
Kemilau kebiruan itu tersebar menerangi kegelapan yang begitu bercahaya, angin yang berputar pelan bersenyayu dengan desiran petir yang perlahan menyambar kuat mengelilingi Mahluk yang dikelilingi Kuntum-Kuntum mawar biru dengan kilauan kebiruan yang pekat membuka Galaksi yang sedang membuka kekuasaannya diatas langit sana.
Whusss...Cetassss...
Petir yang menyambar kuat dengan kilat yang tajam menyertai pandangan mereka, Kimilau cahaya itu membuat mereka terngangak saat kuntum Mawar besar yang tadinya mengelilingi sepasang manusia itu terbuka.
Deggg..
Gebriel yang baru saja datangpun terperangah akan sosok yang begitu terang dengan aura kekuasaan yang luar biasa, Galaksi di langit gelap sana perlahan berputar membentuk sebuah cakrawala yang menaburkan bintang kebiruan turun menghampiri sosok sempurna ini.
"Ya..Yang Mulia!" Renata bersujud disela rasa sakitnya memberi penghormatan pada Sang Penguasa yang sudah keluar menyerukan Keangkuhan yang nyata.
Angin yang kuat itu perlahan melembut sesuai tatapan sendu penuh rasa sakit dari Netra indah itu, tangan lembut nan lentik Peri itu mengelus penuh kasih sayang pipi Sang Pangeran yang sedang terbujur lemah dipangkuannya.
"Sayang!" lirihan gadis sempurna itu dengan satu tetes air bening yang menjatuhi pipi pucat belahan jiwanya, hatinya tergores pilu dengan luka yang teramat dalam.
"Akhirnya kau tiba Putri Mahkota yang bodoh!" Mereka terkejut melihat Nyonya Ambers yang sudah tampak berbeda karna memanfaatkan penyatuan jiwa Kinan dan Aliniya yang membangkitkan Azua dari Portal gelap yang terkunci itu.
"Mo..Momy! bagaimana dengan Exell?" tanya Gea yang tercekat karna Pedangnya salah sasaran, Bukannya menjawab Ambers malah menyerang Putrinya dengan licik.
Whusss..Grett..
Gea terkejut akan serangan Momynya, cengkraman kuku-kuku panjang wanita itu menancap keleher Gea yang tercekat akan perubahan bola mata Momynya yang jadi merah.
"Mo..Momy! uhuukk!"
"Aku tak membutuhkanmu lagi!"
Whusss..Bruakkkk..
Gea lansung terlempar ke bebatuan taman yang merobohkan kursi kayu itu, tubuhnya sudah terasa remuk dengan serangan besar Nyonya Ambers yang tampak sudah membangkitkan kekuatan Azua kedalam dirinya.
Asap gelap itu mengitari tubuh Mahluk itu dengan mata merah menyala disertai kuku panjang yang tajam dengan taring di mulutnya yang terbuka lebar, ia menyeringai menatap Mahluk sempurna yang masih meratapi sang kekasih hatinya.
"Untuk apa kau tangisi Putri Mahkota? lihatlah!" Mereka menatap bulan purnama yang sudah muncul dibalik awan sana, sepertinya wanita ini sengaja membangkitkan jiwa Aliniya untuk menyertai kebangkitan Azua.
"Dia sudah pergi dan..!"
Whussss...Bummmmm..
Aliniya mengibaskan tangannya ke atas menimbulkan dentuman tepat dibawah kaki Ambers yang lansung mengelak menjauh.
"Kau mengundang kematianmu sendiri!" suara lembut namun penuh keangkuhan itu terdengar lantang kegendang telinga mereka, Momy Chalista terlihat masih menagis di sandaran dada suaminya menatap putranya yang tak membuka mata dipelukan Bidadari cantik itu.
"Dia Cintaku! Dia hidupku! Dia segalanya bagiku!" Aliniya tersenyum penuh rasa lalu mengecup lama bibir pucat suaminya, dengan begitu telaten dan penuh kasih sayang, Bidadari sempurna itu meletakan tubuh gagah suaminya diatas peraduan Mawar biru yang bergerak membentuk kumpulan akar empuk menampung Cintanya Penguasa ini.
"Untuk apa Cinta? jika dia sudah mati ditanganku yang mulia!"
Aliniya mengepalkan tangannya erat, ia berdiri dengan tatapan tajam yang menusuk jantung siapa saja, tubuh indah pulen itu dikelilingi kilauan cahaya dengan pakaian khas seorang penerus yang memukau mata. rambut hitam nan panjang itu terkibar menyihir mata mereka hingga tak bisa teralihkan untuk terus menatap penuh kagum.
__ADS_1
"Iblis sepertimu! tak pantas diberi pengampunan!" geram Aliniya lalu melesat jauh secepat kilat dengan angin yang tak henti hentinya bergejolak menyampaikan luka dihati gadis itu.
Whusss...Sretttt...
Ambers tertipu dengan kekuatan Aliniya yang ia kira tak akan bisa secepat ini menyatu, lengannya tersayat oleh kilauan biru tajam yang menyertai kemilau tubuh indah itu.
"Aku tak akan kalah kali ini!" Ucap Ambers menyeringai licik lalu menyerang Aliniya yang dengan santainya berdiri di pertengahan kekuasaaan wanita itu tadi.
"Ini yang kau banggakan!" bentak Aliniya lalu melesat jauh keatas sana dengan kilauan biru tajam yang mengelilingi tangannya, hembusan angin kencang itu menggulung segala hal yang berputar seiring dengan kemarahan Sang Penguasa ini. Tuan Sinmary sudah terlebih dahulu di kungkung Kuntum biru khas Aliniya.
"Matilah kau!" teriak Aliniya menghempaskan tangannya menuju singgasana itu.
Whusss..Duarrr...
Perpaduan kekuasaan Ambers hancur dengan dentuman besar yang memecah malam ini, Ambers menggeram murka, ia memberi kekuatan hitam pekat pada Aliniya yang malah menantangnya dengan kilauan biru emas itu.
Whussss...Cetassss
Perbenturan kekuatan itu meyala nyala mengobarkan api yang membakar pepohonan disekitar Mashion.
"Kau tak pantas untuk hidup!" Aliniya menyabitkan kilatan birunya ketubuh Ambers yang terkena sialauan bening itu.
Cetasss...
Ambers terpelanting membentur Beton besar yang separuhnya telah rubuh tadi, belum cukup dengan itu Aliniya melesatkan hujaman duri Mawar yang tiba tiba datang dari bawah tanah sana.
Whusss..Bugh..
"Brengsek kau!" bentak Ambers lalu menapakan keras kakinya ke tanah membuat getaran kuat dengan bayangan hitam yang menyerang Aliniya.
Namun, gadis itu sudah terlampau gila dengan luka yang diberikan Mahluk terkutuk itu pada separuh jiwanya, ia melayang menjemput sang Cakrawala yang memekarkan dirinya menyambut Sang junjungan.
Whussss...
Aliniya menyeringai licik menatap Ambers dan kilat banyangan itu.
"Cintaku tak akan ternoda dengan tipu muslihat kalian!" bentaknya lalu menarik bayangan itu kuat menuju kobaran api yang menyala nyala dibawa kurungan keluarganya, kuntum-kuntum mawar Aliniya membungkus kuruangan itu cepat dengan bayangan hitam yang diikat di bawah bara api sana.
"Aaaa Mo..Momyyy!" Gea berteriak keras merasa tububnya terbakar dengan sangat menyakitkan, perlahan kulitnya menghitam menimbulkan luka bakar yang tragis.
"Cihh! Kau pikir aku bodoh hmm?" desis Ambers menatap jijik pada putrinya yang merintih berteriak kesakitan. ia tak berendam didalam lautan darah itu karna ia tahu, saat bayangan hitam itu di musnahkan mata tubuh sang pemakai akan ikut merasakannya.
"Kau tak pantas di sebut seorang ibu!" bentak Aliniya murka dengan kilatan petir yang sudah membuka lebar kekuasaannya.
Ambers juga membuka Portal kegelapan yang ada dilangit sana, para Siluman Siluman Azura muncul kembali dengan darah dikolam sana terhisap keatas menuju lingkaran portal mengerikan itu.
Whusss..Cetassss...
Aliniya tak gentar, ia memejamkan matanya mencari kekuatan terbesar yang membangun setiap hati dan pikirannya.
__ADS_1
"Elll!" batin Aliniya menemukan wajah tampan sang suami yang bersemayam di hati dan jiwanya, perlahan Aliniya meliukan tangannya disertai angin yang mengitari lekukan indah itu.
"Kau akan mati Aliniya!" teriak Ambers yang sudah menampung Pedang bermata merah dengan asap hitam yang menyelimutinya, Pedang itu keluar dari portal yang ia buka diatas sana.
"Aku hanya membalas apa yang kau tanam!" Aliniya berucap angkuh penuh ketegasan sebagaimana sang pewaris sebenarnya.
Ambers mengepalkan tangannya erat dengan tubuh yang sudah dikuasai kegelapan, Aliniya menyambut tombak biru yang begitu runcing dengan liontin kepala naga khas bunga Kerajaan Rings Flowers.
"Matilah kau!" teriak Ambers melayangkan pusaka kegelapannya, Aliniya juga menghantamkan Tombak Kesuciannya dengan guncangan besar yang membuat mereka menutup telinga.
Duarrrrr...
pertubrukan dua senjata menimbulkan kilauan yang begitu tajam hingga mereka tak sanggup membuka mata, Aliniya sudah kepalang geram dengan semua ini.
Whusss...
Ambers terkejut saat Cakrawala diatas sana malah menelan portal yang ia buka dengan ganas, ia berusaha menguatkan ilmu kebatinannya dengan pijakan kaki yang bertumpu pada mawar hitam yang timbuk dibawah sana.
"Shittt!" umpat Ambers saat kekuatannya malah terhisap oleh Tombak kesucian milik Aliniya yang sudah merajai di langit sana.
"Kau yang mengundang ajalmu!" geram Aliniya lalu memutar tubuhnya indah membentuk kilauan pitih dan biru yang menyatu membentu gumpalan besar.
Whussss..Bummmm..
Ambers tersungkur jauh ke tanah sana dengan dentuman yang merobohkan sisi Mashion oleh benturan keras itu.
"Ka..Kalungnya!" teriak Renata serak ditengah rasa sakitnya, Aliniya lansung melesat menyonsong tubrukan besar itu dengan tombak yang ada ditangannya.
Whusss...
"Ini bukan milikmu!" ucap Aliniya menghujami tombak itu ke leher Ambers yang tak bisa bergerak akibat tekanan kuat dari kekuasaan Aliniya yang tak terpikir oleh olehnya akan sebesar ini.
"Uhukkkk!" Ambers terbatuk darah dengan rahang yang koyak akibat taring yang sudah memanjang haus akan darah, Kalung itu terlepas dari lehernya dan terikat di puncak tombak Aliniya.
"Be..Berikan!"
"Kau seorang ibu tapi kau malah memanfaatkan anak anakmu!" bukannya menyesal, Ambers malah tergelak puas dengan liur yang begitu busuk menyembur tapi Aliniya tak tersentuh sama sekali.
"Me..Mereka hanyalah budakku!"
Degg..
Gea terkejut dengan ucapan wanita itu, hatinya sakit bukan main dengan rasa sakit yang menjalar batin dan fisiknya sekaligus.
"Brengsek kau Momy hiks hiks!" bentak Gea pada Nyonya Ambers yang menyeringai menatap Renata dan Gea bergantian.
"Aku tak ber..berniat uhukk! aku tak ingin memiliki anak sebodoh kalian! hahaha ..aku..uhukk! aku hanya hidup sendiri! Kalian hanyalah batu loncatanku!" teriak Nyonya Ambers malah terlihat senang menatap wajah wajah tersiksa putri-putrinya.
....
__ADS_1
Vote and Like sayang..