
Alis mereka mengkerut dengan mata yang menyipit menatap tingkah aneh pria itu, kenapa semuanya seakan berubah? Asisten Dion yang pendiam dan suka bertingkah melamun, dan sekarang Exell yang marah akan kesalahan yang tak mereka ketahui, sungguh, pria itu kerkadang membuat penasaran semua orang.
"Ada apa dengan Exell?"
"Aku tak tahu! dia memang pemarah dengan sesuatu yang tak ia sukai, dia bisa saja kelepasan melakukan hal yang setelah itu ia sesali!" ucap Dady Arkan datar, mereka hanya mengangguk mengerti, wajah tampan dady Arkan dengan brewokan tipis itu terlihat sangat berbeda.
"Apa kau merahasiakan sesuatu dariku sayang?" bisik Momy Chalista pada Dady Arkan yang menatapnya lembut dengan jari yang mengusap bibir merah itu.
"Kau tentu tahu apa kegemaran putramu hm?" gumam Dady Arkan ambigu bagi mereka tapi tidak dengan Momy Chalista yang mengulum senyum geli, pria itu selalu bisa mengendalikan situasi dan membuat Kisah cintanya mekar.
"Aku sudah jantungan!"
"Mana? sini aku liat!"
Pugh..
Dady Arkan terkekeh geli melihat wajah masam Istrinya, ia yakin, Exell bisa menyelesaikan semua ini tanpa campur tangan ia dan sang istri.
..........
"Hahaha! Lihatlah, dia tak sekuat yang aku kira!" gelak tawa pria itu mendengar semuanya, ia tak bisa menahan lagi untuk mengambil wanita itu kepelukannya, ia akan melakukan apapun.
Dengan pakaian hitam tertutup, langkah kakinya begitu gesit menyeret sepatu dan jaket ditubuhnya, Pisau kecil dan pistol itu terlesip disakunya dengan kaca mata hitam pekat.
Ia berpura-pura menjadi seorang pengantar paket untuk Perusahaan MGC yang begitu megah dipandang dari jauh persimpangan Terminal ini.
"Tuan!"
"Ah iya!"
"Anda mau kemana?"
Pria itu tersigap saat seorang Kurir Paket yang berbenturan dengan bahunya, ia sedikit menunduk karna mata pria tua itu sangat menyelidik.
"Hm! saya mau ke Perusahaan Mohana!"
"Ah benarkah? hm, Tuan! bisa saya meminta bantuan anda?"
"Apa?"
"Antarkan Paket ini ke Presedir Mohana karna anak saya sedang sakit, Tuan!"
Pria berpakaian hitam itu berfikir, seketika rencana liciknya muncul membuat semangatnya semangkin meningkat.
"Baiklah! anda bisa percayakan pada saya!"
"Terimakasih, Tuan! ini paketnya!"
Pria berpakaian hitam yg ditutupi masker itu mengambil kotak berukuran sedang itu, mereka saling berkenalan lalu pergi dengan urusan masing-masing.
"Lihatlah! bagaimana salam perkenalanku!" gumamnya lalu melangkah menuju Perusahaan Mohana sana, ia diperiksa oleh Satpam namun dengan cerdasnya ia menunjukan Kartu kurir yang ia bawa tadi.
Selama langkahnya terus maju dan menyelidik, jarinya menempelkan sesuatu diselipan benda itu, sangat kecil tak terlihat.
"Maaf, Tuan! anda mencari siapa?" Resepsionis yang merasa heran dengan kedatangan Pria berpakaian hitam ini.
"Paket!"
"Oh iya! silahkan antar ke ruang Asisiten, karna Presedir belum datang!"
"Memang itu yang ku mau"
"Baik!!"
__ADS_1
Ia kembali melanjutkan langkahnya, hatinya sudah membara untuk bertemu dengan Pria yang akan ia kambing hitamkan atas rencana besarnya ini.
Setibanya dilantai atas, ia mengetok pintu ruangan Asisten Dion yang terbuka otomatis dengan sendirinya.
"Ada apa?" Asisten Dion tanpa melihat kearah sanapun berbicara, ia masih memeriksa berkas dimeja kerjanya dengan teliti.
"Tuan!"
Degg..
Asisten Dion meneggang ditempatnya, suara itu? yah.. itu suara Pria gelap yang terus menerornya terus-menerus.
"Kau..!"
"Hahaha! Ayolah Tuan, kau tak kenal aku!"
ia melangkah mendekati Asisten Dion yang tampak terkejut, ia menduduki kursi dihadapan pria itu dengan kaki yang tumpang tindih begitu angkuh.
"Kenapa kau menemuiku ha?" geram Asisten Dion menimbulkan urat-urat biru diwajahnya, kepalan tangannya memutih memandang penuh tajam pada Netra yang ditutupi kacamata itu.
"Kau belum memberi jawaban?"
"Apa urusanmu denganku ha?"
"Banyak! sangat banyak, Tuan Asisten!" tekan Pria itu berat lalu melempar sebuah CD dimeja Asisten Dion.
"Kau mengancamku lagi?"
"Hey Tuan! ini bukan ancaman, tapi pilihan!"
Brakkk..
Asisten Dion meninju meja kerjanya keras membuat retakan telak, ia sudah tak tahan dengan semua ini.
"Berikan Nyonyamu!"
Degg..
Asisten Dion meneggang, pikirannya kosong dengan jantung yang berdegup kencang.
"Tidak akan pernah!"
"Maka bersiaplah kehilangan Istri tercintamu!"
Grett..
"Kau jangan berani menyentuh Milikku!" cengkraman Asisten Dion menguat kekerah baju pria itu, matanya sudah merah menahan amarah yang meluap.
"Cih! Dia akan meninggalkanmu, Istrimu, Cintamu! semuanya, kau tak akan bisa merasakan cintanya lagi!"
"Aku akan membunuhmu!"
"Maka Rekaman itu akan tersebar kependengaran istrimu!"
Duarrr..
Asisten Dion menatap CD yang ada diatas mejanya, pria ini sangat licik hingga mendapatkan Rekaman Percakapan mereka kemaren.
"Pikirkanlah! kau harus memilih, Istrimu, atau..!" Pria itu mendekati telinga Asisten Dion yang bungkam.
"Keluarga Mohana!"
Bugh..
__ADS_1
Tunuh Asisten Dion mundur karna Pria itu mendorongnya telak, ia seakan tak bertenaga lagi untuk melakukan semua ini, sungguh..ini sangat berat dan menyakitkan.
"Ini paket dari Kurir kalian dan ini..!" Pria itu menunjukan sebuah serbuk botol yang tentu Asisten Dion kenal.
"Campurkan ini kemakanan Nyonyamu dipesta malam ini!" ucapnya lalu melangkah pergi setelah memberi botol kecil itu.
"Aku tak akan melakukanya!"
Langkah Pria terhenti diambang pintu sana, seringaian liciknya muncul lalu berbalik menatap Asisten Dion yang termenung kosong.
"Maka bersiaplah mendengar ledakan rumah tanggamu!" sinisnya lalu pergi, Asisten Dion luruh, sungguh, ia gak tahu apa yang akan ia lakukan.
Kalau memberitahu Exell, masalah ini akan tambah rumit karna pria itu pasti akan lansung membunuh Bajingan itu, kalau itu sampai terjadi maka Rahasianya akan terbongkar membuat istri yang sangat ia cintai itu membencinya.
Prank...Prank...
"Aaahhh Brengsek!" teriakan frustasi Asisten Dion kuat, ia menghancurkan barang-barang diruangannya,
"Apa yang akan kulakukan, ha?" apa?" gumamnya mengacak rambut frustasi, bisa-bisa ia gila dengan semua ini.
"Maafkan aku Tuan!" gumam Asisten Dion mengembun dengan gemetar mengambil botol itu, ia tak ada cara lain selain ini.
"Aku sangat mencintai istriku! aku tak punya cara lain!"
.........
"El! sayang, tunggu Kinan!" kaki jenjang wanita itu berlari mengejar suaminya yang tadi pagi menuai rasa sakit dan sesak, ia ingin meminta penjelasan dari pria itu.
"El!"
"Tuan! Nyonya Muda" Supir Exell kasihan melihat Nyonya Mudanya yang berlari mengejar Tuannya, Exell hanya diam tapi netranya menatap kearah Spion mobil dengan guratannya sendiri.
"Sayang!" Kinan terpeleset namun untung saja tubuhnya ditangkap oleh Gebriel yang baru saja keluar Mashion.
"Hati-Hati Kinan!"
"El! sayang, kau jangan pergi!" teriak Kinan menatap sendu mobil suaminya yang sudah keluar dari pekarangan Mashion, tadinya Exell pulang, entah apa yang pria itu lakukan hingga membuat ia seperti ini.
"Kau tak apa-apa?"
"El!"
Gebriel menghela nafas, ia membantu Kinan berdiri dengan tenaga letih wanita itu, ia menghapus keringat yang bercucuran dikening putih itu.
"Mungkin dia hanya banyak pekerjaan, Kinan!"
"Ta..Tapi dia sangat aneh hiks hiks! tadi dia baik-baik saja, tapi..tapi ketika Kinan memeggang cincin itu dia marah hiks hiks, apa salah Kinan ha?"
Isak Kinan sekugukan membuat Gebriel prihatin, ia menatap Renata yang baru saja menyusulnya.
"Kinan!"
Kinan hanya diam menatap nanar gerbang sana, kenapa Pria itu selalu membuatnya sesak dengan alasan yang terkadang sangat membingungkan.
"Kinan salah apa?"
"Sudahlah! berikan dia waktu, mungkin dia cemburu karna kau menerima banyak Paket dari seseorang!"
"Tapi Kinan tak ingin itu semua! Kinan tak tahu apapun Renat hiks hiks!" pekik Kinan dengan serak karna terlalu banyak berteriak.
............
Vote and Like Sayang..
__ADS_1