
Momy Chalista dan Dady Arkan membaringkaa tubuh putranya disamping Kinan yang perlahan terbangun dengan suara deritan ranjang dan pergerakan disekitarnya.
Netra indahnya terbelalak kaget melihat keadaan suaminya yang kacau membuat hati Kinan berdenyut perih.
"Mom! apa..apa yang terjadi pada El?"
"Dia hanya lelah Sayang! tidak apa apa, kau boleh tidur menemaninya!" ucap Momy Chalista mengelus kepala Kinan yang tampak khawatir, terlihat sekali guratan kepanikan itu diwajah cantik wanita ini.
"Tidurlah! Dia hanya lelah!"
Dady Arkan mengiring istrinya keluar kamar, ia sesekali menatap Kinan yang sedang menatap dalam wajah Tampan putranya.
"Sayang! aku..."
"Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu!"
Momy Chalista mengangguk mengerti, ia menurut saat Sang suami menggendongnya untuk turun. sungguh, ia merasakan apa yang putranya rasakan saat ini.
.....
Kinan mengelus pipi merah ini, jari jari lentiknya menyusuri garis rahang tegas sang suami yang membuat aura keberadaan pria ini sangatlah menggetarkan hati siapa saja yang melihatnya.
Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah pria itu, dengan bibir yang memangut benda merah muda itu dengan lembut, hatinya bergetar saat mencium aroma alkohol yang pekat dari tubuh dan mulut Exell.
ia sudah menduga kalau pria ini akan kacau melihatnya terus kesakitan, Kinan menyatukan kening mereka berdua erat dengan tautan bibir yang masih menyatu, lekukan indah itu bergetar menahan isakan halus yang ingin keluar.
"Kenapa Ell hiks hiks?" isak Kinan tertahan, ia tak sanggup lagi menahan rasa sakit didadanya yang semangkin hari semangkin membuatnya kualahan.
ia pikir pada saat Pernikahannya terjadi, Sakit didadanya saat itu hanya sebentar saja, tapi ternyata, Sakit itu berlanjut sampai sekarang.
"Sayang!" suara lirihan Pria itu membuka matanya, tangannya gemetar menghapus lelehan bening dipipi mulus ini, mata keduanya menatap dalam lansung menembus isi hatinya masing masing.
Tak ada pembatas yang menghalangi hujaman cinta itu, saling tatap penuh kasih sayang dengan kepedihan yang mendalam. Tak bicara atau berkata, hanya mata yang tak bisa membohongi segalanya.
"Jangan menagis!" lirih Exell dengan suara yang bergetar, ia pun tak bisa membendung gejolak perasaanya, pikirannya sekarang seperti diaduk aduk dengan sangat kacau.
"Kenapa El?"
"Aku tak tahu!" jawab Exell membawa tubuh rapuh itu kedalam rangkuhan hangatnya, mereka berdua menagis meluapkan rasa itu, tak ada yang lebih kacau dari ini. Keduanya dilanda kebingungan yang nyata.
"Aku.Aku tak sanggup!" isak Exell membenamkan wajah basahnya keceruk leher wanita ini. ia sekarang masih dalam keadaan Mabuk hingga ia leluasa menagis meluapkan apa yang telah ia pikul.
"Jangan Tinggalkan Kinan hiks hiks! Jangan Ell!"
__ADS_1
"Aku tak tahu apapun Sayang! aku tak bisa melangkah kemanapun! aku tak bisa"
Kinan semangkin dibuat khawatir dengan suasana ini. ia mengeratkan pelukannya ke tubuh gagah Pria ini membuktikan ia tak ingin terpisakan.
setelah beberapa lama saling menagis, Kinan merasa pelukan Suaminya mengendur dengan helaan nafas yang teratur, ia mengadah menatap wajah tampan yang sudah terlelap ini.
"Kau terlalu lelah!" gumam Kinan membaringkan tubuh Exell kembali, ia membuka jaket pria itu dan menyelimutinya dengan lembut.
"Aaaammm!" pekik Kinan meringis dan lansung membekap mulutnya saat dadanya kembali sakit, ia membuka sedikit bagian atasnya.
"Ti..Tidak mungkin!" lirih Kinan melihat memar membiru yang menyebar disekitar uluh hati dan dadanya, tangan wanita itu memeggang lebaman menyakitkan itu dengan gemetar.
"Dia..Dia sudah melakukannya!"
"Elllll hiks hiks!" isak Kinan menjauh dari Exell dengan kaki yang tak bisa lagi menopang tubuhnya, ia meringkuk disudut ruangan sana dengan tangisan pilu terbekap itu.
"Jangan ambil Kinan hiks hiks! Jangann!"
Kinan tak bisa lagi menahan kesakitannya, ia hanya bisa mencengkram erat dinding disampingnya dengan mulut yang terbekap oleh tangannya.
Tirai Tirai yang berterbangan oleh hembusan angin malam, menyatu dengan detikan jarum jam yang menjadi saksi bisu kesakitan seorang Kinan yang tak sanggup menerima Takdir yang tak bisa dibantah siapapun.
Sekuat apapun ia bertahan, maka alam seakan memberikan isyarat untuk pergi menjalankan apa yang sudah ditakdirkan.
Mimpi ..
Netra biru itu menatap kilauan Bulan yang bersinar terang, ia berkeliling di sebuah hutan gelap yang hanya diterangi ramangan bulan.
"Sayang! Kinannnn!" suara berat itu menggelegar mencari sang kekasih hati yang tak tertangkap didalam netra birunya.
langkah besarnya berlarian kesana kemari mencari sosok molek itu. tapi yang ia temukan hanya suara suara asing yang menyorakinya dengan mengerikan.
"Lepaskan Dia!"
"Lepaskan Diaa!"
"Brengsek! Keluarkau.. Dimana Istriku?" bentak Exell menatap daerah sekelilingnya, angin yang tadinya berhembus pelan dan sekarang malah menggulung dedaunan membuat Exell berpeggangan pada dahan pohon yang ada diatasnya.
Matanya perlahan kabur saat debu menggulung itu menerpa wajahnya, tapi ia sekarang sedang mencari keberadaan istrinya.
"Sayanggg! Kinannnn!"
Exell menyipitkan matanya saat melihat sosok dikegelapan ini, perlahan begitu jelas hingga lansung terpampang dihadapannya.
__ADS_1
"Selamat Datanggg!" suara bariton dengan beribu makna itu datang mendekatkan diri pada Exell yang tak takut takut sama sekali.
Tubuh gagah yang diselumbungi asap tebal itu mendekat ketubuh Exell yang seakan menanatang aura keduanya. Netra biru laut yang berkuasa itu bersitatap tajam dengan Netra merah darah yang seperti lentera api yang menyala nyala.
"Siapa kau? Dimana istriku?"
Seringaiamn diwajah bayang bayang Pria itu mekar, ia menghempaskan tangannya pada Exell yang tetap diam ditempat dengan ekspresi datarnya, namun tentu Pria itu akan berjaga jaga.
Wushhh..
Exell meloncat kedahan diatasnya dengan satu tangan yang bergelantungan seperti Monyet namun sangat memukau, gerakan yang tepat dan lihai membuat Pria bernetra merah dihadapannya sungguh terkagum.
"Kau pantas!" gumamnya lalu menghempaskan tangannya, perlahan akar besar dipohon itu membentuk sebuah perpaduan membukit untuk diduduki Pria itu.
"Kau siapa?" tanya Exell dengan tatapan menyelidiknya, namun, Exell lansung menagkap ranting runcing yang dilayangkan Pria itu kebola matanya. anehnya, Disini ia bisa melihat jelas dalam kegelapan tanpa pencahayaan apapun.
"Kau harus melepasnya!"
"Apa maksudmu ha?" bentak Exell menggelegar menerbagkan semua hewan yang sedang beristirahat saat ini. suara pria itu sangat kuat dan beraura membuat siapa saja tunduk dan berpatuh padanya.
"Kalian tak sama! Dia adalah adikku, Kalian telah menentang hukum alam! Lepaskan Dia dan dia akan terbebas dari siksaan dan rasa sakit apapun! ingatlah..."
Pria itu menoleh pada Exell yang mengepalkan tangannya erat, ia tak suka dengan pembicaraan yang sedari tadi membuat jiwanya tak tenang.
"Aku tak ingin adikku dilenyapkan dari alam manapun! Kau mencintainya maka lepaslah dia! kalau kalian ditakdirkan bersama, maka kalian juga akan kembali!"
Exell meneggang ditempatnya, sudah berapa kali Mahluk di alam ini menyuruhnya melepas Sang istri. Exell sungguh bingung, apa ia harus percaya atau tidak?
Tapi, Pria ini terlihat serius dengan mimik yang tak bisa diremehkan.
"Keputusan ada ditenaganmu! Jika kau ingin melihatnya tetap bisa hidup walau berbeda alam, setidaknya Kalian bisa merasakan keberadaan masing masing!"
Exell bersandar ke pohon besar di belakangnya, ia menatap nanar cahaya yang menelan tubuh pria itu dengan hembusan angin yang menyerunya.
"Siapa kau?"
"Adresss!"
Exell tak lagi bisa berkata, ia luruh ketanah dengan wajah yang kacau, bibirnya gemetar dengan kenyataan yang melanda kehidupannya.
"Aaaaaaa Persetan dengan kaliannnn!" teriaa Exell memukul mukul semua apa yang ada dihadapannya meluapkan segala hal yang menimpanya.
......
__ADS_1
Vote and Like Sayang..