Aku Tak Salah

Aku Tak Salah
Kalung..


__ADS_3

Exell menatap lembut netra tajam istrinya, ia sungguh dibuat terkejut dengan penyerangan Aliniya yang tampak mengerikan ditubuh Renata yang di penuhi lebam dan darah.


"Bu..Bunuh aku!"


Aliniya kembali panas mendengar Renata yang tak takut akan kuasanya, ia mengetatkan rahangnya erat seraya kepalan tangan yang menguat.


"Brengsekk!"


Whusss..Bugh..


Renata tersungkur akibat terjangan kaki jenjang itu, tak cukup disitu saja, Aliniya menghempaskan tangannya keatas menimbulkan gemuruh besar yang berkilat tajam.


"Kau menantangku hmm?" geramnnya lalu memutar pergelangan tangannya yang sudah terkunci dengan kilatan biru itu.


"Yah! Uhukk, Ka..Kau juga akan membunuh !" ucap Renata terbatuk batuk dengan tampang menyedihkannya, Gebriel yang baru datangpun terkejut melihat Aliniya dan Renata yang saling tatap haus akan darah.


"E...Exell!" Gebriel tak lagi bisa berkutik saat melihat Aliniya yang mulai menyerang Renata kembali dengan gumpalan kilatan biru itu.


Whusss...


"Tahan Aliniya!" suara bariton Pria yang tiba tiba datang lansung membawa Tubuh Renata menghindar dari serangan Aliniya.


Whussss..Duarrrrr...


Satu sisi Mashion yang tepat dibelakang Renata retak membuat mereka terkejut, Adres menatap Exell yang terlihat masih berusaha mencari Mata Istrinya yang masih menatap tajam Renata dengan murka.


"Sayang! dengar..!"


"Matilah kau brengsekk!" Aliniya kembali ingin mendekati Renata namun Exell dengan cepat menarik tangan lembut itu kepelukannya membuat Aliniya meronta marah.


"Lepas! Kau yang menantangku bukan! Sekarang terima saja ajalmu! Lepassss!" teriak Aliniya didekapan Exell yang menguat, Aliniya seakan tak menyadari yang ia pukul itu adalah suaminya sekarang.


"Sadarlah Kinan!" Aliniya tak menghiraukan ucapan Adres, ia masih memberontak membuat Exell geram.


Grettt..


Exell menyudutkan tubuh mereka lansung ke dinding dengan kedua tangan Aliniya yang ia kunci keatas kepala.


"Lepass!"


Cup..


Exell membungkam mulut gadis itu membuat Aliniya semangkin memberontak, namun Exell mencengkram pipi lembut itu mengadah menatap wajahnya, mereka saling tatap dalam dengan gejolak perasaan sendiri.Netra biru yang memancarkan gebuan cinta untuknya dengan gelombang kelembutan itu membuat Netra indah yang dikuasai kabut amarah tadinya perlahan melembut menunjukan perubahan yang nyata.


"Elhmm!" gumamnya melemah dengan bibir yang masih menyatu dengan pria itu, Kinan luruh dengan tatapan sendunya menatap kekacawan yang ia sebabkan, untung saja Exell lansung memeluk tubuh rapuh itu.

__ADS_1


"Ell! i..ini!" Exell lansung membenamkan lembut kepala Kinan ke belahan dada bidangnya. ia mendengar isakan kecil sang istri yang membuat ia sesak dan kelam.


"Sutttt! tenaglah, ini bukan salahmu! kau tak salah apa apa Sayang!" bisik Exell lembut mengecupi pipi putih itu.


Renata menggeram melihat Cinta yang besar dari kedua manusia itu, ia tak terima Aliniya melepas tanggung jawabnya begitu saja.


"Aliniya!" Kinan lansung menatap Renata yang membuatnya terkejut melihat keadaan wanita itu.


"E..Ell Re..Renat..!"


"Suttt! Tatap mataku!" Kinan lansung terkadah terkunci akan Netra mempesona itu, ia menemukan perlindungan dan kenyamanan disini, tangan pria itu membelai pipinya lembut menciptakan desiran halus dihati Kinan.


"Jangan hiraukan dia!" Kinan mengangguk patuh seraya Exell yang menggendongnya melewati Renata yang malah meneriakinya.


"Brengsek kau Kinan! Kau tak akan lepas dari ini, Kau penghianat ibu Ratuuu!"


"Diam Renata!" geram Adres pada Renata yang tak memusingkannya, wanita ini memang sangat kuat dalam pengapdiannya membuat semuanya runyam.


"Aku Bersumpah! Kau tak akan bahagia jika..!"


"Jika apa?" Exell menghela nafas berat dengan pertentangan ini, ia yakin Kinan sudah sadar sekarang.


"Ell!"


"Cihh! kau hanya berlindung dirangkuhan Pria itu! kau tak bisa bertarung sendirian, dasar lemah!" ketus Renata pada Kinan yang malah menganggukinya dengan tatapan memujanya pada wajah tampan suaminya.


"Kinan tak ada artinya tanpa El! Kinan lemah tanpa dia, dan kau perlu tahu, Kinan tak bisa bertarung sendirian karna Kinan hidup berdampingan dengan Cintanya El! Kami satu bukan bagian-bagian yang terpecah!" Exell terenyuh dengan kata kata tulus itu, netranya sudah terlambung dalam jatuh terkurung akan pesona istrinya, Oh Sayang, bisa kau bisikan kata itu setiap hari!


Jeritan batin Exell mebeludah akan ketulusan Cinta dari Kinan yang sangat membuatnya gila.


"Kau itu bodoh! kau punya kekuatan tapi kau malah tunduk padanya, bukankah itu hanya budak baginya saja!" Renata semangkin dibuat geram dengan sikap Kinan yang malah tersenyum akan ucapannya yang menurutnya sangat menyakitkan dan menyinggung.


"Tak ada Budak dalam Cinta! Kau tak pernah mencintai Renata! jadi, kau tak merasakan ketulusan hati dan makna kehidupan! Kinan tunduk karna Kinan menghormati Suami Kinan , dia raja dalam hidup Kinan dan tentu Kinan tak bisa melawan bagian dari Kinan sendiri,bukan?"


Renata mencengkram erat Dress yang ia pakai, percuma berbicara dengan Budak Cinta yang selalu tak bisa kalah itu.


"Terserah kau saja! yang jelas, aku tetap dijalanku dan kau dijalanmu! sampai waktunya tiba, kau lihat! Cintamu itu atau Pengapdianku yang menang!" Renata berdiri dan ingin melangkah pergi tapi Kinan dengan cepat mencegahnya.


"Apa yang kau pakai?"


Mereka tersentak saat tatapan tajam Kinan mengiringi deraian angin yang menerpa wajah mereka dingin, Renata berbalik dengan seringaian liciknya.


"Apapun yang ku pakai! kau tak berhak menghentikanku!"


"Renata! Lepaskan benda itu!" geram Kinan menatap kalung liontin merah darah yang terkalung dileher wanita itu yang sudah berlumuran darah yang dia bantai.

__ADS_1


"Ini warisan dari Ratu! kau tak mau memakainya, maka aku yang memakainya!" desis Renata lalu menghilang pergi entah kemana membuat Kinan begitu geram.


"Apa yang merasuki pikirannya?" Desis Kinan menatap kepergian wanita itu, Adres menghela nafas berat akan tekat Renata yang kuat, ia melangkah mendekati Kinan yang lansung di peluk erat oleh Exell yang bersiaga.


"Mau apa kau?" Suara dingin Exell merasa muak dengan Adres, sejak mimpi malam itu, ia bisa melihat manusia jadi jadian ini. tatapan tajam keduanya bertemu dengan guratan yang tak bersahabat.


"Sayang!"


Exell mengetatkan rahangnya mendengar kata itu tertuju pada istrinya, wajahnya sudah kelam bak kutup utara yang membuat Gebriel ditengah tengah merekapun bergidik ngeri.


"Jaga ucapanmu!"


"aku hanya berurusan dengan adikku!" kekeh Adres membangkitkan jiwa gelap didalam diri pria tampan itu.


"Kau...!"


"Sudahlah Elll!" Kinan mencegah kepalan tangan Suaminya yang ingin melayang, bongkaman kekar itu terkepal erat membuktikan kegeraman pria ini begitu panas dengan kedekatan Adres dan dirinya.


"Cihh! Pencemburu!" ketus Adres dengan santainya duduk kembali berhadapan dengan Exell yang sudah berapi api.


"Sayang! Kak Adres itu Kakak Kinan!"


"Tapi dia laki laki!" geram Exell pada Kinan yang menghela nafas berat, Pria ini memang terlalu pencemburu membuatnya gemas.Kinan ingin berbalik, namun Exell malah membuat ia berpangku seperti koala dengan kepala yang tersuruk di belahan dada pria ini.


"El Sayang! Kinan ingin bicara dengan Kakak!"


"Bicaralah!"


"Kak Ki..!"


"Bukan kau! tapi dia..!" geram Exell membuat mereka menggeleng geleng saja, Kinan pasrah membenamkan wajahnya ke rangkuhan hangat ini, bahkan ia tak dibiarkan mengintip sama sekali.


"Ambers dan Gea tak bisa ditemukan!"


"Apa?" kaget Kinan menatap Exell yang hanya menunjukan wajah datarnya, ia malah mengeratkan belitan tangannya.


"Sejak kau pergi dengannya! Mereka tak adalagi di Mashion ini atau tempat lain, yang jelas, Korban berjatuhan tak di Mashion ini saja! diluar juga berserakan, setiap daerah yang pernah kau lalui maka akan ada yang diambil, mereka seakan hilang ditelan bumi!"


Kinan berfikir intens dengan ucapan Adres, ia juga merasakan aura yang berbeda pada saat melihat Renata tadi, seakan wanita itu telah dicampuri sesuatu.


"Akan ada yang terjadi nantinya!" gumam Kinan melihat darah darah yang bergelimang ini, Exell merasa kejadian ini seperti rentetan Ritual atau semacamnya.


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2