
Langkah besar pria itu melangkah lebar menuju ruangan bawah tanah khas dengan bau darah dari musuh musuhnya.
Asisten Dion selalu setia menemani Tuannya ini, ia merasakan bagaimana derita Pria ini lewat aura kehawatiran yang mendalam. Netranya hanya tertuju pada satu arah.
Yaitu Menemui Renata. ia juga sangat penasaran dengan Masalah yang semangkin hari semangkin berat ini. ia percaya ada jalan keluar, tapi kapan? ini saja semangkin runyam.
"Buka Pintunya!"
Anggota Exell membuka pintu besi itu, mereka hanya bisa tertunduk tak berani menatap wajah kelam sedingin kutub utara ini.
setibanya disana, Mata mereka lansung tertuju pada Seorang wanita yang sedang duduk diatas kursi sana dengan begitu santai seraya kepala yang mendongak keatas.
Seringaian dibibir sexsi itu mekar merasakan keberadaan Exell yang begitu tak terbantahkan. ia membuka matanya menatap wajah Exell yang tak terhitung lagi bagaimana geramnya.
"apa yang Kalian lakukan pada istriku ha?" bentak Exell tak lagi bisa menahan gejolak amarah didalam dadanya. terlalu menumpuk membuat ia susah bernafas.
"Apa yang kau maksud Tuan? hmm!"
Renata dengan santainya memainkan jari jarinya yang lentik dengan seringaian iblis diwajah cantik itu.
Sudah jelas kalau Renatalah yang melakukan semua ini. tampaknya wanita ini begitu senang bukan main dengan kehadiran Exell.
"Kau jangan menguji kesabaranku!" Exell mengetatkan rahangnya dengan kepalan tangan yang menguat, ia tak akan melepaskan wanita ini sampai obat istrinya ia dapatkan.
"Tuan! aku sudah bilang.. Dia bukanlah Milikmu, kalian bertemu dengan rasa sakit dan masalah maka akhirnya juga akan sangat menyakitkan!"
"Apa maksudmu?"
"Lepaskan Dia!"
"Tidak akan pernah!" geram Exell menembakan satu peluru pada Renata yang lansung menepisnya dengan hembusan angin yang begitu luar biasa membuat mereka terkejut.
tapi Exell tak hilang akal, ia meluncurkan pelurunya lagi saat mata Renata mulai lengah.
Srekk..
"Shittt!" umpat Renata saat lengannya tergores, pria ini sangat tepat dan akurat, pidikan mata biru itu sangat tajam dan tak pernah bisa dibaca pergerakannya.
"Katakan yang sebenarnya!" suara bariton menakutkan itu mengelegar diseluruh sudut ruangan itu. matanya sudah menyala nyala dengan wajah yang tampak mendesak.
"Lepaskan Dia! Dia itu bukanlah Milikmu! Kalian berbeda, Lukai hatinya maka dia akan bebas dari rasa sakit itu!"
Deggg...
Exell meneggang ditempatnya, dunianya seakan runtuh mendengar itu semua, tungkainya lemas hingga terduduk dilantai itu dengan Asisten Dion yang dengan cepat membokong Tuannya yang terlihat terkejut bukan main.
__ADS_1
"Sakiti hatinya! buat dia meninggalkanmu dan pergi tanpa rasa sakit itu lagi!"
"Ka..Katakan itu tidak benar !" lirih Exell dengan mata yang mengembunya. tangannya terkepal menahan amukan.
"Itu benar! Dia sakit karna berdekatan denganmu, suruh dia pergi dari mu atau kau yang menjauh darinya! Kalian sudah menentang hukum alam dengan menyatukan diri bersama!"
"Aku..Aku...!"
"Kau mencintainya maka seharusnya kau tak membuat ia sakit!" ucap Renata mempunyai makna yang tak Exell ketahui, seringaian dibibir itu semangkin bercahaya melihat Exell yang terpengaruhi. hatinya berjingkrak senang menunggu Wanita polos itu menjadi santapannya.
"Kau hanya penipu!" geram Exell merasa otaknya diacak acak oleh ucapan Renata. ia mulai goyah dengan apa yang ia lakukan selanjutnya.
"Kalau aku menipu! maka kau bisa melenyapkanku jika nanti saat kau atau dia pergi Kinan masih merasa saki!"
Exell sungguh tak lagi bisa berfikir, semangkin ia memikirkan ini maka otaknya akan semangkin resah dan buntu.
"Tidak akan pernah!" geram Exell lalu melangkah pergi. Asisten Dion juga merasa bingung, kenapa Renata terlihat begitu menakutkan untuk dipercaya?
"Kau juga harus mati!"
"Dalam Mimpimu!" ketus Asisten Dion melangkah mengikuti Tuannya yang sudah mengamuk menghancurkan Markas mereka.
"Aaaaaaa Brengsekkkk!" terika Exell meninju ninju dinding disampingnya meluapkan rasa sakit didadanya.
"Tuan! Tuan kau..!"
Bugh...
Exell meninju wajah asisten Dion hingga babak belur dengan sangat mengerikan, anggota Exell lansung mengamankan Tuannya yang mengamuk meluapkan segalanya.
"Tuan! Sadarlah!" mereka memeggangi Exell yang tak bisa mereka kendalikan.
"Lepas brengsekk! Kalian semua penipu! Kalian ingin kami berpisah!" bentak Exell membuat mereka gentar. tapi melihat Asisten Dion yang terlihat remuk mereka berusaha sekuat tenaga.
"Tu..Tuan! apa salah saya?" lirih Asisten Dion mengelap sudut bibirnya yang berdarah, ia sangat tak habis pikir dengan Pria ini hingga melampiaskan semuanya padanya.
Exell tersadar, ia melepas belitan tangan anggotanya lalu melangkah pergi dengan sendirinya.
"Sangat arogan!" gumam mereka membuat Asisten Dion menghela nafas berat.
"Tuan! apa kau tak apa apa?"
"aku baik baik saja!" Asisten Dion melangkah pergi mengamankan Tuan Mudanya yang sedang berkabut.
ia hanya bisa mendukung apa keputusan pria itu karna ia sendiri pun tak tahu harus apa.
__ADS_1
.....
Momy Chalista menatap jam yang sudah menunjukan pukul 2 malam tapi putranya tak junjung kembali. ia takut Exell akan melakukan sesuatu yang membuat tubuh gagah itu terluka.
"Sayang! Tenaglah!" ucap dady Arkan menenagkan istrinya yang sedari tadi mundar mandir dengan wajah paniknya.
"Ini sudah jam 2 Sayang! kemana dia pergi! telfonya juga tak aktif!"
"Baiklah! aku akan menyuruh anggota ku mencarinya!" ucap dady Arkan mengambil ponselnya. taoi sebelum ia menelfon, Istrinya sudah berteriak menatap keraha pintu utama.
"Exelll!"
Dady Arkan berbalik. ia membulatkan matanya melihat Pria gagah itu melangkah sempoyongan kedalam Mashion ini, wajah kusut dan sembab itu terlihat nyata dengan sangat menyedihkan.
"apa? apa yang terjadi pada Putraku?" tanya Momy Chalista pada Asisten Dion yang memapah tubuh kekar ini yang sedari tadi minum berbotol botol,
"Boyy Kau..!"
"Momy hiks hiks!" isak Exell berhambur memeluk Momy Chalista yang tumbang karna tak kuat menahan bobot putranya, untung saja Dady Arkan membopong keduanya hingga tak jadi terjatuh.
"Ell Sayang! Kau kenapa nak?" Momy Chalista mengembun melihat wajah merah Putranya yang kebanyakan minum, bau alkohol itu sangat menyengat membuatnya mual.
"I..Istriku Mom hiks hiks! El tak mau jauh darinya hiks hiks! El tak kuat Mom!" isak Exell dengan pilu memukul mukul dadanya yang sesak . Momy Chalista luruh dengan tubuh Exell yang memeluknya erat dengan suara bergetar dan serak yang keluar dari mulut itu.
"Kenapa dia bisa begini?"
"Tuan bertemu dengan Nona Renata Nyonya! Tuan harus melepaskan Nona Kinan kalau mau Nona selamat!"
Momy Chalista tak bisa lagi berkata kata, pantas saja Putranya ini sangat kacau hingga bisa serapuh ini.
"Momy hiks hiks! ini sakit Mom hiks hiks..El ..El harus apa?"
Dady Arkan menghela nafas berat, ia sudah menduga kalau kedua manusia ini akan dilanda masalah besar, tapi, ia tak menduga Masalahnya akan membuat Exell tersakiti dengan melepas istrinya.
Tentu kalau itu dia pasti ia akan menghancurkan apapun yang ada didepan matanya.
"Momy hiks hiks!" isak Exell lalu terlelap didalam rangkuhan hangat Wanita paruh bayah yang sudah tak kuasa menahan tangis itu.
apa masalah hidupnya juga akan dialami Putranya? aku mohon Tuhan, jangan biarkan Putraku merasakan hal yang sama!
Jeritan batin Momy Chalista sebagai seorang ibu yang tak kuasa melihat kekacauan anaknya.
...
Vote and Like Sayang..
__ADS_1