
Tatapan netra indah namun penuh luka itu menatap dalam seoeang wanita yang berdiri diambang pintu keluar ruangan itu, suara degupan musik yang kuat dengan kemerlap lampu yang berkilap membuat suasana begitu meriah tapi juga sangat menyakitkan bagi seorang wanita yang sudah tak lagi bisa memaafkan dirinya sendiri akan apa yang telah ia lakukan dulu.
"Kau tak bisa pergi?"
"Cih! ini hidupku, pergi atau tidak hanya aku yang menentukannya!"
"Aku mohon Renat!" lirih Gea memeggang lengan Renata yang sudah siap mengantarkan hidupnya pada bajingan itu, ia tak ingin, sungguh..tapi apalah daya, itu adalah perjanjian dan sumpah yang ia ambil saat Pria itu menuruti rencananya dulu.
"Aku sudah bilang padamu! aku tak bisa melawannya karna dia telah mengambil apa yang seharusnya ia ambil, sebelum kami bekerja sama, dia sudah menginginkan aku sejak lama, kau tak usah hiraukan aku, setelah aku pergi nanti, anggap saja aku tak pernah ada!"
Srett..Bugh..
Gea menarik lengan Renata kuat hingga berbenturan didinding Club sana, ia mencengkram erat lengan lembut itu dengan mata yang berkobar murka.
"Hentikan ini! atau aku akan membunhmu!" geram Gea tak tahan, Renata tersenyum simpul melihat Gea yang sangat perduli padanya dan juga Kinan, ia tak menyangka wanita ini akan berubah menjadi lebih baik dari biasanya.
"Kalau kau bisa maka lakukan!"
Degg..
Gea sungguh tak tahan dengan situasi ini, bibirnya gemetar dan dengan kasar menyentak lengan Renata.
"Baiklah! pergi..Ka..Kau bisa pergi!" Suara bergetar Gea membuat Renata teriris, belum pernah ia sedekat ini dengan saudari kandung yang sedari kecil bermusuhan.
"Aku Adik atau kau Kakak?"
Gea diam dengan tubuh yang bersandar kedinding disamping Renata, matanya mengembun dengan gemerlapnya lampu Club yang menerangi mereka.
"A..Aku tak tahu!"
Renata tersenyum geli, ia ikut bersandar seraya menatap sekelompok manusia yang sedang berjoget mesra dan kemesuman yang dilakukan ditempat ini, aroma alkohol yang kuat itu sudah biasa bagi mereka.
"Kau lahir 10 menit sebelum aku!"
"Benarkah?"
"hmm!"
"darimana kau tahu?"
"Hanya menebak!"
"Cih! menyebalkan!"
"Bagaimana dengan sipencuri perawan mu itu?"
Degg..
Gea baru sadar kalau masalah itu masih teringat oleh Renata, kepalan tangannya menguat dengan gertakan gigi yang beradu nyaring.
"Aku akan membunuhnya!"
"Kau tahu orangnya?"
"Tidak! tapi aku yakin aku akan menemukannya!"
"ayolah Adik! ini sudah 7 Tahun! kau masih belum menemukan batang hidungnya!"
"Akan ku temukan! itu sumpahku!"
__ADS_1
"Kalau kau temukan! kau mau apa?"
"Memberi hal yang pantas untuk dilakukan pada pria brengsek ketua Osis sialan yang malah mengambil semua hak yang ku punya!"
Renata hanya mencabik saja, ia tahu siapa yang telah mengambil kehormatan Gea saat masih Sekolah menegah atas, dulu ia membenci gadis ini hingga ia diam dan ingin melihat Gea depresi dan akhirnya menjalang bersama wanita brengsek itu.
Tapi sekarang ia paham, kemana ia harus menuntun kehidupan sang adik 10 menit lebih muda darinya itu.
"Sabar saja! yasudah, aku pergi dulu! bilang saja pada Kinan kalau aku pergi untuk mencari pengalaman! hm?"
Gea tak menjawab, ia meninggalkan Renata dengan perasaanya sendiri, ia tak akan membiarkan wanita itu pergi begitu saja.
"Aku yang membuat ulah maka aku yang harus pergi! bukan kau" gumam Gea lalu memasang kembali maskernya.
.......
Kerutan dikening para anggota keluarga Mohana menatap intens pria tampan yang sedang melamun menatap televisi yang menyala, Filim yang diputar itu Filim kartun tapi Pria itu masih saja duduk tanpa menghiraukan keheningan mereka.
"Ada apa dengan Kak Riel?"
"Aku tak tahu!" Serly dan Vina berbisik bingung, Tuan Sinmart yang duduk disamping putrinya pun sedikit heran pada Gebriel yang tak biasanya melamun dalam keheningan ruangan ini.
"Boy!"
Gebriel hanya diam seakan tak mendengar panggilan sang dady yang sedang duduk bersama istrinya itu, mereka semangkin kebingungan dibuatnya.
Pugh..
"Riel sayang!"
"Eh Iya Mom!" Gebriel terlonjak kaget saat bahunya ditepuk lembut sang Momy cantiknya itu, ia tercekat menatap semua anggota keluarganya yang menatapnya intens penuh tanya.
"A..Aku baik-baik saja Mom!" jawab Gebeiel gugup membuat Momy Chalista curiga, ia duduk disamping putranya itu dengan tangan yang mengelus kepala keangkuhan itu dengan lembut menyalurkan rasa hangat dihati Gebriel yang sangat mencintai wanita ini.
"Ada apa hm?" Gebriel menggeleng-geleng seraya memeluk tubuh lembut Momynya dengan perasaan yang berusaha tenang, Momy Chalista mengecup kening putranya ini dengan lembut seraya tangan yang masih mengusap punggung kekar Gebriel yang seakan menyembunyikan beban darinya.
"Mom!"
"Iya boy!"
"Malam ini Riel tidur sama Momy ya?"
"Iy..!"
" Mana bisa!" Dedy Arkan lansung memeluk tubuh istrinya erat membuat Tuan Sinmart dan lainnya geli akan reaksi Ayah satu itu.
"Dad! ayolah, aku hanya meminjam Momy sebentar, aku jarang tidur sama Momy!"
"Tidak boleh!"
"Aku tak mau tahu! Momy tidur denganku malam ini, TITIK!" tekan Gebriel yang masih memeluk Momynya mesra beraduan dengan Dady Arkan yang membelit pinggang istrinya posesif.
"Itu makanya dady suruh kau mencari janda diluar sana Boy! kau sudah tua, Kutu itu sudah istri dan akan memberiku cucu, tapi kau..malah mencari kesempatan merebut istriku!"
"Terserah! aku mau Momy, dan dady mengalah pada anak sendiri!"
"Riel! kau..!"
"Sutt! sudahlah, kita tidur bersama malam ini! kau senang?"
__ADS_1
Gebriel mengangguk senang menatap penuh kemenagan wajah tampan dadynya yang pasrah dengan ucapan wanitanya itu.
"Dad!" Pria tampan bernetra biru itu baru saja turun dengan sebuah kertas ditangannya, kaos berlengan pendek itu membalut tubuh kekarnya dengan celana hitam panjang santai yang semangkin membuatnya seperti Pangeran gagah yang begitu mempesona.
"Ada apa?"
"Apa Perusahaan kita dulu pernah bekerja sama dengan Perusahaan Thom?"
Dady Arkan tampak berfikir mendengar pertanyaan putranya itu, ia menggeleng merasa tak pernah berurusan dengan Perusahaan Negeri asing seperti Thom.
"Dady rasa tak pernah! tapi tak tahu dengan Perusahaan para Uncle-mu boy!"
"Memangnya ada apa El?" tanya Kinan mengadah menatap Suaminya yang duduk diatas peggangan sofa yang kokoh itu.
Cup..
"Tidak ada sayang! hanya bertanya saja!" ujar Exell seraya mengecup kilas bibir istrinya yang selalu memukau itu, Momy Chalista sungguh bahagia melihat rumah tangga putranya yang sangat mesra dan begitu bahagia, ia tak menyangka Putra tampannya itu akan membina Mahligai semegah ini.
"Oh iya! kemana Gea dan Renata?"
Degg..
Jantung Gebriel kembali bergetar mendengar nama wanita itu, ia menatap Exell yang terlihat berfikir seraya tangan yang mengelus perut buncit istrinya dibalik Daster cantik itu.
"Mereka mengajukan Pengunduran diri dari Pimpinan perusahaan!"
"Ha?"
Brugh..
Mereka terkejut bukan main dengan ucapan Exell, apalagi Gebriel yang sudah berkecamuk dengan tubuh yang meneggang sempurna, apalagi dengan Pria yang berdiri di ambang pintu sana dengan tubuh yang sudah lemas dan keluh.
"Ke..Kenapa?"
"Asisten Dion!" panggil mereka pada Asisten Dion yang dengan lemah melangkah mendekati mereka.
"Kenapa Tuan?"
"Kenapa kau kesini?"
"Be..Berkas tadi!" Asisiten Dion gemetar memberikan Dokumen kerjanya, ia masih menantikan jawaban dari pertanyaanya tadi.
"Lanjutkan El!" Exell tersenyum mengangguki ucapan istrinya. ia menatap wajah Gebriel yang penuh kemarahan.
"Sehari setelah mereka tak memberi kabar, Surat pengunduran diri dari Petinggi Perusahaan Sinmart dan Gea berada di meja ku!"
"Mereka tak bisa melakukan itu seenaknya!" geram Gebriel membuat Momy Chalista aggak tersentak dengan netra Elang putranya.
"Aku tak bisa mencegahnya karna dia tak menemuiku! hanya surat resmi itu saja!"
"Jangan kau tanda tangani!"
"Aku tak bisa berbuat semauku! jika mereka melakukan ini aku bisa apa, kebebasan ada ditangan mereka!"
....
Vote and Like Sayang..
Maafya author kadang lama bingits up..soalnya sistem NT kembali bermasalah jadi harus exstra bersabar.
__ADS_1