
Kemerlap lampu malam yang menerangi dekorasi indah dibelakang Mashion megah itu terlihat memukau mata, namun, mereka bingung kenapa dekorasi ini harus mendominasi warna hitam, bukannya acara Pernikahan seharusnya berwarna begitu ceria, ini malah terlihat Pesta kematian.
"Mom!"
Carelo menggenggam tangan lembut wanita cantik yang tak memakai baju pengantinya, wanita itu hanya memakai Kemban hitam dengan rambut panjang yang terurai menampakan wujudnya yang begitu memukau, mereka terkagum akan wanita satu itu.
"Mom!"
"Hmm! apa baby?"
"Carl tak suka Momy memakai ini! seharusnyakan Momy memakai Pakaian yang bagus Mom!"
Renata tersenyum miris, ini bukanlah acara Pernikahan, tapi sebuah Ritual dimana ia akan terikat dengan Pria itu untuk selamanya, bukan menjadi istri, tapi sebagai Budak yang akan tunduk dibawah kakinya.
"Sudahlah! Carl bisa masuk kedalam kamarmu ya sayang!"
"Tapi Carl ingin Momy menemani Carl!"
"Mengertilah Nak! pergilah, nanti Momy menyusul setelah Acaranya selesai!"
"Momy! Carl ingin melihat Momy duduk diatas sana dengan Dady Carl! tapi bukan dia Mom!" rengek Carl menguncang lengan Renata yang hanya diam dengan perasaanya sendiri.
"Carl Sayang! Dia dady Carl bukan?"
"Tidak!"
Mereka semua sungguh prihatin dengan wanita cantik dan Tuan Mudanya itu bagaimana tidak? seorang pria gagah yang akan menuai janji suci yang mereka pikirkan itu sudah datang dengan pakaian bisa tanpa Jas sama sekali.
"Kau sudah siap hm?" Thomas menyeringai licik menatap Renata yang menunjukan wajah datarnya, Carl bersembunyi dibalik tubuh molek itu karna tatapan Thomas yang menghunus jantungnya.
"Lakukan!"
Renata memberikan Carl pada Pelayan yang siap sedia dibelakang Nyonyanya, langkah kaki jenjang itu begitu anggun menuju awalan lingkaran didepan sana didepan sana.
Thomas bersiap di posisinya tepat didekat lingkaran api yang menerangi gelapnya malam ini, deretan bunga mawar hitam yang mengelilingi kobaran api itu tampak melebar saat Thomas memejamkan matanya dengan pikiran yang kosong.
Whusss...
Deraian angin yang tadinya tenang perlahan menguat dengan kobaran kain merah dan hitam yang diikatkan pada Kayu bercabang didekat Renata itu.
Pendeta yang akan melangsungkan Pernikahan ini tertegun atas apa yang ia lihat, bukanlah Cinta dan Mahligai Rumah tangga yang akan dibina Pria itu, tapi Perbudakan yang seakan mengalir dinetranya.
"Tuan! anda..!"
"Aku ingin melakukan Ritual ini terlebih dahulu! setelah itu, baru aku akan menikahinya!"
Pendeta itu mengangguk menuruti ucapan Thomas, ia berdiri diatas Altar yang disediakan untuk prosesi selanjutnya.
"Letakan tanganmu!" Thomas menarik tangan Renata kasar menuju kobaran api yang menyala-nyala itu, Renata meringis saat rasa panas itu mengalir diseluruh kulitnya.
__ADS_1
"Momy!" teriak Carelo meronta-ronta dibelitan tangan pelayannya, ia tak terima Momynya malah diperlakukan seperti itu.
Whusss..
Cetasss...
Gelundukan petir dan angin yang berputar nyaring membelah dinginnya malam, Renata mengigit bibir bawahnya menahan sakit saat tangannya dipaksa masuk kedalam kobaran api itu.
"Sebentar lagi!" gumam Thomas menyeringai iblis, ia mengambil belati runcing diatas kelopak mawar hitam itu dan menyayatkannya ketelapak tangannya.
Srett..
Mereka meringis saat tangan kekar itu berdarah menetes kekobaran api yang semangkin lama semangkin besar membuat Renata tak tahan.
"Ahmm ssssakitt!" desis Renata dengan tangan yang hampir melepuh, ia ingin menagis akan gejolak rasa ini tapi sekuat tenaga ia tahan.
"Giliranmu!"
Thomas mencengkram kuat telapak tangan merah itu dan mengarahkan Belatinya untuk melakukan hal yang sama.
Whusss..Brughh..
Thomas terhunyung akibat serangan dari seseorang yang tiba-tiba datang menggagalkan Ritual perbudakannya.
rahang pria itu mengetat melihat sosok wanita yang berdiri disamping Renata dengan masker yang menutupi wajah lepuhnya.
"Beraninya kau!" Gertakan gigi itu beradu nyaring tapi tak membuat wanita itu gentar.
"Cih! kau yang mengantarkan dia padaku, jangan sok menjadi orang suci!"
Renata menatap netra Gea yang sudah berapi-api, ia takut, Wanita ini akan terluka jika Thomas sudah murka memporak-porandakan segalanya.
"Kenapa kau malah datang ha?" bentak Renata pada Gea yang tak perduli, wanita itu masih bertolak batin dengan Thomas yang sudah naik darah.
"Kau tak ada dalam Perang ini! aku yang memulainya maka aku yang bertanggung jawab menyelesaikannya!"
Thomas berdiri dengan seringaian iblis itu, ia menatap Gea dengan penuh bara dengan tangan yang terkepal erat.
"Baiklah! kalian berdua yang akanku perbudak!" tegas Thomas lalu mengepalkan tangannya menuju gumpulan angin yang tadi bergulung diatas sana.
Whusss...Whusss..
"Bawa Carel masuk!"
"Momy hiks hiks! Tidak Mom!" isak Bocah itu tak mau, ia masih berusaha menggapai tubuh Renata yang terasa begitu panas dan juga sakit.
"Cepat bawa dia!"
"Baik Nyonya!"
__ADS_1
Whuss..Bruakkkk..
Para pelayan itu terlempar akibat terpaan kuat dari hempasan tangan kekar Thomas yang sudah kelam dikuasai amarahnya, Renata meneggang saat tubuh Carelo terlempar kekolam dalam disamping taman sana.
"Carl!!!!"
Whuss..
Renata melesat menyambut tubuh mungil itu, Kemban yang ia pakai terkibar menampakan paha putih mulusnya yang menggiurkan.
"Ba..Baby kau..kau baik-baik sajakan Sayang?" Renata menepuk pelan pipi pucat Carelo yang sudah tak sadarkan diri, memar biru disamping dada bocah itu membuat Renata sakit dan sangat tersayat.
"Apa kau sudah gila ha? kau melukai putramu sendiri brengsek!!!" Bentak Renata menyala-nyala, Thomas bukannya prihatin ia malah tertawa diselingi asap hitam yang menyelumbungi tubuhnya.
"Aku tak pernah menganggap dia anakku! dia sudah membunuh istriku!"
"Mo..Momy!" lirihan nyeri itu keluar dengan satu tetes cairan bening yang melewati pelupuk netra beningnya.
"Dia hanya bercanda baby!" lirih Renata mengembun, betapa sakitnya hati bocah ini saat ayahnya sendiri sedari kecil tak pernah menganggap ada.
Senyum miris itu terukir dibibir mungilnya, tangan kecilnya terangkat mengelus pipi lembut Renata yang basah akibat lelehan bening itu yang sudah meruak keluar.
"Ca..Carl tak..tak punya dady Mo..Mom!" Renata menggeleng dengan bibir bergetarnya.
"Ja..Jangan tinggalkan Momy sayang hiks hiks!"
"Ca..Carl sayang Mo...Momy!" Renata membulatkan matanya saat memar biru itu malah melebar menekan dada kecil itu,
"Carl! Ca..Carl.. Sayang! heyy..baby hiks hiks Carl!!" teriak Renata histeris mengguncang tubuh mungil yang sudah dingin itu.
"Kau begitu menyayangi dia ya?" decih Thomas memainkan belati ditangannya, mendengar itu kepalan ditangan Renata menguat dengan gertakan gigi yang beradu nyaring.
"Manusia Bajingan!!" bentak Renata lalu melesatkan serangan beruntun ketubuh Thomas yang menghindar dari hujaman asap hitam itu.
ia berbalik dengan tatapan yang sudah menghitam membuat Gea tersentak, bola mata pria itu tak lagi seperti biasa tapi lebih pada dikuasai sesuatu.
Whuss.. Duarr..
Serangan membabi buta itu saling melancar dengan kehancuran yang mengelilingi tanah luas ini.
Gea berlari menyelamatkan tubuh Carl yang bisa saja terkena tubian panas itu.
"Renata! kendalikan dirimu!" teriak Gea yang melihat Renata dan Thomas yang sudah seperti iblis saling haus akan darah masing-masing.
Kobaran api tadi semangkin menyala-nyala dengan lilitan mawar hitam yang mulai bergerak menyelumbunginya.
anggota Thomas berdombong keluar dengan Netra yang sama seperti Tuannya, Gea berdiri dipertengahan lapangan untuk melindungi Palayan-Pelayan Mashion lain yang sudah berhambur ketakutan akan ledakan besar ini.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..