Aku Tak Salah

Aku Tak Salah
Tuan Arogan..


__ADS_3

Diruangan yang cukup ramai itu, terdengar nyaring desas-desus suara ejekan dari mulut para gadis itu, mereka tak tahan untuk tak menghujat sosok yang sudah seperti arang itu dengan kulit yang melepuh kemerahan, wajahnya tertutup Masker membuat mereka begitu jijik.


"Cihh! seharusnya kau tak menginjakkan kakimu disini!"


"Lihatlah! kemana rasa malumu? masih punya muka untuk datang kesini!" ketus Serly dan Vina nyinyir pada wanita yang dibawa Renata kekediaman Mohana, Renata hanya tersenyum puas melihat penghina'an yang diberikan para gadis judes ini, tak sia sia rasanya ia menahan kegeraman selama ini.


"Masuklah!" Gea dengan berat hati menginjakan kakinya kelantai mahal ini, ia hanya menunduk dengan kedua tangan yang terkepal.


"Kenapa kau membawanya kesini?" ketus Serly pada Renata, ia juga kesal dengan wanita satu ini, karna Renata sangat angkuh.


"Ini perintah Putri Mahkota!"jawab Renata singkat lalu melangkah menuju meja makan yang sudah tersedia berbagai menu pagi ini, ia duduk dengan Elegan disana seraya menguncah satu buah apel yang ia ambil dikeranjang buah diatas meja.


"Ayo! lama-lama ikutan busuk kayak dia!"


"ih najisss!" ketus Serly dan Vina menggandeng Momy Chalista dan Dady Arian untuk pergi kembali duduk di meja makan.


"Kemana Kinan?"


"Mungkin masih dikamar! mereka memang sering kesiangan!" Renata mengangguki ucapan Momy Chalista, ia menatap Gea yang masih berdiri diujung sana.


"Mau kau apakan dia?"


"Apanya?"


"Kayu Mutung itu!" Vina dan Serly saling pandang dengan licik, membuat Gea bergidik ngeri.


"Kita...!"


"Pagiii!" Mereka lansung menatap kearah Lift sana, Mereka saling pandang bingung melihat Kakak iparnya masih berkoala pada Pria itu.


"Siang Kak!" jengah Jordan yang baru datang dan bergabung dengan mereka, begitu juga Gebriel yang baru turun, tapi ia menautkan alisnya melihat Renata dan Mahluk buruk rupa itu yang datang kesini.


"Kenapa kau datang kesini?" Renata menyeringai melihat Gebriel yang sangat tak suka dengan kehadirannya.


"Apa urusanmu Tuan! aku hanya mengunjungi Putri Mahkota saja!"


"Tapi kau merusak pagiku?"


"Aku tak perduli! dan tak ingin tahu!"


"Kauu..!"


"Diammm!"


Mereka tersentak kaget akan teriakan seorang Bidadari molek yang tampak masih bermanja dengan Pria tampan itu.


"Ell! Kinan Pusing mendengar ocehan mereka!" aduan Kinan memayunkan bibirnya menatap kesal Renata dan Gebriel bergantian dengan sinis.


"Hey Nona! sejak kapan kau jadi Koala, kau tak kasihan pada suamimu yang mengemban bobot beratmu!" ketus Renata pada Kinan yang menggeram.


"El! apa Kinan berat?" Exell menatap tajam Renata yang acuh, kalau sudah kasmaran begini, sebesar apapun berat yang dikemban tak akan berasa sama sekali.


"Kau tak berat Sayang! ayo makan!" Exell mendudukan tubuh mereka kekursi masing masing, tapi Kinan tak mau turun dari pangkuan suaminya.


"Nak! makanlah!" Momy Chalista menatap aneh tingkah Kinan yang terlihat tak mau jauh dan sangat lengket dengan Putranya.


"Mom! Kinan mau seperti ini!" manja Kinan membelit leher kekar Exell dengan tangannya serta wajah yang terbenam ke dada bidang pria itu.


"Yasudah! ayo makan!"


"Shittt!" umpat Exell yang teringat sesuatu ia menatap wajah istrinya yang terlihat tak berselera memakan masakan diatas meja ini, ia baru ingat kalau istrinya tak mau makan dari masakan orang lain.


"Kenapa Nak? apa kau tak suka Makananya?" Kinan menggeleng-geleng mengelak, ia tak enak hati pada anggota keluarga lainnya, apalagi nanti pasti akan merepotkan suaminya.


"Kinan akan makan!" Kinan menerima suapan dari Suaminya, tapi entah mengapa perutnya tak enak dengan kerongkongan yang mengembang menolak makanan itu.


"Hoekkkmmm! Elll!" gumam Kinan menutup mulutnya yang ingin muntah, Exell dengan cepat berdiri dan melangkah menuju Wastafel dapur.

__ADS_1


Hoekkk...Hoekkk..


Kinan memuntahkan cairan kekuningan itu, makanan sesendok tadipun keluar dari mulut wanita itu membuat Exell kelam dengan jantung yang berdegup kencang.


"Sayang! dimana yang sakit?" panik Exell memijat tengkuk istrinya yang masih muntah dengan cairan itu.


"Ellhmm Hoekkk!!"


"Minum Kak!" Exell mengambil gelas air yang diberikan Vina pada Kinan yang sudah lemah muntah-muntah begini.


"Panggil Dokter!" teriak Exell dengan suara yang tak bisa dibantahkan, ia memeluk tubuh lemah istrinya dengan tangan yang menghapus lelehan bening yang keluar dari sudut mata cantik itu karna terlalu banyak mengeluarkan isi perutnya.


"Sayang! ayo kita Kerumah sakit!"


"Ell! Kinan tak mau kemana-mana hm!" Kinan menyandarkan kepalanya kedada bidang keras ini, entah mengapa ia sungguh mual dengan makanan dan aroma selain tubuh suaminya.


"Biar Momy urus Dokternya! kau bawa Kinan kekamar El!"


"Iya Mom!" Exell menggendong tubuh istrinya kembali kekamar atas sana, Renata tersenyum miring melihat kekhawatiran diwajah tampan pria itu, ia tak bisa membayangkan seluas apa cinta dihati para mahluk sempurna itu, apalagi Exell yang tampak sudah kelam dengan apa yang menimpa sosok molek itu.


"Lihatlah! Kau masih tega memisahkan mereka? bahkan debu yang tertempel disepatunya tak sebesar kekuatanmu untuk memisahkan mereka!"


Batin Renata berbicara seraya menatap Gea yang hanya diam memandang kepergian sepasang pasutri itu, Renata sudah sadar akan apa yang dulu ia lakukan, Dia mengaku kalah akan Cinta tak terbatas itu.


.....


"Sayang! dimana yang sakit?" Exell memeriksa setiap lekuk tubuh istrinya, wajahnya sudah sedingin kutup utara dengan guratan kekhawatiran yang nyata.


"Kepala Kinan pusing Sayang! perut Kinan juga tak enak!" lirih Kinan memeluk tubuh gagah suaminya, hanya ini yang membuatnya nyaman dan tak merasakan keluhan apapun.Exell mengepalkan tangannya erat menahan amukan saat mendengar keluhan wanita itu.


"Kemana Dokter sialan itu? cepat datang kesini brengsekk!" bentak Exell melemparkan Vas bunga ke Asisten Dion yang baru muncul dari ambang pintu sana.


"Dokternya di perjalanan Tuan!"


"Aku tak mau tahu! jemput dia atau kuseret kalian semua!" geram Exell membuat Dady Arkan dan Momy Chalista menggeleng-geleng melihat tingkah Arogan putranya.


"Tuan!" Dokter Denis lansung mengelus dadanya melihat tatapan Elang pria tampan itu, ia menatap Asisten Dion yang terlihat menekannya untuk segera masuk.


"Kau mau berdiri disitu sampai pagi ha?"


"Ba..Baik Tuan!" Dokter Denis dengan gemetar melangkah mendekati Exell yang tengah memeluk sang belahan jiwanya itu.


"Nona! bisa lihat kemari?" Kinan mulai berbalik menghadap Dokter Denis yang terperangah dengan Kecantikan Kinan yang selalu membuat ia jantungan.


"Kau memang ingin mati?"


"Sayang!" Kinan mengambil alih gelas air putih ditangan suaminya yang ingin melempar Dokter Denis dengan benda itu.


"Jaga matamu!" ketus Exell kembali membelit perut istrinya menjauhkan dari Dokter Denis yang menggeleng jengah saja.


"Bisa buka sedikit kancing atas Dressmu Nona?"


"Kauu...!"


"Boy! Denis ingin memeriksa istrimu, bagaimana bisa kau terus memarahinya!" sambar Dady Arkan pada Exell yang tak kalah berargument.


"Kau periksa Momyku! buka kancing atasannya!" Dokter Denis bingung akan titah Tuan Mudanya, ia menatap Momy Chalista yang sudah dikurung oleh tubuh gagah Pria paruh bayah itu.


"Sekali kau melangkah! nyawamu taruhannya!" ketus Dady Arkan membuat mereka jengah, ayah dan anak ini sama saja, tak usah sok dalam urusan begini.


"Cihh! Jangan mengataiku kalau dady sendiri tak mau Momy dilihat pria lain!"


"Sudah-Sudah! Denis, lanjutkan pemeriksaanmu!"


"Tapi Nyonya! Tuan..!"


"Ell! biarkan Denis melakukan pekerjaannya!"

__ADS_1


"Ganti Dokter saja Mom!"


"Tapi ini sudah mepet! kau mau istrimu terus begitu Nak?" Exell menatap wajah pucat istrinya dengan lemah, ia mengecup bibir kepucatan itu penuh cinta.


"Biar aku yang memeriksannya! kau cukup arahkan saja!" Dokter Denis hanya menganggukinya memberikan peralatan kedokterannya, Exell menempatkan alat pemeriksa denyut jantung itu ke bagian atas dada istrinya dengan Dokter Denis yang mendengarkan benda itu bekerja.


"Denyutan Jantunga Normal! peredaran darah Nona juga lancar, apa keluhannya Tuan?"


"Istriku mual! pusing dan sangat susah makan, dia sering ketiduran, terlalu mudah menagis dan manja!" jelas Exell mengecup kening istrinya lembut membuat Kinan bersemu akan perlakuan memabukan suami mempesonanya ini.


"Lihatlah! apa wanita itu punya peluang menghancurkan Mahligai Cinta ini? sedangkan hati itu sudah dikunci oleh nama masing-masing!" batin Asisten Dion


"Saya hanya menduga dari gejala dan wajah pucat yang Nona alami! Nona sedang hamil dan..!"


Srettt..


Exell menarik kemeja Dokter Denis membuat mereka terkejut bukan main.


"Apa yang kau bilang tadi? " suara bariton berat itu membuat Dokter Denis gemetar.


"Ini hanya perkiraan saya Tuan! saya bukanlah Dokter Kandungan, dari gejala yang Nona alami, memang menuju kesana! tapi anda bisa membawanya ke Dokter Kandungan!"


Momy Chalista hanya menitihkan air matanya, ia sudah menduga itu sejak beberapa hari kemaren, tapi ia belum yakin karna Kinan tak mau dibawa kedokter.


"Ell!" Exell hanya diam dengan guratan wajah yang berkecamuk itu, genggamannya ketangan sang istri mengerat dengan kepala yang tertunduk menahan gejolak rasa yang membuncah didadanya.


"Aku harap itu benar Boy!" ucap Dady Arkan tak kalah bahagia akan kemungkinan itu, ia menepuk bahu Putranya jantan lalu mengiring istrinya untuk keluar.


"Kami berharap akan punya ponakan Kak!"


"Aku tunggu Anakmu nanti!"ucap Gebriel tersenyum lembut walau hatinya berdenyut, ia melangkah keluar bersamaan dengan para sepupunya yang lain.


"Kemungkinannya sangat besar Tuan Muda! saya yakin itu!" Dokter Denis memberikan Vitamin dan juga obat lainnya lalu melangkah keluar memberikan waktu bagi sepasang pasutri itu.


"Ell!" Kinan bersandar kekepala ranjang menatap lembut kepala Suaminya yang masih tertunduk tak tahu kenapa.bibir Kinan bergetar menahan cairan bening itu jika seandainya Exell tak menginginkan anak darinya.


"El tak ingin Kinan hamil?" lirih Kinan bergetar membuat Exell lansung tercekat mengangkat kepalanya menatap wajah pucat istrinya.


"Ell! Kalau El tak mau punya anak, Kinan mengerti! tapi..tapi..!"


Grepp..


Exell lansung memeluk tubuh istrinya erat dengan dada yang begitu merasakan desiran hangat yang selalu membuatnya tak bisa jauh dari wanita ini, ia mengecup bibir merah itu lama merapatkan bibir mereka menyalurkan gejolak perasaan yang membuncah.


"Kenapa kau bicara begitu hm? aku tak pernah berfikiran sebodoh itu sayang! Pria mana yang tak mau memiliki anak dari wanita sesempurna kau?" ucap Exell tulus menagkup pipi istrinya lembut, Netra mereka saling pandang penuh puja dan mendamba.


"Tapi! Kenapa El diam? El seperti tak bahagia dengan semua itu, Kinan tak ingin El marah hiks hiks! El tak boleh jauh dari Kinan!" isak Kinan mendekap erat tubuh suaminya, entahlah, ia sangat takut berjauhan dan kehilangan pria ini membuat ia selalu ingin digendong kemana-mana.


"Suttt! Tenaglah, aku tak pernah ingin meninggalkanmu sayang! aku diam karna tak tahu harus apa, rasanya..!" Exell begitu ingin berteriak mengungkapkan perasaannya, ia tak bisa bebuat apa-apa selain memberi perlakuan penuh cinta pada istrinya.


"Itu sulit dijabarkan Sayang!" Exell menagkup wajah cantik wanita itu, lalu menghujaminya dengan kecupan membuat hati Kinan lega akan peryataan suaminya.


"Baby! kalau nanti Baby besar, jangan seperti Momy ya sayang! dia suka berburuk sangka pada dady!"


Plappp..


Exell mendapat tepukan gemas dibibirnya oleh tangan lembut istrinya, wajah cantik itu terlihat semangkin beraura saja.


"Haiss Sayang! kan aku hanya memberi peringatan!" protes Exell mengelus perut datar Kinan dengan lembut membuat sang empu terkikik.


"El! Kinan rasa Babynya ketiduran, enak lo Sayang di elus begitu!" kekeh Kinan pada Exell yang mengangkat Dress istrinya sampai dada lalu membaringkan wajahnya disamping perut istrinya dengan tangan pria itu mengelus lembut perut putih pulen yang menggoda itu.


"Tidurlah Sayang! biar Baby juga tenang, jangan buat Momy sakit lagi, atau dady keluarkan kau dari Kartu Keluarga!" Exell mengecup perut datar istrinya dengan candaan kecil itu sebagai penghantar tidur wanita itu.


Exell menatap intens wajah cantik istrinya seraya tangan yang membelai perut datar itu, dadanya sungguh bergemuruh senang bukan main, ia ingin berlarian mengabarkan pada semua orang kalau dia akan menjadi seorang ayah, Exell yang tak pernah berhayal untuk memiliki seorang istri yang sempurna dengan bayi mereka kelak, sungguh, entah kebaikan apa yang ia lakukan hingga mendapat kebahagiaan sebesar ini.


...

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2