
Deruan angin kuat itu begitu menggelegar diiringi dengan petir yang menyambar kuat, kilatan cahaya tajam itu membuat langit malam ini begitu pekat dan sangat menakutkan.
Cetass...
"Renat!" teriak Gea pada Renata yang sudah dikuasai kabut amarah dengan Thomas yang juga telah dikuasai Dendam dan rasa sakitnya.
Kedua mahluk itu tak mau kalah saling menyerang membuat tempat ini luluh-lantah dengan dentuman keras yang begitu mengerikan.
"Kalian sadarlah!"
Namun para bawahan Thomas tak sadar dan terus menyerang Gea yang menggendong Carelo yang sudah mendingin.
Lesupan senjata panas itu melayang menuju Gea yang meliukan tubuh indahnya menghindari timah panas itu, ia membuat sebuah Tameng pelindung untuk Carl supaya bocah itu tak semangkin terluka parah.
"Shitt! aku tak bisa bertahan lebih lama!" gumam Gea merasa kekuatannya mulai terkuras melawan puluhan anggota Thomas yang semangkin banyak.
Duarrr..Brugh..
Gea terlempar akibat seragan Thomas yang tiba-tiba memberinya asap panas membuat Gea lansung tertubruk kedinding beton sana.
"Uhukk!" wanita itu terbatuk darah akibat serangan mendadak ini, namun, Gea kembali bangkit saat hujaman timah panas para anggota Thomas kembali menyerangnya.
Whuss..
Gea terpaksa mengeluarkan semua energinya untuk menahan pergerakan dari mereka yang tiba-tiba memiliki aura yang sama seperti Thomas.
"Ki..Kinan uhuk!" Gea sudah tak tahan membendung rasa sakit didada dan seluruh jiwanya, ia sedari kemaren tak istirahat dan sekarang malah harus menggunakan setiap tenaganya.
"Mati kau!" bentakan Renata melesat jauh mendekati Thomas yang beberapa kali terjatuh akibat serangan Renata yang kuat.
Cetasss..
Kilatan petir itu membuat Thomas terlempar kesamping bara api yang semangkin menyala-nyala itu, pria itu juga tak bisa mengendalikan dirinya, yang ia rasakan hanya Marah, dan amukan yang nyata.
"Brengsek!"
Thomas bangkit lalu mencengkram tanah yang ada dibawah tanaman mawar hitam yang semangkin besar saja seiring dengan mata Thomas dan Anggotanya yang menghitam seelayaknya iblis.
"Re..Renata! Ja..Jangan lakukan!" teriak Gea tersendat, kalau Renata menyerang Thomas yang sudah dikendalikan aura hitam itu maka semuanya akan hancur.
Thomas akan sepenuhnya terkendalikan dengan Carel dan Renata yang akan mati bersamaan.
Bummmm..
Ledakan besar terjadi didepan Mashion Thom. separuh anggota Thomas yang berjaga didepan sana, terdampar na'as dengan hujaman Timah panas dari atas sana.
Suara tembakan senjata itu terdengar nyaring membuat Gea tersigap akan perasaan sesuatu yang mendesir hangat.
"Di..Dion!" lirih Gea menduga, ia dengan tertatih-tatih dengan sisa kekuatannya menuju halaman depan sana.
Dorrr..
"Hakk!" nafas Gea terlambung dengan tembakan yang dilakukan salah satu anggota Thomas dari belakang tubuhnya, ia merasa darah segar keluar dari punggung lembutnya.
"A..Aku bisa hmm!" Gea menggeram sakit lalu berusaha menghilang, namun ia beberapa kali terjatuh akibat reruntuhan bangunan yang diciptakan oleh pertempuran Renata dan Thomas.
..........
Serangan 3 pria yang sedang membantai habis para manusia itu terlihat mengerikan dengan aroma darah segar yang meruak, tatapan mata ketiganya terlihat mempunyai aura masing-masing.
"Cepat selesaikan! aku tak ingin istriku panik saat bangun nanti!" titah Exell pada anggotanya dan dua Pria disampingnya, ia baru saja menyusul setelah menidurkan Bumil Molek yang tak ingin ditinggal itu.
Duarrr..
"Apa itu?"
__ADS_1
Gebriel terkejut saat melihat gumpalan api besar yang meledak dari bagian belakang Mashion megah ini, setengah pilar bangunan itu runtuh dengan retakan yang terdengar nyaring.
Whusss..
Angin kuat itu menerpa tubuh gagah mereka, Mata mereka menyipit menatap kearah kegelapan yang terdengar suara seokan kaki yang nyaring.
"Ge..Gea!" pekik Asisten Dion lansung berlari menyosong tubuh seorang wanita yang berusah payah bergerak mendekati mereka.
Brugh..
Tubuh Gea tumbang dipelukan Asisten Dion, tubuhnya gemetar menyerahkan bocah kecil didalam pelukannya.
"To..Tolong hm!" gumam Gea meletakan Carelo kepelukan pria yang menatapnya diam dengan beribu guratan yang nyata.
"Ada apa dengamu?" Asisiten Dion tercekat saat merasakan Tubuh dingin Carelo dan Gea bersamaan.
"Ja..Jaga dia!"
"Kua kenapa ha?" bentak Dion mengguncang bahu Gea yang mencengkram pahanya menahan sakit,
Degg..
Asiaiten Dion meneggang saat Gea membuka masker yang membaluti wajah pucat tanpa ronanya, bibir wanita itu membiru dengan mata yang mulai sayu.
"Ge..Gea!" nafas wanita itu tersendat dengan tangan yang gemetar menggengam tangan kekar Asisten Dion yang memeggang pipi lembut penuh lepuhnya.
"Ja..Jaga dia! De..Demi..!"
Duarr..
Ledakan besar itu kembali terjadi, Gea menjadikan tubuhnya Tameng bagi Asisten Dion yang memeluk Carelo dengan sekuat tenaganya.
"Uhukk!"
"Ka..kau!"
"Diamana Renata?"
dengan sisia kekuatannya, Gea berdiri dengan oleng, ia menunjuk kearah belakang Taman sana membuat Gebriel melotot melihat Renata yang dibaluti kemban sedang menyerang habis bersamaan dengan pria itu.
"Renata!!" teriak Gebriel berlari kearah sana, Exell menatap dalam kekacauan dan keremukan dari pertempuran ini. wajah Tampannya masih tetap datar seakan tak memikirkan apa-apa.
"Ka..Kau mengerti?"
Exell beralih menatap Gea yang seperti sudah sesak nafas dengan darah yang terus mengalir, wajahnya masih tenang dengan netra birunya yang mempesona.
"Amarah!"
Gea menganggukinya lalu bersandar kedinding Mashion yang setengahnya masih utuh, tatapan sayunya berbenturan dengan Netra Elang pria yang seakan tak bisa bernafas melihat wanita itu.
"Gea!" lirih Asisiten Dion gemetar memeggang tangan dingin wanita itu, perlahan Gea melepas kalungnya dan juga jaket yang membalut tubuhnya.
"I..Ini!"
Asisiten Dion mengembun melihat jaket yang pernah ia berikan pada Gea saat melaksanakan Misi dari Tuan dan Nyonyanya dulu masih dipakai wanita itu.
"Ka..Kau..!"
Duarrrr...
Gea lansung membentengi tubuh mereka dengan kekuatannya, ia berbalik menghadang dentuman keras yang menimpa mereka.
"Gea!!!!" teriak Asisiten Dion lansung menangkap tubuh Gea yang terhuyung keras kebelakangnya, tubuh keduanya berdempet dengan Carelo yang berada disamping Exell.
"Ge..Gea! Heyy..Ka..Kau Geaaa!" Asisiten Dion mendekap tubuh lemah itu dengan nafas yang menggebu, netra yang tadi menggenag meluruhkan cairan bening yang ia tahan.
__ADS_1
"Dion!"
Asisiten Dion tak mendengar Suara Exell, ia masih menepuk lembut pipi pucat Gea yang tak bergerak didalam pelukannya.
"Dion!"
"Gea hiks hiks!"
"Dion!"
"Tu..Tuan hiks hiks, ba..bagaimana ini?" isak Asisiten Dion menatap penuh harap wajah Tampan Exell.
"Lakukan apa yang dari pertama aku rencanakan!"
"Tapi..!"
"Dion!"
Asisiten Dion menunduk tak berani menatap wajah datar Tuannya, ia dengan terpaksa meletakan tubuh Gea disamping bocah mungil itu.
"Kau akan selamat!"
Cup..
Asisiten Dion bangkit dan melangkah menuju Helycopter yang mereka gunakan tadi.
.................................
"Renata!"
Pria Tampan itu terlihat kelam dengan tatapan pada kemban yang membalut tubuh molek wanita itu, ia berusaha mencari tatapan Renata yang masih dikuasai amarah bersamaan dengan Thomas.
Whusss..
"Kau membuat Putraku terluka!" geram Renata masih dengan ara membunuhnya, tak perduli dengan kehancuran yang ia dan Thomas buat, yang ia tahu, Pria ini harus mati.
"Maka, mari mati bersama!" desis Thomas lalu kembali melesat, Gebriel mencari cara untuk menghentikan pertempuran ini.
"Renata! heyy kau dengar aku? Renata!!" Teriak Gebriel berdiri dipertengahan mereka, ia memutar bola mata Elangnya tajam mencari lengan lembut itu yang bisa ia genggam.
Saat Renata mulai lengah, Gebriel berlari menubruk tubuh molek itu menghindari serangan Thomas yang telak.
Duarrr..
Tubuh Gebriel mendekap tubuh Renata yang begitu kelam, lengan kekar pria itu mengunci pergerakan Renata.
"Renata! sadarlah!"
"Lepas!! Kau akan mati sialan!" bentak Renata menatap murka pada Thomas yang juga tersungkur akibat serangan balasan wanita itu.
"Renata! Kendalikan dirimu!"
" Budak! kau lihatlah, apa yang akan kulakukan!" desis Thomas dengan lemah melangkah menuju kobaran api dan gelundukan akar mawar hitam sana.
Tangan kekar pria itu terulur mengambil belati yang sudah berada diatas kelopak mawar sana.
"Kehancuran kalian akan menjadi kekuatanku!"
Thomas menggengam belati itu dan menatap tangannya yang tadi ia gores dalam, bahkan darah itu masih mengalir, netra hitamnya terlihat semangkin pekat dengan guratan menakutkan.
"Mati kalian semua!!!!" bentak Thomas ingin menceburkan tubuhnya ke kobaran api yang seakan mengintai nyawa mereka itu.
Whusss..Duarrr...
Mereka terkejut melihat kilauan biru yang menghancurkan kobaran api yang tadinya menyala dengan ganas sekarang terlihat padam dengan kehancuran Batang mawar besar yang tadi tumbuh menjadi sumber kekuatan gelap ini.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang..