
Netra biru pria itu tampak berbinar mendengar ucapan yang di lontarkan bibir cantik itu, senyuman diwajahnya mekar dengan guratan kebahagiaan yang terlihat nyata.
"Sayang! kau...!"
"El hiks hiks! Kinan tak mau menjadi jahat hiks hiks Kinan tak ingin melukai siapapun!" isak gadis itu memeluk Exell yang bingung dengan perkataan Kinan yang menurutnya sangat sulit dipahami.
"Apa Maksudmu Sayang?" Exell menyingkirkan helaian rambut Kinan yang menutupi wajah cantik itu.ia juga menghapus lelehan bening yang membasahi pipi lembut itu.
"Kinan!"
Brakkk..
Pintu ruangan itu di gebrak keras oleh angin yang tiba tiba berhembus dengan kuat, Kinan lansung memeluk Exell yang sedia merangkuh tubuhnya erat saat menatap kilatan kemarahan dari netra indah seorang wanita yang sudah mengobarkan api kegeraman menatap Kinan.
"Aliniyaaa!" bentak Renata yang menduga semua ini akan terjadi, Kinan bersembunyi didalam pelukan hangat dan aman Exell yang menatap tajam kedatangan Renata yang tampak mengerikan dimata Kinan.
"Jangan membentaknya!" geram Exell pada Renata yang melangkah cepat menuju kearah mereka, Exell menghindar saat Renata ingin menjangkau tubuh Kinan yang begitu gemetar.
"Kembalikan dia padaku!"
"Dia istriku! bukan barang yang bisa kau perebutkan!"
Renata sungguh muak dengan keegoisan Kinan, ia tak habis pikir pada Kinan yang malah ingin melarikan diri dari tugas ini.
"Kau ingin melarikan diri dari Kewajibanmu ha?"
"Ki..Kinan tak bisa melukai siapapun!" ucap Kinan bergetar, Exell mendudukan dirinya di kursi kebesarannya dengan Kinan yang meringkuk diatas pangkuannya dengan belitan lengan kekar itu erat.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Exell menatap Renata penuh tanda tanya, terlalu banyak rahasia yang membuatnya sulit menggapai sang istri yang selalu berubah ubah, terkadang menjadi Kinannya lalu kembali angkuh kejam tak berperasaan.
"Dia bukan Kinan tapi Aliniya!"
"Kinan tak mau menjadi Aliniya!" bentak Kinan tak tahan dengan nama itu, ia benci dengan dirinya yang terkadang bersikap kasar pada orang yang tak bersalah.
"Renata!" Suara bariton berat itu muncul di belakang Renata yang menatap mereka datar seiring dengan tatapan dingin beraura milik Exell.
"Kakak!"
"Mau kemana?"
__ADS_1
"Kakak Adres" jawab Kinan apa adanya menunjuka Adres yang mengulum senyum geli. Exell menggeram menarik Kinan kembali yang ingin turun dari pangkuannya, matanya berkilat murka pada Adres yang terlihat menatap lembut istrinya, ia tahu, kedua Mahluk ini adalah orang dekat hingga membuat hatinya panas.
"Disini saja!"
"Renata! kau terlalu menekan Kinan!" ucap Adres duduk berhadapan dengan Exell yang memangku posesif tubuh molek yang ada di pelukannya, mata pria itu bergelut waspada seakan semua orang disini adalah musuhnya yang ingin mengambil gadis ini darinya.
"Kau bilang memaksa ha? Lihatlah dia Adres, dia lemah karna Cinta! biaa bisanya kau ingin pergi menghianati ibumu sendiri!"
Kinan menggeleng geleng lemah, ia tak sanggup berperang dengan jiwanya sendiri, Aliniya adalah kekuatan yang besar dan kejam, ia takut akan membunuh orang yang tak bersalah.
"Kinan tak mau hidup dikendalikan El!" lirih Kinan mengadah menatap Exell yang mengangguk mengecup kilas bibir ranum itu.
"Tenaglah Sayang!"ucap Exell lalu menatap serius Adres yang juga menatapnya intens, netra merah dan biru itu bertemu dengan gebuan perasaan masing masing.
"Jelaskan!"
Renata menghela nafas, ia terpaksa duduk disamping Adres yang juga menanti semua ucapan yang akan wanita itu berikan.
"Aliniya adalah penerus kerajaan Rings Flowers yang hanya di pimpin di Alam seperti Adres! Aliniya adalah nama sekaligus kekuatan yang diberikan Ratu Dahliya pada Kinan untuk mengemban tugas pembalasan dendamnya yang sudah bertahun tahun lamanya! tapi, Kinan dan Aliniya itu harus bersatu supaya bisa menuntaskan masalah ini! dia harus membalas kesakitan dari ibunya pada pembunuh dan penghancur keluarganya!" jelas Renata singkat padat dan jelas, ia tak ada maksud apapun selain menjalankan amanah dari surat yang diberikan sang ratu padanya.
"Tapi Kau terlalu memaksa Kinan untuk menerima kekuatan itu Renata!" sambung Adres yang tak lagi bisa menahan rasa sesaknya melihat Kinan yang terkadang hilang kendali dan kehilangan jati diri.
"Kinan tak bisa membenci! Dendam bukanlah hal yang benar!"
"Lalu kau mau apa ha? kau ingin ibu ratu tak tenang dan menyalahkan aku? kau ingin penjahat penjahat iblis itu berkeliaran di rumahmu sendiri? Ingat Kinan, Ibumu sudah tiada ditangan mereka dan sekarang jangan sampai ayah juga jadi korban akan kebodohanmu!" geram Renata membuat Exell menggebrak meja dihadapannya, Netra birunya berkilat membara mendengar istrinya dikatahi bodoh begitu.
"Jaga bicaramu! istriku tak bodoh seperti yang kau ucapkan! memangnya dia salah tak bisa menerima Takdir buruk itu!"
"Itu Takdirnya Exelll! itu miliknya, kau dituntut menjadi pewaris dan membalaskan semua rasa sakit yang telah mereka ciptakan, itu gunanya Ibumu memberikanmu Aliniya, Kekuatan yang besar tapi juga penghancur!"
Kinan diam dengan tatapan tak lekang dari wajah tampan Exell, kalau ia menjadi Aliniya yang dikuasai kebencian dan amarah, ia tak akan mau dekat dengan Exell yang dulu menuai luka dihatinya.
"Kinan tak ingin jauh dari El lagi!" lirih Kinan mengecup bibir Pria Tampan itu sensual menciptakan desiran halus dihati Exell yang begitu menggilai sosok sempurna ini.Adres menatap dalam tatapan penuh cinta dari netra mempesona itu untuk Kinan yang juga tak kalah mencintai sosok gagah ini.
"Kau tak akan bisa memisahkan mereka Renata!" batin Adres yang salut akan Cinta tulus yang menggebu ruah itu.
"Kinan! ayo pulang!"
"Elll!" Exell lansung menepis kasar tangan Renata yang ingin menarik Kinan dari dalam pelukannya, ia sudah tahu mengapa istrinya terus berubah ubah dan menjahuinya begini.
__ADS_1
"Dia sudah bilang tak ingin pergi! jadi jangan memaksa!" geram Exell pada Renata yang mulai kehilangan kesabaran, ia menghela nafas beberapa kali takut kelepasan menyerang Kinan hingga membuat Jiwa Aliniya kembali meruak karna marah.
"Kinan! kau tak ingin ayah hidup?"
Degg..
Kinan meneggang ditempatnya, iya baru ingat kalau ayahnya ditinggalkan sendiri dikandang musuh sana.
"Ayah! Ell Ayah Kinan sendiri disana!"
"Kau mau pulang hmm?"
"Tapi..!"
"Kinan! kau cobalah untuk menerima kenyataan! setelah kau menuntaskan segalanya kau bisa bersama Elmu! tapi aku mohon jangan buat aku jadi merasa tak berguna dengan titah ibumu!" pinta Renata memohon pada Kinan yang terenyuh, Kinan menatap Exell yang mengangguki ucapannya wanita itu.
"Percayalah dengan Hati dan Cinta Kita, aku yakin kau bisa memilih mana yang benar dan yang salah Sayang, kau cerdas bukan bodoh seperti yang dia katakan!"
"Iya El!"
Exell menggengam tangan Kinan dengan lembut, ia menatap Asisten Dion yang baru datang dengan wajah bingung pria itu menatap ruangan yang berantakan serta Tuan dan Nona muda angkuh itu yang terlihat seperti sepasang kekasih.
"Tuan!"
"Ke Kediaman Sinmart sekarang!" ucap Exell tegas dengan tangan yang membelit pinggang ramping nan sexsi itu, Adres hanya diam karna ia tak bisa dilihat oleh Asisten Dion.
"Jangan berdekatan begini!"
"Kauu..!"
"Jika Paparazi melihatnya, Citra Aliniya bisa terancam akan berita yang tersebar cepat!" ketus Renata menarik Kinan menjauh dari Exell yang menatapnya tajam.
"Dia Miliku! apa hak mu padanya!" ketus Exell menarik kembali Kinan kepelukannya lalu dengan sangat santai melewati jalan yang baru Renata lihat di samping Lift Khusus Presedir itu.
"Dia bukan tandinganmu Renata!" ucap Adres datar lalu menghilang seiring dengan deruan angin yang menyertainya.
"Apapun akan ku korbankan untuk titah Ratuku!" gumam Renata meninggalkan ruangan itu, ia menatap sinis Exell yang terlihat tak ingin memberi cela pada siapapun untuk mengambil gadis itu dari pelukan tubuh gagahnya.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..