Aku Tak Salah

Aku Tak Salah
Aku tak bisa!..


__ADS_3

Seretan tangan kekar itu begitu kuat pada sang gadis yang meronta ronta dalam cengkraman tangan besar itu, entahlah, ini sangat sulit dijabarkan.


"Lepass!"


"Diamm!"


Exell membuka pintu kamar itu dengan kasar dan melemparkan tubuh molek itu keatas ranjang empuk sana, ia melonggarkan dasinya dengan kaki yang menutup kasar pintu kamar itu kembali.


"Kau mau apa?" Aliniya panik dengan tubuh yang bringsut menjauhi Exell yang melangkah mendekatinya dengan wajah dingin dan kelam pria tampan itu.


"Jelaskan!"


"Aku tak mengerti apa yang kau maksud?"


Grett..


Exell mencengkram kedua pipi Aliniya yang terlihat memberontak dalam cengkramannya. satu tangan Exell membelit pinggang ramping ini.


"Kau Kinan istriku!"


"Jaga bicaramu Tuan! aku tak pernah kenal dengan orang yang kau sebut itu!" geram Aliniya berusaha lepas dari cengkraman Exell yang kuat,


"Untuk apa kau berpakaian seperti ini ha?"


"Memangnya apa masalahnya untukmu! aku yang memakainya dan jangan pernah mengaturku!" geram Aliniya menatap tajam Netra biru Exell yang menagkap keanehan dari tatapan gadis ini.


"Kinan kau..!"


"Berhenti memanggilku dengan nama itu!" bentak Aliniya menyala nyala, Exell terkejut saat Netra indah itu tak lagi menatapnya sendu tapi lebih terlihat angkuh dan berkuasa.


"Apa yang kau inginkan ha? dengar ini baik baik, aku adalah aku dan nama yang kau sebutkan tadi jangan pernah memanggilnya lagi!"


"Kinan!"


Plakkk..


satu tamparan yang melesat ke pipi Exell yang lansung tertoleh kekiri dengan telak, seakan waktu terhenti begitulah tatapan netra indah itu, Exell kembali menatap Aliniya yang terlihat menatap pipinya dengan sendu, tapi juga berkabut dengan rasa lain,kelopak mata itu menggenag dengan guratan penyesalan yang mendalam.


"Pergilah!" suara bergetar itu membuat Exell sungguh dilanda kegelisahan,tamparan yang dilayangkan tangan lembut itu sangatlah keras dengan aura kebencian dan kekerasan yang nyata, lalu kenapa sekarang gadis ini terlihat menyesal?


"Kau kenap...!"


"Pergilah!" lirih Aliniya menunduk tak mau menatap Exell yang tiba tiba merasa tak karuan, apa gadis ini memiliki kepribadian ganda hingga terkadang bisa berubah ubah?

__ADS_1


"Apa kau tak mendengarku ha? pergi dari sini!" bentak Aliniya dengan suara penuh kesakitan membuat Exell tak tega, ia pergi dengan membawa beribu tanya didalam benaknya.


"Aliniya!" Renata datang dari ambang pintu sana berpapasan dengan Exell yang menatapnya datar lalu melangkah pergi.


"Bagus! kau harus seperti ini untuk membuat dia menjauh dan..!"


"Aku tak bisa!"


Grett..


Renata lansung memeggang kedua bahu Aliniya dengan keras, mata wanita itu terlihat begitu marah dan geram dengan jawabannya.


"Apa maksudmu ha?"


"Kinan tak bisa menjadi Aliniya!"


Degg..


Renata lansung meneggang ditempatnya, ia menatap mata Aliniya yang terlihat berair dengan guaratan luka yang dalam, siapa yang tahu apa sebenarnya yang ada didalam tubuh gadis itu sekarang, kelihatannya memang tangguh dan berbeda, tapi sejatinya tersembunyi luka yang mendalam.


"Kau Aliniya! jiwamu bangkit Kinan, inilah dirimu yang sebenarnya! jangan jadi lemah hanya karna cinta!" Renata menekankan semua ucapannya pada Aliniya yang lansung terduduk di atas ranjangnya.


"Kinan tidak bisa! Kinan tak ingin jadi Aliniya, lebih baik Kinan menjadi Mahluk seperti biasa dari pada dirinya!"


Plakkk..


"Lalu kau sekarang mau apa ha? Kau tak kasihan pada ibu dan ayah! keluarga ini hancur Kinan, keluarga kita hancur karna manusia terkutuk itu! Namamu Aliniya yang menjadi Pewaris dari segalanya! kau bukanlah Kinan yang lemah, kau dengar itu!" bentak Renata keras pada Aliniya yang lansung diam.kebencian itu kembali meruak didalam hatinya membuat aura kekelaman yang nyata.


"Tatap mataku!" Aliniya terdongak akan cengkraman Renata yang menarik dagunya bersitatap dalam.


"Ingatlah! Kinan itu hanyalah namamu saat menjadi bagian dari hutan itu! sekarang aku datang membawa amanah dari ibu, kau harus bangkit! Aliniya adalah nama yang diberikan ibu padamu, jangan kecewakan ibu Kinan! pupuk rasa benci itu hingga kau bisa membalaskan dendam ibu!"


"Ibu?"


"Yah Ibu! Ibumu Kinan, dia memberikanmu kekuatan untuk membalas semuanya! bangkitlah dari rasa sakitmu, karna Aliniya tak pernah memberi ampun pada siapapun!"


"Apa Kinan bisa?"


"Kau bisa! Aliniya hanyalah nama, tapi kekuatan itu berasal dari kau Kinan! mulai sekarang, fokus dengan tujuanmu! Cinta itu hanya membuat kita lemah, jangan perdulikan apapun kecuali amanah ibu! kau mengerti?"


Aliniya mengangguk mengiyakan membuat Renata tersenyum, ia yakin, Kinan dan Aliniya bisa bersatu, ia tak akan pernah menghianati ibu ratunya yang telah berkorban demi kehidupan Kinan sendiri.


"Kinan!" Renata menggengam tangan Aliniya yang menoleh padanya, terkadang netra indah itu bergelut sangat tajam dan angkuh, tapi terkadang terlihat sangat polos dan penuh luka.

__ADS_1


"Demi ibu! Aliniya atau Kinan kalian sama! Takdir yang menentukan pewaris yang sebenarnya! dan kaulah yang terpilih, maka Jangan ulangi kesalahan yang sama, hmm?"


"Aku siap!" jiwa Aliniya itu kembali terlihat, gadis itu berdiri dengan tatapan yang sangat menakutkan, keangkuhan, kegilaan, haus akan ketakutan dan darah para musuhnya itu bergelut nyata.


"Aliniya akan membunuh mereka yang membuat Keluarga ibu dan ayah hancur!"


"Yah! kau bisa melakukan segalanya!" ucap Renata menepuk bahu Aliniya yang menganggukinya.


"Baiklah! tenangkan dirimu dan jangan pikirkan apapun, biar aku yang mengurusnya!"


"Baiklah!"


Renata melangkah pergi menuju pintu keluar kamar, ia pergi kekamarnya sendiri membawa perasaan yang tak bisa ia mengerti. setibanya disana, Renata lansung membuka lemari pakaiannya dengan mengambil kotak hitam di bawah lacinya.


"Yang Mulia!" gumam Renata terduduk saat melihat Surat terakhir serta cap kerajaan yang memang telah diberikan Tuan Yorus padanya dulu.


"Kau memberi amanah ini padaku! aku rela melakukannya karna kau telah menyelamatkan aku dari Wanita brengsek itu! lalu sekarang aku bingung? kau menyuruhku membangkitkan jiwa Aliniya yang ada didalam tubuh Kinan dengan memupuk kebencian dan luka yang mendalam! tapi bantu aku untuk membuat Kinan mengerti apa tujuanku! aku tak bermaksud menjauhkannya dari Cintanya, tapi kau sendiri yang menyebutkan kalau Kinan harus membalas semua rasa sakit itu!" gumam Renata dengan suara yang bergetar.


Lelah? Cihh.. apa dia bisa berkata lelah sedangkan tugasnya yang sebenarnya belum juga usai, apalagi yang tak ia korbankan, nama baik, kehormatan, jati diri serta kehidupannya sendiri demi kesetiaannya pada sang ratu yang telah memberinya kehidupan hingga saat ini.


"Renata!"


Wanita itu lansung menghapus lelehan bening yang tadinya jatuh kepipi mulus itu, ia berdiri dengan menunjukan wajah datarnya.


"Apa?"


"Kau yakin dengan apa yang kau lakukan?"


"Itu perintah bagiku Adres! nyawapun akan ku berikan asalkan amanah yang ratu titipkan tersampaikan, Kinan adalah harapanku, dia satu satunya keturunan bangsa Rings Flowers yang akan kalian junjung, dia bukanlah mahluk gaib sama seperti Azua, ratu hanya melindunginya dan memberi jalan untuku untuk membangkitkan jiwa kepemimpinan didalam dirinya!"


"Tapi aku rasa mereka berbeda!"


"Jangan mencari masalah Adres!"geram Renata pada Adres yang hanya menunjukan wajah dinginnya.


"Mereka tak sama! aku menyadari itu, Aliniya hanya kekuatan pewaris tapi Kinan adalah Mahluk suci yang tak bisa menerima kekuatan itu!"


"Tutup mulutmu!" bentak Renata pada Adres yang sudah menghilang membuat ia begitu geram dan murka.


"Sampai kapanpun! Pengapdianku pada Ratu Dahliya akan tetapku lakukan, Kinan adalah Nonaku dan dialah yang akan menjadi pewaris yang telah ditentukan!"


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2