Aku Tak Salah

Aku Tak Salah
Sayang!


__ADS_3

Mentari menyapa dengan sangat bersemangat, kilauannya begitu bercahaya membuat Mahluk dibawahnya begitu senang beraktifitas pagi ini, entahlah, Kota ini sekarang bertambah ramai saja dengan deru kendaraan yang sibuk.


Tapi, tentu saja keriuhan itu tak akan berarti pada sepasang kekasih yang semalam suntuk sibuk memadu kasih tiada lelahnya, tubuh keduanya terdempet erat dengan sangat mesra.


Sehelai Seprey putih yang menjadi saksi bisu pertempuran dahsyat berujung nikmat itu, bahkan aroma penyatuan mereka masih kental seakan itu baru saja dilakukan saat ini.


"Ehmm!" Pria Tampan itu menggeliat saat secercah kilauan mentari diatas sana lolos dari jeratan Fentilasi kamarnya,namun, ia seketika tersenyum melihat sang Bidadari yang semalam membuatnya begitu gila hingga terdampar begini sedang terlelap cantik dengan begitu imutnya.


"Kenapa kau selalu membuatku Kelepasan hmm?" bisik Exell gemas mengecup kilas bibir bengkak istrinya yang masih saja menjadi candu untuknya, ia mengelus punggung polos nan lembut itu.


Netra birunya terlihat sangat memuja sosok molek ini, tiada bosan untuk menikmati sentuhan tubuh ini, tiada lelah untuk menggempurnya dan tiada kata tidak untuk menolaknya, Entah seberapa gebuan cinta yang ada didalam dadanya, ia pun tak bisa menjabarkannya, hanya sikapnya yang terlalu posesif dan menggilai sosok ini membuktikan sebetapa kuat pesona seorang Kinan yang telah menjeratnya dalam.


"Ellll!" suara serak lembut membuai itu akhirnya keluar karna peka akan sentuhan lembut suaminya seperti biasa setiap ia bangun tidur dulu.


Netra indah itu saling tatap penuh cinta pada Netra biru pria Tampan yang tampak begitu menggoda dengan rambut acak acakannya itu, tangan Kinan terangkat mengelus rahang tegas suaminya yang juga menggengam tangannya lembut.


"Sudah bangun hmm?"


"Yah Ell! jam berapa?" Exell lansung melihat jam yang ada diatas nakasnya, pukul 11 pagi yang membuat ia terkekeh geli akan wajah masam istrinya.


"Ell! Kita Kesiangan!" gerutu Kinan manyun dan bangun dari baringannya, namun. Exell malah menyalangi tubuhnya seperti guling membuat ia tak bisa bergerak.


"Ell! ini sudah siang sayang! El harus kerja kan?"


"Ini masih pagi Sayang! aku masih ngantuk!" Exell semangkin merapatkan tubuh keduanya dengan Kinan yang mepet dengan tubuhnya, Kinan beberapa kali mencubit paha suaminya yang menindih bokongnya, apalagi dengan benda bertuah yang tampak masih segar itu melambay lambay menyentuh bokongnya.


"Elll!"


"Apa Sayang? hmm!" Exell masa bodoh dengan pekikan pekikan geli istrinya karna pusakanya sudah membuat ulah dibawah sana, Bahkan, Exell sengaja membalikan tubuh istrinya tepat berhadapan dan menempelkan benda itu lengket ke empu pawangnya.


"Ellll!" pekik Kinan menepuk punggung kekar polos itu, namun Exell malah mengulum senyum gelinya pura pura Tuli dengan pelukan yang mengerat.


"El hiks hiks! Kinan mau mandi Sayang, boleh ya?" bujuk rayu Kinan dengan sangat memelas pada Exell yang mengigit bibir bawahnya menahan tawa melihat wajah pucat istrinya saat benda bertuah itu membelai dibawah sana.


"Ell! itu..!"


"Hanya bonus pagi hari Sayang!" goda Exell mengedipkan mata nakalnya pada Kinan yang menggeram bukan main.


"Mesumm!" teriak Kinan lansung berlari kekamar mandi sana diiringi tawa Exell yang membeludah.


"Hahahah! Sayang! dia hanya minta bonus!"gelak Exell tak bisa menunda pagi cerahnya, ia terkekeh geli akan omelan istrinya didalam sana.


"Shitt! Dia memang Vitamin pagi!" Exell turun dari ranjangnya mengambil handuk dengan tubuh polosnya, ia dengan santainya masuk ke kamar mandi tanpa memperdulikan racauan Kinan yang mengomel karna kulitnya sudah seperti Sisik Ikan piranha.


....


"Apa El belum turun?"


"Belum Boy! mungkin melanjutkan ritualnya!" Gebriel hanya tersenyum pelit saja, walau bagaimanapun ia dulu mempunyai rasa pada Kinan tapi, ia merasa Exell lebih pantas mendapatkan Bidadari mempesona itu.


"Kenapa kau pulang? apa urusanya sudah selesai?"


"hmm! Sudah dad, aku bekerja dari sini!" Elak Gebriel tak ingin Dadynya ikut memikirkan masalah ini.


"Kau ada masalah?"

__ADS_1


"Tidak!"


"Boy! Kau tentu tahu, kalau dady tak suka dibohongi! apalagi itu anak sendiri!" ucap dady Arkan dingin membuat Gebriel menghela nafas berat, Pria ini tak akan bisa diakali.


"Renata membunuh 22 orang dari hari kepergian Kinan! sekarang ada 100 lebih pelayan Mashion yang masih terkurung didalam Mashion itu dad! Aku tak tahu harus melakukan apa, kalau Tuan Sinmart tahu, sakitnya bisa kambuh!"


Dady Arkan diam dengan pikiran yang sedang mencari akar dari semua ini, begitu juga Gebriel yang terlihat bingung,memang ia membenci Renata, tapi ia memikirkan Tuan Sinmart yang begitu menyayangi putri putrinya, lalu bagaimana aparat pemerintah tahu masalah ini hingga Keluarga Sinmart tercoreng nama baiknya? Shitt..ini sangat memusingkan.


"Kakak!" mereka lansung menatap kearah Lift yang mengeluarkan sepasang kekasih yang tampak segar itu, namun mereka bersemu melihat leher mereka masing masing terlihat tanda cinta panas itu.


"Pagiii!"


"Siang Kak!" sambung Serly dan Vina geli mendapat pelototan dari Momy Chalista.


"Jangan dilihat! otak kalian bisa tercemar!"


"Otak kami memang sudah tercemar dari sananya Aunty!" kekeh mereka geli, hal seperti itu sudah biasa baginya karna orang tau masing masingpun sering mereka lihat bermesraan tak tahu tempat.


"Ell!" Exell mengerti akan tatapan Gebriel yang ingin bicara padanya.


"Sayang! Kau bergabunglah dengan Momy, nanti aku kembali!" Kinan mengangguk patuh seraya menerima kecupan sayang Pria itu dibibirnya.


Kinan memandangi Pria Tampan itu yang telah pergi ke ruang atas sana membuat 3 bocah di sampingnya pun bersemu membayangkan jejak panas di leher Kakak Iparnya.


"Sebentar lagi keponakan kita akan tiba!"


"Yah!"


"Exell! kau sudah tahu?" Exell mengangguk dengan wajah datarnya, Gebriel menghela nafas melihat bagaimana santainya hidup pria ini.


"Lalu bagaimana?"


"Lalu kau sekarang hanya diam saja begitu?" Gebriel tak bisa membaca apa isi pikiran pria Misterius ini, terkadang ia sulit mengerti sifat Exell dan juga gaya bertarung pria ini.


"Dia menjalankan isi surat yang telah Ratunya berikan! Pengapdiannya sangat kuat hingga tak perduli baik buruknya bagi orang lain! Kita tak bisa menyuruhnya berhenti sebelum keadaan yang membuatnya sadar!"


"Maksudmu?"


Exell menatap Dadynya yang tahu bagaimana arah pembicaraan putranya, Maklum saja, Gebriel jarang berurusan dengan Cinta dan perasaan membuat ia tak banyak belajar.


"Orang seperti kita tak bisa diajari dengan pembicaraan! hanya Keadaan yang bisa mengembalikan pikirannya! Dia melakukan itu semua atas jalan yang ia turuti Kak, Jika kita menghentikannya itu hanya membuat masalah baru!"


"Lalu bagaimana nasip orang orang yang sudah dia bunuh? 22 manusia yang dibantai na'as Adik, belum lagi manusia yang terkurung disana, dia bisa saja membunuh lebih dari..!"


"Siapa yang membunuh?"


Deggg...


Mereka lansung tersentak kaget melihat wanita cantik yang membawa nampan berisi gelas kopi itu, Netra indahnya menatap sang suami penuh tanya.


"I..Itu! hmm orang..!"


"Renata!"


Prankk...

__ADS_1


Nampan ditangannya jatuh dengan tatapan mata yang berubah menjadi tajam dengan kilat kemurkaan yang nyata.


"Berapa?" Gebriel tersentak mendengar suara dingin menusuk jantung itu, ia menatap Exell yang sudah kelam dengan wajah dinginnya.


"22 dan.. Kinan!" Gebriel tersentak saat Kinan sudah berbalik pergi dengan aura menakutkan membuat mereka terdiam, Exell sudah lebih dulu mengejar istrinya yang sudah melesat jauh.


"Kakak!" Teriak Serly pada Kinan yang tak lagi memperdulikan orang orang disekitarnya.


"Shitt!" umpat Exell saat istrinya sudah menghilang jauh di pelupuk netranya.


"Tuan! kau..!"


"Kediaman Sinmart!" ucap Exell lansung masuk kedalam mobilnya, Asisten Dion melajukan Mobil mereka kencang tak memperdulikan jalan yang ramai ini karna jalur khusus yang mereka tempuh mempercepat segalanya.


....


Whussss...


Angin yang menggulung kencang menyertai langkah kaki jenjang wanita cantik yang menatap bangunan sunyi dijadapannya ini dengan intens, Netra indahnya sudah berkabut dengan guratan Kebencian itu.


"Renata!" geramnya lalu melesat jauh kedalam sana, angin yang tadinya menggulung terlihat mengikuti kemana tatapan netra indah menakutkan itu.


Mashion ini sudah dipenuhi mayat dan bercak darah yang amis, aroma bangkai membusuk itu begitu kental tercium oleh indranya.


"Kau datang!" Aliniya menatap dingin wajah cantik yang sudah bersibah darah itu, terlihat sangat mengerikan dengan seringaian iblisnya.


"Kau membunuh!"


"Yah yang Mulia! Aku membunuh 30 manusia yang terkutuk itu!" ucap Renata santai menginjak para jasad yang sudah terbujur kaku itu, tiada hari tampa menebarkan darah di Mashion ini, ia melakukan semunya dengan cepat dan tentu saja tak ingin membuang waktu.


"Kau mengundang Kematian!" geram Aliniya mengepalkan tangannya erat, sorot mata indah itu sudah kelam menunjukan kemurkaannya.


"Untuk apa kau marah? kau seharusnya bahagia karna aku yang mengemban tugasmu itu Putri yang tak tahu diri!"


Whusss...Brakkk...


Renata terpental ke meja makan sana dengan keras akibat hempasan tangan lembut itu, tak ada lagi sorot mata lain yang terlihat sekarang.


"Uhukk!" Renata terbatuk darah, bukannya takut, ia malah menantang Aliniya yang sudah tak terkendalikan lagi.


"Kau itu sampah! Kau lebih memilih Cintamu dari pada pengorbanan kami!" bentak Renata lalu bangun menghempaskan tangannya ke arah Aliniya yang menghindar meliukan tubuhnya secepat kilat.


"Aku bukan budakmu!" geramnya lalu melelesat cepat menuju Renata yang juga menunggu serangannya.


Whussss...angin itu menggulung tubuh Renata yang berusaha melawan kekuatan keangkuhan ini, ia juga mengerahkan semua kekuatannya namun na'as, Sekarang Bukanlah Kinan yang ia hadapi.


Brakkk...


Aliniya mencengkram leher jenjang Renata kuat menyudutkan wanita itu ke dinding Mashion ini. Renata sudah sangat sesak akibat tekanan kuat batin Aliniya yang menyerangnya.


"Kau yang mencari masalah denganku! dan jangan salahkan aku jika aku tak mengenal kau lagi!" desis Aliniya yang menggengam erat tangannya yang sudah berkilat biru untuk meremukan dada wanita ini.


"A..Aliniya! Ka..Kau Pu..Putri i..ibu! Ka..Kau..!"


"Diamkau!" bentak Aliniya mengayunkan kepalan tangannya membuat Renata pasrah akan ajalnya hari ini.

__ADS_1


"Sayangggg!"


Vote and Like Sayang..


__ADS_2