Aku Tak Salah

Aku Tak Salah
Tawa pembungkus luka..


__ADS_3

Semua manusia digedung bangunan besar ini begitu gemetar saat mendengar amukan Presedir mereka didalam ruangannya.


Tak ada yang bisa bicara sepatah kata pun. hanya kepala yang tertunduk takut dengan tubuh yang gemetar, kerongkongan mereka terus dibasahai liur yang terus mereka telan supaya mengurangi dehidrasi ini.


Barkkk..


5 Kariwan yang sedang mempresentasikan hasil kerja mereka pun terlonjak kaget dengan gebrakan keras itu. tubuh mereka gemetar melihat tatapan Elang itu begitu tajam seakan menelan mereka hidup hidup.


"Apa kalian tamatan TK haa?" bentak Pria itu melempar semua laporan kinerja mereka hingga berhamburan kemana mana.


"Pa..Pak! itu memang hasil keuntungan yang telah ada di kurfa saham Pak!"


"Benarkah?"


Mereka semangkin gemetar melihat Tubuh gagah itu berdiri dengan wajah kelam yang sudah terhitung lagi dosis kedinginannya.


Sungguh, tatapan itu sangat menakutkan, ibarat seekor singa yang melihat daging segar untuk pelampiasan rasa lapar pada dirinya.


"Ini laporan yang sudah kadalwarsa! Kau tak punya otak atau mata mu buta melihat tanggal yang tertera disini ha?"


Asisten Dion menghela nafas, inilah yang akan terjadi jika emosi pria ini kembali tak stabil dengan masalah perusahaan dan masalah Rumah tangganya sekaligus.


"Ma..Maaf Pak! Sa..Saya ..!"


Brugh..


Deretan Berkas itu lansung berhambur kewajah mereka. Panji dan teman temannya tampak bungkam tak berani membantah. mereka tadi buru buru hingga melakukan hal sefatal ini.


"Keluar Kalian dari perusahaan ku!" suara menakutkan itu menggelegar membuat mereka saling pandang dengan tatapan yang sangat lemah.


"Pak! kami janji kami akan berhati hati lagi pak!" ucap Panji mewakili isi pikiran 4 teman temannya. ia sangat berharap bekerja disini, Selain gajinya yang sangat sangat besar, ia juga bisa bergabung dengan Staf yang lainnya.


"Kesalahan sekecil apapun, itu tak ada toleransi bagi siapa pun! dan tentu kalian tahu itu saat masuk ke Perusahaanku!"


"Pak kami..!"


"Masukan mereka ke Black List!"


"Jangan Pakkk!" teriak mereka lansung keluar. Sumpah demi apapun, kalau sudah masuk dalam Daftar Black List mereka sudah tak akan pernah bisa mendapatkan pekerjaan lagi diperusahaan lainnya karna Mohana Global Crops adalah Perusahaan besar yang bergengsi.


"Tuan! Mereka adalah pekerja terbaik di Perusahaan ini!"

__ADS_1


"Jika kau ingin menyusulnya! Silahkan"


"Maaf Tuan! Saya salah !"


Asisten Dion bungkam, bisa bisa ia yang menjadi target selanjutnya dari amukan Pria ini. Perusahaan saat ini sedang mengalami ancaman besar bagi Stafnya. Bukan tentang Saham atau apapun. tapi, karna sang Presedir yang arogan ini sudah memulai penyiksaan batin dan fisik bagi mereka.


..


butiran bening itu terus mengalir disetiap dudut wajahnya, hanya mata yang terus berair dengan pipi basah dan helaan nafas halus itu.


ia menatap Mentari yang akan tenggelam di ufuk barat sana, kilauan jingga yang mulai memudar pakat digantikan dengan remangan hitam yang akan menyambut kedatangan bulan.


tangannya mencengkram erat dadanya yang tak henti hentinya menuai rasa sakit untuknya, ia ingin berteriak sejadi jadinya namun masih ia tahan karna memilih menerima apapun asalkan Elnya masih mau memeluknya dengan hangat dan penuh cinta.


Sambutan dipagi hari yang selalu lembut, senyuman memikat yang membuat hatinya selalu tenang membuat Bidadari yang dilanda mala petaka itu begitu kuat menjalani harinya.


Tapi sekarang apa? Satu bentakan itu saja sudah membuat jiwanya meluap keluar mencari pelepasan, tak adalagi tatapan lembut penuh cinta itu.


"Kenapa?" lirih gadis itu menatap cincin pernikahan yang melingkar dijari manisnya, ia hanya bisa berharap, saat pulang nanti, Suaminya, Elnya yang begitu ia cintai kembali bersikap sebagaimana ia memuja pria itu.


"Kinan!"


"Riel sudah pulang ya?"


"hmm! kau sedang apa?"


Gebriel duduk disamping Kinan yang terlihat menerbarkan senyuman padanya tapi senyuman pembungkus luka yang mendalam. ia bisa melihat kesedihan dimata indah ini.


"Kenapa?"


"apanya?" Kinan menepis lembut tangan Gebriel yang ingin mengelus pipinya, ia akan berusaha bertahan ditengah rasa sakit ini.


"Kenapa menagis?"


"Kinan tak menagis! Riel..Riel salah Liat! Kinan..!"


Grep...


Gebriel lansung merangkuh tubuh Kinan kepelukannya, ia mengelus kepala gadis ini dengan lembut memberikan ketenagan pada Kinan, tapi hati Kinan menginginkan belaian dari tangan lain, bukan dari mereka yang begitu memperhatikan keadaannya.


Terimakasih.. Batin Kinan yang setidaknya merasa lebih baik dengan dukungan mereka, ia memupuk harapannya pada Sang suami yang jika pulang nanti akan mendekap tubuhnya hangat.

__ADS_1


"Kau bisa cerita apapun padaku! jangan menganggapku orang lain Kinan!"


"Kinan tak punya cerita!"


"Jangan membohongi aku! aku tahu kau punya masalah, lihatlah hidung mu, sedari tadi kembang kempis ingin bercerita!"


Mendengar itu Kinan jadi menggerutu sendiri, tapi ia juga tersenyum geli dengan ucapan konyol Gebriel.


"Hidung Kinan tidak begitu! enak saja Riel bicara!"


"Tapi aku benar lo! lihat itu" Gebriel mencubit hidung mancung mungil milik Kinan yang terkekeh dengan perlakuan Gebriel yang sungguh sangat mengalihkan rasa sakitnya.


ia tertawa dengan ucapan dan kelakuan Gebriel yang menggelitik perut. semuanya menyatu dalam tawa, tangis dan air mata yang ia keluarkan.


"Riell Tua Tua kedelai!"


"Keladi Kinan! Keladiii!" sambung Gebriel membenarkan. ia menunjukan deretan foto wanita di Ponselnya, ia bilang itu adalah Mantannya, tapi sejujurnya, Gebriel hanya membukanya dari internet untuk menghibur Si Jelita ini.


"Aku tak tahu harus apa Kinan! tapi hanya ini yang bisa kulakukan untuk menghiburmu!"


batin Gebriel menatap wajah cantik Kinan yang masih tertawa melihat Ponselnya, ia sungguh terpesona dengan pahatan sempurna ini.


tapi Gebriel sadar, Wanita ini bukanlah miliknya, Kinan hanya milik seorang Exell meski banyak rintangan didalam kehidupan mereka, Gebriel masih sadar akan perasaanya.


....


Sedangkan ditempat lain. Wanita berpakaian serba terbuka itu sungguh senang akan apa yang telah ia dapatkan.


Sebentar lagi. Jiwa itu akan menjadi sempurna.. ia menunggu dimana Jiwa keberanian dan kekelaman itu bangkit menjadi satu membalas semua rasa sakitnya.


"Sebentar lagi ibu! hanya dalam hitungan jam.. kau akan melihat bagaimana kehancuran yang sebenarnya!" gumam Renata menatap tanda yang ada dipergelangan tangannya.


ia tak akan mundur lagi, walaupun itu semua sangat menyakitkan..tapi akan ada hal besar yang telah ia tunggu tunggu untuk menghancurkan orang yang selama ini merusak kehidupan keluarganya.


"Bulan Purnama! Kinan Sayang..Kau itu lemah, kau sangat polos dan Suci! dan orang yang sepertimu, Tak pantas hidup bersama mereka!" geram Renata mencengkran erat perggelangan tangannya.


Natranya sudah mengobarkan api perang yang nyata, semuanya akan dimulai sekarang, dia akan bangkit dengan sangat sangat sempurna.


..


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2