
Tatapan netra biru itu terlihat was-was melihat bagaimana tangan lentik itu memeggang pisau dapur, ia tak bisa bergerak sedikit saja seakan itu sangat berbahaya.
"Sa..Sayang!"
"Hemm"
Exell meneggang ditempatnya melihat wajah masam istri tercintanya itu, ia baru saja mendapat kecaman dari wanita itu membuatnya lansung kelagapan dan menghubungi singa liarnya secara lansung.
"Sayang, kenapa kau harus melakukan itu?"
"Apanya?"
"Kau tak usah memasak atau melakukan apapun! aku akan segera pulang!"
"Kapan?"
Exell menghela nafas, bagaimana bisa ia tenang disini jika wanita itu selalu membuatnya jantungan setiap detiknya.
"Aku akan pulang setelah pekerjaanku selesai sayang!"
"Kapan?"
"Pokoknya secepatnya!"
"KAPAN?"
Tekan Kinan menunjukan pisaunya membuat Exell bergidik, ia baru saja menyelesaikan segalanya, dan ia akan pulang ketika semuanya sudah tepat dengan perhitungannya.
"Aku akan pulang hari Saptu!"
"Apa tak bisa sekarang?"
Lirih Kinan menatap Exell yang bergetar, netra indah wanita itu mengembun tak bisa lagi menahan gejolak kerinduannya, ia tak bisa ditinggalkan terlalu lama, ia tak sanggup.
"Sayang! aku..!"
"Kau sedari pagi tak Menelfonku, padahal, aku rasa kau punya waktu, sekali saja El, kenapa itu sangat sulit?"
Suara bergetar Kinan berucap, Exell tampak berfikir, bagaimana bisa ia menelfon wanita itu jika rencananya saja sudah ia susun besar-besaran.
"Kau jangan menagis! aku minta maaf sayang!"
"Ka..Kau terlalu sibuk"
"Bukan begitu! aku tetap mementingkan kalian, kau jangan menagis, aku tak tahan melihatnya!"
Exell memelas menatap layar Laptopnya, ia ingin sekali merangkuh tubuh molek itu, tapi batinya mengatakan. Sabar Exell, hanya tinggal beberapa hari saja, kau pasti akan bisa membuat kejutan yang besar.
"Auuu"
"Kinan!" Exell terpekik saat mendengar ringisan istrinya, ia lansung berdiri dari duduknya dengan wajah yang panik.
"Auch..Hiks hiks, Perih!"
"Sayang! Kinan, kau ..kau kenapa sayang?" panik Exell dengan sangat bergetar, ia seakan ingin menghilang dari tempat ini dan lansung memeluk tubuh wanita itu.
Terdengar suara pelayan yang membantu melihat luka Nyonya-nya, mereka terlihat terpekik menatap ceceran darah itu.
"Nyonya! jari anda terluka"
"Kinan!!!" Teriak Exell kehilangan akal, ia berlari menuju ruangan Asisten Dion yang telihat bingung menatap wajah Tuannya.
"Tuan! apa..!"
"Pulang sekarang!"
"Tuan! bagaimana dengan..!"
"Istriku terluka! siapkan penerbangan Sore ini juga!" desak Exell tak lagi memikirkan rencana awalnya.
ia kembali keruangannya dengan wajah yang pucat seakan kehilangan separuh jiwanya mendengar ringisan wanita itu.
"Sayang, Kinan..lihat kesini!"
Kinan terlihat menghindar karna ia aggak gugup karna telah membohongi suaminya.
"Kinan, sayang! kau jangan diam saja, aku sesak sekarang!"
"El!"
"Iya sayang! cepat obati lukamu, aku pulang sekarang juga!"
"Tapi, Kinan baik-baik saja"
"Apa maksudmu ha? jarimu terlukakan, cepat kau tunjukan padaku!" bentak Exell tak tahan ia sudah panik segengah mati sekarang.
"El! Kinan hanya pura-pura!"
__ADS_1
Duarrr...
Jantung Exell yang tadinya berpacupun seketika lepas sudah, tapi, kepalan tangannya menguat dengan sorot mata yang tajam.
"Apa kau ingin membuatku mati ha? apa kau sudah gila atau apa?" bentak Exell menyala-nyala, ia tak habis pikir dengan pemikiran wanita itu.
"Kinan tak bisa El diami terus!"
Balas Kinan tak kalah keras dengan tersulut emosi, ia begini karna Exell tak pernah menelfonnya sesuai kesepakatan.
"Tapi kau tak seharusnya melakukan ini!"
"Kinan bahkan bisa melakukan lebih dari ini!"
"Kinan!!"
"Terserah El saja hiks hiks! Kinan tak perduli, disini banyak yang mau menemani Kinan, El tak perlu pulang sampai kapanpun!"
"Bukan begitu sayang, aku..!"
"Sudahlah, lanjutkan saja pekerjaanmu!"
"Hey! kenapa jadi marah-marah begini? sudahlah sayang, kau jangan begitu!"
"Selamat sore!"
ucap Kinan ingin mematikan Sambungannya, Exell dengan cepat mengambil alih program yang sudah ia salin ke Ponselnya terlebih dahulu membuat wanita itu tak bisa mematikan sambungannya.
"Sayang! kau jangan marah, aku hanya panik saja!"
"Hmm!"
"Sayang! Cintaku..My Love, Momynya dady, lihat sini Momy!" pujuk Exell pada Kinan yang tak mau muncul dikamera.
Shitt..perjuangan yang sangat besar menuju hari yang telah ia siapkan itu.
"Kinan sayang! Momy cantiknya Dady, jangan marah-marah sayang, Dady sayang sama Momy, Momy jangan begitu!"
Mendengar semua itu, hati siapa yang tak luluh, Kinan mengulum senyum geli dengan wajah yang memerah.
"E..El sudah makan?"
Exell bernafas lega, wanita itu sudah rileks seperti biasa membuat ia aman, walau wajahnya masih suram, setidaknya Kinan memanggil namanya dengan lembut.
"Hm Belum!"
"Memangnya kau sudah makan hm?"
Kinan terlihat diam dengan netra yang bersitatap penuh cinta dengan wajah suaminya, kapan jarak ini bisa mereka kikis. ia ingin sekali berkoala ketubuh gagah itu.
"Kinan belum lapar!"
"Kalau kau makan aku akan makan!"
"Tapi..!"
"Kau itu menyusui sayang, Baby dan aku butuh Momy, jangan terlambat makan!"
"Tapi, Kinan biasa Makan berdua dengan El"
Exell menghela nafas, ia mengambil Makanan yang baru saja diantarkan Pelayan keruangannya, bungkusan makanan itu ia letakan didepan Laptopnya dengan tatapan yang tak lepas dari wajah cantik istrinya.
"Sekarang, ambil makananmu! lakukan hal yang sama seperti ini, sayang!"
Kinan terlihat mengangguk, Pelayan yang siap sedia membantu wanita itu terlihat menyiapkan segalannya.
"Sudah?"
"Sudah El!"
"Sekarang makan, habiskan! kau mengerti?"
"Siap El!"
"Sayang, apa kau bisa menunggu 3 hari lagi?"
Kinan terdiam, sepertinya Exell memang sangat sibuk sekarang, ia harus paham dengan itu.
"Baiklah El!"
.............................................................
Sedangkan diMashion sana, deretan wanita yang memiliki kelebihan masing-masing itu terlihat menatap kearah Meja dapur, mereka tersenyum melihat Momy muda yang tadi murung itu terlihat kembali ceria dengan senyuman memikatnya.
"Dion masih belum menghubungimu?"
Gea menggeleng lemah, ia hanya bisa memangku tubuh mungil Baby Ars yang tampak bermain dengan jari lentik Gea, tapi, percayalah telinga si Unyil itu sangatlah tajam.
__ADS_1
"Sialan!!!"
Mereka tersentak kaget saat suara bentakan dari Anya yang tadinya sedang mengambil bantal dari ruang santai sana.
"Kenapa kau kesini?"
"Apa urusannya dengan mu?"
Ketus Anderson yang terlihat sinis, ia baru saja ingin masuk tapi wanita itu terlihat mengamatinya dengan teliti, dan benar saja, ia akhirnya tahu siapa Dirinya sebenarnya.
"Keluar!"
"Hey! apa kau gila ha? aku ingin mengunjungi Adiku disini!"
"Kau tak punya keluarga! pergi dari sini!" kekeh Anya memeggang lengan kekar Anderson yang tampak geram.
"Jangan buat aku menyakitimu untuk yang kedua kalinya!" geram Anderson menyentak kasar lengannya dari genggaman Anya.
"Apa kau memang tak tahu malu datang kesini tanpa ijin!"
"Kinan!!! Kau cabut nyawa pelayanmu ini!"
Bugh..
Mereka terkejut saat Anya menendang kaki Anderson keras membuat pria itu sedikit oleng, apalagi Renata dan Gea yang tak menyangka akan keberanian Anya yang bahkan tak bisa mereka lakukan.
"Kau!!!"
"Jangan penah memanggilku Pelayan! bahkan, King dan Queen-ku tak pernah memanggil kami Pelayan, kau mengerti Tuan?" geram Anya mengetatkan rahangnya erat.
"Anya!"
Seorang pria yang datang tiba-tiba dari arah pintu sana, Tatapan wanita itu masih enggan mengalihkan pada yang lain selain wajah Tampan Anderson yang mengeras.
"Apa yang kau lakukan ha?"
"Pimpinan kita tak pernah mengajarkan kita untuk diam saat diinjak!" geram Anya membuat Cris menghela nafas berat, untung saja ia cepat, kalau tidak Adiknya akan membuat kerusuhan besar.
"Maafkan Adik saya Tuan!"
"Hmm!"
"Untuk apa Kakak minta maaf ha?"
"Ikut aku!"
Cris menarik Anya kuat membuat wanita itu lansung terseret, Anya hanya bisa mengepalkan tangannya erat menatap Anderson dengan amarah yang memuncak.
"Apa kau tak akan pernah mengerti akan Kedudukan kita ha? kau seharusnya beruntung saat King dan Queen memungut kita Anya!"
"Tapi mereka saja tak pernah merendahkan kita! bahkan, King saja mengajarkan kita untuk mempertahankan harga diri!" bantah Anya kekeh, ia memang sensitif soal kedudukan, karna ia belajar dari ajaran yang Momy Chalista ajarkan.
"Kita hanya Pelayan Anya! kau..!"
"Aku tak sama denganmu yang diperbudak wanita iblis itu!"
plakk..
tangan kekar pria itu akhirnya menampar wajah manis adiknya setelah bertaun-tahun lamanya, Cris terkejut saat menyadari apa yang ia lakukan, ia gemetar menatap pipi putih itu memerah.
"A..Anya! Kakak..!"
"Aku tak punya Kakak yang bodoh!" ketus Anya melangkah pergi dengan cepat, Cris meneggang ditempatnya membayangkan bagaimana tangannya menampar pipi lembut itu.
"A..Apa yang aku lakukan?" Gumam Cris lalu dengan cepat menyusul keberadaan Anya yang tak lagi bisa dilihat mata.
Mereka tak menyadari ada sepasang mata merah yang tampak menatap dingin perdebatan mereka tadi.
Anderson memeggangi dadanya yang nyeri melihat cairan bening dan pipi wanita itu memerah, ia merasa sangat marah dan sakit bersamaan.
"Kenapa aku merasa kami pernah bertemu selain ini?"
Gumam Anderson begitu bingung, Kinan yang sedari tadi mengamati semua itu pun menghela nafas, Exell melihat semuanya karna Kinan menunjukan itu semua padanya.
"Apa Kinan beritahu Kakak El?"
"Dia akan tahu, ini hanya awal sayang, biarkan, Adres tahu bagaimana memperjuangkan Cinta"
"Hmm! Tapi, Anya butuh sesorang untuk melindunginya, dia cukup kesepian karna Kakak sibuk menyanggupi urusan di Keluarga Magreta Sayang!"
"Cris itu hanya belum memahami apa yang diinginkan Adiknya, biarkan dia sendiri yang memutuskan, Aku yakin, matanya akan terbuka lebar melihat kenyataan!"
"Hm! Kinan harap begitu!"
Mereka kembali berbincang melepas rindu, Anderson yang melihatnya dari jauh pun, merasa Kinan dan Exell tahu segalanya.
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..