Aku Tak Salah

Aku Tak Salah
Kehancuran!..


__ADS_3

Ruangan luas itu sudah dihias sedemikian rupa, hiasan mawar merah dan remangan lilinpun terlihat menyala lelap begitu romantis dengan suasana ini.


Netra berbinar pria tampan berlesung pipi itu tampak tak sabaran menatap keambang pintu sana, ia beberapa kali menghirup aroma setangkai bunga mawar yang ia peggang untuk menyatakan perasaannya nanti.


Entahlah, ia beberapa kali menghela nafas tak sabaran, kepalanya bercelingung menunggu kedatangan Kelinci yang telah ia kait itu.


"Sebentar lagi Syila! sebentar lagi, kita akan bersama!" gumamnya penuh rasa, ia duduk ditepi ranjangnya mengelus taburan mawar itu lembut, sesekali ia memfoto hiasan mawar diatas ranjangnya membentuk nama sang pujaaan hati dengan lengkungan hati yang indah.


"Aku akan katakan kalau ini adalah karyaku! kau harus bersamaku karna aku tak akan menyia-nyiakan mu!"


Drett..


Ponselnya berdering, Leo dengan cepat mengambilnya dari atas kasur sana, ia semangkin berbinar saat melihat nama yang tertera disana.


"Bagaimana? apa kau sudah melakukannya?"


"Hmm, Nyonyaku sudah berjalan menuju pintu ruanganmu, dan kau ingat, Siapkan penerbangan detik ini juga"


Leo berjingkrat bukan main, ia melangkah menuju pintu kamarnya dengan rasa tak sabaran yang kuat.


"Kau tenang saja! Pergilah kebagian atap, disana ada Helycopterku yang akan mengantarmu!"


"Baiklah, tapi ingat, Aku tak ada urusan lagi dengan kau"


"Baiklah! Terimakasih Tuan Asisten!"


"Bodoh!" sambung Leo menyeringai licik saat sambungannya telah mati, ia menatap Welpaper Ponselnya yang menampakan senyum cantik wanita itu.


"Lihatlah! tak ada yang bisa menghentikan, aku! bahkan suamimu sekalipun!"


Setelah beberapa lama, pintu kamar itu dibuka dengan pelan, Leo bersiap diremangan lilin sana untuk menyambut sang pujaan hatinya, ia tak henti-hentinya mengecup kelopak mawar biru yang ia genggam.


"Ehmm!" suara berat seorang wanita yang masuk dengan sempoyongan, sesekali ia terjatuh menubruk benda hiasan didekat meja kamar itu.


Brugh..


"Hati-Hati!" ucap Leo lembut takut wanita itu terluka, ia berusaha untuk tetap tenang untuk menyampaikan perasaannya sekarang juga.


"To..Tolong hm!"


Leo menyeringitkan keningnya, Suara itu? akh sepertinya aku sangat mengenalnya, tapi..! Sudahlah, mungkin ini karna pengaruh obat itu, duga Leo berfikir acuh, ia masih mengawasi langkah pelan wanita itu menuju kasurnya untuk mencari sandaran tubuh.


"Syila!"


Degg..


Wanita yang baru saja masuk itu meneggang ditempatnya, ia berusaha sadar ditengah rasa sakit dikepala dan panas yang menggerogoti tubuhnya.


"Si..Siapa?"


"Kau tak kenal aku?"

__ADS_1


Netra wanita itu menyipit menatap dikegelapan sana, ia masih belum singkron dengan nama yang pria itu ucapkan serta lingkungan disekitarnya.


"Ehmm!"


"Kau ingat?"


"Panas hm!"


"Kau ingat aku kan?"


"Panas hiks hiks!"


Wanita itu terisak menagis menahan hasratnya yang membuncah, ia beberapa kali meremas dadanya yang sangat nyeri seakan meminta sentuhan dari tangan kekar laki-laki lain.


"To..Tolong hiks hiks!"


"Syila!"


Wanita itu merangkak menuju tempat Leo berdiri, ia seperti cacing kepanasan menggapai tubuh pria itu.


Grep..


Tubuh keduanya berpelukan. Leo sedikit aneh dengan tinggi wanita ini hanya sampai dadanya saja, seharusnya, Tinggi Syila sebatas telinganya kan? karna wanita itu memiliki tubuh yang tinggi bak seorang Model, kulitnya juga tak selembut yang pernah ia prediksi.


"Syila!"


"Hmm!"


Lampu itu menyala, Mata Leo terbelalak kaget saat melihat siapa yang sedang memeluknya intim dengan wajah yang memerah panas.


Bugh..


Leo mendorong tubuh wanita itu menjauh dengan tubuhnya yang sudah terhuyung karna terkejut bukan main, ia bersandar kedinding kamarnya menatap penuh tanda tanya wajah merah mungil wanita yang tersungkur na'as itu.


"Le..Lee!" lirih Leo bergetar, ia tak mampu lagi berdiri dengan pikiran yang kosong.


"Bagaimana kejutanku?"


Duarr..


Leo semangkin dibuat jantungan dengan siapa yang berdiri diambang pintu sana dengan gagahnya, kedua tangan pria itu masuk kedalam saku celananya dengan tatapan angkuhnya pada Leo yang gemetar.


Sungguh, wajah datar pria bernetra biru itu membuatnya tak bisa berkutik, apalagi dengan aura intimidasi yang kuat itu seakan menusuk jantungnya yang ingin meledak.


"Pre..Presedir!"


"Kau mengenalku hm?" tanya Exell menyeringai iblis, wajah datarnya yang mempesona begitu menarik hasrat bagi wanita yang memandangnya penuh damba itu. ia tak tahan dengan Tubuh gagah Exell yang begitu membuat bagian intinya berdenyut, ini sangat sempurna.


"Ba..Bagaimana bisa?" lirih Leo menatap tak percaya pada Exell yang tampak santai menduduki kursi yang disiapkan oleh anggotanya, ia duduk dengan sangat angkuh, bertopang kaki dengan tatapan dinginnya, kedua tangannya bertumpu pada kedua sisi kursi empuknya.


"Apa yang tak aku bisa?"

__ADS_1


"Pre... Presedir! ini..!"


"Permainan kuno mu!"


Leo mencengkram erat vas yang ada disamping meja tepat ia berdiri, matanya sudah tak lagi bisa merahasiakan jiwa yang sangat membenci pria ini.


Prankk..


Anggota Exell lansung ingin menyerang saat lemparan Vas bunga itu jatuh tepat di lantai kaki Exell yang tetap tenang menatap anggotanya dingin. tentu mereka tahu, isyarat Pria berdarah iblis itu.


"Yah!!! Aku yang mempermainkan kalian, aku yang membuat kalian hancur dengan semua tipu daya itu!!!" bentak Leo keras dengan mata yang menyala-nyala.


Exelll diam dengan kepalan tangan yang menguat dikursi peggangannya, netra birunya sudah seperti iblis dengan wajah yang datar tanpa guratan yang lain selain menakutkan.


"Lalu?" santai Exell mencabik sinis, ia tak ingin terpancing dengan aksi heroik Leo yang bisa saja melakukan sesuatu yang membuatnya merenggut nyawa pria itu.


"Lalu?" gumam Leo menggeram, bisa-bisanya pria ini masih tenang ketika emosinya sudah mengubun, sebenarnya apa yang dipikirkan otak licik iblis ini sekarang?


"Aku akan menghancurkanmu!"


Exell tersenyum pelit, ia menatap Vas yang sudah nacur berkeping dibawah kakinya itu, dengan sangat santai Exell menunjuk pecahan benda itu datar.


"Kau tahu? bukan aku yang menghancurkan Vas ini!"


Mendengar itu Leo tertawa terbahak, bicara pria ini seperti anak-anak yang sudah jelas maknanya, padahal memang benar bukan dia yang memecahkannya bukan?


"Presedir Mohana yang terhormat! apa kau ingin bermain tebak-tebakan?" sinis Leo mengejek.


"Hm! bisa dibilang begitu, kau lihatlah benda itu!"


Leo melihat Vas itu dengan rumit, ia sama sekali tak mengerti kemana arah pikiran pria Tampan ini.


"Aku tak pernah ingin menghancurkannya! tapi dia datang sendiri padaku tepat dibawah kakiku!"


Grett..


Exell memijak benda itu semangkin remuk dengan tatapan iblisnya, Leo menelan ludahnya berat melihat tatapan Exell yang sudah seperti singa yang tak bisa lagi dikandang.


suara remukan kepingan Vas itu membuat para anggota Exell bergidik, sudah jelas mereka ketahui kalau Tuannya tak akan memberi ampun dengan musuh yang mengantarkan diri kewilayahnya itu.


"Kalau begitu kita lihat! aku atau kau yang masih hidup besok pagi!"


"Tak usah besok! kau bisa pilih sekarang, Mati dengan satu tembakan dikepala, atau kau mau berkunjung kewisata bawah tanah yang tentunya sangat menyenagkan!" tawar Exell menyeringai licik mengetuk-ngetuk peggangan Kursinya seakan menjadi detikan waktu untuk Leo yang gemetar, tapi ia sudah kepalang jalan sekarang.


"Kau yang akan mati!"


"Leo!!!" bentak seorang Pria paruh baya dan juga istrinya menatap tajam Leo yang luruh kelantai, pria itu seakan tak bisa lagi bicara dengan semua yang menimpanya.


"Da..Dady!"


.......

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2