
Dikamar yang luas itu sudah berkumpul berbagai Manusia yang mengerumuni ranjang yang sedang menampung dua manusia sempurna yang saling merasa panik, apalagi Pria tampan dengan wajah kelam dan dinginnya menatap mereka meminta pertolongan,
"El hiks hiks!"
"Mom! kau..kau bisa menolong istriku kan Mom? ibu!" pinta Exell dengan wajah yang sudah mengeras, ia tak tahan mendengar rintihan Kinan sedari subuh tadi, nafasnya seakan tersendat menatap wajah pucat wanita ini.
Beberapa kali Exell mengelap lelehan keringat yang membanjiri wajah istrinya karna menahan sakit dari teggangan dibawah sana.
"Kalian keluarlah dulu!" ucap Ratu Dahliya peda Gebriel dan Asisten Dion yang lansung menganggukinya.
"aku tunggu diluar!" Dady Arkan mengiring para ponakannya dan juga putranya untuk keluar meninggalkan Momy Chalista dan Ratu Dahliya bersama seorang Dokter kandungan yang Profesional.
"Sudah berapa pembukaanya?"
Dokter Nyana lansung memeriksa jalan lahir Kinan yang baru saja memasuki tahap Kontraksi pemula.
"Pembukaanya baru 3 Nyonya! anda harus menahan lebih lama!"
"Bagaimana bisa selama itu! kau lihat istriku sudah sangat kesakitan!" bentak Exell naik pitam, jantungnya sudah diremas-remas didalam sana, mana tahan ia melihat wanita ini kesakitan begitu lama.
"Tu..Tuan! itu memang ketentuannya!" jawab Dokter Nyana takut, ia sudah sport jantung akan wajah Tampan yang kelam itu, apalagi aura dingin yang dikobarkan Exell sudah membuat kakinya dingin.
"Exell! itu memang resiko dari lahiran normal, Kinan harus menunggu sampai jalan lahirnya terbuka sempurna sayang!"
Exell hanya diam dengan tatapan tak teganya ke wajah cantik tanpa rona itu, kenapa melahirkan sangat sulit bebgini? kalau ia bisa, pasti dia yang akan menggantikan posisi istrinya, tapi ia tak berdaya dengan kehendak Tuhan ini.
"Tahanlah sayang! ini akan segera berakhir!" bisik Exell mengecup kening Kinan lembut, cengkraman wanita itu menguat begitu sakit dihadapkan dengan masa seperti ini.
"Kinan!"
"Ehmmm I..Ibu!"
"Kau bisa berjalan?"
"Aku bisa menggendongnya!" sambar Exell tak ingin wanita ini bertambah sakit.
"Bukan begitu! Bawalah istrimu berjalan kecil ditaman sana, itu akan lebih baik hingga waktunya tiba!"
"Kinan!" Exell memanggil nama istrinya dengan lembut seraya gengaman tangan yang erat mengungkapkan perasaanya yang sedang berkecamuk kacau, tatapannya mengisyaratkan bahwa ia akan selalu ada menemani wanita ini.
"Ki..Kinan bisa El!" lirih Kinan berusaha bergerak, Exell membantu istrinya untuk turun dari ranjang hingga membopong wanita itu untuk melangkah.
"Lansung ketaman saja! kau bisa kan sayang?"
Kinan mengangguk lalu pamit pada kedua ibunya itu, Ratu Dahliya membantu memakaikan Blezer ketubuh putrinya yang terbuka.
"Pergilah!"
Whuss..
Kedua manusia itu hilang diambang mata, Momy Chalista hanya bisa menghela nafas akan hal yang begitu kasap mata ini.
__ADS_1
"Kau tak keberatankan kalau Kinan melahirkan di Kerajaanku?" tanya Ratu Dahliya menggengam tangan Momy Chalista yang sudah menjadi sahabat karipnya ini.
"Kinan putriku juga Dahliya! dia berhak untuk menjalankan kewajibanya sebagai Putri Mahkota, aku tak keberatan akan hal itu, selama keduanya sehat!"
Ratu Dahliya tersenyum lembut, memang putrinya tak salah hingga jatuh kedalam keluarga Mohana ini, semuanya sangat tulus dan baik.
"Terimakasih!"
"Sama-Sama! ayo kita siapkan hal yang lain!"
"Nyonya besar! apa saya boleh pergi?"
"Pergilah! terimakasih!"
"Iya Nyonya!"
........
"Hati-Hati sayang!" Exell membantu Bumil itu untuk melangkah pelan menyusuri jalan rapi Taman yang tampak indah dan segar pagi ini.
bahkan kuntum-kuntum cantik itu bermekaran menyambut sang Bidadari cantik yang sedang menahan sakit itu.
Mentari yang belum sempurna terbit terlihat memukau dengan hembusan angin segar yang membuat Kinan begitu tenang, rasa sakitnya terbagi dengan suasana ini, apalagi sang suami yang selalu mendampingi setiap langkahnya.
"Apa sudah enakan?"
"Hm, Sedikit sayang!" ucap Kinan dengan langkah pelanya, ia beberapa kali meringis karna bagian intinya yang nyeri.
"Bisa El!"
Exell mengiringi langkah pelan wanita itu, ia membuat suasana begitu hening memberi ketenangan untuk istrinya.
"Duduk sayang!" Exell mendudukan Kinan tepat kursi taman, tubuh Bumil itu bersandar kedada bidang suaminya yang mengelus perutnya lembut.
"Baby! jangan buat Momy sakit terus sayang! hm?" tangan Exell mengelus perut buncit itu lembut, ia bergetar saat merasakan tendangan halus dari dalam sana, wajahnya terlihat berbinar dengan begitu senangnya.
"Dia menendang sayang!"
"Hm! Berarti dia tak sabar untuk keluar El!" balas Kinan tersenyum mengelus tangan Exell yang membelai perutnya lembut.
"Hmm anak Dady jangan macam-macam! mohon kerja samanya ya?"
"Iya dad!" jawab Kinan disela ringisannya, ia masih bisa menahan denyutan itu kalau pria ini bisa mengalihkan rasa sakitnya.
"Apa masih sakit hm?" tanya Exell mengelus pipi pucat istrinya, ia baru sadar kalau melahirkan itu sangatlah sulit dan penuh perjuangan.
"Hm! Masih!" gumam Kinan membenamkan wajahnya ke ceruk leher pria itu, Exell mencempol tinggi rambut istrinya supaya wanita ini tak gerah.
"Sssmm El!"
"Aku disini sayang!"
__ADS_1
Cup..Cup..
Exell menghujami bibir pucat itu dengan lembut, jantungnya sangat berguncang akan proses Kontraksi istrinya yang sangat menuai kegugupan.
"Ehmm!" Kinan mencengkram erat tangan suaminya, perutnya seakan dililit dan diremas didalam sana, apalagi selangkahannya yang berdenyut nyeri bukan main.
"Oekmm!"
"Sayang!" pekik Exell saat istrinya ingin muntah, ia memeggangi pinggang ramping wanita itu supaya tak jatuh.
"Hoekkkmm.. El!!" lirih Kinan berpeggangan kelengan suaminya seraya mulut yang memuntahkan cairan kekuningan yang berlendir.
"Keluarkan saja!" Exell memijat tengkuk istrinya lembut dengan dada yang semangkin sesak bukan main, rasanya ia ingin memohon kesehatan bagi wanita ini.
"Hoekkmm ..Hoekk..El mm!"
"Ada apa?" Renata dan Gea yang tadi mengawasi pasutri itupun terkejut saat melihat Kinan yang muntah-muntah.
"Sayang! kau tahanlah" lirih Exell sendu, mereka juga prihatin dengan wajah Exell yang begitu tersiksa.
"A..Air Hoekk mm Air El!"
Renata berlari mengambil air dari Pelayan yang sudah bersiaga menyiapkan segalanya, ia kembali dan memberikan benda itu.
"Minumlah sayang!" Kinan menegguk tandas seakan ia memang kehausan.
"Iniss..akhmm ini sakit sayang!" desis Kinan mencengkram lengan Exell kuat, wajahnya sudah pucat bukan main.
"Bagaimana ini? apa Kinan sudah siap?"
"Masih belum!"
"Belum apanya? kau lihat istriku sekarang!" bentak Exell menyala-nyala pada Ratu Dahliya yang baru datang , wanita itu mengerti akan kehawatiran Exell.
"E..El! Ki..Kinan kencing!" Mereka lansung menatap paha Kinan yang mengalir cairan bening membuat Ratu Dahliya lansung mengambil tindakan.
"Ketubanya sudah pecah! Adres, kau siapkan segalanya!" ucap Ratu Dahliya pada Pria yang baru datang itu.
"Gendong Kinan!"
Exell lansung menggendong istrinya dengan wajah yang panik bukan main, ia tak berhenti mengecup kening istrinya dengan perasaan yang semangkin tak bisa dijabarkan.
"Sayang! bertahanlah!"
Whusss..
Mereka menghilang menuju tempat yang seharusnya menampung Kelahiran penerus selanjutnya itu.
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1