Aku Tak Salah

Aku Tak Salah
Bawa Kinan pergi..


__ADS_3

Pertarungan sengit terjadi didalam ruangan luas itu, suara gebrakan meja dan tendangan di dekat dinding kamar itu berbunyi nyaring tapi dapat diredam oleh kekuatannya masing masing.


Whusss...


"Momy! mereka terlalu banyak!" pekik Gea mengeluarkan semua tenaganya dengan burung Elang dan Gagak hitam yang saling berkelahi, kilatan merah dan biru itu membuat kilauan yang menusuk mata, Gea berusaha untuk mengalahkan Elang Rings yang dikirim oleh Aliniya kembali.


"Teruslah bertahan! Momy harus menagkap satu dari mereka!" ucap Nyonya Ambers yang menghempaskan Gagak Besarnya menyabit kepala Elang yang terlihat masih kuat bertarung bersama puluhan temannya.


"Ini susah Mom! aku tak kuat" Gea merasa tubuhnya lemas karna energi yang ia keluarkan sangatlah kuat dan banyak, sedangkan Nyonya Ambers masih sibuk dengan mengunci salah satu Elang itu dengan Segel kekuatannya.


Whuss..Brakkk..


Gea terpental kedinding sana dengan hidung yang berdarah, ia melotot saat Elang Elang itu malah berbalik menyerangnya dengan membabi buta.


Srettt...


"Momy! Tolong Gea!" teriak Gea dengan Elang Elang itu mencabik lengan dan lehernya na'as.


"Cihh! tak bisa diandalkan" ketus Nyonya Ambers lalu memejamkan matanya dengan asap kental kehitaman yang lansung menyerbu Elang Elang itu.untung saja, ia bisa menggebrak mundur pasukan kecil Aliniya yang sangat membuatnya kualahan.


"Kalau aku mendapatkan kekuatan itu! maka semuanya akan ada digenggamanku!" batin Nyonya Ambers licik.


"Mo..Momy!"


"Uruslah lukamu! ada yang akan Momy urus saat ini!" ucap Nyonya Ambers acuh lalu melangkah pergi meninggalkan Gea yang merintih kesakitan akan cakaran dari Mahluk itu.


"Kenapa Mom?" lirih Gea menatap sendu pintu keluar itu, namun, ia mengepalkan tangannya erat membayangkan penyerangan balasan tadi, ia tak menduga kalau Aliniya akan sekuat ini, apa lagi saat Exell begitu perhatian pada gadis itu membuatnya menjadi semangkin membenci.


"Aku akan membalasmu! kau akan mati ditanganku!"


.....


Sedangkan ditempat ini. gadis cantik itu tampak tersenyum menyapa sang mentari yang sedang menyembul diatas sana, senyuman penuh misteri yang sangat sulit diartikan.


"Aliniya!"


"hmm!"


"Kau mau menggebrak besak hari ini?"


"Yah! sudah cukup rasanya bermain main" ucap Aliniya menoleh kebelakang melihat datar Renata yang seperti biasa memantau pergerakannya.


"Bukti yang ku kumpulkan sudah tepat! tinggal membongkarnya pada Ayah, mereka sudah berani menyerangmu, dan sekarang! giliran kita yang menyerang mereka!"


"Baiklah! kau siapkan saja semuanya!" ucap Aliniya datar lalu melangkah keluar dari kamarnya, Renata hanya diam menatap kepergian Aliniya yang terlihat sangat datar hari ini.


"Aku tahu itu sulit! tapi aku yakin kau bisa!" gumamnya lalu melangkah mengikuti kaki jenjang gadis itu.


Setibanya dilantai bawah, Aliniya lansung dihadapkan dengan Tuan Sinmart yang terlihat pusing membaca berkas yang ada ditangan tua itu.


"Ayah!"


"Nak! kau sudah makan?"


"Sudah yah! lagi apa?"


"Perusahaan Mohana mengadakan kerjasama hari ini di Perusahaannya! Ayah merasa tak enak badan untuk pergi kesana, sedangkan Exell sudah mepet meminta Meeting hari ini!"


"Ayah bisa bilangkan! kalau ayah tak enak badan!"


"Tapi ayah segan Nak! baru kali ini Putra teman Ayah itu datang sendiri memintanya!" ucap Tuan Sinmart serba salah membuat Aliniya geram, Cihh, memang sangat licik, tak bisa mendekatinya secara pertemanan, pria itu malah mengikatnya dengan kerjasama perusahaan.


"Baiklah Ayah! Biar Aliniya yang pergi!"


"Benarkah Nak?"


"Iya Ayah! lagi pula hari ini Aliniya tidak ada kegiatan penting!"


"Aliniya! kau...!"

__ADS_1


"Aku tak mungkin membiarkan Ayah pusing begini! kau sendiri tahu, aku tak percaya orang lain selain diriku sendiri!" ketus Aliniya pada Renata yang bungkam, ia sudah berusaha memisahkan Kinan dan Exell, tapi kenapa mereka selalu dekat dengan jalan apapun?


"Ini berkasnya Nak! kalau ada apa apa, kau tinggal hubungi ayah, hmmm?" Tuan Sinmart mengecup kening Aliniya seraya memberikan Berkas Pertemuan ini ketangan lembut itu.


"Baiklah Ayah! pergilah istirahat, obatmu ada di Laci pertama!"


"Baik Nak! hati hati!"


"Hmm!"


Mereka melangkah pergi dengan Renata yang selalu sedia menemani Nonannya, ia juga sibuk mengatur rencana mereka malam nanti, semuanya harus berjalan dengan lancar.


....


"Tuan! sampai kapan kau menunggu Tuan Sinmart seperti ini? lebih baik kita kesana kan?" tanya Asisten Dion hati hati dan sangat sopan.


Exell diam seraya tangan yang mengetuk ngetuk peggangan kursi kebesarannya, ia terlihat bersemangat pagi ini, apalagi tadi ia buru buru keluar dari kamar gadis itu tak sempat mencicipi bibir merah yang selalu membuatnya merindu.


"Tuan!"


"hmm!"


"Tuan Sinmart sudah datang!" ucap Asisten Dion melihat Tab ditangannya, Penjaga di depan sana sudah memberitahukan kalau Mobil Pria itu sudah masuk ke Loby Perusahaan.


"Hmm! tunggu saja" ucap Exell datar dengan pikiran yang sudah merancang rencananya, rasa tak sabaran itu begitu menggebu membuat ia terkadang harus menghela nafas beberapa kali.


"Tuan! Nona Aliniya yang datang!" Asisten Dion sungguh terkejut dengan kedatangan dua Manusia nyaris sempurna ini, ia mempersilahkan mereka duduk di meja Meeting yang sudah biasa dingin dan tenang didalam sini.


"Selamat Datang Nona Muda Sinmart!"


"Hmmm!"


Aliniya duduk dengan anggunnya tapi terkesan sangat bijaksana dan angkuh, Netranya sedari tadi hanya menatap lurus menghindari tatapan Elang itu.


"Bukankah Tuan Sinmart yang akan datang?"


"Ayah sedang sakit! aku yang mewakilkannya!"


Mata Exell sedari tadi tak terpaling dari pahatan sempurna yang tepat berada dihadapannya, ia tak perduli dengan Meeting yang hanya bersifat pribadi ini.


"Jadi Nona! Pembangunan ini di investorkan oleh perusahaan Presedir kami dengan Penjalanan Manajement kerja dari Perusahaan Kalian! kami hanya membiayai 50% dari saham yang ada!"


"Jadi kerjasama dua belah pihak?"


"Yah! hanya Perusahaan anda dan Presedir kamilah yang membangunnya!"


"Sebentar!" Aliniya mencerna setiap penjelasan Asisten Dion yang menurutnya sangat tepat dan jelas, tapi ia tak sejalan dengan kedua pihak ini.


"Tuan! Jika hanya dua perusahaan kita yang bekerja sama, lalu bagaimana perusahaan kecil dibawah kita?"


Grett..


"Aku mendapatkanmu!" batin Exell berbinar.


Akhirnya pertanyaan terpuji itu muncul membuat jiwa Exell begitu kegirangan bukan main.


"Maka dari itu Nona! kalau ingin mengait investor kecil untuk membangun keuntungan yang merata, maka kita harus pergi memantau kerjasama ini kelapangan lansung menyeleksi perusahaan yang lolos!"


"Jadi?"


"Aku dan Asisten mu akan pergi untuk mengurus kerjasama diluar! dan untuk urusan selanjutnya, Presedir kami yang menaganinya!"


Deggg..


Aliniya meneggang ditempatnya, kalau ia pergi maka pembahsan selanjutnya bagaimana? kalau tidak pergi dari sini, maka dia akan berdua dengan Pria mesum ini.


"Biar kau yang pergi!"


"Tapi aku ingin bicara lansung dengan Nona Pewaris Sinmart ini!" suara dingin tegas Exell membungkam Renata yang menggeram. ia sudah menduga kalau Exell tak akan menyerah dengan gadis ini.

__ADS_1


"Aliniya!"


"Pergilah!"


"Tapi kau..!"


"Aku bisa mengendalikan diri!" gumam Aliniya yang sudah pasrah, tak mungkin ia,menghindari Pria ini terus.


"Baiklah!"


Asisten Dion dan Renata melangkah pergi meninggalkan dua pemimpin yang sedang diam itu.


"Tuan! bisa anda berhenti menatapku?" geram Aliniya yang risih, sejujurnya ia sungguh tak kuat menahan debaran jantung itu hingga membuatnya sedikit tak fokus.


"Ini mataku! memangnya ada masalah denganmu?"


Aliniya menghela nafas, lalu mulai menunjukan wajah seriusnya dengan tatapan yang tak biasa.


"Apa yang ingin kau sampaikan?"


"Ini!" Exell menyodorkan Dokument kerjasama yang masih utuh tampak rapi ke depan Aliniya yang lansung membacanya.


"Ini bukan..!" Aliniya terkejut saat Exell sudah melangkah mendekat kearahnya, ia mencengkrat erat Dokument yang ia gengam sangking gugupnya.


"Coba baca dengan teliti!" ucap Exell santai dan sangat tenang, ia berdiri di belakang Aliniya yang berusaha fokus membaca tulisan demi tulisan ini.


"Bukan seperti itu Nona pewaris!" Exell membungkukan tubuhnya ke samping wajah cantik Aliniya yang memerah dengan tubuh yang bergetar merasakan hembusan nafas Maskulin itu menerpa tengkuknya.


"Halaman yang kau baca itu terbalik!"


Duarr..


Hancur sudah harga diri Aliniya yang seketika bersemu merah, ia berusaha kembali normal walau jantungnya meledak ledak didalam sana.


"Kendalikan dirmu Aliniya! kau Aliniya bukan Kinan!".


"Ah Yah! Saya hanya kurang fokus Tuan!"


Exell manggut manggut mengerti dengan wajah yang semangkin dekat menempel ke pipi lembut itu.


"Bi..Bisa kau menyingkir?"


"Lihat kesini!" Aliniya refleks menoleh ke samping hingga bibir keduanya tertempel lembut dengan hidung yang bersentuhan, tatapan keduanya terkunci dalam dengan sangat menghanyutkan.


Netra biru dan Netra indah itu menyatu dalam dengan tatapan penuh puja, hembusan angin yang perlahan tenang menerpa helaian rambut lembut itu membuat suasana begitu hanyut dalam kemesraan.


Cup..


Exell mulai memangut bibir lembut itu dengan begitu tanang dan penuh kehati hatian, seakan tersihir dengan Sensasi yang Exell berikan, Aliniya mulai membalas pangutan lembut itu, Jiwa Kinan yang memang sudah tak kuat menahan desiran cinta dari Elnya pun keluar melepas rindu yang mendalam itu.


Ini sangat Nikmat Tuhan! bisa hentikan waktu sejenak saja, biarkan Cinta yang menggebu itu keluar melepas dahaga kerinduannya!


Jeritan batin keduanya sungguh tak ingin waktu ini berjalan cepat, Aliniya atau Kinan pun tak bisa melepas ini semua, kalau kelembutan yang selalu ia dambakan itu sekarang menyentuh tubuhnya melepas rasa yang selalu membuatnya gila.


Perlahan Exell mengangkat tubuh molek itu dengan lidah yang saling bertaut membelit nikmat bertukar rasa didalam sana,


Sretttt..


Tangan kekar Exell menyingkirkan barang barang diatas meja Meetingnya dan mendudukan tubuh Molek itu dengan bibir yang semangkin menghisap dalam penuh jilatan mendamba.


"Akhmm!" geraman keduanya karna sudah terbawa akan sensai panas yang menjalar dari tubuh mereka masing masing, darah keduanya mendesir hebat dengan lonjakan hasrat yang tinggi.


Plup..


Exell melepaskan pangutan mereka dengan deru nafas yang memberu, kening keduanya menyatu dengan benang Silva yang masih bertaut dari bibir mereka masing masing.


"Sayang!" lirih Exell serak dengan tatapan penuh dambanya pada netra berkabut sendu milik Kinan, Yah! sekarang Kinan tak lagi tahu apa apa tentang dirinya, yang jelas ia ingin bersama pria ini.


"Bawa Kinan pergi!" pinta Kinan dengan suara yang bergetar, ia sudah lelah dikendalikan dan berjuang sedari pertama lahir.

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2