
Langkah pria itu begitu cepat menyonsong langkah terburu-buru wanita yang baru saja menuai rasa sakit itu, ia bahkan tak bisa bernafas lega sekarang.
"Gea!"
Gea tetap melangkah menuju kamarnya diatas sana, ia menaiki tangga dengan cepat lalu melesat jauh hingga mencapai lantai kamarnya, ia beberapa kali menghapus lelehan bening yang turun membasahi pipinya.
"Gea!"
Bruk..
Pintu kamar itu tertutup rapat dengan begitu kuat, Asisten Dion mengepalkan tangannya erat. Cukup! sudah cukup ia bersabar untuk mengatakan segalanya, inilah yang ia takutkan.
"Gea! kau buka atau ku Dobrak!" bentak Asisten Dion membuat sang empu didalam sana menggeleng-geleng dengan isakan pilu itu.
"Pergilah!" teriak Gea bengap, Asisten Dion semangkin panas dengan amukan yang meluap keubun-ubunya.
"Baiklah! kalau ini mau mu!"
Brakkk..
"Dion!" pekik Gea terkejut saat pintu kamarnya jebol akibat benturan kaki kokoh itu, Netranya lansung disuguhkan dengan netra elang yang membara dengan kepalan tangan yang menguat.
Wajah tampan pria itu mengeras dengan gertakan gigi yang keras, Gea mundur saat pria itu melangkah mendekatinya dengan begitu menakutkan.
"Di..Dion!"
Asisten Dion bungkam dengan tatapan menghunusnya, ia masih mendekat membuat Gea terduduk disamping ranjangnya karna sudah mentok.
"Di..Dion kau..!"
Bugh..
"Dion!" pekik Gea kuat saat tubuhnya ditindih oleh tubuh gagah itu, ia mencoba lepas dari kungkungan Asisten Dion yang kuat tapi tak bisa karna pria ini sudah seperti iblis yang menakutkan.
"Apa masalahmu denganku?"
"Lepas!" berontak Gea saat Asisten Dion ingin melepas masker yang menutupi wajahnya, kedua tangannya dikunci pria itu keatas kepala dengan kedua kaki yang mengunci pahanya.
"Di..Dion hiks hiks! Jangan!" isak Gea menatap penuh luka kenetra Elang itu, ia takut, ia malu kalau pria itu melihat wajah buruknya, ia tak punya hal yang bisa dibanggakan sama sekali.
"Tak ada yang bisa mencegahku!"
Srett..
Asisten Dion melepas benda itu kasar lalu melemparnya kesembarang arah, Gea lansung membenamkan wajahnya keceruk leher pria itu untuk menyembunyikan parasnya yang tak seelok dulu.
"A..Aku mohon hiks hiks lepaskan aku!"
Kepalan tangan pria itu kembali menguat mendengar ucapan wanita itu, ia menarik tengkuk Gea untuk kembali terbaring dibawahnya.
Bugh..
Asisten Dion lansung bersitatap dengan Netra Gea yang sudah merah berair, wanita itu tak memberontak lagi dengan isakan halusnya, ia menoleh kearah lain tak berani menatap lansung wajah tampan ini.
"Kau puas ha?"
"Sangat!"
Bibir Gea bergetar dengan dada yang sesak, ia malu, sangat, siapa yang mau menikah dengannya dengan rupa seperti Monster begini.
"Pergilah!" lirih Gea dengan suara bergetar itu, ia yakin, Asisten Dion akan menjahuinya setelah ini, itu lebih baik dari pada terus berdekatan tapi malah saling menyakiti.
"Kenapa?"
"Apa kau tak mengerti ha?" bentak Gea meluap, ia lansung menagis dengan sekugukan yang begitu pilu.
"A..Aku tak sempurna hiks hiks! aku..aku tak sama seperti mereka, aku hanya hiks aku hanya wanita kotor yang mencoba menyesuaikan hidup dengan orang baik seperti kalian hiks hiks! aku..aku..!"
__ADS_1
Cup..
Gea lansung dibungkam dengan sambaran bibir pria itu, ia memberontak tapi ciuman Asisten Dion sangatlah lembut membuat Gea tenang seakan ketenangan itu hanya pria ini lah yang membawanya.
Saat merasa Gea mulai terbuai, Asisten Dion melepas kunciannya dengan tangan yang beralih membelai rambut halus itu lembut dengan bibir yang masih bertaut, ia mengeksplor rasa dengan sangat lembut menciptakan desiran halus kehati Gea.
"Akhmm!" geraman keduanya saling membalas pangutan, Gea tanpa sadar mengalungkan kedua lengannya keleher kokoh itu dengan bibir yang masih bergumul dengan sensual.
Plup..
Asisten Dion melepaskan tautan mereka dengan nafas yang sama-sama memburu,Gea menurut saat Asisten Dion membaringkan tubuh mereka dengan saling berpelukan kekepala ranjang sana.
"Kau..kau mengerti sekarang?" tanya Gea sendu, setidaknya mereka berpisah secara damai, ia sudah ingin pergi disaat perasaanya sudah tersampaikan.
"Aku mengerti!"
Gea tersenyum miris, ia menghela nafas berat lalu melepaskan belitan tangan pria itu ke bahunya.
"Aku mencintaimu!"
Degg..
Gea memejamkan matanya merasakan sensasi yang tak pernah ia rasakan ini, tak ada pria yang setulus itu mengucapkan kata cinta, mereka hanya mau tubuhnya saja.
"Hm! Terimakasih atas segalanya!"
"Lalu?"
"Kita tak bisa bersama Dion! kau tahu sendiri aku hanya jalang, jalang murahan! kau tak pantas bersamaku, aku yakin itu hanya rasa sesaat karna kita sering bertemu.
"Tidak!"
Gea lansung menoleh menatap wajah tampan itu, ia tak habis pikir dengan pria ini.
"Untuk apa aku merindu saat kau tak ada disampingku selama 1 minggu itu ! aku sudah merasa lemah dan tak semangat! ini bukan rasa sesaat yang hilang kapan saja, aku paham itu karna aku merasakan sakit saat kau jauh dan dilukai seseorang!"
"Aku mohon! jangan tinggalkan aku, aku ingin membina rumah tangga denganmu sayang!"
"Di..Dion hiks hiks!"
"Aku serius! aku ingin kau menjadi istri dan ibu dari anak-anakku seperti Tuan dan Nyonya Muda, aku iri karna tak mempunyai istri, tapi aku menanti kesiapanmu untuk itu!"
Tangan besar pria itu mengelus pipi lembut penuh luka Gea dengan lembut, ia tak mempermasalahkan rupa, karna ia suka Gea yang sekarang, yang rendah hati dan berubah banyak.
"A..Aku..!"
"Aku mohon!"
"Aku mencintaimu hiks hiks!"
Cup..
Keduanya kembali berpangutan meluapkan rasa yang membuncah tadi, bahkan kali ini sangat lembut penuh perasaan.
Mereka tak menyadari ada dua pasang mata yang menatapnya penuh ngeri sekaligus lega, tak bisa dijabarkan lagi bagaimana rasanya kalau berciuman dikamar sunyi ini.
"Sayang!"
"Hm!"
"Sayang!"
"Apa Ketombe?"
Grett..
"Aaaamm!" Gebriel membekap mulut kekasihnya itu yang terpekik akibat gigitan ditelinganya tadi.
__ADS_1
"Diamlah!"
"Kenapa kau gigit?"
"Renata!" geram Gebriel membuat wanita itu terkikik geli, senang sekali rasanya bisa mengerjai kekasih barunya ini.
"Sayang! ayo kita pergi. nanti saja jelaskannya, mereka sedang enak!"
"Enak?" Renata manggut-manggut mengiyakan membuat seringaian messum dibibir pria itu mekar.
"Kau benar! mereka sedang enak!"
"Betul sayang!"
"Jadi?"
"Jadi apa?"
"Aku juga ingin!"
"Tapimmm!"
Cup..
Renata sudah dibungkam oleh bibir pria itu seraya Gebriel yang mengirirng mereka untuk duduk disofa seberang sana.
Gebriel sungguh haus meraup bibir merah ini, ini pengalaman pertamanya mencium wanita, bahkan ini sangat nikmat membuatnya ketagihan.
"Rielmm!" pekik Renata tertahan saat Gebriel mengigit gemas bibir bawahnya yang berisi.
Sedangkan diujung sana, Bumil itu terngangak melihat apa yang ada dihadapanya ini, ia bergidik ngeri melihat keliaran mereka.
"Sayang!"
"Mau?"
Pugh..
Kinan menepuk bibir monyong suaminya yang menguji iman ini.
"Nanti malam saja! El kalau sudah nyosor sangat melelahkan!"
"Aku?"
"Iya!"
"Hey Nyonya! aku hanya diam saat kau mengagahiku, aku yang tertindas disini!" kesal Exell menggerutu membuat Kinan gemas.
"Tertindas ya! hmm, maaf sayang, Kinan tak akan mengulanginya lagi!"
Exell terbelalak dengan ucapan wanita itu, bisa gaswat Si Jekinya yang sudah terbiasa dipijat sebelum tidur dan bangun pagi tiba-tiba puasa.
"Eh Sayang! mana bisa begitu, aku yang salah! Istriku selalu benar! ya kan Baby?"ucap Exell seraya mengelus perut buncit istrinya.
"Bagus! Suami Penurut kalau ingin disayang memang begini El!"
Cup..
"Hmm!"
"Hmm apa?"
"Iya! iya sayang!" pasrah Exell lalu menggendong istrinya menunu Lift disamping sana.
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1