
Duarrrr...
Ledakan besar terjadi karna Aliniya menyerukan sang Cakrawala untuk mengoyak tubuh Nyonya Ambers luluh lanta.
Gea menatap nanar cabikan tubuh Momynya bungkam, tanpa sadar air matanya lolos begitu saja menatap ledakan besar itu. Mashion Sinmart rubuh seluruhnya ke tanah akibat kemarahan Aliniya akan kata kata Nyonya Ambers yang tak sepantasnya di ucapkan sebagai seorang ibu.
"Uhukk! A..Akhirnya!" gumam Renata tersenyum begitu berbinar melihat Kinan dan Aliniya yang sudah menyatu, ia tak melihat lagi perebutan jiwa di Netra indah itu, ia hanya melihat Keangkuhan, Kelembutan dan Kesatuan jiwa yang utuh.
"Ellll!" teriak Momy Chalista yang sudah terlepas dari Kurungan Kegelapan itu membuat kefokusan mereka kembali kepada kelopak mawat biru besar yang membungkus tubuh gagah itu.
"Boy hiks hiks! Kau dengar Momy kan Sayang?" Momy Chalista menepuk pipi membiru pria itu dengan isak tangis penuh lukanya.
Dady Arkan hanya bungkan merangkuh tubuh bergetar istrinya, Aliniya berbalik, ia melangkah mendekati Peraduan Pangerannya itu.
Dengan penuh kelembutan tangannya terulur mengelus pipi pucat kebiruan yang membuat pria ini seperti Pangeran es yang beku.
Whusss...
Perlahan angin pelan membuai itu mengitari peraduan Exell, kuntum kuntum itu kembali membungkus tubuh gagah itu rapat, Momy Chalista menatap wajah cantik Aliniya yang terlihat tersenyum membelai kelopak mawar lebar itu.
"Aku mengijinkanmu!" Mendengar kata itu beralun merdu, Kuntum Mawar itu bercahaya menyilaukan mata mereka, tangkai mawar itu terjulur menjulang tinggi menuju lingkaran Galaksi yang tiba tiba kembali menebarkan bintang yang mengelilingi kelopak mawar yang terkuncup itu.
Gebriel sungguh terpesona dengan keindahan cahaya kemilau yang berasal dari kuntum biru bak pelita terang itu, desiran angin yang sangat halus seakan bersenyayu seiring dengan kelopak mawar yang terbuka lebar.
Whusss..
Aliniya menaikan tangannya keatas untuk membuat tangga untuk kaki kegagahan itu turun menuju Mahligai Cinta dibawah ini.
"Wowww!" pekik Serly dan Vina terngangak melihat siapa yang telah berdiri dengan Pakaian Khas kerajaan yang sangat berwibawah dengan jubah kebesaran itu, Naga berkepala biru terlihat mengukir bagian sualaman kain yang berkibar akibat terpaan angin malam ini.
"Yang Mulia!" Renata dan Adres yang tiba tiba datang lansung memberi hormat pada sang pemimpin dari Cinta tulus Putri Mahkotanya.
Aliniya menatap penuh cinta sorot mata Elang yang begitu memukau saat ini, aura Ketampanan dan Kekuasaannya meningkat sering dengan kaki tegas itu melangkah menapai kelopak- kelopak mawar yang menyerukan wangi bagi tubuh kekarnya.
"Elll!" Momy Chalista berhambur memeluk Exell yang juga membalasnya, tapi netra biru Pria itu tak lepas dari netra indah sang belahan jiwa yang saling tatap lembut dengannya.
"Aku tak apa apa Mom!" Momy Chalista mengecup kening putranya lembut lalu mengiring Exell mendekati Aliniya yang masih berdiri dengan anggunnya dengan tatapan tak terputus itu.
"Aku bersaksi akan Cinta Kalian!" ucap Momy Chalista lantang seakan ikut terhanyut dalam buaian sepasang kekasih ini.
"Aku juga!"
"Aku Juga!" Serly. Vina dan Jordan yang mengelilingi sepasang pasutri penguasa ini, Aliniya menatap Gea dan Renata yang sama sama memiliki sisi berbeda.
"A..Aku Juga!" lirih Gea dengan wajah yang tertunduk, entah apa yang dipikirkan wanita itu sekarang dengan tubuh yang seperti panggangan daging.
"Kami bersaksi yang Mulia! Tak ada Cinta yang setulus Kinan, tak ada sayang yang seindah Kinan dan tak ada Kekuasaan yang sekuat Aliniya Kinan Sinmart!" ucap Adres lantang bersamaan dengan Renata yang menganggukinya.
Itulah peraturan Kerajaan, Kinan sudah resmi menyandang gelar namanya sendiri hingga tak perlu embel embel nama ibu suri yang selama ini menuntunnya
__ADS_1
Exell tak bisa lagi membendung rasa cintanya, ia menarik lembut lengan halus itu untuk jatuh kepelukan hangatnya.
Grepp..
Lengan kekar itu membelit lembut pinggang ramping nan Seksi milik istrinya, tatapan keduanya terkunci dalam dengan guratan cinta yang membuncah ruah. perlahan wajah sempurna keduanya mendekat dengan tatapan Pria itu terkunci pada bibir Sensual yang menggoda itu.
"Stopp!" Gebriel menghentikan pertubrukan Nikmat itu, nafasnya sudah ngos ngosan membayangkan dua benda kenyal menggoda itu bertemu saling mendecap membuat ia merinding meroma remang.
"I..Itu!" Gebriel aggak gugup dengan tatapan tajam Exell padanya, ia mempunyai ide saat Tuan Sinmart sudah sadar dari baringannya tadi.
"Ah itu! Uncel Sinmart, Yah!" Gebriel menggandeng Tuan Sinmart untuk mendekati mereka yang hanya menggeleng geleng saja.
"Ayah! apa kau baik baik saja?" Tuan Sinmart mengangguki ucapan lembut putrinya, ia masih tercengang dengan Mashion besarnya yang rubuh tak ada yang berdiri lagi.
"Maaf!" Tuan Sinmart menatap lembut wajah lesu putrinya yang merasa bersalah, Pria paruh baya itu tersenyum melihat aura di netra dan tubuh mempesona ini yang telah menyatu erat.
"Tak apa Sayang! yang penting kita selamat hm?"
Aliniya mengangguk memeluk Ayahnya, Perlahan Pakaian keduanya kembali seperti semula, tapi masih tampak memukau mata.
"Tuan! Mobilnya sudah siap!" Asisten Dion mengurus semua perlengkapan pulang Tuannya, ia juga telah mengurus para anggota yang telah terluka parah.
"ayo kita pulang!"ajak dady Arkan yang menggandeng istrinya melangkah meninggalkan tempat ini.
"Aliniya! kau harus..!"
"Dia ikut bersamaku!" sambar Exell menatap tajam Adres yang sedang memapah Renata yang tampak lemah.
"Apa Kak?"
"Dia!" Adres menunjuk Gea yang sedang merintih kesakitan dengan luka bakar yang ada disekujur tubuhnya, memang sedikit mengibakan, tapi, perbuatan gadis itu membuat mereka jijik untuk menyentuhnya.
"Bawa dia denganmu!"
"Tapi Aliniya..!"
"Bawa saja! kalau dia membuat ulah lagi baru kita basmi!"
Adres dan Renata mengangguk patuh, mereka menghilang dengan hembusan angin yang menyertainya, sekarang, tinggalah Aliniya dan Exell yang kembali saling tatap dengan gejolak perasaan masing-masing.
"Sayang!"
"hmm!"
"Kita pulang?"
"Yah terus apa?" tanya Kinan yang menatap lembut wajah tampan suaminya yang terlihat berkalilipat lebih tampan dari biasanya.
"Hm! aku pikir kau mau meratakan tempat ini?" goda Exell mengecup kilas bibir merah istrinya yang tampak begitu menggoda baginya, ia tak menyangka, Kemarahan wanita ini begitu besar hingga meluluh-lantahkan tempat seluas mata memandang ini.
__ADS_1
"Sudahlah! ayo kita pulang!" Namun, Exell malah menarik tangan istrinya lembut hingga kembali jatuh kepelukannya, lengan kekar itu membelit pinggang ramping istrinya lembut.
"Apa lagi hmm?"
"Kemana Elnya Kinan?" wanita itu terkekeh akan ucapan suaminya, ia baru tahu kalau wajahnya terlalu dingin dan tak seperti Kinan yang mencintai suaminya ini.
"El sayang! Kinan mau pulang, ngantuk sayang!" ucap Kinan begitu mendayu-dayu ditelinga Exell yang terasa ingin berteriak mengungkapkan rasa didadanya.
"Ahhh Baiklah Baby! Kita pulang!" Exell menggendong Kinan dengan sangat ringan, langkahnya diselingi goda'an kasih sayang itu, sesekali ia memutar tubuhnya membuat separuh jiwanya itu terpekik kaget.
Kemesraan itu membuat Asisten Dion menggeleng-geleng dengan wajah yang merah malu, ia tak menyangka, kehidupan datar Tuannya dulu akan berubah secerah pelangi begini.
"Udinnn!"
"Sayang!" pekik Exell menepuk bokong istrinya yang kelewat menggoda itu, sepertinya sangat senang melihat dirinya panas.
"Ell! Kan Kinan hanya menyapa! apa salahnya?" goda Kinan mengulum senyum geli melihat wajah masam suaminya ini.
"Tuan kau..!"
"Pulang!" ketus Exell melangkah masuk kedalam Mobilnya, ia menggerutu kesal akan kelakuan istrinya yang terus memanggil-manggil Asisten Dion.
"Udin!"
"Yah Nyonya?" Asisten Dion sudah terbiasa akan panggilan itu.
"Udin!" panggil Kinan lagi seraya memanyun-manyunkan bibir suaminya yang membuat ia ketagihan.
"Udin! Kau..!"
"Sayang! Sudahlah, telingaku panas mendengarnya!" kesal Exell merotasi malas, ia tak habis pikir dengan kejahilan wanita ini.
"Elll!" bisik Kinan lembut, sangat berbeda dengan panggilan ia tadi.
"Elll! Exell Sayangg!" Exell bersemu mendengar namanya yang begitu indah dan penuh rasa keluar dari mulut cantik itu.
"Ell!"
"hmm!"
"Kinan mencintai El!" bisik Kinan mengecup lama pipi pria itu lalu mulai memejamkan matanya yang sudah dilanda kantuk berat.
Exell tersenyum lembut melihat kelakuan istrinya, ia mengecup bibir merah itu penuh rasa lalu memperbaiki tidur istrinya aggar tubuh gadis ini tak pegal nantinya.
"Aku juga mencintaimu Sayang!" bisik Exell tak kalah mesra, ia mengelus surai hitam itu lembut menikmati aroma Mawar yang begitu menenagkan jiwa.
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1
maaf ya , author jarang up. soalnya hari ini author sakit sayang, mohon maaf nyak😖😪