasi kan?" tanya Asisten Dion sinis saat Denis mengeluarkan pisau gunting dan yang lain sangking gagal fokusnya melihat kaki mulus Kinan yang menyembul keluar.
"Eh Maaf!"
"Cihh! Sudah ku bilang, jaga matamu!" ucap Asisten Dion jengah.
"Tuan! Bisa perlihatkan wajah Nona Muda!" tanya Dokter Denis hati hati namun malah mendapatkan tatapan membunuh dari Exell membuat jantungnya meledak gemetar.
"Kau ingin melihat Miliku!" geram Exell pada Denis yang menggeleng kuat. ia sudah siap siap memegang gunting untuk mengantisipasi.
"Tuan! Bagaimana Denis bisa memeriksa Nona?" tanya Asisten Dion menengahi, kalau seperti ini terus. maka Nona Mudanya akan keduluan membeku.
Exell menatap Kinan yang masih mengigil didalam pelukannya. ia tahu Gadis ini sangat rentan terkena dingin dan juga lelah karna kejadian tadi.
"Obati kakinya!"
Denis berbinar cerah dan dengan semangat melihat kaki mulus itu tapi suara Exell membuat ia meneggang.
"5 menit dari sekarang!"
"Tuan anda..
"5 menit kurang!" sambung Asisten Dion yang ikut memerintah mengerjai Denis yang tadi meremehkan Nona Mudanya.
Dokter Denis melihat goresan luka ini. ia beberapa kali tersentrum menyentuh kulit lembut itu membuat ia menghela nafas berat.
"Sayang! masih sakit hmm?" tanya Exell mengelus punggung Kinan yang perlahan sudah bisa memejamkan mata dengan tenang.
"Elll!"
"Yah! aku disini!"
Mereka menatap penuh iri pada Exell yang memeluk Kinan dengan lembut, sesekali Pria itu mengecup leher kening dan bibir gadis itu penuh cinta membuktikan betapa Besarnya perubahan Pria ini.
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1