
Tatapan dua manusia paruh bayah itu terlihat bingung dengan keadaan wanita cantik yang sedang menghadap mereka ini, deru nafas wanita itu memburu dengan keringat yang membanjiri keningnya.
Sebenarnya apa yang terjadi hingga wanita ini seperti habis mencangkul satu hektar tanah?
"Anya!"
"Ha iya Queen?"
"Kau kenapa?"
"Hm itu! tadi ada yang menyelinap masuk kedalam Mashion, aku mencengkatnya , tapi dia malah balik marah kepadaku!"
Momy Chalista dan Dady Arkan saling landang bingung, apa yang dimaksud wanita ini?
"Kau serius?"
What? apa wajahku ini sangat kekanak-kanakan hingga siapapun tak percaya padaku? shitt..King dan Queen-nya selalu menuai Stres berat.
"Aku serius Queen! matanya merah, dia cukup Tampan, tapi aku tak suka!" cerocos Anya membuat Momy Chalista menggeleng-geleng. sudah biasa Wanita ini menyerocos seakan tak punya masalah sendiri, merekapun memaklumi itu karna Anya sangatlah Humor.
"Lalu kenapa kau kesini? bukannya kau ditugaskan menjaga Perbatasan barat?" Suara tegas Dady Arkan membuat Anya kembali serius, pria ini tak pernah berubah sama sekali, tetap menyeramkan kalau sudah serius begini.
"King! Saya ditugaskan oleh Tuan Muda untuk menjaga dan memantau Nyonya Muda dan Tuan kecil!"
"Benarkah?"
"Iya King! makanya saya kesini, kalau tidak Kakaku yang paling bodoh itu akan terus mengejekku!"
Anya terperanjat kaget, Shitt..aku kelepasan lagi, bagaimana bisa aku menahan mulut tak tahu aturan ini?
"Ma..Maaf King, Queen!" ucap Anya tertunduk merasa sangat tak sopan, itu makanya ia ditugaskan Kakaknya ke perbatasan karna takut menyakiti hati para petinggi ini, Anya selalu tak bisa menahan diri.
"Sudahlah, kaukan memang begitu, sekarang pergilah lanjutkan pekerjaanmu!"
"Terimakasih Queen!"
"Hmm!"
Anya pamit seraya menunduk hormat, ia melangkah pergi dari ruangan ini, setidaknya ia selamat, kalau sampai berlama-lama ditempat ini, ia bisa kelepasan mengomel setiap hari.
"Hey kau!"
Langkah Anya terhenti saat mendengar suara ketus seseorang, ia berbalik dan alangkah berbinar wajahnya menatap dua cecunguk yang selama ini ia rindukan.
"Hay Kutil!"
Pugh..
Layangan sepatu Cat itu melayang kewajah cantik Anya yang masam, inikah salam kerinduan dari para Nona-Nona mudanya ini? cihh..terlalu sombong.
"Kau siapa?"
__ADS_1
"Aku manusia!"
"Aku serius!"
"Aku lebih serius!" kekeh Anya masa bodoh, Serly dan Vina saling pandang kesal, seharusnya wanita ini berubah, bukan jadi gadis tomboi hingga umur yang sudah tua termakan waktu itu.
"Umurmu berapa?"
"82!"
Mereka menggeleng-geleng jengah saja, Serly dan Vina mengiring wanita itu untuk keatas kamar kakak iparnya, sepertinya wanita ini datang karna utusan Kakak El.
Setelah beberapa lama, mereka sampai keatas sana, Serly dan Vina lansung membuka pintu itu dengan Anya yang masuk seakan ia yang menjadi ratunya.
"Kenapa aku jadi babu?"
"Kalian memang babu dari awal!" ketus Anya melangkah masuk, setibanya disana, mereka lansung disugguhkan dengan 3 wanita cantik yang tampak berbincang dengan raut kesedihan itu.
"Nyonya?"
Mereka lansung menatap kearah pintu sana, kening Kinan mengkerut menatap Wajah manis Anya yang belum ia ingat dengan intens.
"Kinan lupa denganmu?"
"Saya Anya, saya ditugaskan Tuan untuk menemani anda selama dia tak ada!"
Kinan lansung melotot bukan main, rasa panas itu lansung tersulut didalam hatinya, sekarang sudah pukul 4 sore, sejak pagi pria itu tak menghubunginya sama sekali, ia ingin menyusul tapi kalau ia kesana pasti Exell akan marah.
"Kemana saja Tuanmu itu?" geram Kinan membuat Anya gemetar melihat netra indah Nyonya-nya yang terlihat kesal.
"Bagaimana bisa begitu? aku sudah membuat daftar yang sangat panjang, apa dia tak membacanya?" omelan Kinan mundar mandir membuat Baby Ars yang ada digendongan Renata pun mulai merasa geram dengan Dadynya itu.
"Saya tak tahu Nyonya!"
"Telfon dia!"
"Saya tak punya Nomer Tuan!"
"Lalu bagaimana kau kesini ha? tak mungkin kau tak punya nomernya!"
Mereka menggeleng-geleng melihat Kinan yang terlihat sangat kesal, Momy muda ini pasti sangat merindukan pria itu.
"Saya hanya punya Nomer kakak saya Nyonya! dia yang selalu menjadi kaki tangan Tuan selain Tuan Dion!"
Kinan menghela nafas kasar membuat Gea juga sedikit jengkel, Suaminya itu juga menghilang tampa kabar, entah apa yang terjadi sekarang.
"Nyonya punya Nomernya kan?"
"Dia tak mengangkatnya!"
"Kalau begitu Nyonya harus membuat sebuah drama!"
__ADS_1
"Anya!" pekik Renata dan Gea membuat wanita itu lansung bungkam, ia kelepasan lagi sekarang.
"Ma..Maaf! aku hanya bercanda!"
Mereka menggeleng jengah, siapa yang tak tahu wanita menjengkelkan satu ini, tapi berbeda dengan Kinan yang terlihat berfikir.
"Drama?"
"Nyo..Nyonya! bukan itu maksudku, aku..aku hanya menebak saja, Nyonya tak harus melakukan itu!" antisipasi Anya sebelum semuanya runyam.
"Tapi, aku tertarik untuk mencobanya!" ucap Kinan duduk bersilang kaki, ia tampak seperti seorang ratu yang memang sangat beraura.
"Ba..Bagaimana kalau Nyonya menunggu saja?"
"Aku sudah lelah menunggu!"
Shitt! Nyonya cantiknya ini ternyata memiliki kepribadian ganda, sekilas bisa sangat imut, tapi kalau marah, semut saja tak ingin mendekat.
"Aku ingin belajar memasak hari ini!"
"Whatt?"
pekik mereka terperanjat kaget, Kinan manggut-manggut pasti akan keputusannya yang menurutnya tak ada masalah dan tak akan membuat Elnya marah.
"Kau seirus Nyonya?"
"Hmm! aku ingin belajar semuanya sebelum El pulang!"
Fyuhhh..
Mereka bernafas lega, kalau Kinan membuat Drama, maka bukan hanya Pria itu yang pulang, nyawa merekapun akan diambang batas langit ketujuh sana.
"Baiklah kalau begitu! Saya bisa membantu anda kalau Nyonya Mau!" tawar Anya yang tak ingin wanita ini terluka, bisa-bisa ia digantung didekat perbatasan.
"Baiklah, siapkan semuanya, aku ingin mengurus Baby Ars dulu!"
"Baik Nyonya!"
Mereka melangkah keluar bersamaan, Kinan tampak menghela nafas, ia sebenarnya tahu, siapa yang sedang mengawasinya dari jauh sana, tapi ia hanya diam karna ia harus bersabar lebih lama.
"Sampaikan pada Tuanmu! kalau dia tak pulang sebelum satu minggu, maka aku akan mencari suami baru!"
suara Kinan menggelegar membuat mereka yang mengawasinya pun terdiam membisu, wanita ini tak bisa akali sama-sekali.
begitu juga tentang Anya, ia hanya menunggu waktu yang pas untuk mengungkap segalanya, atau pria itu yang lebih dulu mencari tahu.
Baby Ars yang sedang digendongan Kinanpun menatap keluar Balkon sana, ia bisa melihat sekilat bayangan yang memantau mereka dari jauh.
Tatapan netra biru Bayi mungil itu seakan mengatakan 'Sampaikan pada Dadyku'.
........
__ADS_1
Vote and Like Sayang..
Bagi yang bertanya-tanya tentang Anya dan Kakanya itu Author ambil dari kisa pertama Dady Arkan dan Momy Chalista.