
Cengkaraman tangan pria tampan itu menguat saat mendengar ucapan tak senonoh dari mulut pria itu, hatinya panas dengan gejolak yang membara.
"Bukankah Nona Renata itu adalah Jalang di Bar Red Appel bukan? hmm, aku rasa dia cukup terkenal!"
"Yah! kami juga tak asing lagi dengan wanita itu, dia menjadi idaman para Casanova!" sambung Pengusaha lainnya berbincang, Leo Nichol hanya diam, ia tak sejalan dengan ucapan mereka semua.
"Dan aku pernah membookingnya dan rasanya sa..!"
Brakk..
Kepalan tangan keras itu meninju meja Meeteng mereka hingga benda kaca itu pecah dengan begitu kuat, kepalan tangan Pria tampan itu tergores pecahan beling yang berserakan.
Mereka semua gemetar menatap wajah kelam Gebriel yang tak bisa lagi dihindarkan, tapi berbeda dengan Thomas yang menyeringai iblis.
Srettt..
"Pre..Presedir!" Tuan Hendry gemetar saat tangan kekar Gebeiel mencengkram kuat kerah kemejanya dengan mata yang sudah penuh amukan.
"Berhenti membicarakan dia atau kau..!"
"Tuan!" Asisten Joy menghalangi Tuan Mudanya yang ingin memukuli mereka telak, nafas Gebriel naik turun dengan urat biru yang bergelut dileher dan wajahnya menahan amarah yang bisa saja membunuh salah satu dari mereka.
"Pre..Presedir! kami minta maaf!"
"Kau pikir aku mudah memaafkan!"
"Tapi..!"
Bugh..
akhirnya amukan Gebriel memuncak hingga memberi bongkaman telak kewajah para Pengusaha yang berusaha menghindar dari amukan pria itu.
"Presedir Gebriel! kendalikan dirimu!" Leo mencoba menghentikan Gebriel yang memukuli Tuan Hendry dengan membabi buta.
Thomas mengamati itu semua, Cih..rupanya kau sudah menabur benih kasih dihati pria ini Budakku! batinnya menyeringai licik.Leo dan Asisten Joy tak bisa memeggangi Gebriel yang begitu kuat dan ganas seakan kesetanan.
"Mati kau brengsekk!"
"Kakak!!" suara bariton berat itu menggelegar membuat mereka lansung menatap kearah pintu sana.
wajah mereka semangkin pucat saat melihat tubuh gagah pria yang sedari tadi mereka tunggu tampak berdiri dengan kekarnya dengan aura yang menakutkan, kaki mereka gemetar tak tahan dengan aura intimidasi dari Pria kekar mempesona itu.
"Pre..Presedir Mohana!" Mereka berlari menghampiri Exell untuk menyelamatkan diri dari singa satu itu, tapi mereka terhenti saat melihat tatapan Exell yang tak bersahabat.
"Apa yang terjadi?" Exell melangkah mendekati Gebriel yang sudah seperti iblis berdarah dingin, kemeja pria itu tak lagi rapi dengan wajah yang merah menahan amukan.
"Kakak!"
"Mulut mereka tak bisa diajari! maka aku akan mengoyaknya!" geram Gebriel menggertakan giginya geram, Exell menatap dingin meja yang pecah berserakan dengan kekacauan yang nyata.
"Kemarilah!" Exell berucap dingin dengan wajah yang tak tertebak, dengan gemetar para pengusaha itu berderet menghampiri Exell yang masih diam dengan tatapan lurusnya.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan?"
"Kami hanya membicarakan Nona Rena..!"
Plakkkk..
Tamparan tangan besar itu membuat Tuan Hendry tersungkur kebawah sana, mereka terkejut akan perlakuan Exell yang kejam membuat mereka malu pada Kariawan yang mendengar keriuhan mereka dari luar sana.
"Presedir Mohana! kau bertindak seperti orang yang tak berpendidikan!" cela Thomas mencari kesempatan saat pihak Comisaris yang kebetulan sudah berdiri diambang pintu sana.
Exell menyeringai licik dengan wajah yang tenang tanpa guratan apapun, ia duduk diatas kursi kekuasaanya dengan kaki yang bertopang tindih dengan angkuhnya.
"Benarkah? lalu bagaimana dengan Para manusia yang sudah bekerja dikehidupan sosial, sekolah yang tinggi, mempunyai keluarga dan pernah diajari malah berbicara seperti manusia tak berakal seperti BINATANG? hm!"
Ucap Exell lantang penuh wibawah membuat mereka menunduk malu, pria itu tampak serius dengan gaya khas yang begitu memukau.
"Tapi yang mereka sebut itu memang benar Presedir yang terhormat!" Thomas ingin memancing kemarahan Exell supaya ia bisa membaca karakter dan perggerakan pria ini.
"Benarkah? baiklah, bukankah kau juga seorang Jalang?"
"Lihatlah! aku harus berfikir dua kali untuk menanamkan saham ke perusahaanmu! Cih, kau seenaknya menuduhku Presedir yang terhormat!" Thomas tak kalah tenang seakan menantang diri Exell yang jauh lebih berkharisma darinya.
"Hm! Menuduh ya?" gumam Exell manggut-manggut mengerti, ia menatap Asisiten Dion yang mengangguki isyarat Tuannya.
"Tuan Thomas sering mengunjungi Bar disetiap negara ini, ia suka membawa satu persatu Bar Tander dari wanita yang ia minati, selama 3 Tahun ini, Tuan Thomas telah keluar masuk tempat hiburan dengan niat yang sama!"
Thomas terkejut akan penjelasan Asiaiten Dion yang rinci, ia menatap wajah licik penuh iblis Exell yang tampak menyeringai padanya.
"Haha! Presedir Mohana, apa kau masih bayi? ini sudah biasa dalam zaman sekarang! aku rasa kau mengerti akan stamina pria!" Kata-Kata menjijikan itu membuat Exell geram tapi ia masih setenag air yang mengundang bahaya besar.
"Kau bodoh atau apa Tuan Thomas?"
"Apa maksudmu?"
"Cih! Kalian sibuk mengomentari hidup orang lain, tapi lihatlah, yang kalian kritik kotor itu hal biasa di Zaman sekarang, dan kalian malah begitu lancar membicarakan Aib orang lain! hmm Sangat bagus, aku terkesan untuk pertemuan kali ini!"
"Pre..Presedir! kami minta maaf, kami hanya terbawa suasana saja!"
Exell manggut-manggut mengerti seraya meminta surat kerja sama mereka, mereka bernafas lega saat pria itu membaca laporan itu.
Srekkk..Srekkk..
Mereka terkejut saat pria itu malah dengan santainya mengoyak-nyogak kertas itu dengan runyam dan remuk, hancur sudah harapan mereka untuk mengembangkan Perusahaan dengan bekerja sama pada MGC ini.
"Aku tak butuh manusia serakah dan tak berpendidikan seperti kalian!" ucap Exell dingin penuh kharisma seorang pemimpin, mereka semua hanya bisa lesu tak berdaya.
"Keluar dari ruanganku!"
"Baik Presedir!" jawab mereka lemah seraya melangkah keluar.
"Leo! Meeting ke duamu ku tunggu besok!" Tuan Muda Leo senang bukan main, jarang sekali ia mendapatkan kesempatan emas ini.
__ADS_1
"Baik Presedir! Terimakasih!"
"Hmm!"
Ia melangkah pergi meninggalkan Tuan Thomas dan Asistennya diruangan itu, keduanya saling tatap tajam dengan aura yang menusuk jantung.
"Kau menolak 15 Triliun?"
"Itu hanya debu bagiku!" ucap Exell angkuh dengan duduk yang bersilang Elegan dengan tampan yang meruak memukau mata.
"Kau sombong sekali Presedir! ingatlah, diatas langit masih ada langit!" sambung Thomas tersenyum tenang, ia ingin melihat kelebihan pria ini lagi hingga ia bisa mencari cela untuk menghancurkan dua kubu sekaligus.
"Dalam hidupku itu semua tak berarti! Langit hanya sebagai peneduh bukan pelindung, Tanah hanya tempat berpijak tapi tidak untuk bangkit! kau seharusnya sadar, LEMAH TETAP LEMAH!"
ucap Exell penuh penekanan dengan wajah yang masih tak menganggap Thomas tak ada apa-apanya dibanding siapapun.
"Aku anggap itu Tantangan!" Exell hanya mencabik malas saja membuat Thomas semangkin gila, pria itu pergi bersama Asistennya meninggalkan mereka.
"Kau tak apa?"
"hmm! kenapa kau malah menghentikan aku El? mereka tak pantas hidup!"
"Kau membuka peluang bagi mereka untuk menghancurkanmu!"
"Maksudmu?" Gebriel duduk diatas kursi berhadapan dengan Exell, ia menepikan pecahan beling tebal itu dengan sepatu dikakinya.
"Mereka hanya ingin memancing amarahmu hingga membuat semuanya runyam! tetaplah tenang dan bergerak seperti bayangan, dia ada tapi tak bisa disentuh atau dilukai tapi dia bisa membuat pemiliknya panik setengah mati saat ia menghilang, kau buat rencana dari itu!"
"Aku tak mengerti ucapanmu! bilang saja kau ingin aku bergerak dalam diam dan tetap tenang El, apa susahnya itu?" kesal Gebriel bukan main, pria ini selalu membuat ia linglung dan akan rencananya yang tak terduga.
Exell tersenyum sinis, bukan itu yang ia bicarakan, tapi hal lain yang berhubungan dengan hati.
"Selagi bayangan itu mendampingimu! maka Peliharalah dia dengan baik, tapi, kau tak akan tahu Kak! karna kau belum merasakan hal yang pernah aku rasakan!" Exell menepuk bahu Gebriel yang tertegun dengan ucapan pria itu.
"Tuan! apa anda ingin bekerja sampai sore?"
"Tak ada urusan lagi disini! hanya Perusahaan Nicholas yang terdaftar, kau bisa mengurusnya nanti!"
"Baik Tuan!"
"Kak! kau tak pulang?"
"Kemana Renata?"
Exell tersenyum simpul, akhirnya pria ini tahu apa yang ia wanti-wanti dari dulu, Asisten Dion sebenarnya ingin bertanya tentang Gea yang sedari tadi tak menemuinya, tapi ia tak berani.
"Aku tak tahu!"
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1