Aku Tak Salah

Aku Tak Salah
Aliniya Dahliya Sinmart!


__ADS_3

Tuan Sinmart terkejut bukan main dengan kehadiran wanita cantik itu. tapi ia juga senang karna Putrinya yang selama ini pembakang padanya, mau datang ke acara yang berharga ini.


"Nak! kau kembali?" Renata hanya diam menunjukan bagaimana angkuhnya, terlihat tak kalah cantik dari Gea yang sungguh terkejut diatas sana, ia menatap ibunya yang mengisyaratkan untuk tetap tenang.


"Sayang! Kemarilah, kau ternyata masih hidup, Momy senang mendengarnya!" ucap Nyonya Ambers pada Renata yang hanya menatapnya datar, ia melangkah dengan anggun ke atas panggung sana, tak memperdulikan makian dan penggosipan tentang dirinya.


"Cihh! Berani sekali dia datang kesini!"


"Cantik sih Cantik! tapi murahan!"


"Kenapa dia tak mati saja! dasar jalang tak tahu diri!"


Desas Desus hinaan disepanjang langkahnya, matanya hanya fokus satu tujuan, yaitu sang ayah yang ada di panggung sana.


"Renat! ternyata kau masih hidup, sukurlah!"


"Aku rasa kau tak senang kalau aku masih hidup!" ketus Renata dengan gestur santai seperti biasa, ia tampak tenang berdiri disamping Tuan Sinmart.


"Bukan begitu Renat! aku hanya..!"


"Jangan membual!"


Gea dan Nyonya Ambers mengepalkan tangannya erat, Renata yang selama ini menjadi kambing hitam dan budak mereka yang mereka peralat untuk mendapatkan segalanya kembali membuat mereka bersiaga.


"Nak! Kenapa bukan sedari kemaren kau pulang? dady merindukanmu!" ucap Tuan Sinmart tulus memeluk Renata yang hanya diam, bukan berarti ia tak sayang pada Pria tua malang ini, tapi. ini bukan waktunya bersuka ria.


"Kau ingin mewariskan semua padanya?"


"apa maksudmu?" tanya Gea lembut memeggang bahu Renata yang ditepis sinis wanita itu.


"Nak! kalau kau datang lebih awal, dady bisa mengurusnya kembali, ini sudah setahun kau menghilang! bagaimana bisa dady merubah segalanya dalam waktu sekejap!"


Semua perdebatan mereka disaksikan berbagai manusia disana, terutama Gebriel dan Exell yang menatap intens kedatangan Renata.


"Darimana dia?"


"Cihh! wanita murahan kemana lagi perjalanannya?" ketus Gebriel yang memiliki dendam hakiki pada Renata.

__ADS_1


Exell hanya diam, dia mengamati setiap gerak Renata yang sangat anggun dan mengibarkan bendera peperangan dengan kedua wanita diatas panggung sana.


"Apa acara ini akan berlansung Tuan?" suara wartawan yang tak sabaran, mereka menatap Renata dengan sinis karna menggangu acara besar ini.


"Nak! kau tak masalahkan kalau Gea saudarimu akan menjadi Pewaris Dady?"


"Renat! kalau kau mau, ambilah gelar itu, aku tak apa apa!" sandiwara Gea dihadapan mereka semua begitu sempurna, Nyonya Ambers memutar otak untuk mengendalikan situasi ini.


"Sayang! Momy tak marah jika kau menggantikan Gea!"


"Walaupun kau marah! aku tak perduli" ketus Renata lalu melangkah kedepan panggung lansung berhadapan dengan mereka semua.


"Mau apalagi Jalang itu?" decah mereka kesal.


"Nyonya dan Tuan sekalian yang sangat terhormat! Kalian mungkin tak setuju jika aku menjadi Pewaris Kerajaan Bisnis Tuan Sinmart bukan?"


"Yah! kami tak setuju!" sorak mereka sinis, Renata tersenyum miring melihat kebodohan para manusia menjijikan ini.


"Aku juga berfikir begitu! Aku tak layak mengemban gelar besar yang berwibawah, Gelar Pewaris yang menunjukan seorang yang Bijaksana, Berkharisma dan tentunya Tangguh! aku tak memiliki semua itu!"


Nyonya Ambers dan Gea saling pandang tersenyum bahagia, mereka pikir Renata akan mundur dan menyerahkan jabatan itu pada Gea yang tak kalah bahagia.


"Tapi! aku punya Pewaris yang memiliki semua Kriteria itu!"


Whatttt? mereka saling pandang bingung, apa apaan ini! Kenapa acara ini malah menunjukan Pewaris baru yang tak sebanding dengan putri santun Sinmart diatas sana?


"Hey Nona yang terhormat! Pewaris itu harus memiliki kelebihan dari Nona Gea, dia haruslah memiliki kesempurnaan layaknya seorang ratu yang begitu Sopan dan mengetahui Tata Krama Bangsa kelas atas seperti Keluarga Mohana!" ucap Tuan Miandra tak ingin terjadi perdebatan lagi.


Renata menyunggingkan senyum sinisnya, Gea? Cihh..Penguasa satu ini tak bisa dibandingkan dengan siapapun, dialah yang utama dan terakhir bagi siapapun.


"Baiklah! Akan ku tunjukan siapa penguasa Pewaris Tahtah Kerajaan Bisnis Tuan Sinmart kalian ini!"


"Nak! kau..!"


"Yang Mulia Aliniya Dahliya Sinmart!" suara Renata menggelegar membuat Tuan Sinmart meneggang mendengar nama istrinya yang diselipkan di sana, apalagi nama itu adalah nama impian ia dan sang istri dulu.


"Ada apa ini?" gumam Exell memeggangi jantungnya yang bergemuruh. ia merasa dirinya gelisah dan tentu rasa tak sabaran itu muncul saat mendengar nama itu di kumandangkan lantang.

__ADS_1


"Mana dia?" tanya Mereka merasa Renata hanya berbohong.


Whussss...


"Wowwww!" pekik mereka terngangak melihat kaki jenjang yang turun dari Mobil mewah tepat didepan pintu sana, kulit bening itu berkilau dengan kerlingan lampu yang lansung menyorot kearahnya, Suasana yang mulai gelap ini menjadi pendukung akan turunnya Sang Peri yang didambakan itu.


"Sangat Cantiikkk!" gumam mereka tak bisa mengalihkan pandangan, Exell melotot ditempatnya melihat Bidadari yang selama ini meninggalkannya datang dengan Wujud yang lebih memukau dan tampak lebih dewasa dengan aura kepemikatan yang luar biasa.


"Sayang!" lirih Exell dengan mata yang mengembun dengan tubuh yang meneggang melihat bagaimana Pesona yang tak terbantahkan ini, Netra indah itu menatap mereka datar namun penuh kelembutan, tatapan sendu yang menohok menyimpan berbagai makna tersembunyi.


"Nona! anda tak bisa masuk!" Penjaga disana menghalangi langkah kaki jenjang menggiurkan itu dengan tatapan penuh pujanya, seharusnya mereka malu saat bagian pertengahan itu menonjol saat melihat Bidadari pulen ini.


"Menyingkirlah!" ucap Tuan Sinmart yang masih terpaku dengan Netra sendu itu, Gadis ini sangatlah mirip dengan Mendiang istrinya, Sangat Cantik penuh daya pikat, ia seakan melihat bayangan sang istri dari Visual mempesona ini.


"Apa Apaan ini!" geram Nyonya Ambers merasa Gadis yang ia bunuh setahun yang lalu kembali dengan Kepribadian dan Kharisma yang baru, ia juga melihat tatapan permusuhan dari Netra indah itu.


"Naiklah Nona Muda!" ucap Renata menjemput sendiri kedatangan Yang Mulianya, ia mengiringi langkah kaki jenjang itu menuju Peraduan yang telah disiapkan diatas sana.


Mereka terpanah dengan gaun Silver cantik dengan kebiruan kalung yang ada di leher jenjang itu, setiap langkah kaki Aliniya terus menyebarkan aroma harumnya Mawar biru dengan angin sepoy yang menyapu debu di setiap langkahnya.


"Renata! Jika kau ingin mengambil gelar itu! Silahkan saja nak, tapi jangan membawa orang luar!" hasut Nyonya Ambers pada Renata yang hanya mendelik acuh.


" Benarkah! tapi sayangnya aku tak rakus!" ketus Renata lalu mengiring Aliniya yang sedang menatap tajam Nyonya Ambers yang gemetar dengan auranya.


"Silahkan Nona Muda!"


Aliniya mengangguk, ia duduk dengan anggun khas seorang Putri yang berkelas dan tentunya sangat Elegan, Kharisma yang kuat didalam dirinya menyatu dengan Kharisma yang di kobarkan tubuh seseorang.


"Tahanlah sebentar saja!" Batin Aliniya tak sanggup bersitatap dengan Netra biru yang menatapnya lembut merindu, ia tak sanggup menahan rasa cinta yang dikobarkan Jiwanya pada Pria itu.


"Tuan!" Asisten Dion mencegah Exell yang ingin melangkah ke atas sana, Pria itu seperti Punuk yang merindukan bulan menatap penuh gejolak rasa pada Bidadari cantik itu.


"Dia..Dia kembali!" gumam Exell sungguh tak bisa berkata apa apa lagi, Gebriel juga terkejut, tapi ia berusaha menenagkan Exell supaya tak kecolongan didepan orang banyak ini,


"Kita tak tahu dia Kinan atau tidak! lihatlah cara berpakaian dan Tatapan matanya! tak ada kepolosan dan keluguan Exell! bisa saja ini tipu muslihat!"


..

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2