
Mereka menahan nafasnya menatap wajah cantik wanita yang masih datar dengan kilatan murka itu, ia tak merespon gengaman Suaminya yang mengerat kedalam jari-jari lentiknya.
"Sa..Sayang!" lirih Exell memohon, ia sudah tak bisa membendung rasa sesak didalam dadanya dengan tatapan sendu itu.
"Aku rasa kau yang tak pernah mengerti tentang aku!"
"Sumpah sayang! aku tak pernah ingin membodohimu, aku..aku tak bermaksud untuk menghinamu! aku hanya..!"
"Tapi kau Tak pernah mengerti aku!" lirih Kinan menyentak kasar tangannya dari gengaman Exell yang terlepas.
Genagan yang tadi dibendung kelopak netra itu akhirnya Turun dengan sendirinya, dadanya sudah bergemuruh sesak menahan rasa sakit yang tiba-tiba naik membuatnya sulit bernafas.
"Aku rasa kau tak pantas untuk putriku!"
Brakk..
Exell meninju pohon besar yang ada disampingnya hingga permukaan kayu itu remuk dengan guncangan yang kuat, netra Elangnya berkabut kelam dengan gertakan gigi yang nyata.
Mereka menunduk tak berani memandang rupa Exell yang seperti iblis menatap Ratu Dahliya dengan amukan yang begitu luar biasa.
"Kau yang mengatakan kalau aku harus diam untuk membantu istriku mencari jati dirinya! dan sekarang, kau malah menghancurkan hubungan kami!" bentak Exell menyala-nyala membuat desiran angin kuat yang membuat suasana begitu mengerikan.
apalagi dengan kilatan cahaya petir diatas sana menyambut amarah Exell pada Sang Ratu yang tak pernah mereka mengerti jalan pikirannya.
"Kau Tak pantas untuk putriku!"
"Kauu!!!!"
"Diam!" Suara Kinan lantang, wanita itu tampak frustasi ditengahi oleh masalah yang membuat ia lemas ini.
"Ibu!"
"Iya Nak!"
"Aku ingin pulang!"
Ratu Dahliya menyunggingkan senyum misteriusnya, ia menatap wajah kelam Exell yang tampak tak bisa lagi berkata-kata.
"Ayo Nak!"
Grep..
Exell lansung menggendong Kinan kepelukannya dengan ringan, ia menjauh dari Ratu Dahliya yang ingin mengambil istrinya darinya.
"Kau tak bisa membawanya!"
"Kinan!"
Exell mengeratkan belitannya ketubuh molek itu dengan nafas yang memburu, ia tak bisa membendung gejolak ini lebih lama.
"Lepaskan!"
"Tidak! kau tak akan pernah bisa pergi dariku!"
Whuss..
Exell terkejut saat tubuh istrinya malah menghilang dari dekapannya dan ternyata telah berdiri disamping Adres yang terlihat menatapnya rumit.
"Kinan hiks hiks! aku mohon..kau jangan begini sayang!" isak Exell luruh, ia tak tahan berada dikondisi seperti ini, istrinya? cintanya? semua yang ada didalam dirinya sudah terpaut dalam dengan wanita itu, apalagi Kinan juga akan mendekati Persalinan dari buah hati mereka.
"Aku akan kembali saat aku sudah menjadi kuat seperti yang kau inginkan!"
"Tidak! hiks hiks..Tidak aku mohon, jangan tinggalkan aku! aku tak ingin kau kuat hiks hiks..aku hanya ingin kau tetap bersamaku!" teriak Exell histeris, netanya sudah memerah karna menagis, ia tak perduli dengan citranya dihadapan mereka semua.
yang ia tahu, istrinya tak akan pernah meninggalkannya lagi untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Kenapa jadi begini?" lirih Gea menitihkan air matanya, sungguh, ia tahu sebesar apa Cinta kedua mahluk sempurna itu, lalu kenapa Ratu Dahliya dengan teganya memisahkan keduanya.
"Kau merahasiakan semuanya karna ingin aku menjadi Aliniya-kan? wanita yang Tangguh yang mengaurakan kekuasaan, aku tak pernah menyadari itu sedari awal! dan terimakasih kau telah mengingatkannya.!"
"Kinan hiks hiks! berhenti hiks hiks jangan bicara begitu sayang! aku tak pernah menginginkan itu!" jerit Exell histeris, ia ingin sekali mencabik wajah cantik dan angkuh wanita paruh baya itu, tapi semuanya akan rumit jika ia lakukan itu.
"Aku ingin pulang!"
Kinan mencengkram erat Gaun malam yang ia pakai, bahkan kehangatan dari Jaket Exell yang membalut tubuhnya masih membuatnya ingin berteriak.
"*Ibu!"
"Dia yang menyetujui ini Putriku! Ucapanya adalah pernyataan yang Mutlak bagi alam karna dia adalah suamimu!"
"Tapi..Tapi Kinan tak tahan!"
"Ini hanya sebentar! hanya sampai beberapa hari saja, Itu Tantangannya bukan?"
"Hmm*!"
Kinan berusaha tegar, ia tak ingin terlihat seperti masih menginginkan Exell yang sudah meraung-raung memanggilnya untuk kembali.
"Sayang! kau...kau pulang bersamaku! kita..kita..!"
Whuss..
"Kinan!!!" Teriak Exell histeris melihat 3 Mahluk itu hilang didepan matanya, ia bangkit untuk mencari kemana istrinya pergi.
"Brengsek!!! Kembalikan dia padaku!" teriak Exell kuat, ia tak perduli dengan kerongkongannya yang bisa saja sakit nantinya.
"Tuan!"
"Cari! Cari kemana mereka membawa istriku?" titah Exell lansung pada para anggotanya dan juga Asisten Dion yang lansung mengerjakan titahan Tuannya.
Tapi, genggamannya ketangan lembut Gea tak terlepas seraya melangkah menuju Helycopter nya tadi.
"Ratu Dahliya tak akan melakukan sesuatu kalau tak ada Maknanya!"
Mereka menaugkan alinya, sebegitu kenalkah wanita ini hingga tahu sifat wanita angkuh itu?
"Memangnya apa yang ku lakukan ha? kalau tahu begini, aku tak akan pernah membantunya!" bentak Exell menyala-nyala, ia merasa tak pernah melakukan apapun yang membuat semua ini runyam.
"El! lebih baik kita pulang! mungkin Kinan pulang ke Mas..!"
Whuss..
Gebriel terbengong saat Exell yang sudah melesat berlari menuju Helycopter mereka sebelum kalimatnya selesai.
"Ayo pulang!"
"Mom!"
Degg..
Gebriel baru ingat kalau Renata sudah terikat dengan bocah itu, ia tak mungkin memisahkan kedua manusia ini dengan hubungan yang kuat.
"Kau pergilah! Terimakasih atas bantuanmu!" ucap Renata tersenyum tulus, sumpah demi apapun, ia mempunyai rasa pada Gebriel, tapi tak mungkin bagi mereka untuk bersatu dengan kehidupan kotornya.
"Kau tak mau ikut aku?"
"A..Aku..!"
Grepp..
Renata terpekik saat tubuhnya melayang dan terdekap dalam pelukan tubuh gagah itu.
__ADS_1
"Kau..!!"
"Kau ikut aku!"
"Tapi Carl!!"
"Aku pinjam putramu! kau fokus saja mengembalikan ingatan istrimu, bila perlu kau tak perlu muncul lagi" ketus Gebriel seraya menarik tangan mungil Carl untuk ia gendong ditangan sebelah kiri dengan Renata disebelah Kananya.
Tubuhnya yang berotot dan gagah tak menyulitkannya untuk mengendong dua orang sekaligus.
"Kau! apa-apaan ini?"
"Diamlah!"
Gebriel dengan santainya meninggalkan dua manusia yang menatapnya sendu, Thomas merasa miris dengan Carl yang tampak lebih nyaman dengan Gebriel dibanding dirinya.
.....
"Ibu!"
"Hmm!"
"Ki..Kinan!"
Ratu Dahlya mendudukan tubuh putrinya keatas kuris empuk didalam kediamannya ini, ia mengambil segelas cangkir dengan air berwarna kehijauan pekat itu.
"Minumlah!"
"I..Ibu..!"
"Kinan!"
Wanita cantik itu lansung meminum apa yang diberikan Ratu Dahliya, namun ia serasa ingin muntah merasakan pahit, asam itu menyentuh lidahnya.
"Hoekmm! i..ibumm!" Kinan membekap mulutnya yang ingin memuntahkan isi perutnya, Ratu Dahliya menggeleng-geleng melihat kemanjaan putrinya ini.
"Rupanya putriku sudah terlalu dimanjakan Pria Tampan menyeramkan itu ya!" ucap Ratu Dahliya seraya menekan mulut Kinan untuk menelan ramuan yang ia racik itu.
Glek..
El!!! hiks hiks.. ini pahit sayang!
jeritan batin Kinan bukan main membuat Ratu Dahliya geli bukan main, ia sama sekali tak menduga, pria itu begitu jatuh dalam pesona putrinya, begitu juga sebaliknya.
"Ibu!"
"hm!"
"Besok Kinan pulang ya? El bisa sakit lama-lama Kinan tinggalkan!"
"Biarkan saja!"
"Ibu!" pekik Kinan tak tahan, sekarang saja ingin sekali ia bertemu pria itu.
"Kau ingat apa yang pernah ia katakan?"
Kinan membelalakan matanya mengingat apa yang pernah Exell katakan dimasa lalu, ternyata ibunya sangat pendendam dan menurun padanya.
"Tapi itu..!"
"Biarkan dia belajar menyaring ucapan! lagi pula, kau harus belajar menjadi ibu karna kau sebentar lagi akan lahiran sayang!"
Mereka sedari bertemu tadi memang saling membatin, dan Kinan harus menurut saat ibunya meminta untuk melakukan itu semua.
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..