Aku Tak Salah

Aku Tak Salah
Kesembuhan Gea!..


__ADS_3

Tatapan tajam kedua Netra mempesona itu begitu menggetarkan tungkai, keduanya tak ingin kalah dengan auranya sendiri, garis rahang yang tegas, hidung mancung, dengan alis tebal yang mencampuri wajah tampan Sang Pangeran itu begitu memukau, Netra birunya tak bisa teralihkan dari sosok gagah yang sangat menuai tanda tanya.


"Kau masih ingat aku?" suara lembut Pria bernetra merah tapi bisa berubah-ubah itu, rambutnya terpotong rapi dengan juntain kecil didekat keningnya menambah kesan Cool dan Elegan, pakaian yang membalut tubuh gagah itu begitu serasi dan kekar.


"Ke..Kenapa berubah?"


"Kau tak tahu?"


"Kakek! sumpah Kinan tak mengerti dengan semua ini!" decah Kinan kesal, terlalu banyak rahasia yang tak ia mengerti sampai saat ini.


Yang Mulia Lordse Morelius menghela nafas lembut menatap istrinya Rosyie Morelius yang lansung duduk disamping cucunya.


"Dia adalah Andreson Waintaileote, Dia Pangeran Kerajaan Cetrinealeote yang memimpin Hutan Kematian itu! dia diturunkan kesana dengan Wujud Mahluk lain yang membuat ia tak diketahui siapapun, Ibumu Dahliya yang memerintahkan Dia yang melindungimu selama kau masih tak tahu apapun Nak!"


"Ja..Jadi..!"


"Ibumu belum meninggal saat itu, dia hanya ingin membuat kau paham dan kuat dengan membiarkan Kejahatan Ambers, bisa saja kami menghancurkannya, tapi semuanya berada ditanganmu sayang!" sambung Kakek Lordse Morelius mengelus surai panjang nan hitam cucunya.


"Lalu kenapa melibatkan Suami Kinan?"


"Karna dia yang bisa menyentuh hatimu!"


Degg..


Kinan lansung bergetar dengan ucapan itu, ia menatap penuh cinta netra biru suaminya yang selalu menatapnya lembut, ia tak menyangka Exell akan berbuat senekat ini hingga mau terlibat dengan urusan sepertinya.


"Aku hanya membantu meluruskan semuanya saja! melakukan apa yang ibumu inginkan demi Kehidupanmu sayang!"


"Terimakasih El!" lirih Kinan mengelus rahang tegas itu, tatapan mereka saling menohok jantung masing-masing, desiran yang selalu membuncah membuat rasa cinta itu tak terbendung lagi.


"Kau terlalu sempurna untukku Tandingi"


Gumam Anderson yang kagum akan ketangguhan Pria Tampan itu, berapa banyak wanita yang datang selama ini, bahkan paras dan keahlian mereka tak bisa diragukan, Namun, Exell sama sekali tak gentar pada Cintanya Kinan yang begitu penuh luka dan kesakitan yang sulit.


"Kau Kak Adres-kan?"


"Menurutmu?"


Anderson mendekat kearah Kinan membuat Exell mengaurakan kedinginan dan kekelaman yang nyata, kharisma intimidasi yang kuat itu membuat Andreson mengulum senyum geli akan keposesifan pria ini.


"Kau tatap aku!"


"Tidak bisa!" Exell merangkuh bahu mungil istrinya erat membuat mereka diam dengan kecemburuan pria tampan itu.


"Yang Mulia Raja yang terhomat! tak mungkin kau cemburu padaku kan?"


Exell mengepalkan tangannya erat, ingin sekali ia mencabik wajah Tampan khas kebangsawanan milik Anderson yang begitu memukau tapi tidak untuknya, Buruk! tetaplah Buruk.


"Kau kak Adres! yah ..hey kau membohongiku ya?" pekik Kinan tak habis pikir.


Cup..


"Kau..!!!" geram Exell menggertakan giginya saat pria itu malah mengecup pipi lembut istrinya membuat dadanya panas membara.


"Cih! Terlalu Posesif!"


"Kau memang ingin mati!" geram Exell ingin turun tapi Kinan lansung membelit pinggang kekar suaminya, Baby Ars hanya diam menatap mereka polos seperti tak tahu apa-apa, tapi, Percayalah! jangan percaya dengan tatapan sendu itu.


"El! Kak Adres kakak Kinan, dia hanya bercanda sayang!"


"Aku tak suka!"


"Tapi..!"


"Tidak dan Tetap TIDAK!" tekan Exell masih membenturkan tatapan tajam mematikannya dengan Anderson yang hanya diam mencabik wajah.


"Selamat datang Yang Mulia Penerus!" ucap Anderson mengecup pipi Cuby Baby Ars yang masih merah, ia sangat terpesona dengan wajah Tampan Baby Ars yang menuruni Pahatan ayahnya, sangat sempurna dan memikat, ia mengakui itu.


"Dia tak menyukaimu!" ejek Exell sinis saat Baby Ars memalingkan wajahnya menatap pada wajah Gea yang tertunduk ditutupi masker itu.


Kedua tangan mungil itu terangkat bergerak seperti halnya bayi biasa, lidah mungilnya seperti ingin mengatakan sesuatu dengan pergerakan kakinya yang terlihat begitu lincah.


"Gea!"


"Ah iya Yang Mulia!" Gea terpaksa mengangkat kepalanya, ia tak berani menatap wajah-wajah Mahluk sempurna dan berkuasa itu karna rasa malu yang besar.


"Mendekatlah!"


"Ta..Tapi..!"

__ADS_1


"Kau tak mau menggendong Putraku?"


Gea menggeleng tak setuju, sumpah demi apapun, ia sangat ingin menyentuh kulit lembut nan merah itu.


"Sa..Saya sangat mau! Tapi..!"


"Pergilah! Yang Mulia Putri Mahkota sendiri yang memintanya!"


Gea menghela nafas halus lalu melangkah mendekati Kinan, ia hanya bisa menunduk dengan tatapan Keluarga Kerajaan padanya.


"Hati-Hati!"


Dengan ringan,Tubuh mungil Baby Ars lansung berada di tangan wanita itu, Gea bergetar saat matanya berbenturan dengan netra biru mempesona itu.


"Hay Pangeran!"


"Kau anaknya Amber bukan?"


Glek..


Gea menunduk mengangguk, ia merasa patut jika Keluarga Kinan akan marah padanya karna sikapnya yang keterlaluan.


"Sa..Saya mohon maaf Yang Mulia!"


"Kau pikir kami akan memaafkanmu? setelah perbuatan hinamu itu?"


Degg..


Gea mengembun dengan ucapan pedih itu, ia menggeleng lemah lalu ingin mengembalikan, Baby Ars ketangan Kinan.


"I..Ini!"


"Kau terlalu jahat!"


"Ha..Hamba Tahu yang mulia! kau bisa menghukum hamba seberat apapun, hamba akan menerimanya!" pasrah Gea tegas, ia sudah tak ingin lagi dihantui rasa bersalah, biarlah Asisten Dion dimiliki wanita yang lebih baik darinya, ia rela asalkan Pria itu bahagia.


"Cium Putra Mahkota!"


"Ha?" Renata dan dua cecunguk itu terkaget, apalagi Momy Chalista yang begitu terkejut, ia kira tadi akan ada pertumpahan darah disini, tapi nyatanya?


"Ya..Yang Mulia! a..aku..!"


"Kau membantahku?" tegas Yang Mulia Lordse Morelius dengan wajah datarnya.


Gea mendekatkan bibirnya dengan penuh kegugupan kekening mungil merah itu, Baby Ars hanya diam dengan tatapan yang kembali berubah tajam.


Cup..


Whusss..


Putaran angin dan kemilau cahaya kebiruan yang terpancar dari kening Baby Ars mengelilingi tubuh Gea yang begitu merasa dingin dan nyaman. darahnya mendesir hebat dengan otak yang seperti dicuci bersih dengan perasaan yang tenang.


"I..Ini..!" Gea tak bisa lagi berkata-kata saat tubuhnya yang lebih ringan dari sebelumnya, rasanya begitu plong dengan kesejukan yang ditinggalkan oleh angin tadi.


Renata dan dua cecunguk itu terkejut saat Tubuh Gea sudah kembali seperti semula, bahkan, wajah yang dulu lepuh penuh luka bakar terlihat berkilau mempesona. Netra indahnya kembali berlipat ganda dengan aura yang begitu menenagkan.


"Kau hanya tersesat sesaat! Sebesar apapun kesalahanmu tak mungkin tak bisa dimaafkan selagi kau mau berubah lebih baik lagi! Kami tak sekejam itu hingga membuat Saudari cucu kami menderita berkelangsungan!"


"Terimakasih Yang Mulia hiks hiks! Terimakasih!" Gea membungkuk hormat pada mereka dan juga Kinan yang menganggukinya.


"Sekarang! tataplah masa depanmu, jangan melihat kebelakang lagi! jadikan semua kesalahan itu pelajaran yang baik untuk kedepannya!" ucap Yang Mulia Rosyie mengelus kepala Gea lembut.


"Baik Yang Mulia!"


"Kau juga harus begitu! maaf jika Putri kami membuat hidupmu berubah, Dahliya tak ada cara lain selain menggunakan kau sebagai penuntun Aliniya, kau layak mendapatkan hal yang pantas!"


"Terimakasih yang mulia!" ucap Renata hormat, Kinan menghela nafas begitu lega, setidaknya ia bisa menyaksikan senyuman para suadarinya lagi.


"Baiklah! apa sekarang kalian ingin pulang?" tanya Anderson membuat Kakak dan Nenek Kinan mendadak lesu, mereka baru saja bertemu dengan cucu dan cicitnya disini.


"Bagaimana sayang? Terserahkau mau apa!" Exell mengecup bibir merah itu membuat Kinan terpaku diam.


"Kakek! Nenek, apa Kinan boleh pulang?"


"Ini baru sehari tapi kalian ingin pulang?" lirih Yang Mulia Rosyie lesu seraya menggendong Baby Ars yang imut.


"Kalau kalian tak mengizinkan Kinan bisa..!"


"Pulanglah sayang!"

__ADS_1


"apa Kakek tak keberatan?"


"Kami bisa mengunjungi Kalian lain waktu! lagi pula para Pria di Mashion sana sudah seperti Manusia Sakit jiwa!"


"Apa?"


Renata dan Gea saling pandang khawatir, apa yang terjadi dengan Kekasih mereka disana, sungguh, rasanya sangat sesak. apalagi Momy Chalista yang baru sadar kalau di Kerajaan ini sudah siang berarti disana malam hari.


Shit! mana bisa pria itu tidur tanpa dirinya.


"Baiklah kalau begitu! Kalian bisa pulang, dan kau cucuku, Jadilah ibu dan istri yang baik!"


"Siap Kakek!"


Kakek Lordse Morelius dan Nenek Ratu Rosyie pamit pergi setelah mengkeloni Cicitnya itu.


.......


Dikamar yang sunyi yang hanya ditemani lampu tidur itu terlihat 3 Pria sedang menatap langit kamar mereka dengan sangat suram, wajah Tampan yang sendu dengan tatapan yang penuh kerinduan.


Gejolak perasaan itu membuncah saat sudah seharian ini mereka tak mendapat kabar apapun, bahkan rasanya Merindu ini sangat berat dari rasa lain.


"Kapan Momymu pulang Riel?"


"Aku mana tahu dad! aku sendiri pusing sekarang!" decah Gebriel kesal bukan main, sedari tadi Dady Arkan-lah yang paling menyebalkan, Pria paruh bayah itu seperti pengantin baru saja yang tak bisa diam.


"Aaaaa Bisa gila aku kalau begini!" Teriak Asisten Dion mengacak rambutnya frustasi. mereka sekarang sedang berbaring diatas Ranjang King Size Gebriel dikamar pria itu, sedari pagi mereka menunggu, bahkan makanpun tak lagi mereka pikirkan hanya demi menanti sang belahan hati.


"Dad! kau punya kekuatankan?"


"Kau mau Kentut dady hm?"


Pugh..


Gebriel menoyor bahu kekar pria itu kesal, bisa-bisanya pria ini membuat hatinya panas.


"Dad! aku serius, kaukan pernah bergabung dengan Dunia gelap, pasti punya kekuatan bukan!" kekonyolan Gebriel mulai meruak membuat dua pria tampan berbeda usia itu merotasi malas.


"Dady bukan setan boy! kau bisa ku lempar ke balkon nanti!" geram Dady Arkan bukan main. apakah Mafia itu harus memiliki Kekuatan semacam itu? seharusnya iya, tapi ia hanya punya tenaga dalam saja dan kelihaian beladiri lainnya.


"Dad!"


"Hm!"


Gebriel menyalangi tubuh kekar Dady Arkan manja, sudah biasa ia seperti ini saat kecil, bahkan ia tak sungkan mengetek pada pria ini.


"Kau sudah besar tapi masih suka tidur dibawah Ketek hm?" gemas Dady Arkan menepuk jantan punggung putranya, Gebriel hanya terkekeh membayangkan bagaimana percintaan dadynya dulu.


"Aku tak menyangka kalau dady akan hidup sampai aku sebesar ini!" canda Gebriel mengadah menatap wajah Tampan pria paruh bayah itu, kepalanya tetap diatas dada pria itu seperti layaknya bocah.


"Hey! kau jangan sembarangan, Momymu bisa marah jika kau bilang begitu!"


"Momy tak ada dad! kalau El Adik kutuku itu ada disini, pasti mulutnya lebih pedas!"


"Terserah kau saja! Dady akan hidup selama Momymu hidup! kami satu ikatan!"


"Hm aku tahu! kalian memang sangat serasi sampai kapanpun!"


Asisten Dion hanya diam memperhatikan kedekatan kedua ayah dan anak itu, ia sangat iri karna tak memiliki keluarga seutuh itu.


"Hey Udin!"


"Ah iya Tuan!"


"Kukira kau sudah diculik Wewek Gembel diam-diam saja! ayo kesini!"


"Kemana Tuan?"


"Bergabunglah! anggap saja kau pengganti Adik Kutuku itu!" ucap Gebriel menarik tangan Asisten Dion mendekatinya.


Dady Arkan juga tak masalah dengan pria itu, ia sudah menganggap Asisten Dion seperti layaknya Gebriel dan Exell karna sedari kecil, mereka terus bersama.


"Kapan kalian menikah?"


"3 hari lagi!"


"Ha?"


Pekikan keras dua manusia yang berdiri diambang pintu sana membuat ketiga pria itu lansung terlonjak kaget bukan main.

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2