
Satu bulan telah berlalu, semenjak itu pula semuanya kembali berjalan normal, Amber dan Gea tak lagi menunjukan rupa mereka hingga membuat kedamaian sesaat di Kediaman Mohana ini, namun, yang terus menjadi buah pikiran adalah, Renata yang tak kunjung berhenti menghabisi orang yang menurutnya salah, Kinan tak bisa menemukan Renata yang menghilang bersamaan dengan hari itu. itu sebabnya, setiap hari akan ada korban yang berjatuhan, tapi wanita itu tak akan ditemukan, entah ia berkonspirasi dengan Gea dan Nyonya Ambers, atau memang dia sudah berkabut mengikuti aturan surat menyurat itu.
Seperti sekarang, gadis cantik itu menatap hamparan rerumputan luas dengan kuntum-kuntum yang mekar pagi ini, ia tak tahu mengapa hatinya sering gelisah tak tentu arah, rasa khawatir yang berlebihan terkadang membuatnya kualahan, belum lagi akan pusing yang terus melanda tubuhnya akhir akhir ini.
"Sayang!" Pria gagah itu tampak membawa nampan makanan mendekatinya, ia mencoba memekarkan senyuman cantik itu menyambut sang suami yang selalu ada disisinya.
"Ell memasak lagi?"
"hmm Yah! akhir akhir ini nafsu makanmu mulai turun! kau hanya mau makan dengan masakan buatanku saja, jadi aku memasak!" ucap Exell lembut meletakan nampan itu ke atas meja balkon dengan piring yang ada ditangannya.
"Maaf!" Exell tersentak mendengar lirihan istrinya, ia juga terkadang sedikit bingung dengan Kinan yang sering melamun dan tentunya tak mau berjahuan dengannya.
"Untuk apa Sayang? hmm!"
"El pasti lelah memasak terus! seharusnyakan Kinan yang masak, lagi pula Ell harus kerja, Maaf kalau Kinan menyusahkanmu Sayang!" Kinan mengecup tangan suaminya yang membelai pipinya lembut membuktikan bahwa pria ini tak sejalan dengan ucapannya barusan.
"Kenapa berfikir begitu hm? Aku tak apa terus begini, bahkan rasanya senang bisa memasak makananmu dengan tanganku sendiri! aku tak pernah lelah yang berhubungan denganmu! kau yang terbaik!"
Cup..
Exell mengecup lembut bibir merah sedikit pucat itu, beberapa minggu yang lalu Kinan mau diperiksa Dokter, katanya tak apa, istrinya hanya kelelahan, tapi semangkin kesini Kinan tak ingin dibawa kemana-mana, wanita ini engan melihat Dokter apalagi bau obat obatan.
"Makanlah sayang!" Kinan menerima suapan yang diberikan suami tercintanya ini, hampir setiap hari Exell tak akan ke Perusahaan karna tak mau meninggalkan istrinya seorang diri. Momy Chalista terkadang juga menduga duga hal yang membuat ia berharap tinggi.
Dretttt..
Ponsel Exell berbunyi menghentikan kegiatan mesra itu, pria itu mengumpat melihat nama yang tertera di sana.
"hmm!"
"Tuan! Rapat kali ini harus anda yang datang, ini menyangkut pengolahan saham yang sudah beberapa kali kita tolak Tuan!"
"Kau tak bisa menghendelnya?" Tanya Exell seraya meminumkan segelas air pada istrinya dengan lembut.
"Tidak Tuan! Sudah 5 kali mereka ingin bertemu dengan anda! sekarang keputusan ada ditangan Tuan, atau Wartawan diluar sana akan memberontak akan penolakan anda Tuan!" ucap Asisten Dion dengan suara sopannya.
__ADS_1
Exell menghela nafas berat, ia menatap Kinan yang sedang melanjutkan makannya dengan rumit.
"Hmm! aku akan kesana!" Exell mematikan sambungannya dan kembali menatap istrinya yang sedang menatapnya juga.
"Sayang! aku ada rapat hari ini, jadi!..!" Exell sungguh tak tega meninggalkan wanita ini sendiri, tapi apalah daya, ia tak kuasa dengan pekerjaan ini.
"Tak apa! El pergi saja, lagi pula sudah lama El tak kekantorkan! El juga punya tanggung jawab lain, Kinan mengerti sayang!"
"Baiklah! habiskan makanananya, aku akan segera kembali!"
Exell mengecup kening dan bibir wanita itu seraya berdiri pergi, tapi ia terkejut saat Kinan malah mengikutinya.
"Sayang! Kinan mau antar sampai ke..!"
"Kau Makan saja! hmm?"
"Kinan a..!"
"Menurutlah!" Kinan lansung mengangguk patuh membuat Exell gemas, ia terkadang harus tegas dengan Kinan yang tak memperdulikan apapun selain Elnya.
"Kenapa rasanya sesuatu yang besar akan terjadi?" gumam Kinan meremas dadanya yang sakit, entahlah, perasaan itu semangkin kuat membuatnya harus bersiaga.
.....
Netra indah bercampur kegeraman itu menatap tak sabaran pada langit diatas sana, ia menunggu dimana Bulan Purnama itu akan datang akhir ini, ia menatap surat yang sudah berlumuran darah itu.
"Ratu! kau bilang dibulan ini mahluk itu akan keluar menghabisi mangsanya! aku sudah membentengi Kediaman Sinmartmu dengan apa yang kau titahkan! darah itu sudah berkeliling dengan aura permusuhan yang nyata! aku hanya ingin Aliniya terlindungi dari mereka! aku tak ingin saat mahluk itu tiba, dia malah menghancurkan segalanya!" ucap Renata menitihkan air matanya, entahlah, terkadang ia berfikir untuk berhenti karna teringat ucapat Kinan yang menurutnya ada benarnya juga.
Tapi tubuhnya tak bisa menolak, seakan ada yang memaksanya melakukan semua ini, tapi sekuat apapun ia berusaha keluar pikirannya selalu menolak dengan hatinya yang ingin melepaskan diri.
"Akhh A..Ada apa ini?" geraman Renata mencengkram dadanya kuat, ia harus menaggung ini disetiap langkahnya.
Tiba Tiba sekilat bayangan perkataan gadis itu menghantui pikirannya, ia sudah beberapa kali ingin pergi menemui Kinan tapi tubuhnya seakan dikuasai sesuatu.
"To..Tolong uhukkk!" Renata terbatuk darah dengan kalung yang berada dilehernya berdarah mengikat kuat leher jenjang itu.
__ADS_1
ia kesulitan bernafas hingga matanya mulai berkunang kunang, sengatan kalung ini begitu kuat dengan kilatan hitam yang perlahan datang menyelumbungi tubuh Renata.
Whussss..
Renata terkejut saat melihat bayang hitam yang lansung berdiri tepat dihadapannya.
"Budakku!"
Whusss...
Renata kehilangan kesadaran dengan tubuh yang menggelijang sakit saat asap itu malah masuk kedalam pori pori kulitnya,
"To..Tolong!" lirih Renata saat Mahluk itu mulai ingin menguasai kesadarannya, Renata menagis saat pikirannya tertuju pada Kinan yang selalu membayangi otaknya.
"A..Aku kalah!" lirih Renata tersenyum membayangkan ketangguhan prinsip gadis itu, ia tak bisa lagi menguasai dirinya lebih lama hingga asap hitam itu lansung masuk keseluruh tubunya.
Whussss..
Angin yang tadinya tenang kembali menggulung dahsyat dengan kilatan kilatan hitam yang meneranginya, tubuh indah itu sudah dikuasai Mahluk lain yang membuat semunya begitu menyeramkan.
Whusss... Brakkk...
Pusaran hitam itu berkilat murka menghempaskan barang barang yang ada didalam ruangan itu, netra indah gadis itu berubah menjadi hitam legam dengan asap kematian yang begitu kental.
"Tak akanku biarkan Budakku sadar!" gumamnya menyeringai menatap pantulan bayangnnya dicermin sana, ia tertawa jahat membayangkan jiwa Renata yang ingin lepas dari ikatannya tapi sayang, dia adalah budak sekaligus tumbal yang telah diberikan padanya.
"Kematiannnn!"
Whussss...
Ia menghilang dengan kilatan kekelaman yang nyata, bau bangkai busuk itu begitu kental membuat aura kematiannya terlihat nyata.
...
Vote and Like Sayang..
__ADS_1