
Mereka semua terngangak dengan apa yang tersedia diPeraduan megah itu, Taburan mawar biru yang mekar memapari sebuah ruangan yang begitu luas dengan atap yang terbuka bagian atasnya.
Kenapa disini malam? bahkan mereka tak menduga dengan suasana gelapnya malam ini, Peraduan sang Bidadari yang sedang merintih kesakitan itu begitu megah dengan diselumbungi Tirai kebiruan putih dengan sang Bulan yang lansung menyinarinya diatas sana.
Ruangan ini seperti sebuah Tempat Tahtah yang mana menuju Peraduan diatas sana harus menaiki Tangga yang ditaburi kelopak mawar biru yang menyerukan aroma wangi yang menenagkan siapa saja yang menghirupnya.
"El hiks hiks! Sakit hiks hiks!"
"Sayang! aku mohon bertahanlah!" ucap Exell dengan dada yang sesak, ia sudah duduk disamping Kinan yang berbaring diatas Peraduan empuknya dengan Tirai-Tirai putih yang menyelumbungi mereka dari pandangan luar.
Ratu Dahliya terlihat berbicara dengan para Pelayannya yang hanya berbentuk seperti cahaya biru yang mengelilingi Peraduan ini.
"Cepatlah ibu!" desak Exell tak tahan, ia tak berhenti mengecup kening basah oleh keringat wanita itu.
"Bersiaplah Aliniya!"
"Tarik nafas sayang!" arahan Exell pada Kinan yang melakukannya, cengkaram wanita itu menguat dilengan Exell dengan keringat yang bersimbah.
"Dorong!"
"Hammmmm hiks Ellmmm!" Kinan Mengejan dengan kuat tapi juga menjerit sakit, Momy Chalista yang berada disamping Kanan Wanita itu terlihat membantu Ratu Dahliya untuk melihat jalan lahir.
"Dorong lebih kuat Aliniya!"
"Hmmm!!" Kinan mengerahkan semua tenaganya, ia merasa ini sangat sulit, bahkan semburan darah dibawah sana membuat kedua tangan Ratu Dahliya bermandian cairan kental itu.
"Ell!!!! hiks hiks Sakit!" teriak Kinan tak tahan, ia meraung-raung sakit membuat Exell ingin menghilang tenggelam didalam kepanikannya.
"Kau kuat sayang! berjuanglah demi Baby!"
"Dorong!"
"Emmm!!!! YaTuhan El hiks hiks Sakit!!!" geram Kinan mengigit bibir bawahnya terus mengejan, namun Exell lansung mengganti lenganya sebagai gigitan wanita itu.
"Jangan mengigit bibir!"
"Dorong Kinan! Dorong!"
Grett..
Kinan mengigit lengan Exell kuat sebagai penahan rasa sakitnya, kuku -kukunya menggores pipi dan dada pria itu, Exell tak perduli akan luka ditubuhnya, yang ia pikirkan sekarang 'ISTRIKU DAN ANAKKU HARUS SELAMAT'
"Oh El hiks hiks Sakit!!! hiks hiks!" isak Kinan menggeleng lemah, tenaganya sudah terkuras, ia tak sanggup mengejan lebih lama.
"Aliniya jangan menutup mata!" ucap Ratu Dahliya saat sudah melihat kepala Bayi putrinya itu, memang ia akui Kinan memang harus kuat karna Keturunannya yang tak biasa, wanita ini sangat berbeda hingga membuat semuanya rumit.
"Sayang! aku mohon demi aku!" ucap Exell menagkup pipi pucat istrinya, ia sudah gemetar melihat darah itu dan sekarang ia semangkin takut.
__ADS_1
"E..El!"
"Aku mohon!"
Kinan menghela nafas dengan mata sayu dan nafas yang ngos-ngosan, ia kembali bersiap dengan helaan nafas yang terarur.
"Dorong!"
"Ehmmm!!!"
"Lagi Aliniya! sedikit lagi Nak!"
"Ehmmm hiksm Ell!!!!!" Jeritan Kinan kuat seraya mencengkram dada suaminya erat.
Grep..
Whusss..
Kilauan cahaya kebiruan itu meruak memukau mata dengan gradasi yang sempurna, tubuh mungil itu memancarkan keharuman dan aura yang nyata.
Ratu Dahliya lansung menarik lembut tubuh mungil itu keluar dengan darah yang terus mengalir, Kinan lansung Tumbang dipelukan suaminya dengan nafas yang tersendat, Momy Chalista bingung saat Bayi ini tak menagis. apalagi dengan darah Lahiran Kinan terserap oleh Perpaduan empuk ini menuju sebuah Kendi biru yang kecil pas diggengam tangan.
"Kenapa dengan Bayinya?"
Ratu Dahliya diam menatap Momy Chalista yang mengerti, ia harus bersabar untuk mendengar tangisan itu.
"Sayang! hey Kinan..Kinan!" pekik Exell menepuk pipi pucat istrinya saat Wanita itu menutup matanya, jantungnya sudah berdebar kuat seirama dengan suhu tubuhnya yang dingin.
"Buka ma..mata mu sayang!"
"Ki..Kinan..!"
Ratu Dahliya melakukan pemotongan tali pusat membuat Kinan menggeram sakit, setelah semuanya selesai, Ratu Dahliya mendekatkan Bayi mungil itu kedada Kinan yang hanya menggunakan Kemban putih.
"I..Ibu!" lirih Kinan membuka matanya merasakan tubuh lengket dan lembut itu menyentuh dadanya, saat ibunya telah membuka Kembannya hingga kulitnya lansung bersentuhan.
"Dia menunggumu!"
Bibir pucat Kinan bergetar saat menatap wajah bersih merah Bayi mungilnya yang masih memejamkan mata.
"Ba..Baby!"
Exell juga sama, ia tertegun dengan tatapan kosongnya, wajah merah ini masih tersembunyi dibalik belahan dada istrinya.
"E..El!"
Exell mengangguk lalu membuka bajunya untuk memeluk kedua tubuh Kesayangannya itu dengan lembut, dada bidang berotot Exell bersentuhan dengan punggung lembut Bayi mungil itu.
__ADS_1
Oeeekk..
Kinan menagis mengecup kening mungil putranya, tangan Exell membelit pinggang istrinya dengan saling tatap penuh cinta dan damba.
"Ba..Baby hiks hiks!" isak Kinan membiarkan Bayinya menagis menyatakan keberadaanya, Exell hanya bisa diam dengan mata yang tak bisa berkata-kata lagi.
Tubuh mungil itu hanya menjadi penegah dari kedua tubuh sempurna orang tuanya , Exell mengecup kepala mungil itu dengan Kinan yang mengecup kening Bayinya lembut.
Oeeekk...Oeekk...
"Terimakasih!" lirih Exell dengan bibir gemetarnya mengelus kepala istrinya dengan lembut, ia ingin menjerit sejadi-jadinya meluapkan rasa ini.
Oh Tuhan! Terimakasih! Terimakasih atas pemberianmu yang luar biasa, Aku..Aku Sangat-Sangat beruntung!
Jeritan batin Exell membeludah, perlahan kelopak mata Mungil itu terbuka membuat mereka terngangak akan apa yang dipancarkan oleh kilauan bening itu.
"Wow!" pekik Momy Chalista tercengang, Netra biru tajam dengan kelembutan, keangkuhan, dan tentunya sang-sangat mempesona membuat siapa saja jatuh cinta.
Ini perpaduan yang lengkap, aura dari Tubuh mungil itu juga sangat mengintimidasi dan juga penuh wibawah, Pahatan si kecil Exell begitu menguat dengan tatapan yang bisa sendu seperti Kinan dan juga bisa tajam seperti ayahnya Exell.
"Sudahku Bilang! Keturunan mereka sangat kuat dari apa yang telah kuduga! bahkan dia membuat goncangan besar Chalista!"
Momy Chalista mengangguk mengakui, ia menatap sang Bulan yang tampak semangkin berseri menyinari Sepasang pasutri sempurna itu dan Bayi mungil yang baru saja lahir mengaurakan kekuatannya.
"Kinan!"
Kinan hanya diam seraya mata yang masih saling tatap penuh cinta dengan suaminya, sikecil yang ada ditengah mereka hanya diam dengan mulut yang mengemut Asi pabriknya.
"Ahss Baby!" desis Kinan saat hisapan Bayinya membuat ia nyeri, Exell tersadar dari lamunannya dan memperbaiki Posisi istrinya.
"Itu wajar! karna kau masih pertama Sayang!" ucap Exell yang sudah paham soal itu dari Buku panduannya.
"Exell! bawa dulu Bayi kalian keruangan yang mereka tunjukan!"
Exell mengangguk paham, ia mengecup kening istrinya lembut lalu ingin mengambil si kecil mungil itu.
"Nak! biar Momy saja, kau belum paham!" Momy Chalista ngeri jika Exell salah menggendong Sikecilnya.
"Kau tak tahu betapa Siapnya Putramu menjadi seorang ayah Chalista!" ucap Ratu Dahliya membuat Momy Chalista tercengang saat Exell bisa menggendong sikecilnya dengan sangat telaten dan pasti.
"Putraku tak akan terluka Mom!" ucap Exell menyunggingkan senyum bahagianya menatap wajah Tampan putranya yang masih merah.
"Bimbing Tuanmu!"
Bayangan putih kebiruan berbentuk cahaya itu menyelumbungi Exell menuju Ruang Peraduan untuk menampung Kinan nanti.
"Kemana Babynya?" gumam Renata dan Gea yang masih menunggu dibawh sana, mereka ngeri mendengar teriakan Kinan tadi. Sungguh, mereka tak tahu apa yang terjadi setelah kilauan biru tadi memancar membuat pemandangan indah.
__ADS_1
........
Vote and Like Sayang..