
Mobil yang di bawa Asisten Dion lansung melesat mengikuti Mobil sang incaran perangkap kelicikan Tuan Mudanya ini. ia tadi bersimpangan dengan Mobil gadis itu.
"Kau cari tahu dimana Istriku tinggal!" titah Exell pada Bian yang terhubung dengan Earpeach yang ada di telinga mereka.
"Baik Tuan!"
"Tuan! Sepertinya Nona pergi ke Kediaman Tuan Sinmart!"
"Ikuti dia! jangan sampai dia tahu!"
"Baik Tuan!"
Exell melihat layar ponsel pintarnya, ia sudah meretas semua CCTV di Kediaman Sinmart untuk memantau kemana kamar gadis itu nantinya.
"Hmm! Kau semangkin menantangku Sayang" gumam Exell menyeringai licik, ia sungguh suka mendengar ketusan dari mulut indah itu, ingin sekali ia menagup mengulum lembut bibir merah Natural itu dengan penuh cinta, tapi ia harus menahannya karna Gadisnya sekarang bukan lagi gadis biasa yang begitu mencintainya.
.....
"apa kau bawa obat ayah?" tanya Renata melihat tas kecil di pangkuannya, ia lupa kalau Obat yang kemaren ia cari ternyata dibutuhkan malam ini.
"Sudahlah! aku menyiapkan segalanya!" Aliniya menunjukan bungkusan kecil di tasnya, ia memakai Dress hangat yang menutupi kulit tubuhnya tapi masih terkesan Elegan dan Seksi karna tanpak ketat.
"Ingat! jangan termakan akan hasutan mereka, kelicikan itu harus dibalas dengan kelicikan!"
"aku tahu!"
Setelah beberapa lama mereka sampai kedalam Gerbang besar Kediaman Sinmart, para penjaga Mashion ini berjejer rapi menyambutnya.
"Kenapa?" Renata bingung melihat Aliniya yang berhenti melangkah tepat di depan pintu besar ini.
"Kenapa aku merasa dia disini?"
"Yang Mulia?"
"Aku baik baik saja!" ucap Aliniya menunjukan wajah tenangnya dengan mata yang kembali fokus menatap jejeran orang dihadapannya. terlihat sekali guratan ketidak sukaan itu terpancar di raut wajah mereka.
"Selamat datang Nona Muda!"
"hmm! lanjutkan pekerjaan kalian!" ucap Renata datar, ia melangkah masuk mengiringi langkah anggun Aliniya yang sudah terlebih dahulu berjalan menuju tangga kecil disana.
"Nakk!" Aliniya terkejut saat melihat Pria paruh bayah ini masih terjaga jam segini, ia menggeleng geleng menatap Tuan Sinmart yang tampak menunggu kedatangannya sedari tadi.
"Kenapa ayah belum tidur hmm?" Tuan Sinmart tersenyum geli melihat wajah kesal Aliniya yang sangat mirip dengan Dahliya istrinya.
"Ayah menunggumu!"
Dada Aliniya mendesir hangat mendengar ucapan Tuan Sinmart, matanya menatap lembut wajah polos ini.
"Ayah polos sekali! pantas saja banyak masalah yang menimpa keluarga ini!"
"Baiklah! sekarang putri ayah akan membawamu tidur! tidak baik begadang hmm?"
"Sesuai perintahmu!" jawab Tuan Sinmart menggandeng lengan lembut putrinya menuju kamarnya dilantai atas sana, Renata menatap haru kedekatan dadynya dan putri yang seharusnya.
"Yang Mulia! aku bersumpah akan menyatukan segalanya sesuai dengan amanahmu!"
....
"Ayah!"
"hmm! ada apa Nak?"
"kemana istrimu?"
Tuan Sinmart berhenti diambang pintu kamarnya mendengar pertanyaan Aliniya, ia tampak menghela nafas berat lalu menatap lembut wajah cantik Aliniya.
"Dia tak tidur disini!"
Aliniya sungguh terkejut mendengar ucapan Tuan Sinmart yang menurutnya tak masuk akal.
"Ayah! bukannya istri keduamu itu seharusnya tinggal di kamar ini?" tanya Aliniya seraya melangkah halus menyusuri lekuk kamar yang luas milik ayahnya ini.
ia tertegun akan satu simbol yang terpajang tepat di dinding beton yang dirangkap membingkai seperti musium.
"Itu bunga kesukaan Dahliya ibumu!"
"Benarkah?"
"hmm, Yah!" Tuan Sinmart tampak murung dengan wajah yang tak bersemangat, Pria itu terlihat mengemban rindu yang mendalam terhadap Sang istri yang sudah sedari dulu meninggalkannya.
"Ayah!" Aliniya menagkup pipi Sang ayah dengan lembut, ia mengiring Tuan Sinmart untuk duduk di pinggir ranjang King Size yang mendominasi warna biru itu.
"Ceritakan tentang ibu!" pinta Aliniya menghapus lelehan bening yang setetes menjatuhi pipi Pria itu.
"Dahliya istriku! ayah menikah dengannya karna memang resmi karna Cinta! dia wanita yang Tangguh, Ceria, lembut dan sangat tulus! Tapi, saat malam itu ayah sungguh menyesal Nak hiks hiks! dia pergi saat ayah mengajaknya kedokter kandungan, ayah ..ayah!"
__ADS_1
Aliniya lansung merangkuh tubuh rapuh itu, ia menjadi penenag bagi Pria paruh baya ini,
Cinta Tulus Kalianlah yang melahirkan Kinan Ayah! Kalian yang begitu sangat menakjupkan hingga sampai sekarang masih saling menyatu dalam jiwa!.
"Ayah! Ayah tak bisa hiks hiks, Ayah tak bisa membagi Cinta itu dengan yang lain, dia hidup ayah, dia jiwa ayah! tapi, Ayah dengan teganya mempertanyakan kesuburannya Nak hiks hiks, dia pergi hiks hiks!"
"Itu bukan ayah! Wanita ular itu yang menyebabkan kalian seperti ini, dia yang menjadi penghancur dari segalanya ayah!"
batin Aliniya menggeram murka, betapa sakitnya cinta seperti itu, rindu yang menggebu ruah tanpa pelampiasan dari apapun, hanya kenagan mawar biru yang begitu disukai ibunya.
"Dan sekarang! ayah hanya punya itu, Bunga kesukaan ibumu yang selalu ia minta setiap ulang tahun nya! ayah tak pernah satu ranjang dengan Ambers, kalau untuk menikah, ayah terpaksa karna ibumu yang menyuruhnya!"
Degg..
Aliniya meneggang ditempatnya, Ibu? menyuruhnya? ayah! yang benar saja, ibu tak akan membiarkan ayah jatuh kedalam lumpur hitam bersama mereka!
"Bagaimana bisa?"
"Ayah tak tahu nak! saat ibumu pergi selama satu tahun dan dia kembali dengan kabar yang menyakitkan dengan surat yang disimpan Ambers sekarang!"
Aliniya mengepalkan tangannya erat melihat seseorang yang sedang menguping mereka dari balik pintu sana, Wanita itu menyusun sekenario yang sangat tepat, sayangnya Tuan Sinmart yang bukanlah laki laki licikpun terperangkap kedalamnya.
"Baiklah, cukup untuk cerita hari ini! sekarang ayah tidur!"
"Terimakasih!" Tuan Sinmart mengecup kening Aliniya lembut mengalirkan cinta kasih dari ketulusan hati seorang ayah pada putrinya.
"Semuanya untuk ayah!"
"Sayang!" Aliniya hanya diam saat Nyonya Ambers datang masuk kekamar mereka, ia tahu, wanita itu dan Gea tadi sedang memulai rencana licik mereka.
"Iya! ada apa?"
"Kau kenapa tak tidur? ini sudah larut!"
"aku hanya bicara pada Putriku saja!" jawab Tuan Sinmart menggengam lembut tangan halus Aliniya yang juga menatapnya penuh kasih.
"Aliniya sayang! ini sudah malam, seharusnya kau tahu kalau Dadymu tak bisa lelah Nak!" sandiwara busuk itu kembali dimulai mencari perhatian Pria ini.
"ah Nyonya! saya hanya menemani ayah saja, jika anda keberatan saya bisa keluar, maaf kalau saya menggangumu ayah!"
"Tidak!" cegah Tuan Sinmart menarik kembali tangan Aliniya saat gadis itu ingin melangkah pergi, Aliniya tersenyum licik pada Nyonya Ambers yang menggeram marah.
"Ambers! dia hanya ingin tahu tentang ibunya!" Nyonya Ambers memaksakan senyuman lembutnya.
"Maaf Sayang! aku hanya khawatir tentang mu saja!"
"Kau ada ada saja Nak!"
"Hanya menghibur ayah saja!" Elak Aliniya membaringkan Tuan Sinmart untuk memulai tidurnya.
"Malam ayah!"
"Malam sayang!"
"Ayo Nyonya! bukankah kau ingin ayah tidur dengan lelap, maka jangan menganggunya!hmm?"
"Baiklah!" Nyonnya Ambers terpaksa mengikuti langkah angkuh Aliniya keluar sana.
"Ular bermuka duaaa!" sinis Aliniya melangkah pergi menjauhi Nyonya Ambers yang geram.
Ia melangkah menuju lantai bawah tepat di dekat kamar Tuan Sinmart, ia memilih tempat itu karna terhubung lansung dengan lift dan tangga di depan kamar Ayahnya.
"Ahh Lelahnya!" desah manja Aliniya menghempaskan tubuh moleknya ke kasur empuk nan luas itu.
ia tak menyadari ada sosok gagah yang sedari duduk di atas sofa karna kamar ini hanya remang remang bulan dari balkon sana saja.
"Lelah hmm?"
"Iya!"
Degg...
Aliniya terkejut bukan main, ia lansung bangun dari baringannya dengan mata yang melotot melihat bayang seseorang di sofa sana.
Takk..
alangkah terkejutnya Aliniya melihat pria gagah yang selama ini ia hindari itu sedang duduk bertopang kaki dengan begitu angkuh dengan senyum liciknya.
"Kauuu..!"
"Apa sayang? hmm!"
"Kenapa kau kekamarku?" geram Aliniya begitu tak habis pikir dengan pria ini, meski ia terus mengendalikan gejolak kerinduan itu, tapi ia juga tak tahan membentengi dirinya terus kalau sang pemicunya selalu menguntit begini.
"Kita belum berkenalan Nona pewaris!" jawab Pria Tampan itu menyeringai mesum, berdiri dengan angkuhnya seraya melangkah pelan menuju Aliniya yang mencari jalan untuk lari.
__ADS_1
"Ka..Kau mau apa?"
"Menurutmu?"
"Mu..Mundur! atau aku teriak!" ancam Aliniya seakan kehilangan kecerdasannya, ia punya kekuatan bukan, lalu kenapa ia lebih takut pada Pria ini dari pada bahaya diluar sana.
"Teriaklah! aku ingin mendengar suara lembut mu itu!" Exell terus melangkah penuh seringaian dengan kedua tangannya yang ada didalam saku celananya.
sangat Tampan dan memukau membuat Aliniya gagal fokus.
"Tu..Tuan Muda! kita..kita bisa berkenalan nanti bukan? ya kan?" gugup Aliniya melangkah mundur seiring dengan langkah kaki kokoh Exell yang maju.
"Shitt!" umpat Aliniya saat ia sudah mentok di pinggir ranjang hingga membuat ia terduduk di bagian empuk itu.
"A..Ayah memanggil ku!"
Grepp..
Exell lansung menarik pinggang ramping itu merapat kedekapan tubuh gagahnya, sangat lengket dan erat, pelukan ini seakan mengunci segalanya.
Whuss..
Desirann angin pelan yang menerbangkan helaian tirai panjang dengan helaian rambut Aliniya yang seakan mengikuti alunan mesra penuh cinta ini.
"Aku merindukanmu!"
Batin keduanya bergejolak merindu berat, untuk sesaat Aliniya hilang kendali dengan buaian netra biru yang mempesona ini. mata keduanya terpaut dalam dengan gelombang cinta yang membuncah.
Kenapa ini sangat hangat? pelukan penuh kasih sayang dan kelembutan,tak ada yang tahan dengan tatapan penuh gejolak rasa itu, Keduanya seakan terhanyut dalam perasaan yang menggebu ruah.
Melihat Aliniya yang terbuai, Exell perlahan menggerakan tangannya menyusuri pinggang hingga naik menuju tengkuk Aliniya yang masih diam menatap sendu wajah tampannya.
"Kinan!" lirih Exell mengelus bibir merah sensual itu dengan jempolnya, Aliniya memejamkan matanya saat kehangatan dan sentuhan lembut ini kembali ia rasakan.
Oh Tuhan! bisa hentikan waktu sejenak saja, biarkan aku merasakan kehangatan dari Cinta itu, aku tak kuat terus menahannya.
Cup..
Aliniya lansung tersadar saat bibir Exell sudah memangut bibirnya lembut, ia ingin berontak tapi, sensasi yang diciptakan Pria ini membuat ia tak ingin lepas.
"biarkan aku melepas sedikit dahaganya!" batin Aliniya yang mengerti akan kerinduan suaminya.
ia membalas pangutan Exell yang begitu membuai, mereka saling menghisap menjilat dengan penuh kelembutan, decapan erotis itu terdengar nyaring dengan lihainya lidah yang bertaut mesra.
Aliniya berusaha tak terpancing untuk hal lebih, ia masih memberikan ciuman penuh candunya pada Exell yang menghisap bibirnya kelaparan.
"hentikammm!" pekik Aliniya saat merasakan Exell mulai hilang kendali, ini bukanlah waktu yang tepat dan tentunya hubungan mereka masih abu abu.
"Hentikamm!"
Plup...
Exell lansung melepas hisapan bibirnya, nafas keduanya naik turun dengan faktor yang sama, Hasrat? yah, tubuh keduanya tak bisa menolak setiap sentuhan masing masing.
Ini gila! aku mohon biarkan aku melepas rasa sesak dan rindu ini sayang!
tatapan netra elang Exell begitu berat berkabut pada Aliniya yang menormalkan deru nafasnya.
"Kau..Kau keterlaluan!"
"Kinan!"
"aku tak tahu siapa itu? kenapa kau selalu menyebut itu ha?"
"Jangan bermain lebih lama Sayang!" serak Exell menatap Aliniya yang terlihat dingin,
Maaf! aku hanya tak ingin keluargamu menjadi terget dari masalahku, biarlah kita berjauhan tapi masih tetap mencintai!
Aliniya mendorong sinis tubuh gagah Exell yang membelit pinggangnya, Exell tak menyingkir dengan dorongan kecil itu.
"Kau jangan lancang Tuan!" ketus Aliniya membuat Exell geram, ia harus bertahan untuk mengetahui penyebab gadis ini menjahuinya.
"Baiklah Nona pewaris! lain kali aku akan bermain lagi!" ucap Exell berusaha tetap tenang walau tubuhnya sudah panas dengan gelombang hasrat tinggi sekarang.
"Cihh! jangan harap!"
Cup..
"Kauu..!"
"Kau Miliku!" ucap Exell tersenyum licik lalu meloncat pergi dari Balkon kamar Aliniya yang membuat gadis itu terkejut melihat Exell yang dengan lihainya meloncat menapaki pilar beton dan atap dibawah sana.
"Milikku!" gumam Aliniya tersenyum geli memeggang bibirnya yang tadi di reguk oleh pria itu.
....
__ADS_1
Vote and Like sayang...