
Suara lembut penuh buaian itu menggelegar memberikan Informasi tentang identitasnya.
mata mereka sama sekali tak bisa teralihkan dari bidadari yang begitu mempesona itu.
"Namaku Aleniya Dahliya Sinmart! aku adalah Putri dari Dahliya Sinmart yang telah meninggal 22 tahun yang lalu!"
Nyonya Ambers merasa tak terima hingga ia melangkah mendekati Gadis mempesona itu, ia berusaha mengendalikan emosi nya yang bisa saja keluar memperburuk cintranya dihadapan banyak orang.
"Nak! Maaf, Tapi kalau kau hanya ingin uang jangan membawa bawa nama Saudariku Dahliya!" ucap Nyonya Ambers menitihkan air mata buayanya membuat Aliniya dan Renata geram, mereka ingin sekali mencabik cabik wajah Busuk ini.
"Sayang! sudahlah, mungkin dia hanya memainkan drama saja!" Tuan Sinmart terpancing akan Sandiwara palsu istri keduanya ini.
"Maaf Tuan Sinmart yang terhormat! Saya tak pernah pandai bersandiwara dengan wajah kepalsuan yang dipakai para manusia ular di lingkungan ini!" Aliniya berucap tegas dengan gestur kebangsawanan yang serus, mereka terkadang gagal fokus akan masalah ini karna Pesona Aliniya yang tak terbantahkan.
"Jaga Sikap anda Nona! meski wajah mu sangat mirip dengan Mendiang Dahliya istriku, bukan berarti aku percaya denganmu!" Tuan Sinmart menatap tajam Aliniya yang malah juga melawan pandangannya, tapi, Tuan Sinmart tak bisa bersitatap tajam lama, ia sungguh merindukan netra sendu yang hanya ada pada Mendiang istrinya itu.
"Sayang hiks hiks! Dahliya pasti sedih melihat pelantikan putrinya gagal!"
"Pelantikannya tak akan gagal Momyku tersayang! Lihatlah. Penerus sebenarnya telah ada di hadapan kita!" Renata menyeringai licik pada Gea yang mengepalkan tangannya erat, ia berusaha menyerang Renata dan Aliynia dengan kekuatan aslinya, namun, ia malah kehabisan tenaga sedari tadi berperang Batin dengan gadis itu.
"Shitt! Kenapa dia sangat kuat?" batin Gea gentar.
"Baiklah! kalau begitu, Buktikan saja kalau kau memang Putri dari Keluarga Sinmart" ucap Dady Arkan yang tak tahan melihat perdebatan yang menguras waktu ini, ia sedari tadi mengamati Aliniya yang tampak tenang dengan gestur yang halus dari bangsa kerajaan sama seperti istri temannya ini.
"Kau benar Teman! Nak! kau bisa buktikan ucapanmu itu?"
"Cihh! Setahuku Momy Dahliya tak pernah mengandung, kau jangan menjelek jelekan nama Momyku!" ketus Gea yang pura pura tak terima dengan kedatangan Misterius Aliniya, ia ingin semua orang disini mendukung argumentnya.
"Yah! Nona Muda Gea benar, jangan sampai Nona Cantik ini hanya membual saja!" ucap para tamu undangan sana dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Aliniya.
"Baiklah! kalau itu mau kalian!"
Aliniya menatap Renata yang lansung memerintahkan Pengacara yang telah disiapkan Kak Adres untuk mereka, semuanya telah tertata rapi, hanya tinggal menjalankannya saja.
"Ini adalah Pengacara Nyonya Dahliya! dialah yang akan menjelaskan semuanya!"
Nyonya Ambers terkejut melihat Tuan Yorus yang telah ia bunuh saat Pelenyapan Dahliya dulu datang kesini, Kenapa semuanya jadi berubah? Brengsekkkk!"
"Tuan Yorus!"
"Yah! Saya adalah Pengacara Nyonya Dahliya Sinmart! Sebelum dia meninggal secara Misterius, Dia Memberikan ini padaku!"
Tuan Sinmart menerima Amplop besar yang terlihat berisi barang barang berharga, alangkah terkejutnya Tuan Sinmart melihat Foto Bayi dan juga wajah pucat wanita itu seperti habis melahirkan.
__ADS_1
"Sa..Sayang hiks hiks!" lirih Tuan Sinmart luruh, ia sungguh merindukan foto ini, ia tak tahu kenapa Foto Mendiang istrinya hilang entah kemana setelah menikah dengan Ambers, itu sebabnya dia hanya bisa mengenang didalan pikirannya.
Aliniya menolehkan wajahnya ketempat lain, ia menahan rasa rindu pada Pria Tua ini, ia harus kuat hingga ia bisa membangun keinginan dan keutuhan keluarganya seperti yang ibunya inginkan.
"Shitt" batin Aliniya mengumpat saat tatapannya malah bertemu dengan Netra Biru Elang di samping sana, Sialnya, Aliniya juga tak tahan bersitatap lama hingga ia kembali pada wajah datar namun memikat itu.
"Lihat! Dia bukanlah Kinan Exell, Kalau dia Kinan, dia akan lansung berlari mendekapmu dan tak akan menatapmu datar begitu!" kesal Gebriel merasa gadis mempesona itu begitu angkuh. sama seperti Renata.
"Aku yakin dia Kinanku!"
"Dia Aliniya El! ALINIYA!"
Namun, Exell hanya diam dengan mata yang tak henti hentinya meneliti tubuh gadis ini, tatapan Netra indah itu sekilas sangat berbeda dari istrinya, tapi kalau di tatap intens, rasa itu akan sama.
"Akan ku tentukan sendiri!" Exell melangkah menuju panggung sana membuat Aliniya menelan ludahnya kasar, ia harus berusaha bersikap sebagaimana Gadis angkuh dan sombong.
"Tuan Muda Exell!" Gea lansung menyonsong kearah Exell yang hanya menatapnya dingin, Exell melangkah mendekati Tuan Sinmart.
"Tuan! maaf kalau saya ikut campur!"
"Tak apa Nak!" Tuan Sinmart menghapus sisah air matanya dan berdiri menatap Aliniya.
"Ini benar fotomu?"
"Menurutmu?"
"Bisa saja kau berbohong! Lagi pula, Tuan Yorus kan sudah Tua, saya yakin kamu hanya memanfaatkan keadaan tentang kematian Saudariku!" bentak Nyonya Ambers yang tak ingin kedoknya terbongkar.
"Iya Mom! Momy Dahliya orang yang sangat baik, kenapa kau tega memakai namanya hanya untuk ketenaran?" sambung Gea yang menunjukan wajah tersiksa penuh kepolosan itu.
"Jaga bicaramu!" geram Renata merasa geram akan bentakan Nyonya Ambers pada Nona Mudanya.
"Apa ha? kau itu..!"
"Cukupp!"
Suara lantang Tuan Sinmart menggelegar menghentikan perdebatan ini, ia merasa dadanya sakit dengan suasana permusuhan ini.
"Dady!" Gea mencari muka pada mereka dengan menunjukan wajah Khawatirnya pada Tuan Sinmart yang masih kekeh ingin disini.
"Dady Tak apa apa!"
"Tuan! Bagaimana dengan kelanjutan acara ini?" tanya Tuan Miandra dan Tamu lainnya, sedangkan Wartawan itu sedang melahap sosok Mempesona diatas panggung sana dengan jiparat kameranya.
__ADS_1
"Acara ini akan ditunda Selama satu bulan kedepan!"
Duarr..
Hancur sudah harapan kedua wanita itu, Gea dan Nyonya Ambers saling pandang geram dengan tangan yang terkepal.
"Tak apakan Nak?"
"Iya Dad! Kesehatanmu lebih penting!"
Renata sungguh Mual mendengar ucapan kepalsuan itu, apalagi Aliniya yang sudah mengertakan giginya geram.
Whusss..
Bugh..
Tubuh Gea tersungkur ke dekat kursi karna terpaan angin kencang yang hanya dirasakan tubuhnya saja.
"Gea!" pekik mereka terkejut, Nyonya Ambers membantu putrinya, Aliniya tersenyum miris lalu mengibarkan halus rambut panjangnya sehingga mengenai wajah Exell yang meneggang akan terpaan lembut surai panjang nan hitam itu.
Whusss..
angin sepoy yang menerbangkan lembut helaian yang begitu lembut menyentuh wajah tampan Exell yang memejamkan matanya menikmati aroma mawar biru yang begitu ia rindukan dengan gejolak perasaan yang membuncah.
Aku merindukan Ini! aroma wangi, kelembutan rambut yang selalu ia belai dulunya dan sekarang kembali menyentuh tubuhnya.
"Aliniyaa!" batin Renata geram menatap gadis cantik yang baru sadar ia telah memantik api kerinduan dari Pria Tampan disampingnya ini.
"Maaf! aku kelepasan!"
"*Dasar penggoda!"
"Kau juga sama!"
"Fokus pada Tujuanmu!"
"Hmmm!"
"Aliniya!!!"
"Iya! lagi pula aku juga sedikit jengkel padanya*!"
Mereka berbicara dari batin yang memang sudah dari lama Renata lakukan untuk melindungi Nona Mudanya ini. tapi ia tahu, Kinan dan Aliniya tidak jauh berbeda karna mereka satu jiwa dan raga, Aliniya adalah sifat Tangguh keangkuhannya sedangkan Kinan adalah Kepribadian polos lembut membuainya, tatapan sendu itu hanya dimiliki seorang Kinan dan keangkuhan licik itu hanya di miliki Aliniya yang menyatu dengan jiwa mereka berdua.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang..