
Gumpalan daging yang bertumpuk itu terlihat menggunug di sebuah ruangan yang begitu amis dengan kepala kepala manusia yang berderet rapi membentuk lingkaran busur yang lansung menghadap ke lilin besar yang ada di pertengahannya,
Darah merah segar itu mengalir deras seiring dengan air mawar hitam yang di masukan kedalam bak yang lansung berisi tubuh pulen gadis cantik yang sudah bermandian darah.
"Mo..Momy! Aku tak kuat!" desis Gea saat merasa perutnya mual dengan bau darah ini, apalagi bahu mawar busuk yang ditaburkan Nyonya Ambers ketubuhnya membuat ia berkunang kunang.
"Lakukan! ini sudah tepat, kau ingin mengalahkannyakan?"
"Tapi! Ini terlalu berat Mom, Tu..Tubuhku terasa ditusuk!" geraman Gea ingin sekali menjerit merasakan jarum jarum yang mengalir seiring dengan darah yang membasahi tubuhnya.
"Mo..Momy! Aku..Aku sudah tak kuat Mom! Hentikan hiks hiks!" pekik Gea merasa ini sangat sakit, ia tak tahu apa yang diinginkan wanita ini, ia hanya menurut karna Momynya mengatakan ini akan baik baik saja.
"Kau kuat! jangan menjadi lemah, sudah ku katakan padamu, kalau kekuatan itu besar, Anakku haruslah kuat! kau harus kuat! Tekankan itu Gea!" geram Nyonya Ambers mencengkram pipi Gea yang merasakan kalau Momynya terlalu memaksa.
"Ba..Baik Mom!" lirih Gea patuh, ia harus menahan segala rasa sakit ini sejak sedari kecil karna wanita itu selalu melakukan percobaan pada tubuhnya.
Hanya cengkramannya saja yang begitu menguat di pinggir kolam ini karna ia takut, wanita itu marah lagi saat ia mengeluh sakit.
Hiks! bisa hentikan ini Momy! aku tak kuat terus menjadi lulucon untukmu!
.....
Exell menatap tajam istrinya yang sedang berbicara dengan Adres di ujung sana, mereka sekarang sudah pulang KeKediaman Mohana, tapi Exell harus dibuat geram dengan Adres yang selalu menguntit mereka.
"Kak! apa yang harus Kinan lakukan?" Adres tersenyum misterius mendengar ucapan lembut itu, ia kembali menatap pemandangan dari atas balkon kamar gadis ini dengan pikirannya sendiri.
"Semuanya ada ditanganmu! bagaimana jika kau menjadi ratu saat ini? bayangkan saja kau adalah pewaris yang sudah dilantik hingga masalah ini adalah masalah kerajaan mu!"
"Tapi Kinan tak tahu apa apa! Renata bertindak semaunya tanpa memikirkan orang lain, Kinan ingin melawannya tapi Kinan tak mau kelepasan lagi!"
__ADS_1
"Kau utamakan hatimu Sayang! jangan terfokus pada masalahmu!" suara lembut penuh ketegasan itu bersenyayu ditelinga Kinan yang tersenyum melihat lengan kekar sang suami yang sudah memeluknya dari belakang. ia mengelus lengan itu lembut menunjukan panorama cinta yang menggebu.
"Ell!"
"Renata bukan inti masalah ini, dia seperti pancingan untuk menuju masalah yang lebih besar lagi! Dia mengikuti aturan Surat-Surat yang ibu berikan, dan tentu saja surat itu sangat berbahaya bagi hubungan kita! Dia menentang Cinta dan hanya terfokus pada tugas dan dendam yang tak pasti itu!" jelas Exell dengan wajah yang tertempel ke ceruk leher jenjang itu membuat Adres menggeleng-geleng jengah.
"Jadi! apa Kinan harus menghentikan Renata?"
"Hanya keadaan yang bisa menghentikannya! kau itu seorang penerus bukan, kau tak bisa lagi menghentikan karna ini sudah berlanjut!"
"Ell! Tapi Kinan tak ingin berperang!" lirih Kinan sangat tak suka dengan yang namanya pertumpahan darah, Adres mengerti akan jiwa suci milik Kinan.
"Berfikir dalam pola Pemimpin, hmm!" Adres mengelus puncak kepala gadis itu lembut lalu menghilang pergi dengan hembusan angin yang menyertainya.
Sekarang, tinggalah Kinan dan Exell yang sedang berpelukan mesra dengan desiran angin yang menerpa tubuh keduanya, Exell mendudukan tubuhnya ke kursi balkon dengan Kinan yang bersandar kedada bidangnya.
"Ada saatnya kita bertindak dengan hati dan juga kekerasan sayang!" ucap Exell lembut mengelus kepala istrinya dengan lembut, ia tersenyum melihat Kinan yang memainkan kancing kemejanya seperti anak kecil.
"Masalah ini sudah ada sejak kau belum lahir! ini sudah menuntutmu untuk berjuang, kalau diselesaikan secara hati! mereka tak akan paham Sayang, lihatlah Renata yang sudah membatu! Kau itu pemimpin, hancurkan yang menurutmu merusak aturan dan menentang kebenaran, jangan selalu menggunakan perasaan karna Pemimpin juga harus tegas tak mementingkan saudara, teman atau ikatan lainnya!"
Kinan berfikir sejenak, sepertinya tak ada cara lain selaian peperangan. ia juga sudah merasa kehancuran besar akan terjadi nantinya, ia hanya takut kehilangan apa yang telah ia genggam.
"Ell!"
"Apa hmm?" Exell mengelus pipi halus itu lembut, ia melihat ketakutan yang teramat besar terpancar dari manik indah ini.
"Kenapa kita tak bisa lepas saja?" lirih Kinan merasa masalah terus datang dikehidupannya, ia ingin bebas seperti burung dengan kekasih hatinya hingga mereka menua, tapi itu hanya hayalan semata.
"Selagi nafas masih berhembus dan tulang masih menyatu dengan kulit! kita tak akan lepas dari masalah apapun, hanya diri kita sendirilah yang mampu mengeluarkan solusi dari masalah sebesar apapun!"
__ADS_1
"Ell!"
"Iya Sayang!"
"Nanti El jadi Rajanya ya?" tanya Kinan merasa kagum akan ucapan menenagkan dan memiliki kedamaian yang selalu pria ini lanturkan padanya.
"Tentu saja! Kinan hanya bisa disandingan dengan Exell! tak ada yang cocok dari siapapun untuk keduanya!" Kinan terkekeh geli akan ucapan narsis suaminya,tapi ia suka karna Exell selalu mendukungnya dalam situasi apapun.
"Ell!"
"hmm!"
"Cium!" Pinta Kinan memanyunkan bibirnya mengadah menatap Exell yang dengan senang hati menyambar bibir ranum itu gemas, Kinan tepekik geli saat pria itu malah mengecup seluruh wajahnya.
"Elll hahha Geli Sayang!" Kinan menghindar dari kecupan bertubi tubi itu dengan gelak mesranya.
"Tadi minta ciumkan! ayo sini" goda Exell mengecupi seluruh tubuh wanita itu membuat Kinan sungguh bahagia dengan perlakuan Exell yang tak selalu dingin dan datar.
"Ell! Su..Sudah sayang haha Sudahhh!"
"apa belum? akh sayang sepertinya kau rindu sekali dengan kecupanku hmm?"
"Ma..Mana ada!" Kinan ngos ngosan akibat cumbuan geli pria ini, apalagi Exell yang menggelitikinya membuat ia tak bisa menahan tawa.
Mereka tak menyadari ada sepasang mata sendu yang menatapnya penuh gejolak rasa, netra indahnya terlihat berair menatap gelak tawa dari Bidadari cantik itu.
"Kau yang harus menyelesaikan ini! Waktu itu akan tiba dimana kau harus memilih atau melawan!"
Gumamnya lalu menghilang bersama dengan hembusan angin itu, entahlah, burung burung disana hanya bisa diam dengan semilir angin yang bertambah damai menyaksikan kelembutan tawa girang dan kemesraan tiada ujung itu.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang..